Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.
Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.
Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.
Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
POV: Kirana
Aku Kirana Mahendra. Enam tahun lalu aku menikah dengan Rendra Bramantyo, dan sejak itu aku menjadi Nyonya Bramantyo yang kedua di salah satu keluarga terkaya Jakarta. Aku peneliti, punya anak perempuan berumur empat tahun yang jantungnya lemah, dan selama ini aku yakin pernikahanku baik-baik saja.
Yakin, sampai aku menaiki tangga ke lantai tiga pada sore berhujan itu.
Hari itu kami bertakziah untuk Raditya, kakak sulung suamiku, yang meninggal karena serangan jantung di usia tiga puluh dua tahun. Rumah besar di Menteng penuh dengan orang-orang yang selama ini hanya kukenal dari koran. Menteri, bankir, para pemain di bidang kesehatan yang napasnya bergantung pada Grup Bramantyo. Aku berkeliling di antara mereka dengan baju hitam, menyalami, mengucapkan terima kasih atas karangan bunga duka, memasang wajah yang diharapkan keluarga dariku.
Blusku terkena noda kopi saat makan siang. Aku naik ke lantai tiga hanya untuk mengganti dengan blus cadangan yang kutinggalkan di kamar tamu.
Saat itulah aku mendengar suaranya dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Rendra, beri aku anak."
Aku berhenti. Tanganku mencengkeram susuran tangga. Laras, janda Raditya yang baru kemarin ditinggal suaminya, bicara pelan dengan suara setipis benang, suara yang selalu ia pakai kalau ingin ada orang yang menopangnya.
"Laras."
"Eyang Kartika mau mengirimku ke luar negeri. Mau menyingkirkanku dari keluarga ini sekarang Mas Raditya sudah tidak ada. Kamu tahu itu."
"Tidak ada yang akan mengirimmu ke mana-mana."
"Akan. Aku sudah tidak punya apa-apa di sini. Tanpa Mas Raditya, aku cuma janda yang dicarikan Eyangmu. Dia yang membawaku ke sini, dia yang menjodohkanku, dan sekarang setelah aku tak berguna, dia membuangku."
Hening. Seharusnya aku turun. Aku tidak turun.
"Seorang anak akan menahan semuanya," katanya. "Anakku dan anakmu. Tak ada yang bisa mengusir ibu dari seorang Bramantyo."
"Kirana," ia mulai.
"Kirana tidak akan memberimu anak lagi. Dia sendiri yang bilang. Katanya Nindy lahir dengan masalah jantung dan dia tidak mau hamil lagi. Kamu tidak tahu?"
Aku menahan napas. Aku tidak pernah mengatakan itu pada siapa pun. Pada dia pun tidak.
"Dia tidak pernah bilang begitu padaku." Suara Rendra terdengar lebih lambat, dan meski lambat, aku tahu ia mempercayai Laras, bukan aku.
"Ya, begitulah. Dia memang jarang cerita padamu." Laras berhenti sejenak, jedanya terukur. "Aku mengenalmu sebelum dia, Rendra. Jauh sebelum semuanya. Kamu tahu apa yang pernah ada di antara kita."
Apa yang pernah ada di antara mereka. Enam tahun menikah, dan aku baru tahu dari sebuah pintu yang terbuka sedikit bahwa ada "sebelum aku."
"Aku sudah janji pada kakakku akan menjaga kamu," katanya. "Dan aku akan menepatinya. Kamu keluarga Bramantyo dan akan tetap begitu, Eyang setuju atau tidak."
Sesudah itu terdengar bunyi yang tak ingin kusebut namanya. Teredam, singkat, dari balik kayu pintu. Bunyi seseorang yang sedang dicium.
Aku mundur dari pintu tanpa sempat mengganti blus. Noda kopi itu tetap di sana, gelap di dadaku, dan aku menuruni tangga bersamanya seperti orang yang menggotong barang bukti.
Di tengah anak tangga, sesuatu yang kecil dan hangat memeluk kakiku.
"Mama."
Nindy. Memakai gaun hitam, rambutnya diikat miring, gelang jam pemantau jantungnya kebesaran di lengannya yang kurus. Ia membuka kepalan tangannya dan menjejalkan dua cokelat ke telapak tanganku, cokelat pesta yang sudah setengah meleleh oleh panas genggamannya.
"Tadi muka Mama sedih di bawah," katanya. "Cokelat bisa bikin enak."
Kututup jariku di atas dua cokelat itu dan di atas tangannya. Aku berlutut di anak tangga itu juga, lalu mencium kening putriku supaya ia tidak melihat apa yang sedang naik di tenggorokanku.
"Enak sekali, Sayang," kataku. "Terima kasih."
Kami turun bergandengan. Aku kembali ke ruang tengah, kembali pada para menteri dan bankir, menuang kopi, menerima ucapan belasungkawa. Nindy pergi bermain dengan anak-anak lain di sudut ruangan, dan aku berdiri dekat meja kecil tempat foto Raditya dipajang, dikelilingi untaian melati putih.
Sepuluh menit kemudian Rendra turun, rapi dalam setelan yang licin, wajah dukanya pas takarannya. Dengan kakaknya sudah tiada, Grup Bramantyo kini jatuh ke tangannya, dan semua orang di ruangan itu tahu. Laras menyusul di belakangnya, matanya merah, bertumpu pada lengan ibu mertuaku. Bu Wulan, ibu Rendra, selalu memperlakukan Laras seperti anak perempuan yang tak pernah ia punya, dan saat itu pun ia menggenggam tangan Laras, mengusapnya pelan, penuh perlindungan.
Rendra berdeham dan ruangan hening. Ia berbicara atas nama keluarga. Berterima kasih pada semua yang hadir, mengenang kakaknya sebagai lelaki lurus yang menopang Grup selama dua puluh tahun, meminta semua orang menghormati duka sang janda. Suaranya tak sekali pun bergetar. Orang-orang mengangguk terharu dan berbisik bahwa Rendra adalah adik teladan, seorang Bramantyo sejati.
Aku memandangnya. Benar-benar memandangnya, untuk pertama kali dalam enam tahun, tanpa saringan yang setiap hari kupasang di depan mataku sendiri.
Dialah lelaki yang kucintai bahkan sebelum ia tahu namaku. Setiap pagi aku membuatkan teh untuknya. Aku menyembunyikan beratnya penyakit jantung putri kami agar ia tak makin terbebani. Dan di sanalah ia, di depan tiga ratus orang, menjadi suami yang sempurna, sepuluh menit setelah berjanji memberi anak kepada istri kakaknya yang baru meninggal.
Laras mengangkat mata dari sapu tangannya dan menemukanku di seberang ruangan. Ia menahan tatapanku setengah detik. Lalu menunduk lagi, lembut, dan menyandarkan dahi di bahu ibu mertuaku.
Ia tahu aku melihat. Atau setidaknya ia membiarkanku mengira begitu.
Aku tidak berteriak. Aku hanya memutar cincin di jariku satu kali, lalu kembali menuang kopi.
Kami pulang pukul sembilan. Nindy tertidur di mobil dengan tangan yang masih terkepal. Sopir menyalakan wiper, dan kota lewat buram di balik kaca yang basah.
Di mobil itulah rasa sakitnya datang. Dalam, di tengah dada, sesak yang tak mau lepas. Kugenggam tangan putriku yang tertidur dan kukatupkan rahang kuat-kuat supaya tak ada air mata jatuh ke rambutnya. Enam tahun yang kusebut pernikahan sudah berakhir, dan tak seorang pun di dunia ini tahu selain aku.
Enam tahun aku menjadi Nyonya Bramantyo yang manis. Yang pengertian. Yang tak membuat keributan. Yang menuang teh dan menelan suara batuk perempuan lain di ujung telepon.
Cukup.
Sesampai di rumah, kubaringkan Nindy, kulepas jam pemantau dari lengannya dan kuperiksa angkanya sebelum berbaring. Ponselku bergetar sekitar pukul sebelas. Dia.
Kuangkat pada dering kedua.
"Halo." Suara Rendra terdengar lelah, terkendali, sama seperti biasa. "Malam ini aku tidur di rumah Eyang. Banyak yang harus diurus setelah takziah, berkas, orang-orang dari luar kota yang berdatangan. Jangan tunggu aku."
Jangan tunggu aku. Seolah dalam beberapa bulan terakhir aku masih menunggunya.
"Iya," kataku.
"Nindy sudah tidur?"
"Sudah."
"Ya sudah. Selamat malam, Kirana."
Ia menutup telepon sebelum aku sempat menjawab. Aku berdiri di ruang tengah yang gelap dengan ponsel yang masih hangat di tangan, dua cokelat leleh itu masih terselip di saku mantel hitam yang tersampir di kursi.
Kubuka aplikasi kontak. Kugulir sampai ke sebuah nama yang diberikan seorang kawan beberapa bulan lalu, nama yang tak pernah berani kusentuh.
Cantika Rahardjo, S.H. Pengacara.
Malam itu aku tidak menelepon.