NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Badai di Ruang Redaksi (Bagian 2)

Ketegangan di dalam ruangan mencapai puncaknya saat Angkasa berbalik perlahan, menepis cengkeraman tangan Reno dari bahunya dengan satu hentakan kasar yang penuh kemarahan. Kedua penguasa tertinggi SMA Taruna Bangsa itu kini berdiri saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, seolah dua ekor predator jantan yang sedang memperebutkan wilayah kekuasaan mereka.

"Hak?" Angkasa mendengus sinis, menatap Reno dengan pandangan meremehkan yang sangat pekat dari balik sorot mata elangnya. "Gue Ketua OSIS di sini, Reno. Seluruh aturan, kesepakatan, dan pergerakan murid di bawah naungan organisasi ini berada di bawah kendali gue. Termasuk asisten pribadi gue yang satu ini."

"Dia bukan barang milik lo yang bisa lo kendaliin sesuka hati dengan modal ancaman kartu pelajar lama, Angkasa!" seru Reno dengan volume suara yang meninggi, memecah keheningan lantai tiga. Tatapan mata Reno beralih ke arah Eca yang masih gemetaran di dekat meja. "Alesya, lo nggak perlu takut sama dia lagi. Hari ini, di depan gue, lo bebas dari semua ancaman dia!"

Eca hanya bisa mematung kaku, meremas tali tas ranselnya erat-erat di depan dada dengan jantung yang berdegup brutal secara gila-gilaan. Dia terperangkap di tengah-tengah pertarungan ego dua cowok paling berpengaruh di sekolah. Jika dia memilih berpihak pada Reno, Angkasa akan menghancurkan beasiswanya. Tapi jika dia kembali pada Angkasa, rahasia masa lalunya yang dibawa oleh sosok misterius itu akan tersebar luas besok pagi. Dia benar-benar berada di ujung tanduk.

Angkasa melirik reaksi pasrah Eca, lalu kembali menatap Reno dengan senyuman miring yang penuh dengan rahasia tersembunyi. "Bebas, lo bilang? Lo bahkan nggak tahu masalah apa yang sebenarnya lagi dihadapi sama rubah kecil ini, Reno. Lo cuma manfaatin ketakutan dia buat dapetin file internal gue demi kepentingan fraksi lo yang payah itu."

Angkasa merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya sendiri, lalu menggeser layarnya sebelum memutarnya ke arah Reno dan Eca. Di layar ponsel mahal milik Angkasa, terpampang sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal—nomor yang persis sama dengan nomor yang meneror Eca semalam. Di sana tertulis pesan singkat:

[Foto Alesya tanpa kacamata di depan kompleks sudah siap. Kalau lo nggak mau reputasi asisten pribadi kesayangan lo hancur, batalkan skorsing Fanya pagi ini.]

Deg! Eca menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya melebar sempurna di balik kacamata bulat tebalnya. Ternyata orang dari masa lalunya tidak hanya meneror dirinya, tetapi juga berani mengancam Angkasa demi menyelamatkan Fanya dari hukuman skorsing yang dijatuhkan kemarin sore akibat insiden di bawah tangga.

Reno yang ikut membaca pesan tersebut langsung tertegun sejenak, rahangnya mengendur karena tidak menyangka ada plot lain yang jauh lebih rumit di balik penyamaran cupu Eca. "Ini... nomor siapa?" gumam Reno bingung.

"Ini nomor orang bodoh yang mengira bisa bermain api dengan gue," sahut Angkasa dingin. Dia mematikan layar ponselnya, lalu menyimpannya kembali dengan gerakan yang sangat tenang namun memancarkan aura bahaya yang sangat kental. Angkasa melangkah mendekati Eca kembali, mengabaikan Reno yang masih syok di tempatnya berdiri.

Angkasa meraih tangan Eca yang gemetaran, menggenggam jemari kecil cewek itu dengan remasan hangat yang terasa begitu protektif namun posesif di saat yang bersamaan. "Dengar, Alesya. Lo udah milih buat masuk ke dalam lingkaran perlindungan gue sejak kemarin sore. Dan gue... nggak pernah membiarkan milik gue diusik oleh tikus dari masa lalu."

Angkasa melirik Reno sekilas dari sudut matanya dengan tatapan penuh kemenangan mutlak. "Orang yang mau pasang foto lo di mading bawah sudah ditangkap sama Arkan dan Bara di gerbang belakang sekolah lima menit yang lalu, sebelum anak-anak fraksi lo sempat bergerak, Reno. File aslinya di ponsel pelaku sudah dihancurkan."

Mendengar hal itu, rona merah padam yang campur aduk antara rasa lega yang luar biasa dan rasa salting brutal langsung meledak hebat di kedua pipi Eca, menjalar cepat sampai ke telinga dan lehernya. Angkasa ternyata sudah bergerak seratus langkah di depannya untuk menyelesaikan masalah ancaman tersebut, bahkan sebelum Eca sempat bertemu dengan Reno di lantai tiga ini. Perlindungan cowok iblis ini ternyata se-nyata dan se-kejam itu bagi siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.

Reno mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di dalam saku celananya, menyadari bahwa hari ini dia kembali kalah telak dari Angkasa dalam segala hal. Dia menatap Eca dengan pandangan mata yang sangat intens, tajam, namun dipenuhi rasa kagum sekaligus kekecewaan mendalam karena gagal menjadi penyelamat bagi cewek itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Reno berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang redaksi dengan langkah kaki yang menghentak penuh kekesalan, membiarkan pintu ruangan bergoyang pasca-kepergiannya.

Kini ruangan redaksi yang remang-remang itu kembali sunyi senyap, hanya menyisakan Angkasa dan Eca yang berdiri dalam jarak yang sangat dekat. Angkasa melepaskan genggaman tangannya, lalu jemarinya bergerak naik dengan sangat lembut menyentuh ujung bingkai kacamata tebal Eca, menaikkannya sedikit yang sempat melorot akibat keringat dingin.

"Sekarang... mari kita bahas soal hukuman untuk pengkhianatan lo pagi ini, Asisten," bisik Angkasa dengan suara baritonnya yang mendadak melembut, serak-serak basah, namun terdengar begitu seksi di keheningan ruangan yang tertutup, sukses bikin lutut Eca mendadak lemas luar biasa kayak jeli karena menyadari bahwa hari-harinya ke depan bersama sang penguasa sekolah akan menjadi jauh lebih menantang dan mendebarkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!