Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Bersama Teman
Tiba di rumah pukul sembilan lewat, Tya lebih dulu naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Diaz di ruang tengah yang baru saja menerima telepon entah dari siapa. Sama halnya dengan Ibu Suri yang langsung menuju kamar karena mau lanjut istirahat.
Dengan keriaan yang masih membekas di hati, Tya lanjut ke kamar mandi. Membersihkan diri dengan cepat lalu berganti pakaian tidur dan memakai ritual skincare malam. Selesai mengurai rambut dan menyisirnya, barulah terdengar pintu didorong dari luar.
Tya menghampiri laki-laki tampan yang baru saja menutup dan mengunci pintu. Menyentuh kedua bahunya dengan bibir mengulas senyum manis. "Abey, makasih...makasih."
"Untuk?" Diaz melingkarkan tangan di pinggang ramping Tya yang mengenakan setelan piyama pendek warna merah muda. Segar dan menggairahkan.
"Untuk cinta dan surprise hari ini yang nggak ketebak. Semoga rejeki suamiku ini makin bertambah dan berkah." Tya mengecup bibir Diaz.
Sudah bisa ketebak bagaimana respon Diaz selesai mendapat kecupan. Tya tersenyum geli melihat wajah yang memberengut dengan bibir dimanyunkan. Kedua tangannya beralih menangkup rahang yang ditumbuhi jambang tipis. Diatur sedikit menunduk agar leluasa mencium bibir tegas warna merah muda yang maskulin itu.
Bagaikan memancing singa yang sedang lapar. Diaz melakukan serangan balik dengan buas. Mendesak dan menuntut sampai badan Tya terus-terusan terdorong ke belakang hingga terjengkang di ranjang. Bibir tetap memagut, tangan terampil mempreteli kancing piyama sang istri hingga sepasang buah dada tanpa bungkus mencuat ke permukaan. Semakin menggeram lah ia.
"Stop, sayang. Bakal nanggung." Tya menahan kepala Diaz yang mulai turun ke dada. Tetapi peringatan itu tidak digubris. Laki-laki yang sudah terbakar hasrat itu melanjutkan apa yang diinginkannya.
Tak berselang lama, kepala Diaz terkulai di ceruk leher Tya. Dengan kesadaran penuh, ia memutuskan menyudahi dengan napas yang masih memburu. "Kapan bisa, Yang?"
"Empat harian lagi."
"Ah lama!"
Tya menepuk-nepuk punggung Diaz yang baru saja mendesah kecewa. Terkekeh pelan. "Sabar. Kan hukuman Abey juga dua minggu. Pas waktunya hukuman abis."
Diaz menggeram sebagai bentuk merajuk. Tetap berada di atas tubuh Tya sambil mempererat dekapan. Lapar luar biasa tapi tak mau dituntaskan dengan cemilan. Inginnya makanan berat yang mengenyangkan bawah perut dan menyegarkan pikiran.
"Engap, sayang." Suara Tya sampai tercekat dengan napas pendek-pendek.
Diaz menjatuhkan badan ke sisi kiri. Terlentang sambil mengurut-urut pelipis. "Besok kita pakai mobil baru sambil malam mingguan."
"Jam berapa perginya?"
"Sore aja jam empat. Jam sepuluh aku mau padel dulu sama Panu, Beha, partner satu lagi belum pasti siapa."
Tya memiringkan badan ke arah Diaz setelah selesai mengancingkan lagi bajunya. "Berarti aku bisa jalan dulu sama Anya. Anya ngajak window shopping ke toko buku di PIM. Boleh ya, Bey?"
"Jam berapa perginya?"
"Jam sebelas. Ibu juga besok nggak ada di rumah. Katanya mau ketemuan arisan di PIK."
"Boleh. Jangan cuma window shopping, beli sekalian kalau emang suka. Traktir juga itu Anya kalau dia pengen buku."
"Siap, Yang Mulia sayangku. Thank you." Tya memeluk Diaz dengan kaki menyilang. Tak sengaja lututnya membentur burung gagak yang masih tegak. Membuat pemilik burung mengaduh.
***
Tya belum berani membawa mobil baru seorang diri meski Diaz menyuruh memakainya. Memilih nanti saja setelah ditemani suaminya itu. Karena butuh berkenalan dulu dengan seluruh fiturnya. Ia pergi dengan mengendarai mobil sedan milik Ibu Suri yang dulu selalu dipakai setelah mahir kursus mengemudi.
Karena janjian bertemu di lokasi, Tya mengarahkan mobilnya ke mall dan bertemu dengan Anya di lobi. Teman barunya itu memeluk dengan riang.
"Tya, aku pengen curhat tapi nanti aja deh sambil makan. Sekarang cuci mata dulu. Aku mau lihat-lihat buku karya Tara Westover."
"Fiksi atau non fiksi?" Tya tak keberatan tangannya digandeng oleh Anya menuju toko buku ternama yang tempatnya sangat luas.
"Non fiksi. Bukunya pernah dibedah oleh akun apa aku lupa. Pernah baca selewat di IG. Kok kebayang terus gitu. Karyanya inspiring soal perempuan yang belajar mandiri sampai bisa raih PhD di Cambrige. Pokoknya ada beberapa buku luar juga yang pengen aku intip cover dan sinopsisnya."
"Oke. Kalau curhat soal Mas Devan kah?" Pancing Tya. Tatapannya sengaja disertai senyum menggoda.
"Bukan ih. Aku merasa bersalah sama orang yang nggak dikenal. Semalam sampai susah tidur karena kebayang ekspresi cowok itu nahan marah, kesal gitu. Mana dia nggak nanggepin kata maaf aku."
Kening Tya mengerut. "Orang nggak dikenal, gender cowok, bikin susah tidur. Hmm...kayaknya cowoknya menarik ya. Kronologisnya gimana, Anya?"
"Bukan soal fisiknya yang bikin aku kepikiran sampai susah tidur. Ah pokoknya nanti deh curhatnya setelah puas cuci mata."
Tya menaikkan sebelah alisnya. "Oke-oke. Kita puas-puasin quality time. Soalnya jam tiga aku udah harus sampe rumah. Mau lanjut ada acara sama Abey."
"Siapa itu Abey? Unik namanya." Anya sampai memelankan langkah sambil menoleh menatap Tya.
"Panggilan sayang untuk suami aku." Tya mengerjapkan mata berulang-ulang dengan cepat. Bibirnya tersenyum tersipu.
"Aih so sweet. Kalau kamu sama Mas Diaz dipanggil apa?"
"Ayang."
"Wit twiw! Prikitiwww! Kamu jangan jadi marketing KUA, Tya. Jadinya aku pengen buru-buru nikah deh."
Tya tergelak karena Anya menggelitik pinggangnya. Tingkah keduanya membuat beberapa pasang mata menoleh.
"By the way, abey artinya apa?"
"Kepo ya?"
"Iyalah. Abisnya unyu gitu dengernya. Apa sih artinya, Tya?"
"Jawabannya nanti aja sambil makan."
"Hais."
Pintu masuk ke toko buku sudah di depan mata. Percakapan dan tawa diakhiri karena tidak boleh gaduh. Begitu di dalam, secara spontan langkah Tya dan Anya berpencar. Melihat-lihat judul buku sesuai minat masing-masing.
Satu jam lebih tak terasa dilalui dengan berkeliling di toko buku yang super luas itu. Kadang mematung lama sekadar untuk membaca deskripsi yang ada di belakang sampul buku. Atau memegang buku dan galau untuk membeli atau tidak.
"Aku udah, Nya." Tya menghampiri Anya yang sedang berjongkok sambil membolak balikan buku. "Kau beli berapa?"
"Maunya tiga. Tapi satu aja dulu. Yang dua ini masuk wishlist dulu deh. Nunggu gajian." Anya berdiri. Sedikit meringis karena kesemutan saking lamanya jongkok.
"Beli sekalian aja. Biar aku yang bayarin."
Anya menggeleng. "Nggak usah, Tya. Nanti aja tahun baru aku beli. Sekarang bukan gak ada uangnya tapi ada skala prioritas."
"Oke deh. Bukunya yang mana emang?"
***
Suasana semakin siang semakin ramai pengunjung. Sekarang giliran Tya yang menggandeng tangan Anya menuju area food court. Temannya itu masih saja terlihat sungkan setelah dua buku yang rencananya akan dibeli setelah gajian justru dibayarin. Tya menjadi tahu, ternyata Anya orangnya tidak enakan.
"Anya mau salat dulu, nggak? Kalau aku lagi libur."
"Aku juga sama. Kalau gitu langsung makan aja yuk."
"Aku ke toilet dulu, Nya. Kau cari tempat yang nyaman buat ngobrol."
Setelah mendapat isyarat membulatkan telunjuk dan ibu jari dari Anya, Tya mengayunkan langkah mengikuti petunjuk arah toilet. Baru saja berjalan sekitar empat meter, langkahnya segera bergeser ke sekumpulan orang setelah pandangannya tak sengaja melihat sosok Leony.
Bukan takut, Tya hanya malas menyapa anaknya Selly yang diragukan Diaz sebagai anak kandungnya Ayah Hilman. Kecurigaan itu menunggu bukti nanti setelah Ayah Hilman jadi melakukan tes DNA.
Sehat selalu 🤲🏻
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁