NovelToon NovelToon
Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Lorena Carapia

Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.

Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.

Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.

Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.

Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.

Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maharani

"Tuan Adikara," sapa suara perempuan di ujung sambungan.

"Turunkan semua saham perusahaan Wijaya. Buat harganya jatuh, lalu beli seluruh sahamnya... Aku mau perusahaan itu ada di tanganku..."

"Itu akan memakan waktu, Tuan," jawab si asisten.

"Paling lambat besok, aku mau perusahaan itu sudah di bawah kekuasaan perusahaan Adikara."

"Apa yang coba kau lakukan, Mario?"

"Apa aku harus menjelaskan apa yang kulakukan padamu, Arman," balas Mario sambil menatap sahabatnya.

"Tidak."

"Tapi menurutku ini konyol. Itu keluarga istrimu."

"Mmm."

"Jangan naif, Arman. Kukira kecerdasanmu lebih dari itu, sayangnya aku salah."

Mario menggendong Elisa dalam pelukannya. Arman membuka pintu kamar. Sebelum pergi, Edwin melakukan beberapa panggilan telepon.

Sebuah ambulans dari klinik pribadinya akan tiba dalam beberapa menit untuk memindahkan Elisa ke mansion Maharani, nenek Mario.

Saat melangkah keluar dari kamar, Mario berpapasan dengan Yosef.

"Boleh saya tahu ke mana Anda membawanya? Elisa belum sehat, atas saran dokter ia harus tetap di sini."

Yosef takut kalau begitu siuman, gadis itu akan menceritakan semuanya dan Mario akan mencari Diana. Itu akan mengerikan, sebab bagi pria sekuat Mario, menemukan Diana bukanlah pekerjaan sulit.

Mario bahkan tak sudi repot-repot menjawab Yosef. Ia terus berjalan menuruni tangga. Yosef mencengkeram tangan Arman, mengira gampang menggertak pemuda itu.

"Katakan ke mana ia membawa putriku. Elisa tak boleh pergi sampai ia siuman."

"Entahlah. Mario bukan pria yang suka menjelaskan apa yang ia lakukan. Nanti Anda akan mengenal wataknya. Demi kebaikan Anda sendiri, lebih baik jangan menjadikannya musuh."

Terakhir, Arman menambahkan,

"Sepandai-pandai membungkus, yang busuk berbau juga. Cepat atau lambat, kebenaran pasti tersingkap."

Pemuda itu menyentakkan tangannya lepas dari cengkeraman Yosef, dan terus melaju menyusul Mario. Di luar, ambulans yang dipanggil Edwin sudah menunggu.

Gadis itu dinaikkan dan dibawa ke mansion Maharani. Sepanjang perjalanan, Mario mengikuti ambulans dari dekat.

Setiba di sana, Maharani sedang duduk di taman. Ia menyeruput secangkir teh yang menyegarkan.

Ia bangkit begitu melihat ambulans. Nenek itu mengira sesuatu yang buruk menimpa cucunya.

Pikiran-pikiran buruk itu membuat jantungnya berdebar cepat. Ia mendekati pintu masuk dan melihat para petugas menurunkan Elisa dengan sangat hati-hati.

Melihat yang diturunkan seorang wanita, Maharani kebingungan, lalu melihat cucunya turun dari mobil. Ia mengalihkan langkah dan menghampiri Mario.

"Rumahku bukan rumah bordil. Beraninya kau membawa salah satu simpananmu kemari?"

Mario melihat melewati bahu neneknya, ke arah para petugas yang menunggu perintahnya.

"Masuk, dan bawa ia ke kamar di lantai atas, kamar paling ujung koridor."

Murka atas perintah cucunya, Maharani memukul lengan Mario. Siapa pemuda ini merasa berhak memberi perintah di rumahnya?

"Andai kakekmu masih hidup, ia akan menghajarmu sampai mati. Berani-beraninya kau memberi perintah di hadapanku!"

Mario menaruh kedua tangannya di lengan Maharani. Hal terakhir yang ia inginkan adalah membuat neneknya marah.

"Nenek, ia bukan salah satu simpananku. Ia istriku. Namanya Elisa Wijaya. Ia mengalami kecelakaan, dan akan tinggal di sini sampai pulih."

"Oke."

Maharani tak percaya pada Mario. Ia terlalu mengenal cucunya untuk percaya bahwa pemuda itu sudah menikah.

"Mario, jangan bercanda."

"Kalau aku tak mengenalmu, mungkin aku akan tertipu kebohonganmu. Bawa ia ke tempat lain. Aku tak mau ia di sini."

"Aku bersumpah ia istriku. Nanti akan kutunjukkan akta nikahnya. Sekarang biarkan aku lewat, kumohon."

Dengan ragu, Maharani menyingkir. Mario mempercepat langkah dan menunjukkan pada para petugas kamar mana yang harus dituju untuk membawa Elisa.

Elisa dibawa ke kamar Mario.

Keesokan paginya, tepat pukul 11.00, Elisa mulai siuman. Melihat dinding-dinding berwarna hitam dan segala detail mewah itu, ia sangat terkejut.

Ia membuka mata sepenuhnya, dan segala yang mengelilinginya berbeda dari mansion Wijaya. Dindingnya bernuansa netral, warna hitam ada di mana-mana.

Vas-vas di dalam ruangan berwarna sama, begitu pula perabotnya. Rasanya seperti ia telah mati dan terbangun di tempat yang sangat asing.

Satu-satunya yang menghidupkan kamar misterius itu adalah aroma mawar. Kebingungan, Elisa menegakkan punggung, menyandarkan separuh tubuhnya di kepala ranjang.

Tak jauh darinya, berdiri seorang wanita. Namanya Irma, kepala pelayan Maharani. Hanya ia yang boleh masuk ke kamar Mario. Ia bertugas menata mawar yang setiap pagi diperintahkan Maharani untuk diletakkan di kamar itu.

"Siapa kau?"

Wanita itu menoleh, memperlihatkan senyum lebar. Ia menyelesaikan penataan buket mawar terakhir lalu berkata,

"Selamat pagi, Nyonya Adikara..."

"Maaf kalau saya masuk tanpa mengetuk, tapi Nyonya Adikara memerintahkan saya membawa mawar-mawar ini."

Elisa semakin bingung tiap detiknya. Siapa Nyonya Adikara? Di mana ia berada? Siapa wanita di hadapannya ini? Apa ia sudah mati dan terlahir kembali dalam tubuh wanita lain seperti di cerita-cerita?

"Aku mau cermin," pinta Elisa. Ia ingin memastikan tubuhnya masih miliknya.

Irma mengambilkan satu dan menyerahkannya pada Elisa. Melihat bahwa itu memang dirinya, gadis itu berniat bangkit dari ranjang dan kabur.

"Aku harus pergi."

Mario baru saja selesai mandi ketika mendengar suara Elisa. Ia hanya mengenakan jubah biru yang menutupi tubuhnya; dada dan sebagian besar tubuhnya terbuka. Ia mengira Elisa masih tidur, tapi begitu mendengar suaranya, ia mendekat.

"Tanpa izinku kau tak akan pergi ke mana-mana."

Gadis itu ketakutan menoleh ke sisi lain. Matanya terbelalak melihat pria yang berdiri di tengah kamar.

"Keluarlah, Irma. Kalau aku butuh bantuanmu, akan kupanggil."

Wanita itu menundukkan kepala sedikit, lalu keluar dari kamar sesuai perintah Mario.

Begitu hanya berdua, Mario berjalan ke sisi kanan ranjang. Tak peduli meski tubuhnya masih setengah telanjang.

Sepanjang waktu Elisa berusaha menghindari menatap Mario. Tetesan air jatuh dari rambutnya, membuatnya tampak begitu seksi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!