NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BELUM SEMPAT DITEBUS

"Dimas!"

Laras menerobos pintu ICU tanpa menunggu izin. Bau antiseptik menusuk hidung. Mesin di samping ranjang Dimas berbunyi nyaring, garis di monitor naik turun tak beraturan.

Dua perawat sudah di sana, satu memegang bahu Dimas, satu menyuntikkan sesuatu ke selang infus. Tubuh Dimas menegang, punggungnya melengkung, matanya terbuka tapi putih semua.

"Kejang pasca transfusi," kata perawat cepat. "Efek demam tinggi. Tolong semua keluarga tunggu di luar!"

"Tidak!" Laras menggenggam tangan Dimas yang dingin dan basah. "Mas, dengar aku. Kenzo di luar. Kenzo nunggu Papa."

Tangan itu tidak membalas. Tapi kejangnya mereda, napasnya tersengal-sengal.

Dokter jaga masuk dengan stetoskop. "Bu, di luar dulu. Kami harus pasang monitor tambahan."

Vania menarik Laras keluar dengan lembut. "Mbak, kasih dokter kerja."

Di luar, lorong ICU mendadak penuh.

Kajati masih berdiri di ambang ruang tunggu, tapi dua petugas dari Kejagung sudah berdiri di sisi kanannya, tidak menyentuhnya, hanya menutup jalan keluar. Wajahnya masih tenang, tapi tangannya sudah tidak di saku. Ia mengepal pelan.

Hendarto berdiri di depan kotak besi kecil yang terbuka, map cokelat, kaset, dan foto polaroid — semua bukti sebelas tahun kini tergeletak di meja perawat yang reyot.

"Pak," kata Hendarto dengan suara rendah, "turunkan tangan Bapak. Jangan buat ini lebih buruk."

"Lebih buruk?" Kajati terkekeh. Suaranya tetap halus. "Hendarto, kamu pikir Jakarta akan percaya kaset buram dan foto polaroid yang sudah jamuran? Kamu pikir mereka akan percaya seorang sekretaris tua yang pura-pura mati dan sopir yang sudah mati sebelas tahun lalu?"

"Jakarta sudah percaya," jawab Hendarto. "Karena bukan cuma itu. Tiga bulan lalu Bu Tuti kirim surat ke Jampidsus lewat saya. Tanpa nama. Isinya daftar rekening penampungan proyek pelabuhan. Dua minggu lalu, rekening itu bergerak — ada yang coba kosongkan malam yang sama Bu Tuti 'meninggal'. Transaksi itu terlacak. Ke satu nama."

Kajati menatapnya.

"Nama Bapak."

Bu Tuti yang duduk di kursi roda mengangkat wajah. "Kamu lupa, Pak? Kamu yang ajar saya cara simpan bukti. Kamu bilang, Tuti, jangan pernah simpan bukti di satu tempat. Simpan di tiga tempat. Satu di brankas, satu di rumah, satu di ingatan."

Sumi berdiri di belakang Laras, memegang bahu anaknya. Tangannya dingin.

Reza menunduk, mengambil foto polaroid itu lagi. Memandangi wajah ayahnya, ibunya, sopir yang ternyata ayah Laras, dan pria yang duduk di depan.

"Mbak Laras," katanya pelan, tanpa menatap Laras. "Bapak saya dan bapak Mbak... mereka di mobil yang sama."

Laras mengangguk. Air matanya jatuh ke lantai ubin.

"Selama ini saya pikir saya sendirian," lanjut Reza. "Ternyata kita... kita korban orang yang sama."

Vania yang menggendong Kenzo yang sudah bangun mengusap punggung Reza. Tidak ada kata. Hanya itu.

Mira yang sejak tadi diam menatap Kajati, tiba-tiba bicara.

"Pak, saya catat ya. Tadi Bapak bilang 'lepas setirnya, biar alam yang selesaikan'. Di kaset, suara Bapak jelas. Itu bukan halusinasi."

Kajati menatap Mira lama. Senyumnya hilang.

"Kalian semua sudah merekam ini, ya?" tanyanya. "Pintar."

"Tidak perlu kami rekam," kata Hendarto. "Ruangan ini ada CCTV."

Ia menunjuk sudut langit-langit. Lampu merah kecil berkedip.

Untuk pertama kalinya, wajah Kajati berubah. Bukan marah. Kecewa. Seperti guru yang melihat murid kesayangannya menyontek.

"Hendarto," katanya pelan, "kamu saya didik dari jaksa pertama. Kamu saya bawa ke setiap sidang."

"Karena itu saya nggak bisa diam, Pak."

Hening.

Dari dalam ICU, dokter keluar, melepas sarung tangan.

"Keluarga Pak Dimas?"

Laras berbalik cepat.

"Kejangnya berhenti. Demamnya masih tinggi, tapi stabil. Dia butuh istirahat total. Mungkin efek obat penenang." Dokter itu menatap Laras, lalu menatap kerumunan di lorong. "Tapi beliau sempat bicara sebentar sebelum tidur lagi."

"Apa katanya?" tanya Laras.

Dokter ragu. "Beliau bilang... 'kotaknya sudah dibuka ya?' dan 'bilang ke Reza, maaf'."

Reza menutup mata.

Laras masuk lagi, kali ini sendirian. Dimas terbaring, matanya setengah terbuka, napasnya berat tapi teratur.

"Mas," bisik Laras, duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. "Kotaknya sudah dibuka."

Dimas menggerakkan bibir.

"Isinya..."

"Kaset. Foto. Surat kamu." Laras menelan ludah. "Mas, kenapa kamu tulis kamu dipaksa tanda tangan pemindahan saham atas nama Pak Kajati?"

Dimas menatap langit-langit. Lama.

"Rudi... bilang kalau aku nggak tanda tangan... dia akan kasih tahu kamu... kalau pertemuan kita... diatur." Napasnya pendek. "Aku takut... kamu pergi bawa Kenzo."

Laras menutup mulutnya. Dadanya sesak.

"Mas, pertemuan kita diatur, aku sudah tahu. Ibu sudah cerita."

Dimas menoleh pelan, matanya berkaca-kaca.

"Kamu... masih di sini?"

"Aku di sini karena Kenzo butuh papanya. Dan karena..." Laras berhenti. Kata maaf terlalu murah, kata benci terlalu berat. "Dan karena kamu yang loncat depan pistol buat aku. Itu bukan diatur, Mas. Itu kamu."

Dimas tersenyum. Kecil, pecah.

"Ras... kalau aku nggak bangun..."

"Jangan ngomong gitu."

"Dengerin dulu." Ia menggenggam tangan Laras lebih kuat. "Di loker 27, di balik kotak besi itu... ada amplop kecil. Warna biru. Aku selipkan. Untuk kamu. Bukan untuk Reza. Untuk kamu."

Laras mengerutkan dahi. "Amplop biru? Nggak ada. Cuma kaset, foto, sama kertas."

"Ada. Di bawah busa kotak."

Laras berbalik, keluar setengah berlari.

Di ruang tunggu, kotak besi kecil masih terbuka di meja. Semua orang menatapnya saat Laras mengangkat kotak itu, meraba bagian dalam.

Di bawah busa hitam tipis, ada lipatan. Ia mencungkilnya dengan kuku.

Amplop biru kecil, sudah menguning, tulisan tangan Dimas yang terburu-buru:

Untuk Laras - Kalau aku berani jujur.

Di dalamnya, bukan surat panjang. Hanya satu lembar fotokopi akta rumah.

Rumah yang mereka tinggali. Rumah 4M yang digadaikan Rudi.

Di atasnya, stempel lunas. Dan di bawahnya, tulisan: Sudah ditebus, 3 bulan lalu. Uang dari tabungan Kenzo yang aku pakai dulu, aku kembalikan plus jual motor. Maaf aku nggak pernah bilang. Aku takut kamu pikir aku cari muka.

Laras memegang kertas itu dengan dua tangan. Kertas itu bergetar.

Di luar, suara borgol terdengar. Klik. Pelan, tapi jelas.

Kajati tidak melawan. Ia hanya menatap Laras sekilas sebelum digiring dua petugas Kejagung melewati lorong.

"Bu Laras," katanya sebelum belokan, "ayahmu sopir yang baik. Dia sempat rem dengan kaki kiri sebelum jatuh. Saya ingat."

Laras tidak menjawab. Ia hanya memeluk akta rumah itu ke dadanya, seperti memeluk sesuatu yang sudah lama hilang dan baru kembali, bukan dalam bentuk rumah, tapi dalam bentuk keberanian seseorang untuk menebus.

Dari dalam ICU, monitor Dimas berbunyi stabil. Tut... tut... tut...

Dan untuk pertama kalinya sejak pesan "Kurebut suamimu" masuk sebelas bulan lalu, Laras menangis bukan karena kehilangan, tapi karena sesuatu akhirnya kembali.

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!