Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Takdir Yang Berbeda
Tiga tahun telah berlalu sejak hari pernikahan mereka. Hidup Laras dan Sandi berjalan tenang dan penuh kehangatan seperti biasanya. Sandi kini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor terkemuka di kota.
Pekerjaannya menuntut banyak waktu dan tenaga, kadang dia harus pulang larut malam atau berangkat pagi buta sebelum matahari terbit. Namun dia tidak pernah sekalipun melupakan hal-hal kecil yang membuat rumah mereka terasa hangat.
Setiap pagi sebelum pergi, dia selalu menyiapkan sarapan sederhana di meja makan dan menempelkan secarik kertas kecil berisi tulisan tangan yang bertuliskan semangat untuk hari lu Laras. Setiap malam meski kelelahan, dia selalu menyempatkan diri duduk di samping Laras mendengarkan cerita-ceritanya tentang tulisan yang sedang dikerjakan atau hal-hal lucu yang terjadi hari itu.
Kesibukan tidak pernah menjadi alasan untuk saling mengabaikan. Mereka justru semakin memahami arti kebersamaan yang berkualitas.
Sementara itu di kota lain yang jauh di seberang benua, Arka berdiri di jendela kaca luas ruang kerjanya yang menghadap ke arah gedung-gedung tinggi dan pelabuhan sibuk. Dia kini menjabat manajer proyek di perusahaan minyak dan gas bumi milik ayahnya.
Posisinya tinggi, penghasilannya berlimpah, dan semua orang melihatnya sebagai pria sukses yang memiliki segalanya. Namun di dalam ruangan mewah itu, Arka sering merasa sendirian. Dia bekerja dengan sangat tekun, menyelesaikan setiap tugasnya dengan sempurna, dan sering kali orang-orang mengira dia adalah pekerja keras yang ambisius.
Padahal sebenarnya dia hanya berusaha mengisi setiap detik waktunya dengan pekerjaan agar tidak ada ruang kosong yang tersisa untuk merenung terlalu lama.
Banyak wanita yang mendekatinya. Ada teman kuliahnya yang dulu selalu menunggunya selesai kelas, ada rekan kerja yang cerdas dan ramah, bahkan putri rekan bisnis ayahnya yang cantik dan kaya raya.
Semuanya baik, semua pantas untuk dicintai. Tapi setiap kali seseorang mulai masuk ke ruang pribadinya, Arka selalu merasa ada tembok tak kasat mata yang menghalanginya. Dia membandingkan setiap tawa, setiap cara berbicara, setiap kebiasaan kecil, dan dia selalu berakhir dengan menyadari bahwa tidak ada yang terasa seperti di rumah. Tidak ada yang membuatnya merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
Suatu malam saat hujan turun deras di luar jendela kantornya, Arka membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop yang sudah agak menguning.
Di dalamnya ada satu surat terakhir dari Laras yang dikirim tak lama setelah hari pernikahannya. Laras menulis bukan untuk menyakiti atau memamerkan kebahagiaannya, melainkan untuk menutup cerita mereka dengan kebaikan.
"Halo Arka. Terima kasih sudah datang di hari pernikahan gue. Kehadiran lu justru membuat gue semakin yakin bahwa keputusan gue benar. Gue berharap suatu hari nanti lu juga menemukan seseorang yang membuat lu merasa cukup dan berbahagia. Jangan menutup hati lu hanya karena satu bab telah berakhir. Lu berhak dicintai sepenuhnya, bukan sebagai pelarian, bukan sebagai pengganti, tapi karena diri lu sendiri. Semangat ya Ka. Di mana pun lu berada, gue akan selalu mendoakan yang terbaik untuk lu."
Arka membaca surat itu berulang kali. Dia tahu Laras benar. Dia tahu menunggu seseorang yang sudah memiliki kehidupan sendiri adalah hal yang tidak bijaksana. Tapi hatinya belum bisa berubah secepat itu.
Dia belum siap untuk berpura pura bahagia bersama orang lain hanya karena dunia mengira itu yang seharusnya dia lakukan. Dia lebih memilih sendirian daripada menyakiti hati orang lain yang tidak bersalah.
Dia tidak ingin ada orang lain merasakan apa yang dulu dia rasakan seperti menjadi pilihan kedua, atau sekadar tempat berlindung saat 'hujan turun'.
Suatu hari Arka mendapat kesempatan perjalanan bisnis ke kota asalnya. Dia ragu cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk datang. Bukan untuk mengganggu kehidupan Laras, tapi untuk sekadar melihat dari jauh, memastikan bahwa dia benar benar bahagia seperti yang selalu dia doakan.
Dia tidak memberi tahu siapa pun tentang kedatangannya. Dia tiba di sore hari, berjalan menyusuri jalanan yang dulu sering mereka lalui bersama. Semuanya terasa akrab namun juga terasa asing sekarang.
Dari kejauhan dia melihat Laras sedang berjalan keluar dari gerbang sebuah gedung penerbitan. Tidak sendirian. Di sampingnya ada Sandi. Sandi terlihat lelah dengan pakaian kerja yang sedikit berkerut, tapi saat melihat Laras, senyumnya langsung muncul di wajahnya.
Dia menyambut Laras dengan pelukan hangat dan mencium keningnya dengan lembut. Laras tertawa lepas sambil menyodorkan sebuah naskah tebal ke dada Sandi, seakan baru saja memenangkan hadiah besar. Sandi membacanya sebentar sambil tersenyum bangga, lalu mereka berjalan berdampingan menuju mobil yang terparkir di seberang jalan.
Tidak ada kemewahan yang berlebihan, hanya kebahagiaan sederhana yang terasa begitu utuh dan nyata.
Arka berdiri di sana cukup lama, menonton mereka pergi dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa sedih, tentu saja. Tapi ada juga rasa syukur yang perlahan tumbuh di dadanya. Dia menyadari satu hal penting hari ini. Bahagia tidak berarti harus memiliki.
Melihat orang yang kita cintai hidup dengan baik dan dicintai dengan tulus oleh orang yang tepat, itu juga bentuk kebahagiaan yang sejati. Dia tidak akan memaksakan dirinya untuk segera mencari pengganti. Dia akan menunggu sampai hatinya benar benar siap, sampai dia bisa mencintai seseorang dengan tulus tanpa membanding bandingkan.
Sampai saat itu tiba, dia akan fokus membangun mimpinya sendiri, tumbuh menjadi pria yang lebih baik, dan belajar mencintai hidupnya sendiri terlebih dahulu.