Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHKOTA SANG RATU
“Malam, Sayang... Baru pulang?”
—
Suara berat Hendra menyambut kepulangan Aura begitu pintu mobil Rolls-Royce Phantom berhenti tepat di depan teras utama kediaman Fahreza. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu berdiri menyambutnya dengan senyuman hangat yang jarang banget dia perlihatkan ke orang lain. Hendra cuma pakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku, memancarkan pesona pria matang yang tenang tapi berwibawa banget.
—
Aura melangkah keluar dari kabin mobil dengan keanggunan yang alami. Setelan blazer putih gading yang dia pakai melambai halus kena angin malam usai hujan. Dia langsung menyambut uluran tangan kokoh suaminya, merasakan kehangatan telapak tangan Hendra yang seketika bikin rasa capeknya hilang setelah seharian berurusan dengan polisi.
—
“Malam, Mas... Iya nih, lumayan menyita waktu di kantor polisi tadi,” bisik Aura pelan sambil berjalan berdampingan menuju ruang makan privat di lantai dasar.
—
Hendra merangkul pinggang Aura dengan protektif, membimbing istrinya jalan di atas lantai marmer Italia yang mengkilap.
—
“Gapapa, yang penting semuanya lancar,” sahut Hendra sambil menatap mata jernih istrinya. “Rumah ini juga akhirnya benar-benar bersih dari orang-orang yang nggak tahu diri dan bikin rusuh.”
—
Langkah kaki membawa mereka masuk ke ruang makan privat yang bernuansa temaram dan romantis. Di tengah ruangan, meja makan bundar sudah dihiasi vas bunga mawar putih segar, lilin aromaterapi wangi sandalwood, sama deretan hidangan makan malam kelas dunia yang dimasak khusus sama koki pribadi keluarga Fahreza.
—
Hendra menarik kursi berukir emas buat Aura dengan sangat gentelmen, membiarkan istrinya duduk duluan sebelum dia mengambil posisi tepat di sampingnya.
—
Aura ngeliat tata letak meja makan itu sambil tersenyum tipis. Satu bulan lalu, dia cuma cewek yang dicampakkan sama Aris di kafe biasa sambil diejek nggak selevel sama keluarga Fahreza. Tapi malam ini, dia duduk sebagai Nyonya rumah tangga tertinggi, memegang sepuluh persen saham Fahreza Group, dan mendampingi pemilik tunggal imperium bisnis ini.
—
“Lagi mikirin apa, hm?” tanya Hendra lembut. Pria itu meraih jemari lentik Aura di atas meja, terus mengecup punggung tangannya dengan mesra.
—
Aura membalas tatapan mata cokelat gelap suaminya dengan hangat. “Cuma lagi mikir... ternyata indah banget ya cara takdir bekerja, Mas. Sebulan lalu mana pernah aku ngebayangin bakal ada di posisi ini bareng kamu.”
—
Hendra terkekeh pelan—sebuah tawa rendah dan seksi yang bikin dadanya bergetar. Pria itu menyesap sedikit anggur merah dari gelas kristalnya sebelum balik menatap Aura dengan binar bangga.
—
“Takdir cuma ngebuka jalan, Aura. Keberanian sama otak encer kamu yang naklukin semuanya,” puji Hendra tulus. “Sore tadi, dewan komisaris senior sempat nelfon saya pribadi. Mereka kagum banget sama ketegasan kamu waktu mecat dan ngebongkar kasus penggelapan dana di proyek Bali.”
—
Aura tersenyum tipis sambil memegang cangkir teh hangatnya. “Sebagai komisaris utama, udah jadi tugas aku buat ngelindungin aset perusahaan dan nama baik kamu, Mas. Aku nggak bakal biarin siapa pun merusak apa yang udah kamu bangun capek-capek.”
—
“Termasuk Aris?” pancing Hendra pelan, merhatiin raut wajah istrinya.
—
Aura menatap Hendra lurus-lurus tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. “Termasuk Aris. Di dalam bisnis sama keluarga ini, nggak ada tempat buat kejahatan atau pengkhianatan. Siapa pun yang salah, ya harus terima akibatnya.”
—
Hendra mengangguk puas banget. Jawaban tegas dari Aura makin bikin sang taipan percaya dan makin cinta sama istri mudanya. Buat Hendra, Aura bukan cuma wanita cantik yang menghiasi hidupnya—Aura itu mitra sejati, perisai, dan pasangan yang memang pantas berdiri sejajar di sisinya.
—
Makan malam berjalan santai dan penuh keintiman. Habis makan, Hendra ngajak Aura jalan-jalan santai di lorong balkon lantai atas yang langsung ngadep ke taman megah dan kolam renang yang bercahaya keemasan kena pendar lampu malam.
—
Angin malam berembus pelan membawa aroma rumput basah yang bikin tenang. Hendra berdiri di belakang Aura, merangkulkan kedua tangannya yang kokoh di pinggang mulus sang istri. Kehangatan dada bidang Hendra menyelimuti punggung Aura, ngasih rasa aman yang luar biasa.
—
Aura menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Hendra, membiarkan suaminya mengecupi leher jenjangnya dengan hangat.
—
“Mulai besok, seluruh posisi Manajer Operasional yang ditinggalin Aris resmi dipegang sama tim kamu,” bisik Hendra di dekat telinga Aura dengan suara beratnya. “Saya juga udah suruh sekretaris buat nyiapin ruang kerja baru kamu, tepat di sebelah ruangan saya di lantai empat puluh lima.”
—
Aura memiringkan kepalanya sedikit, menatap rahang tegas suaminya. “Nanti direksi lain nggak mikir kamu terlalu manjain aku, Mas?”
—
Hendra menyunggingkan senyuman dominan khas penguasa. “Siapa yang berani protes sama keputusan Hendra Fahreza soal istrinya sendiri? Kamu itu komisaris sah dan pemegang saham. Tempat kamu memang di atas, di samping saya.”
—
Aura tertawa pelan—sebuah tawa merdu yang langsung bikin hati Hendra meleleh. Dia membalikkan tubuhnya di dalam dekapan suaminya, merangkulkan kedua tangannya di leher tegap Hendra.
—
“Makasih ya, Mas... buat semuanya,” bisik Aura tulus.
—
Hendra menatap bibir merah Aura yang merekah di bawah cahaya bulan. Pria matang itu menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, hangat, dan penuh rasa memiliki. Aura merem, membalas ciuman suaminya dengan seluruh kehangatan jiwanya.
—
Dendam yang awalnya cuma rencana taktis sekarang udah berubah jadi takdir pernikahan yang saling menghormati dan penuh kejayaan. Aris udah membusuk di balik jeruji besi kepolisian buat mempertanggungjawabkan kejahatannya, sementara Aura berdiri tegak di atas takhta tertinggi keluarga Fahreza.
—
—
Keesokan harinya di Gedung Fahreza Tower.
—
Suasana kantor pusat pagi itu kerasa beda banget. Berita soal ditangkapnya Aris Fahreza sama polisi gara-gara kasus penggelapan dana udah nyebar di kalangan jajaran eksekutif, tapi nggak ada satu pun direksi yang berani protes. Ketegasan Hendra sama ketajaman audit Aura udah membungkam semua orang.
—
Pintu lift eksekutif terbuka di lantai empat puluh lima.
—
Aura melangkah keluar didampingi dua sekretaris pribadi sama pengawal bersetelan hitam. Dia pakai gaun terusan merah anggur (burgundy) yang pas banget di tubuh jenjangnya. Rambut hitam mewahnya disanggul rapi gaya modern, kelihatan makin anggun dan berkelas.
—
Setiap staf sama manajer yang papasan di lorong langsung nunduk hormat banget.
—
“Selamat pagi, Nyonya Fahreza,” sapa jajaran staf dengan sopan.
—
“Pagi semuanya,” balas Aura ramah sambil tersenyum anggun.
—
Aura masuk ke ruang kerja barunya yang persis di sebelah ruang kerja utama Hendra. Ruangan mewah itu punya pemandangan langsung ke pencakar langit Jakarta, lengkap sama meja kerja mewah yang ada papan nama emas berukir: Nyonya Aura Fahreza - Komisaris Utama.
—
Aura mendekati meja kerjanya, mengelus papan nama emas itu pakai jarinya. Ada rasa puas yang luar biasa di dadanya. Dia bukan lagi cewek lemah yang bisa diremehkan atau diinjak-injak sama orang lain.
—
Pintu penghubung ke ruangan Hendra terbuka pelan.
—
Hendra masuk pakai setelan jas abu-abu gelap yang rapi banget. Pria matang itu ngeliatin istrinya yang berdiri di balik meja kerja dengan tatapan kagum dan bangga.
—
“Suka sama ruang kerja barumu, Sayang?” tanya Hendra hangat sambil jalan mendekat.
—
Aura balik badan, menyambut suaminya dengan senyuman manis. “Bagus banget, Mas. Makasih ya.”
—
Hendra makin mendekat, merangkul pinggang Aura terus mencium kening istrinya dengan hangat.
—
“Hari ini kita ada rapat bareng dewan direksi utama buat ngebahas akuisisi aset baru di Singapura,” kata Hendra. “Saya mau kamu yang pimpin analisis risikonya.”
—
Aura menatap mata suaminya dengan tenang dan percaya diri. “Serahin analisisnya ke aku, Mas. Aku pastikan investasi ini bakal ngasilin untung gede buat Fahreza Group.”
—
Hendra terkekeh pelan, makin kagum sama pintarnya sang istri. “Saya nggak pernah ragu sedikit pun sama kamu.”
—
—
Satu bulan kemudian.
—
Sidang kasus penggelapan dana sama pencucian uang dengan terdakwa Aris Fahreza resmi ditutup di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
—
Di dalam ruang sidang yang rame sama wartawan, hakim ketua membacakan putusan vonis akhir dengan suara lantang:
—
“Menyatakan terdakwa Aris Fahreza terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen dan penggelapan dana perusahaan. Menjatuhkan hukuman penjara selama lima tahun enam bulan serta denda sebesar lima miliar rupiah.”
—
BUM!
—
Ketukan palu hakim nandaian kehancuran total hidup Aris.
—
Aris yang duduk di kursi terdakwa pakai baju tahanan oranye cuma bisa nunduk kaku. Air matanya meler deras membasahi tangannya yang diborgol. Semua koneksinya, mantan pacarnya Siska, sampai temen-temen mewahnya udah benar-benar ninggalin dia.
—
Di barisan depan pengunjung sidang, Aura berdiri anggun di samping Hendra. Aura pakai gaun malam hitam simpel tapi kelihatan sangat mahal. Dia ngeliatin Aris yang diseret petugas keluar ruang sidang tanpa rasa kasihan sedikit pun.
—
Aris sempat ngelirik, natap Aura dari jauh pakai mata sembab dan tatapan kosong.
—
Aura cuma tersenum tipis yang sangat dingin—sebuah simbol salam perpisahan terakhir buat mantan pacarnya yang dulu membuangnya dan sekarang harus mendekam di penjara bertahun-tahun.
—
Hendra merangkul bahu Aura dengan protektif, membimbing istrinya jalan keluar gedung pengadilan menerobos kerumunan wartawan.
—
Wartawan langsung menyerbu pakai bermacam pertanyaan:
—
“Nyonya Aura! Gimana tanggapannya soal vonis hukuman Aris?”
—
“Pak Hendra! Keputusan ini bakal ganggu saham Fahreza Group nggak?”
—
Hendra berhenti sebentar di depan kamera, makin ngeratain rangkulannya di pinggang Aura sambil natap wartawan dengan wibawa penuh.
—
“Hukum sudah ditegakkan secara adil,” jawab Hendra tegas. “Fahreza Group di bawah kepemimpinan saya dan Komisaris Utama Aura Fahreza justru bakal jauh lebih solid dan bersih. Nggak ada tempat buat kejahatan di keluarga atau bisnis kami.”
—
Tepuk tangan sama jepretan kamera wartawan langsung ramai menyambut ketegasan sang taipan.
—
Hendra menuntun Aura masuk ke kabin mobil Rolls-Royce Phantom yang udah nunggu. Pintu mobil ditutup rapat, ngisolasi mereka dari bisingnya dunia luar.
—
Di dalam kabin mobil yang harum dan tenang, Hendra menarik tubuh Aura ke dalam dekapannya, menghirup wangi mawar dari leher istrinya.
—
“Semuanya udah selesai dengan sempurna, Aura,” bisik Hendra lembut di dekat telinga istrinya.
—
Aura menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, merasakan detak jantung Hendra yang tenang dan hangat.
—
“Iya, Mas. Semuanya udah beres,” balas Aura sambil tersenyum paling tulus dari hatinya.
—
Pembalasan dendamnya udah usai dengan kemenangan yang luar biasa manis. Dia bukan cuma berhasil ngancurin pria yang pernah nyakitin dia, tapi juga nemuin pria sejati yang beneran cinta, menghargai, dan mengangkat dirinya jadi Ratu tertinggi di puncak kejayaan.
—
Hendra menunduk, mencium bibir merah Aura dengan penuh rasa cinta saat mobil mewah mereka melaju mulus membelah jalanan kota menuju rumah utama Fahreza.
—
“Aku mencintamu , Nyonya Fahreza.”