Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Ino
Karena weekend Ino, mempunyai banyak waktu bersama Cia, Hari ini karena cuaca bagus, tidak terlalu dingin dan anginnya normal, Ino memenuhi keinginan istrinya untuk berenang. Ino pun membawa istrinya ke Stinson Beach pantai ini sedikit jauh dari kota San Fransisco empat puluh lima menit berkendaraan sedikit ke utara San Fransisco. Karena hanya pantai ini yang aman untuk berenang. Sedangkan pantai - pantai di sekitar kota San Fransisco sangat tidak di sarankan untuk berenang, karena arus bawa laut yang kencang serta angin.
Wanita ini ketika dia berdandan dan menggunakan baju sedikit seksi membut Ino cemburu. Meskipun dalam keadaan hamil, kecantikan dan seksinya istri tercinta sangat terlihat. Di pantai ini aman, karena keaman dari pengelola pantai terpecaya. Ino menemani istrinya berenang di pantai.
"Kamu seksi sekali."
"Seksi saja ngak cantik."
"Cantik. Cantik banget."
"Sama mantan - mantan pacar mas lebih cantik siapa?" Ino melihat istrinya dengan sedikit kaget.
"Kok mantan sih."
"Masa mas seganteng ini ngak punya mantan pacar. Apalagi mas kan orang Ambon. Laki - laki Ambon itu...."
"Ondos ya. Emang adek tahu kata itu artinya apa?" Ino dan Cia tersenyum
"Tahu lah mas." Ino belum bercerita tentang mantan pacarnya. Cia sudah selesai berenang dan sekarang mereka sedang berjemur di kursi santai yang di sedia kan di sepanjang pantai ini. Sambil menikmati snack ringan dan minuman yang mereka bawa dari rumah.
"Dulu mas punya pacar, satu sekolah satu kesatuan."
"Kesatuan???" Cia pura - pura tidak tahu, sebenarnya dia sudah curiga dengan foto yang ada di media sosial Siska. Kaget yang Cia tunjukan membuat Ino curiga, naluri intelnya bekerja.
"Iya. Kami sama - sama lulusan akademi militer pada kesatuan yang sama." kecurigaan Cia semakin terjawab.
"Terus...."
"Pengen tahu banget."
"Ya sudah kalau ngak mau cerita, ngapain cerita." Cia sudah mulai marah, karena cerita Ino yang menggantung ini.
"Maaf sayang... Mas mohon maaf. Jangan marah ya nanti kecantikannya hilang."
"Emang kenapa kalau Cia ngak cantik mas mau kembali dekat dengan Fransiska Theo mantan pacar mas." Kecurigaan Ino benar, Cia sudah tahu tetapi dari mana perempuan ini tahu. Ino langsung memeluk istrinya. Dia bawa Cia kedalam pelukannya, karena saat ini Ino tahu emosi Cia sedang tidak stabil.
"I love you more Gracia Anastasya. I love you more. Hanya kamu perempuan yang mas cintai." Ino melihat air mata Cia keluar dan mengalir di pipinya. Ino sadar bahwa mood ibu hamil ini sedang tidak baik akibat perbuatannya.
Ino dan Cia sudah kembali ke unit apartemen mereka. Dia tahu bahwa dia sudah merusak mood istrinya, sepanjang perjalanan Cia hanya berdiam diri. Bahkan saat sampai di apartemen Cia langsung keluar mobil tanpa menunggu Ino membukakan pintu baginya. Barang - barang Ino tinggalkan, karena dia harus mengejar istrinya yang sedang marah.
Ternyata ketika mereka mau naik lif, Siska juga ada bersama dalam lif itu.
"Wooo... Pasangan merpati ini, seperti ada masalah ya."
"Bukan urusan kamu." Ino yang ketus menjawab pertanyaan Siska.
"Cool man." Siska melihat, bagaimana Ino berusaha menenagkan istrinya. Di dalam Lif itu dia memeluk istrinya sangat erat dan menciumnya. Hal yang tidak perna Ino lakukan saat bersama dengannya dulu, ketika ada masalah Ino akan menghindar dari dirinya. Siska sudah keluar dari lif tepat di lantai delapan unit apartemennya ada sedangkan Ino dan Cia kembali naik ke lantai sembilan. Ketika Siska pamit tidak ada respon dari Cia atau Ino.
"Mantan pacar mas Mayor Fransiska Theo, kami pacaran dsri sekolah kelas sebelas. Putus karena kami sama - sama egois, egonya tinggi dari sekolah, semakin menjadi ketika kamu menjadi seorang tentara. Sama - sama egois."
"Kenapa mas ngak perna cerita."
"Karena menurut mas itu tidak penting. Dia tidak penting.... Dari mana adek tahu bahwa mantan pacar mas Siska.... Jawab yang jujur."
"Ade curiga waktu ketemu mas ada di unit mba Siska waktu itu. Ade langsung cari media sosial mba Siska. Disitu ada foto mas dengan mba Siska."
"Kenapa waktu adek curiga, ngak langsung tanya kepada mas."
"Adek takut mas marah."
"Mana ada mas marah sama adek, yang ada itu adek yang marah mas."
"Maafkan adek mas... Tetapi benar mas sudah ngak punya perasaan sama mba Siska itu."
"Tidak. Yang mas cintai itu kamu sayang. Hanya kamu."
"Terus waktu itu mas ngapain di unit nya mba Siska."
"Tugas mas yang di pinjam Agung di titip ke dia. Karena Agung buru - buru mau ketemu istrinya di New York. Mas hanya di depan pintu unitnya."
"Keburu ketahuan adek kan."
"Sayang, mas ngak mau kehilangan kamu. Mas nyaman dan merasa dicintai sama kamu sayang. Hanya kamu sayang."
"Mas ngak bohong kan."
"Ngak. I love you Gracia Anastasya."
"Love you more mas Martinus Revelino Rehata." Ino langsung mencium bibir istrinya.
Cia sudah tidak mempermasalahkan keberadaan mantan mas Ino. Yang Cia tahu, cinta mas Ino suaminya hanya buat dirinya seorang mami dari anak - anaknya kelak. Cia langsung membersihkan dirinya, karena habis berenang Cia belum mandi menghilangkan air laut di tubuhnya. Karena Ino memang melarangnya katanya biar sampai dirumah saja. Bumil ini menikati air hangat di kamar mandinya. Ketika di berkaca di kamar mandi saat mandi dia melihat perutnya sudah mulai membuncit.
Cia memiliki grup keluarga yang dalamnya berisi nomor kontak adik - adik maminya juga saudara sepupunya. Hari ini, Cia ingin memamerkan perut buncitnya yang tadi dia foto di depan kaca yang ada di kamar tidur. Di dalam grup keluarga. Tentunya hal ini membuat semua keluarganya memberi ucapan selamat. Bahkan mama Ice langsung menangis waktu telepon dengannya. Dari grup keluarganya Cia tahu bahwa Max dan Mersi sudah berpisah. Dan Arnold di asuh oleh Max karena kesehatan Mersi yang tidak stabil. Sekarang Mersi ada dalam pengobatan di Jakarta. Lewat mas Yanto dan istrinya yang sekarang bertugas di Jakarta, Mersi masih di perhatikan oleh keluarga Max.