Satu malam. Satu keputusan nekat. Dan hidup Samara berubah selamanya.
Samara Navira hanyalah resepsionis hotel biasa—yatim piatu yang bertahan hidup dengan tenang, menjauh dari masalah. Sampai suatu malam seorang pria asing berlumur darah menggedor jendela mobilnya dan memaksanya menyetir menembus gelap. Pria itu adalah Adam Darmawan: dingin, mematikan, dan ditakuti seluruh dunia hitam. Seorang bos mafia yang baru saja dikhianati kekasihnya sendiri.
Seharusnya Samara pergi begitu saja. Tapi begitu ia menyelamatkan nyawa Adam, ia ikut terseret ke dunianya—dunia penuh senjata, dendam, pengkhianatan, dan kekuasaan yang tak mengenal ampun. Dunia tempat musuh-musuh Adam kini juga memburunya.
Adam tak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Tapi perempuan keras kepala yang menolak tunduk padanya ini membangkitkan sesuatu yang ia kira sudah mati: keinginan untuk melindungi, untuk memiliki, untuk mencintai. Dan begitu sang mafioso menjatuhkan hatinya, ia takkan pernah melepaskannya.
Di antara peluru dan gairah, antara bahaya dan hasrat—apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas darah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jojo0609, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki yang Terluka
Samara takut kalau menjalankan mobil, lelaki itu akan menembak lalu melindasnya. Tapi ia juga takut kalau tetap diam, lelaki itu tetap akan membunuhnya. Ia bimbang, terjepit di antara dua pilihan yang sama-sama buruk.
"Buka pintunya," terdengar perintah lelaki itu.
Tanpa banyak berpikir, Samara membuka pintu. Lelaki itu masuk lalu memberi perintah lagi.
"Jalan."
"Kalau kamu mau mobilnya, ambil saja. Ini bukan mobilku, tapi aku bisa cari cara, pasti ada asuransinya," ucapnya dengan suara gemetar.
"Aku tak butuh mobilmu. Aku cuma perlu kamu menyetir, ke mana saja, pokoknya bawa aku pergi dari sini, sekarang!" kali ini Adam bicara sambil mengarahkan pistol ke tubuhnya.
Samara mulai menyetir lagi. Lampu sudah hijau, jadi ia melanjutkan perjalanan. Ia tak tahu harus ke mana, hanya terpikir satu tempat: rumahnya sendiri. Kenapa ide bodoh itu yang muncul, ia tak tahu, ia hanya terlalu gugup.
Seolah bisa membaca pikirannya, lelaki itu berbicara sementara Samara terus menyetir.
"Rumahmu, kamu tinggal dengan seseorang?"
"Tidak, aku tinggal sendiri." Begitu menjawab, ia langsung mengutuki dirinya sendiri karena terlalu jujur.
"Kalau begitu kita ke rumahmu. Aku harus mengeluarkan peluru ini. Sekarang aku bahkan tak bisa pulang ke rumahku sendiri," kata Adam, berharap perempuan itu mau bekerja sama.
Adam khawatir ada yang mengintainya di dekat rumahnya. Ia akan mencoba mengurus lukanya sendiri, dan mengisi daya ponselnya agar bisa menghubungi salah satu anak buahnya.
Samara, yang duduk di sebelahnya, masih gugup melihat seorang lelaki bersenjata dan berdarah begitu dekat dengannya. Setelah kelepasan bicara bahwa ia tinggal sendiri, kini yang bisa ia pikirkan hanyalah apa yang harus dilakukannya begitu tiba di rumah.
Pikiran lain yang mengganggunya, keberuntungan belakangan ini sama sekali tak berpihak padanya. Semuanya lepas kendali, dan seluruh kekacauan ini hanya berujung pada situasi-situasi yang menghancurkan bagi dirinya.
Ia memutuskan memecah keheningan, tapi pertanyaan yang keluar bukan yang semestinya ia tanyakan.
"Kamu terlibat perampokan?" tanyanya sambil menatap lurus ke depan.
"Apa aku kelihatan seperti perampok?" Adam meliriknya, menyadari betapa gugupnya perempuan itu.
"Aku tak tahu perampok punya ciri fisik khusus."
Adam menyipitkan mata ke arahnya. Dalam hati ia berpikir, perempuan ini bukan cuma cantik, tapi juga bermulut tajam.
"Kalau itu yang kamu khawatirkan, tenang saja, aku bukan perampok. Luka ini akibat pengkhianatan pacarku, atau lebih tepatnya mantan pacarku."
Samara memandangi lelaki itu, lalu lukanya. Dalam hati ia membatin, dalam hal itu ia masih beruntung. Dari pengkhianatan Doni, ia cuma dapat tambahan beberapa kalori dari satu bak es krim yang dilahapnya, dan patah hati.
"Selamat datang di klub," ucapnya, tanpa menatapnya langsung.
Kegugupan dan kecemasan membuatnya bicara lebih banyak dari yang seharusnya. Samara mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, sebelum ia mengucapkan sesuatu yang benar-benar membuat lelaki itu naik pitam.
Beberapa menit kemudian, Samara sampai di rumahnya. Sebelum turun dari mobil, Adam memastikan untuk memperjelas beberapa hal dengannya.
"Aku tak berniat menyakitimu, jadi jangan berbuat ceroboh. Aku cuma perlu mengeluarkan peluru dan meminjam pengisi daya ponsel. Aku janji setelah itu akan pergi, tanpa mencelakaimu," Adam berusaha bicara sejujur mungkin.
Itulah pertama kalinya Samara benar-benar menatap lelaki itu sejak ia naik ke mobil. Cahaya yang ada hanya berasal dari lampu jalan, dan dari sedikit yang bisa ia lihat pada wajah lelaki itu, tampaknya ia memang jujur.
"Ayo, tolong. Aku tak mau ada yang melihat kita di sini," ucap Samara, lalu mulai meraih tasnya untuk turun dari mobil.
Adam ikut turun dan mengekor di belakangnya. Samara mengunci mobil, sementara lelaki itu tetap menggenggam pistol, matanya menyapu sekeliling. Tak mungkin ada orang di sana, tapi ia tak mengizinkan dirinya lengah sedikit pun.
Baru setelah masuk ke dalam rumah, Adam sedikit lebih tenang. Sementara Samara mengunci pintu, kepala lelaki itu mulai berkunang-kunang dan ia nyaris terjatuh.
Secara refleks Samara memeluknya. Saat itu, tanpa bisa dicegah, wajah mereka jadi sangat berdekatan. Adam mencondongkan tubuh ke arahnya, matanya menahan tatapan Samara, membuat perempuan itu kembali mengalihkan pandangan, tapi kali ini dengan jantung berdegup kencang.
Dari jarak sedekat itu, Samara bisa melihat wajah lelaki itu lebih jelas, dan ia sadar betapa rupawannya lelaki di hadapannya. Meski dalam kondisi terluka seperti itu, pesona lelaki itu tak terbantahkan.
Adam berbicara, menyentaknya dari lamunan.
"Bawa aku ke kamar mandi, ini bisa mengotori tempatmu." Adam tahu darahnya akan mengucur lebih banyak selama prosedur nanti.
Samara membantunya berjalan ke kamar mandi, mendudukkannya di dalam bak mandi, dan menyadari lelaki itu sudah sangat lemah.
"Apa lagi yang mesti kulakukan?" Ia tak tahu siapa lelaki ini, tapi ia tak bisa membiarkannya mati di rumahnya.
"Ambil kotak P3K yang kamu punya, minuman keras yang paling kuat di rumahmu, pisau atau silet berujung tajam, dan tolong isi daya ponselku," pintanya dengan sopan.
Samara hanya ingin lelaki itu melakukan apa yang perlu dilakukannya lalu segera pergi dari rumahnya, dan ia berdoa agar lelaki itu tak mati di sana.
Ia mencari-cari pengisi daya cadangan yang selalu dibawanya di dalam tas. Untunglah colokannya sama dengan ponsel lelaki itu. Ia menyambungkannya untuk mengisi daya, lalu pergi mengambil barang-barang lainnya.
Di rumahnya hanya ada tequila dan bir. Ia mengambil minuman itu, tapi ia juga ingat masih menyimpan alkohol pembersih, jadi ia membawanya sekalian. Lelaki itu tampak tahu betul apa yang dilakukannya, mungkin ia bahkan sudah pernah melakukannya sebelum ini.