NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Batu Pendeteksi dan Asrama Murid Luar

​Langkah Lu Mingseng terasa semakin berat saat mengikuti Han Qingshan menyusuri undakan batu menuju Aula Tetua.

​Bangunan megah itu berdiri kokoh di puncak gunung sebelah timur. Dindingnya terbuat dari pualam putih yang dipahat dengan ornamen pedang, sementara sembilan pilar raksasa menyangga atap berwarna biru gelap.

​Dari kejauhan, tempat itu tampak tenang dan sakral. Namun semakin dekat melangkah, semakin kuat tekanan tak kasat mata yang menghimpit dada Mingseng. Aura murni dari para kultivator tingkat tinggi yang bermeditasi di dalam gedung seolah menimbang seluruh jiwanya.

​"Jangan buat keributan di dalam," peringat Han Qingshan tanpa menoleh. "Jawab setiap pertanyaan dengan jujur. Jangan menyentuh apa pun secara sembarangan."

​"Baik, Senior."

​"Dan satu hal lagi..." Han Qingshan mendadak menghentikan langkahnya, menatap Mingseng dengan sorot mata tajam menusuk. "Jangan pernah berbohong kepadaku."

​Mingseng menundukkan kepala dalam-dalam. "Saya tidak akan berani."

​Di dalam hatinya, kewaspadaannya justru melesat ke tingkat maksimal. Ia sudah belajar dari kepahitan di keluarga Lu: orang kuat selalu membenarkan keserakahan mereka, sementara orang lemah tidak punya ruang untuk membela diri.

​Han Qingshan mendorong pintu kayu berat Aula Tetua. "Masuk."

​Di dalam ruangan yang luas itu, tujuh kursi agung tersusun mengelilingi panggung rendah. Empat kursi telah terisi oleh para petinggi sekte. Di kursi paling tengah, duduk seorang lelaki tua berambut putih panjang mengenakan jubah hitam legam—Tetua Agung Mo Canglan, pribadi terkuat yang memegang kendali penuh atas Sekte Pedang Awan.

​Di sisi kiri duduk seorang wanita sepuh berjubah ungu, sementara di sisi kanannya terdapat dua tetua paruh baya berwajah angkuh.

​Lu Mingseng segera merangkapkan kedua tangan dan membungkuk hormat. "Murid junior Lu Mingseng, menghadap para Tetua."

​"Angkat kepalamu," suara Mo Canglan terdengar tua namun sarat akan wibawa.

​Mingseng mengangkat wajahnya perlahan. Tetua Agung itu langsung menatapnya lekat-lekat.

​"Namamu Lu Mingseng?"

​"Benar, Senior."

​"Dari mana asalmu?"

​"Kota Qinghe."

​"Apakah kau berasal dari keluarga kultivator besar?"

​"Bukan, Senior. Saya terlahir di keluarga Lu, namun posisi saya sangat rendah dan tidak memiliki status apa pun."

​Mo Canglan mengangguk-angguk kecil. "Han Qingshan melaporkan bahwa kau ditemukan di reruntuhan kuno Pegunungan Kabut Hitam, dan sempat melihat cahaya keemasan. Benar begitu?"

​"Benar, Senior. Saya melihat kilatan cahaya di dalam kegelapan lorong, lalu mendadak pingsan karena ketakutan. Saat siuman, saya sudah terlempar ke aula utama."

​Mo Canglan tidak langsung merespons. Ia mengibaskan tangannya, memberi isyarat pada seorang murid untuk menyodorkan sebuah batu hitam seukuran kepala anak kecil di atas meja pualam.

​"Letakkan telapak tanganmu di atas Batu Pendeteksi Jiwa ini."

​Mingseng menahan napas sejenak, melangkah maju dan menempelkan telapak tangannya di permukaan batu yang dingin itu.

​Pada detik-detik awal, tidak ada hal aneh yang terjadi. Namun sesaat kemudian, sehelai arus energi dingin merambat masuk melalui pori-pori tangannya, berniat merangsek menelusuri jalur meridian tubuhnya.

​Deg!

​Begitu energi asing itu mendekati dadanya, Tulang Jari Emas di tubuh Mingseng bergetar merespons. Sebuah gelombang energi abadi yang mendominasi meledak dari dalam tubuhnya!

​Zzztt...!

​Aliran energi dingin dari batu pendeteksi itu seketika terpental dan musnah tanpa sisa sebelum sempat menyentuh meridian pertamanya.

​Akibatnya, batu hitam di hadapan mereka tetap membisu. Tidak ada cahaya. Tidak ada getaran. Batu itu tetap legam tanpa reaksi apa pun.

​Seorang tetua berjubah cokelat di sisi kanan langsung mengernyitkan alis. "Aneh... Sekalipun itu manusia biasa tanpa bakat, batu itu tetap akan memancarkan sedikit pijar redup. Kenapa ini benar-benar mati?"

​Wanita tua berjubah ungu ikut menyelidik. "Apakah jalur nadinya benar-benar tersumbat total?"

​Mo Canglan mengangkat tangannya, menghentikan gumaman para tetua. Ia menatap Mingseng lekat-lekat, lalu berkata tenang: "Cukup. Tarik tanganmu."

​Mingseng segera menarik telapak tangannya, menyembunyikan gejolak di dadanya di balik wajah tenangnya.

​"Kau boleh menunggu di luar untuk sementara waktu," perintah Mo Canglan.

​"Baik, Senior." Mingseng membungkuk hormat, lalu berbalik melangkah keluar aula.

​Di dalam Aula Tetua, suasana langsung memanas begitu pintu tertutup.

​"Menurutku, anak itu tidak memiliki nilai kultivasi sama sekali!" seru Tetua Zhou Wenchuan—pria berjubah cokelat yang mengurus bagian penerimaan murid. "Menerima sampah semacam itu hanya akan membuang jatah sumber daya sekte!"

​"Belum tentu, Zhou Wenchuan," sanggah Han Qingshan. "Jangan lupa prasasti kuno di bawah altar reruntuhan itu."

​Mendengar hal itu, Mo Canglan mengetukkan jarinya di sandaran kursi, membuat seluruh ruangan kembali hening seketika.

​"Kita tidak boleh gegabah," ujar Mo Canglan tenang namun tegas. "Biarkan dia mengikuti masa percobaan sebagai calon murid luar secara normal. Jika dia mampu memenuhi standar batas minimum, jadikan dia murid luar biasa. Namun jika gagal, usir dia dari gunung."

​Mo Canglan melayangkan tatapan tajam ke semua tetua. "Dan ingat... tutup rapat-rapat mulut kalian tentang prasasti reruntuhan itu!"

​Malam Hari — Asrama Murid Luar.

​Setelah mendapat keputusan akhir, Han Qingshan mengantar Mingseng turun ke lereng gunung bagian bawah—tempat asrama para murid luar berada.

​Mingseng ditempatkan di Kamar Nomor Tujuh. Saat ia mendorong pintu kayu kamar, tiga penghuni lain sudah berada di dalam.

​Seorang pemuda gemuk bernama Gao Shun sedang asyik memakan buah kering. Di sudut lain, seorang murid berambut pendek bernama Qian He sedang tekun membersihkan pedang kayunya, sementara pemuda ketiga berwajah dingin bernama Sun Tao duduk bersila mengatur napas.

​"Murid baru?" sapa Gao Shun ramah sambil melirik pakaian compang-camping Mingseng. "Namaku Gao Shun."

​Sun Tao membuka matanya, melirik Mingseng sinis. "Di tingkat mana kultivasimu?"

​Mingseng menjawab jujur, "Aku... belum mencapai tahap Pengumpulan Qi."

​Sun Tao mendengus mencibir. "Belum Pengumpulan Qi? Mau jadi apa kau di sekte ini, beban?"

​Qian He tertawa kecil mengejek. Mingseng sama sekali tidak mengambil hati. Ia hanya meletakkan buntalan kecilnya di ranjang sudut dekat jendela, lalu memilih beristirahat.

​Ketika malam semakin larut dan teman-teman sekamarnya terlelap, Mingseng duduk bersila di atas ranjang kayu. Ia memejamkan mata, memusatkan batinnya untuk kembali merasakan denyut Meridian Pertama di dalam dadanya.

​'Senior, apakah aku sudah bisa mulai menyerap energi spiritual malam ini?' bisiknya dalam kesadaran.

​'Bisa,' jawab roh Kaisar Keabadian di dalam benaknya. 'Namun ingat, lakukan perlahan. Meridianmu ibarat bendungan yang baru saja dijebol; jika kau terlalu serakah menyedot energi alam, saluran nadimu bisa pecah.'

​Mingseng menarik napas panjang. Ia membuka indranya, membiarkan partikel-partikel halus energi spiritual dari langit dan bumi meresap masuk melalui pori-pori kulitnya, mengalir lembut melewati meridian pertamanya yang hangat.

​Sensasi luar biasa menjalari sekujur tubuhnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa hidup dan memiliki kendali atas takdirnya sendiri.

​Jalan di hadapannya masih sangat panjang, penuh dengan intrik para tetua sekte dan ancaman musuh di luar sana. Namun malam ini, di bawah temaram cahaya bulan di kamar asrama kecil itu, Lu Mingseng tahu satu hal:

​Ia telah mengambil langkah pertama... dan ia tidak akan pernah berhenti lagi.

1
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!