NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba-Tiba Dipanggil Mamah

Setelah selesai memilih barang untuk anak perempuan di toko, Raya dan Kansa kembali melanjutkan perjalanan.

Lima belas menit kemudian. Mereka tiba di pelantaran rumah sakit, tempat dimana putrinya atasannya di rawat.

Kemudian mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung rumah sakit.

. . .

Begitu melewati pintu utama, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyapu kulit Raya. Aroma khas obat-obatan tercium samar. Beberapa perawat berlalu-lalang, sementara sesekali terdengar suara roda ranjang didorong melewati lorong.

Raya berjalan di samping Kansa. Ia hanya mengikuti langkah atasannya yang sesekali berbelok melewati lorong-lorong rumah sakit.

Tak lama kemudian, langkah Kansa berhenti di depan sebuah pintu kamar.

Raya ikut berhenti.

Kansa tampak mengangkat tangan, lalu mendorong pintu itu perlahan.

“Selamat pagi, princess-nya Papah.”

Suara lembut Kansa membuat Raya sedikit tertegun. Ia belum pernah mendengar atasannya berbicara selembut itu.

‘Ya ampun… Suaranya membuatku jadi semerinding ini.’

Raya mengusap lengannya, berusaha menyingkirkan hawa aneh saat Kansa berbicara dengan nada sebegitu lembut.

Raya kemudian menyusul Kansa masuk ke dalam ruangan.

. . .

Setibanya di dalam. Langkahnya berhenti saat

matanya langsung tertuju pada seorang anak perempuan yang sedang berbaring di atas ranjang. Wajah mungil itu tampak sedikit pucat, tetapi matanya seketika berbinar begitu melihat sosok Kansa.

“Papah!”

Anak itu mengangkat kedua tangannya.

“Syila kangen banget.”

Kansa menghampiri ranjang dan memeluk bocah kecil itu.

Raya berdiri beberapa langkah di belakangnya, menyaksikan bagaimana anak perempuan itu meraih tangan ayahnya.

Raya tersenyum tipis.

“Papah juga kangen sama Syila,” ujar Kansa sambil mengusap kepala putrinya.

“Papah lama sekali pulangnya, Syila jadi bosan di sini,” ucapnya.

Raya masih memperhatikan keduanya dalam diam. Dadanya terasa hangat saat melihat bagaimana ayah dan anak itu melepaskan rasa rindu satu sama lain.

Hingga sebuah memori kenangan bersama mendiang ayahnya muncul.

Bayangan saat dirinya sedang sakit, Ayah datang paling utama untuk menanyakan keadaannya.

Saat ia memiliki masalah di sekolah, Ayah datang untuk mencari keadilan untuknya.

Raya menundukkan wajah sebentar.

‘Ayah…’ jemarinya meremat ujung blazernya. ‘Raya rindu sama Ayah.’

“Papah...” panggilnya. “Siapa wanita ini?” tanya Syila polos. “Apa itu Mamah?”

Raya kembali mengangkat wajahnya dan mendapati mata bulat gadis kecil itu menatap ke arahnya dengan pemasaran.

Kening Raya seketika mengernyit. ‘Mamah?’

Pandangan Raya menatap ke arah sisinya, berharap ada wanita lain yang masuk selain dirinya.

Namun sayangnya, wanita di sini hanya ada dirinya seorang.

Raya kembali menatap ke arah gadis kecil itu, yang masih menatap ke arahnya dengan mata bulatnya.

Dan saat ia ingin mengatakan jika dirinya bukan Mamahnya, Kansa justru menoleh kepadanya.

“Iya,” jawab pria itu tenang. “Ini Mamah.”

Mata Raya membesar. “Pak—”

Ucapannya terhenti ketika Kansa mengangkat telunjuk di depan bibir, memberikan isyarat agar Raya diam.

Raya menatapnya tidak percaya.

‘Apa maksudnya?’

Kansa kemudian bangkit dari sisi ranjang dan berjalan menghampirinya.

“Ray, saya mohon sama kamu. Tolong berbohonglah demi Syila,” pintanya. “Nanti saya jelaskan semuanya.”

Raya masih menatap wajah atasannya yang menatapnya dengan penuh harap. Lalu Raya melirik ke arah gadis kecil bernama Syila yang kini masih menatapnya.

Hatinya melunak.

Akhirnya, Raya kembali menatap Kansa dan mengangguk pelan. “Baik, Pak. Saya akan ikuti perintah bapak.”

Kansa mengangguk lalu kembali ke sisi ranjang, sedangkan Raya menarik napas sebelum melangkah mendekati Syila.

Begitu berada di sisi ranjang, Syila langsung mengulurkan kedua tangannya.

“Ini Mamah, sayang.”

“Mamah... akhirnya Mamah pulang juga.” Suara Syila terdengar penuh kerinduan. “Syila kangen banget sama Mamah.”

Raya sempat terdiam.

Kemudian, perlahan, ia membungkuk dan membalas pelukan anak itu.

“Maafin Mamah,” ucap Raya lembut.

Syila semakin erat memeluk pinggangnya.

Lalu pelukan itu terlepas dan memberikan sedikit jarak.

“Kata Papah, Mamah kerja di luar negeri,” lanjut Syila. “Syila kira Papah bohong buat nutupin kalau Mamah nggak mau pulang karena Syila sakit-sakitan.”

Raya mengusap lembut rambut anak itu.

Pandangannya sempat terangkat, mengarah kepada Kansa yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Ada banyak macam pertanyaan demi pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

“Sekarang Mamah sudah pulang. Jadi, Syila nggak perlu kangen lagi, oke?”

Syila mengangkat wajahnya. “Berarti Mamah nggak akan pergi lagi?”

Raya mengangguk cepat tanpa ragu.

Hingga tersenyum lebar terukir di bibir gadis kecil itu, kemudian kembali memeluknya. “Mamah…”

“Iya, sayang,” jawab Raya sambil tersenyum tipis.

“Akhirnya kita bisa berkumpul lagi.” Suara Syila terdengar ceria. “Soalnya teman-teman bilang Syila nggak punya Mamah.”

Senyum Raya sedikit mengendur. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Raya hanya mengusap lembut rambut anak itu.

“Mamah, jangan pergi lagi, ya,” pinta Syila. “Syila nggak bisa hidup tanpa Mamah.”

Raya kembali terdiam mendengar ucapan gadis polos itu. Tatapannya kemudian perlahan beralih kepada Kansa.

Pria itu hanya memberikan anggukan kecil.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Jangan dengerin ucapan mereka. Mereka hanya iri melihat kehidupan Syila.”

“Syila janji nggak akan dengerin ucapan orang-orang itu.”

“Kalau begitu, Baby harus makan yang banyak,” ucap Kansa sambil mendekati ranjang. “Katanya kalau Mamah sudah pulang, Syila akan makan banyak biar cepat sembuh.”

“Iya, Papah,” jawab Syila sambil mengangguk patuh.

Kansa kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari salah satu kantong belanja yang tadi mereka bawa.

“Ini hadiah dari Mamah.”

Kotak itu disodorkan kepada Syila.

Mata anak itu langsung berbinar. Tangannya segera menerima kotak tersebut, lalu membukanya perlahan.

Sebuah kalung liontin tampak berada di dalamnya.

Raya langsung mengenalinya. Kalung itu yang tadi ia pilih di toko.

Syila mengambilnya dengan hati-hati. Matanya tidak lepas dari liontin tersebut sebelum kemudian kembali menatap Raya.

“Makasih, Mamah. Syila akan jaga pemberian dari Mamah.”

“Kalau begitu sini, Mamah pakaikan, ya. Berbalik lah,” ucap Raya.

Syila pun membalikkan tubuhnya.

Raya mengambil kalung tersebut, kemudian memasangkannya di leher mungil Syila. Setelah memastikan pengaitnya terpasang dengan benar, ia merapikan posisi liontin itu di dada anak tersebut.

“Sudah.”

Syila menyentuh liontin itu dengan ujung jarinya.

“Cantik, Mamah.”

Raya tersenyum. “Iya, cocok sekali buat Syila.”

Anak itu kembali tersenyum, tetapi beberapa detik kemudian kelopak matanya mulai turun.

“Mamah, Papah...” gumamnya.

“Iya, Sayang?”

“Syila ngantuk banget. Sepertinya suster kasih Syila obat lagi.”

Raya mengusap rambutnya. “Kalau begitu, tidurlah.”

Namun, Syila justru kembali membuka matanya.

“Tapi kalau Syila tidur, nanti Mamah nggak ada bagaimana?”

Sebelum sempat menjawab pertanyaan Syila, suara Kansa terdengar lembut dari sisi ranjang.

“Mamah nggak akan pergi.”

Syila menoleh kepada Kansa, lalu kembali memandang Raya.

“Benarkah?” tanya Syila memastikan.

Raya mengangguk pelan. “Iya sayang. Mamah di sini.”

Syila akhirnya tersenyum lega. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, lalu perlahan memejamkan mata.

Raya berdiri di sisi ranjang selama beberapa saat. Tatapannya tidak lepas dari wajah mungil yang mulai tertidur.

1
Tining Revi
makin seru thor.💪💪💪 lanjut
sunaryati jarum
Semoga Syla dapat pertolongan dan mukjizat maka sembuh.Rumah Raya langsung laku dan rencana mengusir suami,adik,ibu,dan ibu mertua berhasil dan lancar
sunaryati jarum
Emak sabar menunggu rumah Raya laku
Adinda
lanjut thor
Adinda
benalu banget punya suami dan keluarga seperti ini lebih baik tendang raya
Adinda
lebih baik cerai udah penghianat mokondo pula🤣🤣🤣
ary daramita
lanjut thor
Tining Revi
ceritanya bagus. makin seru.
ary daramita
good job. tinggal jual aja tu rumah biar nanti mereka jadi gembel
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Memang benalu raksasa bukan hanya lintah,kenapa tersinggung
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 mampus kalian, Zevan nanti setelah di cerai Raya langsung kalang kabut cara menutupi kebutuhan rumah tangga, karena gajinya ,dipotong pinjaman dan angsuran mobil.Diusir dari rumah Raya.Komplit , tahunya Rara hanya minta
lelih aliah
Maaf Aotor,dalam ajaran agama Islam ,adik kakak kandung tidak diperbolehkan untuk dinikahi ,kecuali kalau sudah bercerai
sunaryati jarum
Astaghfirullah suami,adik, mertua dan ibu dagjal.Setelah itu proses pasal pencurian dan perzinahan Raya.
sunaryati jarum
Segera usir mereka.Raya .emak saja enak akan kelakuan mereka.Emak cicin yang dicuri mertuamu harus dilaporkan ke pihak hukum,biar tahu rasa.
sunaryati jarum
Nah gitu Raya,pasti dengan adanya bukti dan kuasa Pak Kansa proses cerai lancar dan semua hak milikmu kembali.Biarkan adikmu yang tidak tahu terimakasih ,suami ,ibumu dan mertuaku gigit jari.Atas pencurian cincin agar diproses sesuai hukum pasal pencurian
Iffanaya 😽
pengen rasanya maki² si Rara, adek gk ada akhlak gk tau diri 👊
Iffanaya 😽
buang aja semua parasit yg ada di rumah mu itu raya 🤪
sunaryati jarum
Disakiti begitu dalam kok melunak,melunak otakmu yang dangkal itu Zevan .Dapat surat cerai dan diusir baru tahu rasa
sunaryati jarum
Untuk tujuh bulanan sampai nyuri warisan,anakmu cacat baru tahu rasa,trus rahim diangkat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!