Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Di Apartemen
Hujan turun seperti ditumpahkan dari langit. Jakarta malam itu gelap total, hanya sesekali petir menyambar, menerangi koridor apartemen lantai dua belas yang dingin dan sepi.
Sejak dirumah tadi dia kepikiran tentang apartemen yang mereka cicil bersama saat mereka belum seperti ini dan dia tidak akan membiarkan Bimo ataupun siapapun mengambil miliknya ini
Naya berdiri di tengah ruang tamu apartemennya. Apartemen yang dulu dia cicil bersama Bimo dengan susah payah. Tangannya gemetar memegang gagang koper kecil berisi dokumen-dokumen penting miliknya yaitu sertifikat apartemen, buku nikah, dan beberapa foto lama yang sengaja tidak dia buang.
Dia sengaja datang malam-malam ke sini, berharap Bimo tidak tahu. Dia ingin mengambil berkasnya sebelum Bimo sempat memalsukannya karena ternyata lelaki yang nikahi selama ini itu adalah pengkhianat apalagi dia juga mengantar orangtuanya setelah dia usir.
Tapi dugaannya salah.
Suara kunci berputar di lubang pintu terdengar.
Tubuhnya menegang sempurna, tapi dia berusaha tetap menguasai dirinya agar tidak terlihat ketakutan. Dia harus kuat dan tidak boleh ditindas
Cklek.
Pintu terbuka.
Bimo berdiri di sana, basah kuyup. Jas hujan tipis yang dia kenakan meneteskan air ke lantai marmer. Wajahnya kaget, matanya merah.
"Naya kamu kok ada di sini?".
Naya membeku. Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak menyangka Bimo akan datang ke tempat ini juga walau dia sempat kepikiran soal itu
"Aku yang harusnya tanya," jawab Naya dingin, berusaha menyembunyikan takutnya. "Ngapain kamu ke sini?"
Bimo menutup pintu, melangkah masuk. "Aku... aku baru ngantar Bapak sama Ibu ke kontrakan di belakang pasar. Sempit banget, Nay. Tari nangis terus. Aku nggak tahu mau ke mana lagi. Cuma kunci apartemen ini yang masih aku pegang jadi aku datang kesini untuk tinggal, aku tidak punya tempat lain."
Dia menatap istrinya itu dengan tatapan memelas, tatapan yang selalu bisa meruntuhkan sifat keras kepala Naya tapi sekarang seperti nya itu tidak akan lagi mempan kepadanya.
Naya tertawa pahit. "Oh, jadi kamu pikir kamu masih berhak pulang ke sini? Setelah tadi sore kamu bawa Diandra ke rumah kita dan setuju dengan pernikahan gila itu? Setelah ibumu mendorong ku sampai jatuh kedasar jurang karena menghinaku?"
"Nay, please dengerin aku dulu-". Bimo maju berusaha menggapai tangan Naya tapi Naya mundur selangkah tidak ingin disentuh.
"Jangan mendekat!".
Naya mundur selangkah, memeluk kopernya erat, dia tahu bagaimana emosinya laki-laki ini dan dia tidak mau jika Bimo bertindak nekat padanya.
Bimo berhenti, lalu tiba-tiba berlutut menatap Naya dengan tatapan putus asa dan juga pandangan malu, dia harus mencari cara agar Naya tidak meninggalkan dirinya, dia tidak mau kalau dirinya kehilangan tambang uangnya selama ini begitu royal padanya dan juga keluarganya.
"Nay, aku khilaf. Sumpah demi Tuhan aku khilaf. Diandra yang terus mendekati aku di kantor. Dia bilang kalau aku mau sama dia, jabatanku aman, aku bisa jadi manajer. Aku kejebak, Nay."
"Dan kamu mau mengorbankan pernikahan lima tahun kita untuk jabatan?" suara Naya bergetar menahan tangis.
"Lima tahun, Bim. Lima tahun aku nemenin kamu dari nol. Waktu kamu masih staf biasa gaji UMR, aku yang masakin bekal. Waktu kamu kena PHK dua tahun lalu, aku yang jualan online buat bayar cicilan apartemen ini. Sekarang setelah kamu naik, kamu lupa?". Teriaknya dengan penuh emosi.
"Aku nggak lupa!" Bimo berteriak frustasi. "Makanya aku nggak mau cerai! Aku akan putusin Diandra! Aku janji!".
"Terlambat dan aku tidak peduli dengan penyesalanmu itu."
Naya menyeret kopernya menuju pintu. "Apartemen ini akan aku jual. Suratnya atas nama aku. Kamu tidak akan dapat sepeser pun dari hasil penjualan itu."
Wajah Bimo langsung berubah dari memelas menjadi marah. Dia berdiri, menahan lengan Naya dengan kasar. Dia tidak akan membiarkan Naya lolos begitu saja setelah perjuangan mereka saat ini
"Enak aja! Ini harta bersama!, kamu tidak bisa menjualnya seenaknya dan tidak memberikannya padaku, aku punya hak!!""
"Lepas, Bimo! Sakit!". Jeritnya.
Dia meronta-ronta minta dilepaskan tapi cengkraman Bimo sangat kuat sehingga menimbulkan ruam mereka pada pergelangan tangan Naya, dia meringis kesakitan.
"Aku bilang jangan pergi dulu sebelum kamu maafin aku!, kita harus selesaikan ini sekarang juga! ".
"Aku tidak mau dan aku tidak sudi memaafkan pengkhianat seperti mu". Bentaknya dengan suara menggelegar.
"Terserah apa katamu, jika kamu ingin keluar dari sini, kamu harus memaafkan aku dan kembali padaku!! ". Geramnya semakin mencengkram tangan Naya dengan keras
Naya meronta tapi dia kalah dengan tenaga Bimo jauh lebih besar darinya apalagi dia hanya seorang perempuan.
Tiba-tiba...
BRAK!
Pintu apartemen terbuka dengan kasar, membentur dinding. terdengar suara nyaring akibat benturan itu, dengan nafas memburu, lelaki yang ada disana mematung menyaksikan tangan sahabatnya diperlakukan seperti itu
Raka berdiri di ambang pintu. Sahabat Naya sejak kuliah. Kaosnya basah kuyup menempel di badan, napasnya ngos-ngosan karena lari menaiki tangga darurat saat lift mati.
"Lepasin tanganmu dari dia, Bimo!". Teriak Raka dengan penuh emosi.
Bimo menoleh kaget. "Raka? Ngapain kamu di sini?! Ini urusan rumah tangga kami!, jangan ikut campur!!, kamu tidak berhak ada disini".
Raka melangkah masuk tanpa permisi, langsung menepis tangan Bimo dari lengan Naya dengan kuat hingga Bimo terhuyung dan cengkraman tangannya akhirnya terlepas dari Naya sepenuhnya.
"Urusan rumah tangga yang sudah selesai karena kamu selingkuh," kata Raka dingin.
Naya langsung bersembunyi di belakang Raka, mengatur napas.
Bimo menatap Raka dengan benci. "Oh... jadi ini rahasianya? Pantes berani usir aku tadi sore. Ternyata sudah punya simpanan! Selingkuh kamu ya, Nay?!". Teriaknya dengan menunjuk wajah Naya dengan kasar.
"Jaga mulutmu, Bim!" Raka mencengkeram kerah Bimo. "Aku ke sini karena Naya telepon aku, dia takut kamu datang dan kasar. Dan terbukti benar!"
"Cukup! Hentikan!". Naya berteriak, air matanya tumpah.
Hening. Hanya suara hujan yang menghantam kaca yang terdengar hanya nafas memburu dari mereka.
Naya menatap Bimo untuk terakhir kalinya. "Dengar baik-baik. Aku tidak selingkuh. Raka cuma sahabatku. Kamu yang menghancurkan semuanya karena Diandra. Sekarang rasakan jadi tidak punya apa-apa."
Dia menggandeng tangan Raka. "Ayo pergi, Rak."
Mereka berjalan keluar. Bimo tidak berani menahan lagi setelah melihat tatapan Raka.
Di dalam lift yang dingin, Naya akhirnya ambruk. Dia menangis sejadi-jadinya di bahu Raka yang basah.
"Aku nggak kuat, Rak..."
Raka hanya menepuk punggungnya pelan. "Udah, keluarin aja. Gue di sini."
Di lantai dua belas, Bimo tertinggal sendirian dalam gelap, mendengarkan suara lift yang menjauh, dan hujan yang tidak kunjung berhenti.
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal