Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PREMAN UANG KEAMANAN
Sore itu Bang Tua sengaja jalan kaki pulang dari kampus, bukan naik motor seperti biasa, karena dia ingin mampir dulu ke fotokopian langganannya di gang kecil dekat area kos mahasiswa, tidak jauh dari kampus, untuk mengambil hasil jilid bab dua disertasinya yang sudah dia titipkan sejak pagi sebelum berangkat mengajar. Udara sore itu terasa sejuk, matahari mulai condong ke barat, memantulkan warna jingga lembut di atap atap rumah sepanjang jalan yang dia lewati, ditemani suara azan magrib yang samar samar mulai terdengar dari masjid kecil di ujung gang.
Fotokopian itu berdempetan dengan beberapa kios kecil, warung nasi, tukang jahit, dan penjual pulsa, yang sudah bertahun tahun berjejer di sepanjang gang sempit itu, membentuk semacam ekosistem kecil yang saling bergantung satu sama lain, tempat para pedagang saling kenal dan sesekali bertukar cerita di sela sela waktu senggang mereka, meminjamkan uang kembalian kalau ada yang kurang, atau sekadar menitipkan dagangan sebentar kalau ada yang harus pergi mengurus sesuatu. Bang Tua sendiri sudah jadi pelanggan tetap di beberapa kios itu sejak dia masih menjadi mahasiswa doktoral tahun pertama, meski jarang sekali dia benar benar mengobrol panjang dengan para pedagangnya, paling hanya sapaan singkat dan senyum tipis, cukup untuk membuat mereka mengenalinya sebagai "dosen yang rajin fotokopi" tanpa benar benar tahu namanya.
Baru beberapa langkah masuk gang, dia melihat kerumunan kecil di depan warung nasi milik Bu Inem, salah satu langganan makan siangnya yang terkenal dengan gulai ayam kampungnya yang selalu ramai pembeli setiap jam makan siang, bahkan beberapa dosen lain pun sering menitip beli lewat mahasiswa kalau sedang malas keluar kampus. Dua orang pria bertubuh besar, bertato di lengan, mengenakan kaus hitam yang sudah lusuh, berdiri angkuh di depan meja kasir sambil menagih sesuatu dengan nada mengintimidasi, membuat beberapa pembeli yang sedang makan siang jadi salah tingkah, ada yang buru buru menyuap makanannya lebih cepat, ada pula yang pura pura sibuk dengan ponselnya supaya tidak terlihat memperhatikan, seolah dengan tidak menatap langsung mereka bisa terhindar dari terlibat masalah.
"Udah bulan ini, Bu. Biasa aja, lima puluh ribu," kata salah satu dari mereka, suaranya santai tapi mengancam, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan hal serupa berkali kali, bahkan tanpa perlu berteriak sekalipun nada suaranya sudah cukup membuat siapa pun yang mendengar merasa tidak nyaman, semacam ancaman yang dibungkus dengan nada obrolan sehari hari.
Bu Inem terlihat gugup, tangannya gemetar saat mengambil uang dari laci kasir yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa sisi. "Ini bang, tapi bulan kemarin katanya sudah naik jadi tujuh puluh, kok sekarang..." suaranya melemah di akhir kalimat, seolah dia sendiri tidak yakin apakah pantas mempertanyakan hal itu, matanya menunduk seperti tidak berani menatap langsung kedua pria di depannya.
"Udah, jangan banyak tanya. Yang penting bayar," potong pria satunya, sambil menepuk meja pelan, cukup untuk membuat beberapa pembeli yang sedang makan jadi salah tingkah dan buru buru menghabiskan makanannya, ada yang bahkan sengaja meninggalkan sisa nasi demi cepat cepat pergi dari situasi yang tidak nyaman itu, meninggalkan uang lebih di meja tanpa menunggu kembalian.
Bang Tua berdiri agak jauh, pura pura sibuk memilih milih map di gerobak penjual alat tulis di sebelah fotokopian, padahal matanya terus mengawasi kejadian itu dari sudut matanya, jari jarinya sengaja bermain main dengan tumpukan map plastik supaya terlihat wajar sedang memilih milih barang, meski sebenarnya map map itu sudah dia pegang bolak balik tanpa benar benar dia perhatikan. Dalam hati, amarahnya sudah menggelegak, semakin lama semakin panas, seperti air yang direbus terlalu lama tanpa ada yang mematikan kompornya.
"Preman preman kayak gini nih yang bikin orang kecil makin susah. Bu Inem cari makan susah payah, bangun subuh masak sendirian, eh malah diperas kayak sapi perahan sama orang yang cuma modal badan gede doang. Mentang mentang badan gede, kira nya bisa seenaknya nakut nakuti orang. Kalau ada yang beneran ngelawan, baru tau rasa mereka, cuma berani sama perempuan tua yang nggak punya kekuatan buat lawan balik. Coba aja kalau yang dihadapin bukan Bu Inem, pasti langsung ciut mereka."
Kalimat itu berputar keras di kepalanya, tapi seperti biasa, tidak ada satu kata pun yang berani dia ucapkan lantang, meski tangannya sempat mengepal erat di dalam saku celananya, sesuatu yang jarang dia sadari sendiri kalau sedang benar benar marah. Dia hanya berdiri di sana, geram, ikut menyaksikan Bu Inem menyerahkan uangnya dengan wajah pasrah, sementara kedua pria itu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah, tertawa tawa kecil sambil berjalan menuju gang sebelah, mungkin menuju target berikutnya yang sudah menunggu giliran diperas juga.
Bang Tua menghela napas panjang, masuk ke fotokopian untuk urusannya, mengambil hasil jilidan bab dua disertasinya yang rapi terbungkus plastik bening, sempat berbasa basi sebentar dengan pemilik fotokopian soal cuaca yang mulai tidak menentu belakangan ini, tapi pikirannya masih tertinggal di warung nasi tadi, membayangkan wajah pasrah Bu Inem yang mungkin harus mengulang kejadian serupa lagi bulan depan, dan bulan depannya lagi, seperti lingkaran yang tidak pernah benar benar putus. Sebelum benar benar melangkah masuk, dia sempat menggumam pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri, sambil menatap ke arah gang tempat kedua preman itu menghilang.
"Orang kayak gitu, cepat atau lambat, pasti ketemu yang lebih galak dari mereka."
Gumaman itu keluar begitu saja, ringan, nyaris tak berarti, seperti biasanya. Bang Tua sendiri bahkan sudah lupa dia mengucapkannya begitu dia selesai fotokopi dan melanjutkan jalan pulang, pikirannya sudah beralih ke tumpukan tugas mahasiswa yang harus dia periksa malam itu, sekaligus jadwal rapat jurusan besok pagi yang belum sempat dia siapkan bahan presentasinya, dan daftar belanja kecil yang harus dia beli sebelum toko kelontong dekat kosnya tutup.
Sepanjang sisa perjalanan pulang, dia sempat mampir sebentar ke toko kelontong Pak Mulyono, membeli sabun cuci dan beberapa bungkus mi instan yang sudah menipis stoknya di kos, sambil sesekali membalas sapaan pelanggan lain yang kebetulan juga sedang belanja di sana. Pak Mulyono, seperti biasa, menyapa dengan ramah, menanyakan kabar disertasinya yang sudah beberapa kali jadi bahan obrolan ringan setiap Bang Tua mampir, meski jawabannya nyaris selalu sama, "masih jalan, Pak, pelan pelan", jawaban yang sudah menjadi semacam kalimat baku setiap kali ditanya soal itu.
Di perjalanan menuju kosnya, melewati jalan yang sudah mulai gelap karena lampu jalan di beberapa titik tidak menyala, entah rusak atau memang sengaja dimatikan untuk menghemat listrik, pikirannya sempat kembali sekilas ke kejadian di warung nasi tadi, membayangkan bagaimana rasanya jadi Bu Inem, harus tersenyum melayani pembeli sepanjang hari sambil menyisihkan sebagian keuntungannya untuk orang orang yang sama sekali tidak berkontribusi apa apa selain rasa takut yang mereka sebarkan. Perasaan itu membuat langkahnya sedikit lebih berat dari biasanya, meski begitu sampai di kos, semua pikiran itu perlahan tenggelam lagi di antara kesibukan malam yang sudah menantinya, tumpukan tugas mahasiswa yang harus segera dia beri nilai sebelum batas waktu yang dia janjikan sendiri kepada mereka.