【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29- Di Antara Langkah yang Kembali Sama
Kemenangan di gelanggang silat kemarin bukan cuma membawakan piala dan kebanggaan buat sekolah, tapi juga membawa perubahan besar dalam keseharianku di kelas X IPA 2.
Canggung yang berbulan-bulan membentang antara aku dan Nara seolah menguap lenyap diterpa angin sore di koridor GOR waktu itu. Senyuman manis dan tatapan hangat khas Maknar yang dulu sempat hilang, kini kembali hadir menyambut langkahku setiap kali aku berjalan masuk ke ruang kelas bersama Diko.
Tidak ada janji-janji muluk, tidak ada ajakan jalan ke luar sekolah, atau pembicaraan yang aneh-aneh. Selama status kami belum resmi jadian, kami berdua sama-sama menjaga batas. Hubungan kami mengalir sangat alami dan hangat, murni berpusat di lingkungan sekolah—mulai dari obrolan di bangku kelas, selasar belakang, hingga perpus.
Hari Selasa jam istirahat pertama, suasana kelas X IPA 2 agak riuh oleh anak-anak yang asyik mengobrol atau menyantap bekal makanan.
Aku dan Diko baru saja merapikan buku pelajaran Matematika yang baru selesai diajar oleh Bu Heni. Saat aku hendak berdiri dari bangku belakang untuk mengambil air minum dari dalam tas, sosok Nara berjalan mendekati mejaku. Tangannya membawa dua kotak susu kemasan dingin dan sebungkus roti cokelat.
"Nih, Sat," kata Nara sambil meletakkan satu kotak susu dan roti cokelat di atas mejaku dengan senyum tipis.
Aku menatap botol susu itu, lalu menatap wajah Nara yang kelihatan sangat cerah hari ini. "Eh, dalam rangka apa nih, Ra? Perasaan hari ini kamu gak lagi ulang tahun."
Nara tertawa kecil—suara tawa khasnya yang renyah dan sudah lama sekali tidak kulihat dari jarak sedekat ini.
"Biasa aja kali, Sat," balas Nara sambil menarik kursi kosong di depan mejaku dan duduk di sana. "Ini ucapan selamat sekali lagi buat piala kejuaraan silat kemarin. Lagian kemarin pas di GOR tak liat bibirmu agak memar, minum susu biar cepet pulih."
Diko yang duduk di sebelahku langsung menyenggol lenganku dengan sikutnya, menyunggingkan senyum goda yang sangat lebar. "Waduh, waduh... berasa ada angin segar nih di barisan belakang! Gue gak dibelikan juga nih, Maknar?"
Nara melirik Diko sambil melipat kedua tangannya di dada dengan gaya galaknya yang dulu. "Diko mau susu juga? Beli sendiri sana ke kantin bawah, kan punya kaki!"
"Yee, beda perlakuan emang kalau sama atlet juara!" cerocos Diko sambil tertawa ngakak, lalu bangkit berdiri. "Yaudah deh, gue ke kantin sendiri aja biar gak jadi nyamuk di sini!"
Diko melangkah pergi meninggalkan kami berdua di meja belakang. Suasana di sekitar bangku kayu itu mendadak terasa hangat dan sangat nyaman.
"Makasih ya, Ra," kataku pelan sambil membuka sedotan susu kemasan itu dan meminumnya.
"Sama-sama, Satria," jawab Nara tulus. Matanya menatap wajahku lekat-lekat, lalu lirih dia menambahkan, "Aku seneng banget bisa ngobrol santai lagi kayak gini sama kamu di kelas. Rasanya kayak beban berat di kepalaku udah diangkat semua."
Aku tersenyum menatap mata cokelatnya yang jernih. "Sama, Ra. Yang penting sekarang kita jalani aja yang di depan. Nggak usah ada yang ganjal lagi."
Nara mengangguk cepat, binar matanya memancarkan rasa lega yang teramat sangat.
Sejak hari itu, interaksi kami di sekolah makin intens dan mengalir tanpa sekat. Nara sering minta diantar ke perpustakaan untuk mengembalikan buku olimpiade, atau sekadar duduk bersama di selasar belakang sekolah saat jam istirahat kedua sambil membahas soal-soal pelajaran yang rumit.
Sementara itu, Riski yang duduk di barisan tengah makin menarik diri. Cowok itu kelihatan mati gaya setiap kali melihat keakraban kami yang kembali pulih. Di kelas, Riski tidak lagi seberani atau seaktif dulu. Dia lebih banyak diam atau memilih nongkrong di luar kelas bersama anak-anak IPS. Tidak ada lagi gaya tebar pesona atau bentakan sok hebat yang dulu pernah ditunjukkannya pada Nara. Semua anak kelas X IPA 2 bisa melihat jelas siapa yang akhirnya berdiri sebagai pemenang sejati.
Pada suatu sore usai jam pelajaran sekolah usai, hujan gerimis tipis membasahi halaman SMA Negeri kami. Sebagian besar murid sudah berhamburan pulang menuju gerbang luar.
Aku berjalan menyusuri koridor samping dekat lab Fisika bersama Nara. Tas ransel hitamku tersampir di bahu kanan, sementara Nara berjalan di sampingku sambil memeluk beberapa lembar modul latihan soal.
"Sat," panggil Nara pelan saat kami melintasi pendopo tengah yang sepi.
"Kenapa, Ra?"
Nara menghentikan langkahnya sejenak, memandangi rintik gerimis yang jatuh menimpa dedaunan pohon kedondong di parkiran.
"Besok Sabtu pas jam istirahat... kamu ada waktu gak di perpus?" tanya Nara agak ragu, pipinya sedikit merona merah.
Aku menoleh, memandangnya tenang. "Ada kok, Ra. Biasanya kan habis jam Olahraga tak sempetin ke perpus ngadem. Emang kenapa?"
Nara meremas ujung modul kertas di tangannya, menatap mataku dengan raut wajah yang sedikit malu-malu tapi terlihat sangat berharap.
"Anu... tak liat ada beberapa materi Fisika tingkat lanjut yang pembahasannya agak rumit," kata Nara pelan. "Aku mau minta tolong kamu dengerin aku simulasi presentasi materi itu sebentar di meja perpus paling belakang. Mau kan?"
Aku menyunggingkan senyum tipis, merasa senang bisa menjadi orang yang dipercayai oleh cewek sejelita dan sepintar Nara.
"Bisa banget, Ra. Nanti habis Olahraga tak langsung susul kamu ke meja belakang perpus," balasku lugas.
Mendengar jawabanku, senyum lebar Nara langsung terkembang manis. Matanya berbinar gembira.
"Beneran ya, Sat?! Makasih banget lho!" jawab Nara cepat dengan binar bahagia yang tidak bisa disembunyikannya lagi.
"Sip, tenang aja," kataku mantap.
Nara mengangguk-angguk gembira. Langkah kakinya yang tadinya pelan mendadak terasa sangat ringan saat kami kembali berjalan bersama menyusuri koridor menuju gerbang sekolah untuk naik angkot masing-masing.
Sore harinya di rumah usai mandi dan menjalankan salat Magrib, aku duduk di tepi kasur kamarku. Memandangi langit-langit kamar sambil memikirkan dinamika hubunganku dengan Nara di sekolah.
Ada perasaan hangat dan damai yang merayap di dalam dadaku. Semua rasa sakit hati, kecewa, dan masa-masa sulit saat harus menahan perih beberapa bulan lalu rasanya sudah terbayar lunas. Aku tidak pernah membalas pengkhianatan dengan amarah, dan kini takdir mengembalikan kebersamaan kami di sekolah secara sangat alami.
HP jadoel di atas meja belajarku bergetar sekali. Sebuah SMS masuk dari nomor Nara:
"Satria, makasih ya buat hari ini. Jangan lupa besok Sabtu di meja belakang perpus jam istirahat kedua ya! :P"
Aku tertawa kecil membaca pesan singkat itu, jemariku bergerak cepat membalasnya:
"Siap, Maknar. Gak bakal lupa kok. Selamat istirahat ya."
Malam itu, aku tidur dengan perasaan sangat lega. Hari-hari di sekolah kini terasa jauh lebih berwarna, dan aku tahu, momen di mana kami bakal meresmikan hubungan ini tinggal menunggu waktu yang tepat.