Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Darah di Jalur Verdentia
Hans berdiri di persimpangan jalan utama desa, napasnya terengah-engah namun wajah tuanya memancarkan rasa lega. Selama tiga hari terakhir, ia bekerja keras melobi sebuah konvoi pedagang besar yang sedang melintas menuju wilayah Kekaisaran Verdentia. Berbekal sedikit sisa uang kas kastil dan diplomasi tingkat tinggi, ia berhasil mengamankan posisi bagi Arya dan pasukannya untuk menumpang rombongan tersebut.
Konvoi itu terdiri dari tujuh gerobak besar bermuatan kain dan gandum. Ketua Guild pedagang, seorang pria tambun bermata tajam bernama Vane, melirik Arya dan kelima prajuritnya dengan pandangan menilai.
Melihat zirah kulit yang ditambal pelat besi tipis dan pedang biasa yang dibawa pasukan Arya, Vane hanya mendengus. "Tuan Tua Hans membayar cukup mahal agar kalian bisa ikut konvoi ini, Tuan Muda Denwick. Tetaplah di gerobak paling belakang. Jangan membuat masalah, dan jangan menghalangi jalan pengawalku."
Arya tidak membalas hinaan tersirat itu. Ia hanya mengangguk singkat dan membawa pasukannya ke posisi yang ditentukan.
Perjalanan melintasi perbatasan memakan waktu dua hari. Mereka melewati jalanan tanah berbatu, melintasi tiga wilayah baroni kecil, dan masuk ke pinggiran kota setingkat Viscounty di bawah bendera Verdentia. Selama perjalanan, Max dan rekan-rekannya tetap menjaga disiplin. Mereka membagi jadwal jaga secara bergiliran tanpa disuruh, membuat beberapa pengawal bayaran konvoi yang melihatnya sedikit menaikkan alis.
Insiden terjadi pada sore hari kedua, saat konvoi melintasi celah sempit di antara dua bukit berbatu yang tertutup pepohonan rimbun.
Sebuah batang pohon pinus besar tiba-tiba tumbang dari atas tebing, menghantam jalan tanah dan memblokir gerobak terdepan. Kuda-kuda meringkik panik. Sebelum para pengawal konvoi sempat mengatur formasi, hujan anak panah melesat dari balik semak belukar. Dua pengawal langsung tumbang dengan leher tertembus panah.
Puluhan pria berpakaian compang-camping bersenjatakan kapak berkarat, golok, dan tombak kayu melompat turun dari lereng bukit. Serangan bandit.
"Bentuk formasi melingkar! Lindungi barang bawaan!" teriak Vane panik dari balik gerobaknya.
Namun, pengawal bayaran konvoi itu kurang berkoordinasi. Mereka terpencar karena panik dan terpaksa berduel satu lawan satu. Jumlah bandit yang mencapai tiga puluh orang dengan cepat menekan belasan pengawal tersebut. Bau darah mulai menguar di udara.
Di gerobak paling belakang, lima bandit berlari menyasar kelompok Arya.
Max, Josh, Willi, Erson, dan Kin langsung mencabut senjata mereka. Sedikit kepanikan melintas di mata mereka, ini adalah pertarungan hidup dan mati pertama mereka di luar sesi latihan.
"Rapatkan barisan. Jangan ada yang maju dari garis gerobak. Fokus pada area depan kalian," perintah Arya datar. Suaranya memotong kepanikan mereka.
Arya turun dari gerobak. Ia menarik pedang panjang peninggalan Aran dari sarungnya. Bunyi gesekan baja terdengar tajam.
Seorang bandit berbadan besar yang membawa kapak ganda berlari paling depan, mengincar kepala Arya dengan ayunan vertikal penuh tenaga. Ia berteriak keras untuk mengintimidasi.
Arya tidak berteriak, tidak juga mundur. Ia melangkah menyilang satu langkah ke kanan, keluar dari garis lintasan kapak tersebut. Kapak itu menghantam tanah kosong. Menggunakan momentum dari langkahnya sendiri, Arya menggeser pergelangan tangannya. Bilah abu-abu pedangnya meluncur dalam sudut horizontal yang memotong urat leher bandit itu dalam satu tarikan bersih.
Darah menyembur. Tubuh besar itu ambruk bahkan sebelum teriakannya selesai.
Empat bandit lainnya menghentikan langkah mereka secara refleks. Otak mereka mencoba memproses bagaimana rekan mereka yang paling besar mati dalam hitungan detik.
Arya tidak memberi mereka waktu. Ia melangkah maju dengan pola melingkar. Tanpa membuang tenaga untuk menyalurkan aura crimson-nya secara penuh, ia hanya mengandalkan ketajaman pedang barunya dan efisiensi gerakan Destreza.
Bandit kedua mencoba menusuk dengan tombak kayu. Arya menangkis batang tombak itu dengan punggung pedangnya, membelokkan arahnya, lalu melangkah masuk ke sudut buta bandit tersebut dan menusukkan pedangnya langsung ke celah tulang rusuk. Ia menarik pedangnya seketika, berputar menghindari tebasan golok dari bandit ketiga, dan memotong pergelangan tangan penyerangnya sebelum mengakhirinya dengan tebasan di dada.
Max dan rekan-rekannya di belakang tidak tinggal diam. Saat dua bandit tersisa mencoba menerobos dari sisi samping, Max menahan serangan mereka dengan zirah lengannya, sementara Josh dan Willi menusukkan pedang mereka secara bersamaan ke perut bandit tersebut. Sinkronisasi yang mereka latih selama dua minggu bekerja dengan sempurna.
Dalam kurang dari dua menit, area belakang konvoi itu dipenuhi lima mayat bandit. Arya berdiri di tengahnya, mengibaskan darah dari bilah pedangnya dengan satu gerakan tajam sebelum menyarungkannya kembali. Napasnya teratur.
Di bagian depan konvoi, para bandit yang tersisa mulai mundur dan melarikan diri ke hutan setelah melihat banyak rekan mereka tewas, baik oleh pengawal konvoi maupun akibat pembantaian efisien di bagian belakang.
Vane, Ketua Guild yang sedari tadi bersembunyi, berjalan gemetar keluar dari perlindungannya. Ia menatap ke arah gerobak belakang. Matanya tertuju pada lima mayat bandit yang mengelilingi Arya, lalu menatap pemuda itu yang sedang memeriksa kondisi zirahnya tanpa ekspresi.
Vane menelan ludah. Hinaannya kemarin menguap tak bersisa. Ia baru menyadari bahwa ia tidak sekadar membawa rombongan bangsawan miskin, ia membawa kelompok merarik yang sangat terorganisir.
👍