NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Langkah Pertama di Luar Tembok

Lampu meja belajar Rayan masih menyala saat aku mengetuk pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Anak itu mendongak dari tumpukan buku catatannya, menyambut ku dengan tatapan bertanya. Aku melangkah masuk, lalu duduk di tepi tempat tidur busa tipis tempatnya biasa beristirahat.

"Rayan, minggu depan Mas harus ke Bandung selama tiga hari," ucapku membuka pembicaraan, berusaha menahan nada cemas yang mengintai di balik suaraku. "Ada pelatihan dari kantor pusat untuk penyelia baru."

Rayan menghentikan ketukan pulpennya. Ia menatapku sejenak, lalu tersenyum tipis. "Bagus dong, Mas. Berarti posisi Mas di kantor makin dipercaya."

"Mas ragu mau ambil," aku akui jujur. Aku menatap sudut ruangan, bayangan meninggalkannya sendirian di kontrakan ini membuat dadaku sesak. "Kamu belum pernah tinggal sendirian sejauh ini sejak kita pindah ke Jakarta. Mas khawatir."

"Mas Reno," potong Rayan lembut namun tegas. Ia menggeser kursinya agar bisa menatapku penuh. "Rayan sudah lima belas tahun. Rayan bisa masak, bisa jaga rumah, dan sekolah Rayan cuma sepuluh menit dari sini. Mas tidak bisa terus-terusan mengawasi Rayan setiap detik. Mas juga harus berkembang."

Kata-kata adikku itu telak menghantam kesadaranku. Di balik tubuhnya yang makin tinggi, Rayan rupanya tumbuh jauh lebih dewasa daripada yang kubayangkan. Rasa takut kehilangan yang ku pelihara bertahun-tahun ternyata mulai mengekangnya—atau mungkin, justru mengekang diriku sendiri.

Setelah memastikan seluruh stok bahan makanan terpenuhi, uang darurat tersimpan aman di amplop, dan berpesan pada pemilik kontrakan untuk sesekali melihat Rayan, aku akhirnya berdiri di Stasiun Gambir lima hari kemudian. Kereta arah Bandung meluncur membelah pagi, membawa serta separuh pikiranku yang tertinggal di kontrakan sempit kami.

Gedung pusat pelatihan di daerah Ciumbuleuit, Bandung, dikelilingi pepohonan rindang dan hawa dingin yang menusuk kulit. Puluhan peserta dari berbagai cabang perusahaan berkumpul di aula utama. Suasana riuh oleh tawa dan percakapan canggung antar pegawai yang baru pertama kali bertemu.

Sesuai kebiasaanku, aku memilih kursi paling belakang di sudut ruangan—posisi strategis untuk mengamati tanpa harus terlibat. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dan fokus pada materi yang akan disampaikan.

"Kursi ini kosong?"

Sebuah suara bernada renyah memecah konsentrasi ku. Aku mendongak dan menemukan seorang wanita berdiri di samping mejaku. Ia mengenakan kemeja formal berwarna krem dengan rambut yang terurai panjang namun rapih, memegang map dokumen dan segelas kopi panas. ID card yang tergantung di lehernya menunjukkan nama: Kareen - Penyelia SDM Cabang Bandung.

"Kosong," jawabku singkat tanpa banyak ekspresi.

Wanita itu tersenyum—senyum ramah yang spontan—lalu menarik kursi di sebelahku tanpa ragu. "Terima kasih. Di depan penuh banget, dan jujur aku paling malas kalau harus duduk di barisan depan pas sesi materi panjang."

Aku hanya mengangguk pelan, kembali menatap layar proyektor di depan aula. Biasanya, respon dingin seperti ini cukup untuk membuat orang lain paham bahwa aku tidak ingin diganggu. Namun, wanita bernama Kareen ini tampaknya punya daya tahan yang berbeda.

"Kamu dari cabang mana?" tanyanya lagi sambil menyesap kopinya, seolah tak terganggu oleh sikap kaku yang ku tampilkan.

"Jakarta. Cabang kawasan industri," jawabku seefisien mungkin.

"Ah, area pabrik utama ya? Pasti ritme kerjanya keras banget di sana," Kareen mengangguk-angguk paham. Ia mengulurkan tangannya hangat. "Aku Kareen. Senang berkenalan denganmu..."

Ia menggantung kalimatnya, menunggu namaku. Aku menatap uluran tangan itu selama beberapa detik. Ada dorongan instingtif untuk mengabaikannya dan kembali fokus pada proyektor. Tapi mengingat kami akan duduk berdampingan selama tiga hari ke depan, aku akhirnya menjabat tangannya singkat.

"Reno."

"Reno," ulang Kareen dengan nada yang renyah, seolah menandai nama itu di ingatannya. "Semoga kita bisa bertahan melewati delapan jam materi hari ini ya, Reno."

Saat sesi materi dimulai dan instruktur berbicara di depan, aku bisa merasakan kehadiran Kareen di sampingku—seorang asing yang tiba-tiba duduk tepat di samping tembok rapat yang telah aku jaga bertahun-tahun.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!