NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

POV: Amelia

Dua garis di alat tes itu tidak hilang, sekeras apa pun aku mengerjap.

Namaku Amelia, tapi orang-orang yang menyayangiku memanggilku Lia. Aku besar di Bekasi bersama nenekku, dan sempat jadi pemain sinetron sampai akhirnya menikah. Tiga tahun sudah sejak aku menukar panggung dengan seorang laki-laki dan rumah yang kebesaran di Pondok Indah.

Aku duduk di tepi bak mandi sambil menggenggam alat tes itu. Tiga tahun mencoba, berobat ke dokter, menghitung masa subur, minum jamu pahit kiriman Nenek Dina lewat paket. Dan akhirnya tubuhku bilang ya, di hari Selasa yang biasa-biasa saja.

Kuletakkan tangan di perut yang masih rata, berusaha merasakan sesuatu yang belum ada di sana, lalu aku tertawa sendiri, tawa yang basah.

Pintu diketuk pelan.

"Bu Lia? Ibu baik-baik saja di dalam?" Suara Bi Ningsih, kepala asisten rumah tangga kami, terdengar teredam.

"Baik, Bi Ning. Sebentar ya."

"Tadi Pak Dimas telepon dua kali ke telepon rumah. Katanya soal makan malam perusahaan nanti malam. Ibu diminta mengangkat ponselnya."

"Iya, nanti kuangkat. Makasih, Bi."

Sebelum membuka pintu, kumasukkan alat tes itu ke saku jaket, terlipat dalam sehelai saputangan. Kusembunyikan dari keinginanku sendiri yang rasanya ingin berlari keluar dan berteriak ke semua orang. Belum waktunya. Orang pertama yang tahu harus Arga, dan harus dengan caraku.

Bi Ningsih menatapku dari ujung kepala sampai kaki, dan ada sesuatu di wajahnya yang melunak.

"Wajah Ibu kelihatan lain hari ini."

"Aku baik. Sangat baik."

"Masa?" Dia tersenyum miring sambil mengeringkan tangan di celemek. "Ibu sering mual di pagi hari. Kemarin Ibu menolak kopi, padahal itu kesukaan Ibu. Orang yang seumur hidup kerja di rumah majikan itu jadi terbiasa memperhatikan hal begini."

"Bi Ning terlalu teliti."

"Namanya juga pekerjaan saya." Dia tidak bertanya lagi, dan aku bersyukur untuk itu. Dia sudah bekerja di rumah ini sebelum aku datang, dan hidup bersama suamiku mengajarinya untuk tidak banyak bertanya.

Aku masuk ke kamar dan menelepon nenekku lebih dulu, sebelum siapa pun. Aku butuh mendengar suaranya supaya yakin hari ini nyata.

"Halo, cucuku," sahutnya, suaranya mengambang, sandiwara radio terdengar menyala di belakangnya.

"Hai, Nek. Aku cuma mau dengar suara Nenek."

"Jam segini? Pasti ada kabar baik. Nenek bisa dengar dari suaramu."

"Kenapa Nenek selalu yakin ada apa-apa?"

"Karena suaramu naik kalau kamu lagi senang, dari kecil begitu. Naik waktu kamu naik kelas, naik waktu kamu dapat peran di sinetron. Sekarang naik lagi. Ayo cerita."

Kupegang ponsel dengan kedua tangan, dan sedetik aku nyaris menumpahkan semuanya.

"Belum bisa, Nek. Nanti malam aku mau cerita sesuatu ke Arga, dan besok baru aku ceritakan semuanya ke Nenek. Janji ya, Nenek angkat kalau aku telepon?"

"Janji." Dia berhenti sebentar, dan nada suaranya berubah. "Tapi jaga dirimu, Lia. Rumah itu memang bagus, tapi dingin. Rumah yang tidak ada suara orangnya itu bukan rumah, cuma etalase."

"Itu cuma rumah, Nek."

"Tidak ada rumah yang cuma rumah." Dia terbatuk, berganti topik, menyuruhku makan yang benar, menyuruhku jangan sampai masuk angin, lalu menutup telepon sambil bilang sayang padaku sebesar dunia, seperti biasanya.

Beberapa lama aku menatap langit-langit. Tiga tahun lalu, di suatu dini hari saat aku menangis karena hasil tesnya negatif lagi, Arga menempelkan dahinya ke dahiku dan membuat sebuah janji.

"Di hari kamu memberiku anak, aku akan menghentikan langit Jakarta dengan hujan kembang api, khusus untukmu."

Dulu aku masih percaya dia mengatakan hal-hal seperti itu karena cinta. Janji itu kusimpan seperti orang menyimpan lotre.

Ponsel bergetar di atas lemari. Dimas.

"Bu Amelia, selamat siang. Pak Arga meminta Ibu hadir di makan malam perusahaan malam ini, di Sudirman. Jam delapan."

"Dia tidak pernah mengajakku ke acara Wiratama, Dim."

"Kali ini dia memaksa. Mobil sudah dikirim jam tujuh. Dan beliau minta Ibu memakai gaun gelap, yang berkerah tinggi."

"Ada apa sebenarnya? Dia tidak pernah memilihkan bajuku."

Ada hening sebentar di seberang, hening yang bisa kurasakan tapi tak bisa kupegang.

"Cuma makan malam, Bu Amelia. Jam tujuh mobilnya sudah di depan."

"Dimas. Arga baik-baik saja?"

"Jam tujuh, Bu Amelia." Lalu dia menutup telepon, terlalu cepat.

Kupandangi ponsel yang masih hangat di tanganku, mencoba memahami buru-burunya. Berminggu-minggu Arga tidak benar-benar menatapku, dan tiba-tiba dia ingin aku, dengan gaun gelap, di tengah makan malam para investor. Mungkin dia berubah. Atau janji kembang api itu masih hidup di suatu sudut dirinya, menunggu hari yang tepat. Aku begitu ingin itu nyata sampai memutuskan untuk percaya. Harapan, kalau kita sedang jatuh cinta, tidak menuntut banyak bukti.

Aku berdandan pelan-pelan. Di depan cermin, kuletakkan tangan di perutku yang masih rata dan berbisik, malu pada diri sendiri, bahwa aku akan jadi ibu yang baik. Kujanjikan anak ini tidak akan tumbuh sendirian seperti aku, tanpa ayah, dengan ibu yang tak pernah ada, dan bahwa kami akan jadi keluarga sungguhan, jenis keluarga yang ribut dan berisik, jenis yang disebut Nenek Dina sebagai rumah.

Tepat jam tujuh mobil sudah menunggu. Sopirnya bukan yang biasa. Dia membukakan pintu tanpa memandang wajahku.

"Ibu istri Pak Arga Wiratama?"

"Ya."

"Saya diperintahkan mengantar langsung ke Sudirman."

Aku masuk. Lewat kaca, rumah di Pondok Indah perlahan tertinggal di belakang, terang benderang dengan taman luasnya yang tak pernah diinjak siapa pun. Di saku jaket, alat tes itu masih ada, terlipat dalam saputangan, mengetuk pelan pahaku setiap kali mobil melewati polisi tidur, seperti jantung kedua.

Sepanjang jalan aku melatih kalimatnya. Arga, aku harus cerita sesuatu. Arga, kita berhasil. Kubayangkan wajahnya terbuka, tangannya di perutku, dan janji bodoh tentang kembang api itu jadi hal pertama yang dia ingat.

Mobil berhenti di depan gedung Wiratama Tech. Lampu-lampu logo Nova merambat naik di fasad kacanya, biru dan mahal. Di pintu masuk ada wartawan, karpet merah, dan petugas keamanan berheadset.

Seorang petugas valet membukakan pintu untukku.

"Silakan masuk, Bu. Semua sudah menunggu di dalam."

Sekali lagi kuremas saputangan berisi alat tes itu, menarik napas dalam, dan merapikan gaunku. Aku membawa kabar yang akan mengubah hidup pernikahanku, dan aku sungguh yakin perubahan itu akan menuju yang lebih baik.

Kulangkahkan kaki melewati pintu kaca dengan kalimat yang sudah siap di mulut.

Di seberang sana, seluruh ruangan menoleh menatapku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!