NovelToon NovelToon
Di Labrak Selingkuhan Suami

Di Labrak Selingkuhan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.

hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.

apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.

dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yurinika 10

Pagi harinya, kedai kopi tempat Yuri bekerja baru saja menggeser papan Open di pintu depan ketika lonceng kecil bergemerincing. Suara langkah kaki yang teratur mengetuk lantai keramik, menarik perhatian Ajeng yang sedang menata cangkir di balik meja kasir.

Mata Ajeng seketika membelalak. Ia refleks menyenggol pinggang Yuri yang sedang sibuk menyalakan mesin espresso.

"Yuri... Yuri! Lihat deh, demi apa?!" bisik Ajeng dengan nada tertahan, menunjuk ke arah pintu menggunakan dagunya.

Yuri menoleh. Sosok pria berkemeja kasual bergaya elegan yang kemarin seharian merajai meja sudut dekat jendela itu kembali melangkah masuk. Dengan gestur yang sangat familier, pria beralis tebal dan berkacamata tipis itu langsung berjalan menuju meja favoritnya di pojok ruangan. Ia meletakkan tas kulitnya, merapikan kemejanya, lalu berjalan santai menuju meja kasir tempat Yuri dan Ajeng berdiri terpaku.

Ajeng menyenggol lengan Yuri lagi, kali ini lebih keras.

"Beneran datang lagi dong! Jam delapan pas kayak kemarin! Aneh banget nggak sih, Yur? Jangan-jangan dia beneran ngincar kamu atau malah... intel?"

Yuri menarik napas panjang, menepuk pelan tangan Ajeng agar tenang, lalu mengulas senyum profesional saat pria itu tiba di hadapannya.

"Selamat pagi, Mbak Yurinika," sapa pria itu dengan suara berat yang hangat dan ramah, persis seperti kemarin. Binar matanya di balik kacamata menatap lurus ke arah Yuri.

"Selamat pagi, Mas. Selamat datang kembali di kedai kami," balas Yuri ramah.

"Mau pesan menu yang sama seperti kemarin?"

"Paham banget," pria itu terkekeh pelan, tawa renyah yang terdengar sangat berkelas.

"Iya, Americano panas satu, tapi kali ini rotinya diganti croissant mentega ya. Mumpung masih hangat."

"Baik, Mas. Jadi satu Americano panas dan satu croissant mentega. Totalnya tiga puluh lima ribu rupiah," ucap Yuri seraya menginput pesanan ke layar kasir.

Pria itu mengeluarkan dompet kulitnya, menyerahkan lembaran uang tunai pas. Namun, bukannya langsung kembali ke mejanya setelah menerima struk, pria itu menyandarkan satu tangannya di meja kasir dengan santai.

"Oya, Mbak Yuri. Kalau boleh tahu, kedai ini biasanya buka sampai jam berapa?" tanyanya ringan.

Ajeng yang berdiri di samping Yuri langsung menajamkan telinganya, menyipitkan mata curiga.

"Kami tutup jam delapan malam, Mas," jawab Yuri jujur.

Pria itu mengangguk-angguk paham, melirik jam tangan perak di pergelangan tangannya sejenak, lalu kembali menatap Yuri dengan senyum tipis yang penuh arti.

"Bagus deh. Berarti saya masih punya waktu lama buat nyantai di sini."

Ia mengambil cangkir kopi dan piring croissant-nya yang sudah disiapkan, lalu memberikan anggukan sopan.

"Terima kasih ya, Mbak Yuri."

Pria itu melangkah kembali ke meja sudutnya. Tak butuh waktu lama, laptop canggihnya sudah terbuka, dan jemarinya kembali menari lincah di atas papan ketik.

Di balik kasir, Ajeng langsung menyambar bahu Yuri dan berbisik heboh.

"Tuh kan! Tuh kan! Gue bilang juga apa! Dia nanya jam tutup kedai segala! Fix ini mah, dia agen rahasia!"

Yuri hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Pikiran Yuri sebenarnya masih melayang pada Abimana yang tadi pagi ia tinggalkan di rumah dengan wajah frustrasi saat meratapi jatuh tempo KPR.

Ajeng terus melirik ke arah meja sudut dengan kening berkerut dalam. Setiap kali jemari pria itu berhenti mengetik dan matanya beralih ke arah meja kasir, Ajeng langsung menyenggol lengan Yuri dengan wajah panik.

"Yur, sumpah ya, gue makin yakin ini orang dibayar sama si Sandra!" bisik Ajeng setengah berteriak di balik mesin espresso.

"Coba mikir deh, hari gini mana ada cowok kaya berdandan rapi mau nongkrong di kedai kopi kecil dari pagi sampai sore dua hari berturut-turut? Dia pasti lagi ngumpulin bukti atau mata-matai kamu buat dijatuhin ke si Abimana!"

Yuri menghentikan kegiatannya mengelap cangkir. Ucapan Ajeng, meski terdengar agak berlebihan, ada benarnya juga. Sandra adalah tipe wanita nekat yang rela menghalalkan segala cara. Jika pria itu memang orang suruhan Sandra yang dikirim untuk mencari celah kesalahan Yuri, Yuri tidak boleh tinggal diam dan membiarkan dirinya diintip begitu saja.

"Kamu pegang kasir dulu ya, Jeng," ujar Yuri tegas, melepas apron hitamnya dan melipatnya rapi di atas meja.

"Eh, Yur! Kamu mau ngapain?" Ajeng menahan lengan Yuri, matanya membelalak.

"Aku mau selesaikan ini sekarang. Aku nggak suka diintai kayak begini."

Yuri melangkah mantap mendekati meja sudut. Pria itu menyadari kehadiran Yuri, lalu menghentikan ketukan jarinya di atas papan ketik dan mengalihkan pandangan dari layar laptop. Ia melepas kacamatanya, menatap Yuri dengan binar mata yang tenang.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak Yuri?" tanyanya ramah.

Yuri berdiri tegap, memasang raut wajah profesional namun penuh ketegasan.

"Mas, bisa bicara sebentar di luar? Ada hal penting yang harus saya tanyakan."

Pria itu sempat menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan ajakan mendadak itu. Namun, senyum tipis kembali terukir di bibirnya. Ia mengangguk pelan, menyandarkan layar laptopnya tanpa menutup aplikasi, lalu berdiri merapikan kemejanya.

"Boleh. Mari," jawabnya santai.

Mereka berdua berjalan keluar menuju area outdoor kedai kopi yang siang itu lengang karena terik matahari. Angin sepoi-sepoi bertiup pelan, membawa aroma biji kopi dari dalam.

Yuri berbalik menghadap pria itu, menyilangkan kedua tangan di dada dengan pandangan menusuk.

"Langsung saja ya, Mas," potong Yuri tanpa basa-basi.

"Mas ini sebenarnya siapa? Dan apa tujuan Mas nongkrong di sini seharian dari kemarin? Mas orang suruhan Sandra, kan?"

Pria itu terdiam sejenak. Mendengar tuduhan itu meluncur lurus dari mulut Yuri, ekspresi wajahnya tampak terkejut samar, sebelum akhirnya sebuah tawa renyah yang berat dan hangat lolos dari bibirnya. Senyumannya mengembang penuh misteri.

Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Yuri dengan binar mata penuh minat dan rasa ingin tahu yang dalam.

"Sandra?" Pria itu menggelengkan kepala terkekeh.

"Kalau memang saya orang suruhan wanita bernama Sandra itu... memangnya apa yang mau Mbak Yuri lakukan?" tanyanya balik dengan nada santai, membiarkan Yuri tetap dalam prasangkanya.

Wajah Yuri seketika makin mengetat, yakin bahwa dugaan Ajeng seratus persen benar.

"Tolong sampaikan ke bos kamu itu," tembak Yuri dingin dengan mata menyala-nyala.

"Saya nggak takut sedikit pun sama ancaman atau gertakan dia! Mau dia kirim kamu buat mata-matai saya tiap hari pun, saya nggak akan pernah mundur. Sampaikan juga ke dia, ambil saja suami tak berguna itu!"

Pria itu mendengarkan setiap kalimat Yuri tanpa menyela. Bukannya tersinggung atau panik karena dituduh, ia justru tampak terkesan melihat ketegaran dan keberanian luar biasa dari wanita di hadapannya.

"Pesan yang cukup keras," ujar pria itu pelan, mengangguk-angguk dengan senyum miring yang sulit diartikan.

"Baiklah... kalau begitu, saya akan perhatikan lebih detail lagi setiap gerak-gerik Mbak Yuri di sini. Supaya 'laporan' saya lebih lengkap."

"Kamu...!" Yuri mengepalkan tangannya gemas melihat reaksi pria itu yang terlampau tenang dan terkesan meremehkan gertakannya.

"Saya permisi masuk duluan ya, Mbak Yuri. Kopi saya di dalam keburu dingin," potong pria itu lembut.

Pria itu berbalik dan melangkah santai kembali ke dalam kedai kopi, meninggalkan Yuri yang berdiri mematung di luar dengan napas memburu dan amarah yang kian membakar dada.

1
Mundri Astuti
habislah kau Abimana ...diinjak" harga dirimu sama Sandra...pas banget jadi bonekanya Sandra 😛
Ambu Rinddiany Thea
getek pisan duuuhh . hyg ningali s sandra hancur
sunaryati jarum
Berkas perceraian sudah lengkap Sandra tinggal tranfer atau vidio arogan dan mesummu dengan Abimana viral.
sunaryati jarum
Emak segera kasih 5 🌟 jika Abimana sudah hancur dan Sandra transfer 2 M ke Yuri
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤭 Sandra jika kau ingin segera dinikahi Abimana segera transfer ke Yuri.Dan Abimana silakan menikmati hidupmu yang dikendalikan Sandra.
Ilfa Yarni
kalian bakal hancur lebih2 km abimana
Muft Smoker
mantaf kn Abimana ,,
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
ryuka
wkwkwkwk.. makan tuhh abimana jabatan manager kamu
Thewie
abiawak 🤣🤣🤣
Muft Smoker
kalo tau yurii lebih berharga buat km ,,
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏
ryuka
mampus kamu abimana
Ilfa Yarni
skr aja kau udah hancur gmn nanti klo Yuri menceraikan km Dan dia akan bahagia dgn adhyaksa gigit jari kau
Adrian
bodoh kamu abimana nanti kau hancur bersama gundikmu itu
ryuka
baguusss.. semangat teruss thoorrr
ryuka
gilaaaa fix ga tau malu sama sekali 🤣🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Sandra mengumbar sifat tidak ntahu malu, tidak punya sopan santun dan murahan.
Ambu Rinddiany Thea
aslina hyg marabkn ka lauk piranha eta s sandra ..
Fitria Syafei
jeng .jeng .. mengkeret kan Abymana kalau tau Yuri deh di samperin Sandra 😏 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 🥰
nely_48
yuri ketemu kenzie, mrk saling menguatkan
nely_48
apakah afhiyaksa sang duren anak satu ❓❓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!