Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
_____🌺
Dua jam kemudian, Dimas sudah tiba di kantornya. Namun penderitaannya sama sekali belum berakhir. Di ruang kerjanya yang luas, Dimas tak berani mendaratkan pantatnya ke kursi kerja.
Ia memilih berdiri di depan kubikelnya sambil mengetik laporan di komputernya dengan posisi membungkuk aneh.
"Dimas! Ngapain kamu dari tadi ngetik laporan sambil berdiri nungging begitu pantatnya? Kamu pikir kantor kita ini warung internet lesehan apa gimana?" Suara Pak Cokro mendadak menggelegar dari arah belakang, membuat Dimas terlonjak kaget.
"Aduh, eh, maaf, Pak Cokro! Ini pinggang saya lagi encok parah banget, Pak. Kalau dipakai duduk kena bantalan kursi agak keras sedikit aja, rasanya kayak kesetrum aliran listrik tenaga tinggi dari bawah," jawab Dimas melas, wajahnya memucat menahan perih di area tulang ekornya.
Pak Cokro mengerutkan keningnya heran menatap anak buahnya itu. "Encok? Umurmu baru tiga puluh tahun, Dimas! Masa udah encok kayak bapak-bapak mau pensiun? Kamu habis nguli panggul beras di mana semalam sampai tulangmu hancur begitu? Alasan aja kamu ini biar kerjaan lambat selesainya!"
"Sumpah, Pak, bukan nguli beras. Ini gara-gara ibu saya di rumah beli kasur terapi batu giok puluhan juta, Pak. Saya disuruh tidur di atas batu keras itu semalaman full. Kalau saya nolak, istri saya diancam diusir dari rumah, Pak," curhat Dimas jujur kelewat batas saking putus asanya.
Bagas yang duduk di meja sebelah langsung tertawa terbahak-bahak tanpa bisa ditahan lagi.
"Hahaha! Ya ampun, Dim! Kemarin jus delima Himalaya bikin mencret, sekarang kasur batu giok bikin lumpuh! Nyokap lo emang bener-bener agen perubahan radikal banget deh!"
"Diam kamu, Bagas! Jangan ikut campur urusan keluarga orang!" bentak Pak Cokro, namun pria berkumis tebal itu diam-diam ikut menahan senyum gelinya melihat wajah menderita Dimas.
"Ya sudah, Dimas. Kalau memang kamu nggak kuat duduk, kerjaanmu kamu bawa ke sofa ruang pantry saja. Di sana sofanya empuk banget. Jangan kerja nungging begitu di sini, ngerusak pemandangan klien yang lewat depan ruangan kita!"
"Siap, Pak Cokro! Makasih banyak, Pak! Bapak memang bos paling pengertian sedunia akhirat!" puji Dimas kegirangan langsung memeluk laptopnya dan berjalan tertatih menuju pantry kantor layaknya kepiting kehausan.
Sementara itu, di rumah, Nisa sedang menyusun rencana pemberontakan diam-diam.
Di saat Bu Ratna sedang pergi arisan siang, Nisa memesan sebuah topper kasur busa setebal sepuluh sentimeter melalui aplikasi ojek online. Ia berniat melapisinya tepat di atas kasur batu giok terkutuk itu agar nanti malam punggungnya bisa sedikit bernapas lega.
"Pak, tolong bantuin angkat masuk ke kamar utama di ujung sana ya, Pak. Pelan-pelan aja jangan sampai nabrak vas bunga antik di pojokan," bisik Nisa kepada sopir ojek online yang membawakan gulungan kasur busa besar tersebut.
Baru saja kasur busa itu berhasil dibentangkan dengan indah menutupi tumpukan batu giok keras, sebuah suara melengking memecah keheningan rumah dari arah pintu depan.
"Nisa! Ngapain kamu bawa-bawa masuk kasur busa tebal murahan itu ke dalam kamar?! Kamu mau sabotase total energi positif dari kasur batu giok Mama ya?!"
Bu Ratna ternyata pulang lebih cepat dari jadwal arisannya. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah murka.
Nisa mematung di tempat, langsung tertangkap basah tanpa ampun. Sopir ojek online yang ketakutan melihat amukan mertua itu buru-buru pamit undur diri dan lari keluar rumah secepat kilat.
"Ma, ampun, Ma. Nisa nggak kuat beneran tidurnya. Nisa lapisin busa dikit aja ya di atasnya biar empuk? Semalam pantat Nisa sampai kebas mati rasa nggak berasa apa-apa pas Nisa cubit pagi tadi," mohon Nisa menyatukan kedua tangannya di depan dada, memelas sejadi-jadinya.
"Nggak boleh! Pantang! Harus nempel langsung ke kulit batunya biar inframerahnya tembus ke rahim! Cepat gulung lagi kasur busa murahan ini, buang ke gudang belakang sekarang juga! Nggak tahu diuntung banget sih kamu ini dibeliin barang mahal malah milih busa harga tiga ratus ribuan!" omel bu Ratna tajam sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
Namun, baru tiga langkah Ibu Ratna berjalan mendekati ranjang, Nisa menyadari ada yang sangat aneh dengan cara jalan sang ibu mertua.
Wanita paruh baya yang biasanya selalu berjalan dengan dagu terangkat tinggi, punggung tegap, dan langkah anggun bak model papan atas itu, kini berjalan sedikit membungkuk.
Tangan kiri bu Ratna sedari tadi tak pernah lepas memegangi bagian pinggang belakangnya, dan sesekali Nisa bisa mendengar suara ringisan pelan keluar dari bibir merah mertuanya tersebut.
Nisa memicingkan matanya penuh curiga, sebuah ide nakal langsung melintas di otaknya.
"Loh, Mama kok jalannya bungkuk begitu sambil pegangin pinggang terus dari tadi? Terus itu ... daster bagian perut Mama kok kelihatan tebel banget kayak ada lilitan kainnya? Mama lagi pakai korset penahan tulang belakang ya? Mama encok juga ya tidur di kasur batu giok yang satunya semalaman?" tembak Nisa jitu tepat sasaran tanpa ragu sedikit pun.
Wajah mertuanya mendadak pucat pasi. Ia gelagapan merapikan dasternya yang sedikit tersingkap. Gengsinya seketika runtuh berantakan tertangkap basah oleh menantunya sendiri.
"Sembarangan! Siapa yang encok?! Mama ini jalannya agak bungkuk karena ... karena tadi di arisan Mama kelamaan nunduk milih-milih kain batik murah buat sedekah panti! Terus ini perut Mama tebel soalnya Mama habis makan banyak banget tadi! Bukan korset!" sangkal bu Ratna dengan nada suara yang tak lagi sekuat dan selantang biasanya.
Nisa tersenyum penuh kemenangan melihat wajah panik mertuanya. "Oh, masa sih, Ma? Coba Nisa pegang perutnya, kayaknya kaku banget itu lilitan kainnya. Terus kalau Mama emang nggak encok, coba Mama lompat kecil dua kali sekarang depan Nisa."
"Nisa! Kurang ajar ya kamu sekarang berani ngetes mertua segala! Udah, Mama mau istirahat dulu di kamar! Pokoknya kasur busa kamu ini gelar aja dulu buat hari ini, besok pagi harus udah dibuang ke gudang! Awas ya kamu!"
Bu Ratna buru-buru berbalik arah dan berjalan cepat setengah pincang menuju kamarnya sendiri untuk bersembunyi dari rasa malu yang teramat sangat.
Nisa tertawa puas di dalam kamar. Malam ini setidaknya ia dan Dimas bisa tidur nyenyak di atas kasur busa tanpa rasa sakit. Ia menyadari satu hal, mertuanya memang sangat julid dan menyebalkan, tapi gengsi besarnya sering kali menjadi bumerang komedi yang menghibur hati.
Nisa mengeluarkan ponselnya dan segera mengetik pesan untuk suaminya.
'Mas, nyokapmu ternyata pakai korset encok diam-diam gara-gara batu gioknya. Malam ini kita aman tidur pakai kasur busa lapis. Jangan lupa pulangnya tetap beliin seblak ya, kali ini level lima aja buat ngerayain kemenangan kecil kita hari ini.'
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh