FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Kerja
Bau debu dan tanah basah sisa hujan semalam masih tercium pekat di dalam rumah panggung kayu berukuran kecil itu. Di atas ranjang tipis berperekat plester di sudut ruangan, seorang remaja laki-laki terbatuk-batuk kecil. Dadanya naik turun, berusaha menghirup udara dengan payah.
Raina Angela dengan sigap meletakkan mangkuk kunyit hangat di atas meja kayu yang kacanya sudah retak. Tangan kanannya yang berkapalan di beberapa bagian dengan lembut mengusap dahi sang adik.
"Lio, minum dulu air kunyitnya, Dek. Supaya tenggorokanmu agak enak," bisik Raina lembut. Suaranya halus, namun menyimpan ketegaran yang amat besar.
Gibran Elio, remaja berusia empat belas tahun itu, membuka matanya perlahan. Wajahnya pucat, lingkaran hitam menggantung jelas di bawah matanya.
"Kak Raina... maafin Lio, ya. Kakak jadi nggak bisa kuliah, malah harus kerja serabutan di desa ini gara-gara Lio obatnya mahal terus." lirih remaja itu dengan penuh rasa bersalah.
Raina tersenyum manis. Senyum yang selalu menjadi benteng pertahanan terakhirnya di depan sang adik. Meskipun rambut panjangnya hanya diikat asal dan pakaian yang dikenakannya hanyalah kaos lusuh dengan celana kain pudar, kecantikan alami Raina tidak bisa disembunyikan. Matanya yang jernih dan garis wajahnya yang tegas memperlihatkan sosok gadis yang tak mudah menyerah pada keadaan.
"Jangan ngomong begitu lagi," ujar Raina seraya membantu Lio duduk dan meminumkan cairan hangat itu perlahan.
"Tugas Lio itu cuma satu yaitu sembuh. Masalah biaya, biar Kakak yang mikirin. Kamu tahu 'kan kakak ini tangguh?" ujar Raina dengan tegar.
"Tapi Kak... kemarin bapak-bapak seram yang jualan hutang itu datang lagi, 'kan? Lio dengar suara bentakan di depan waktu Kakak lagi cuci baju di sumur." Voice Lio bergetar, menatap mbaknya dengan rasa bersalah yang mendalam.
Jantung Raina serasa dicubit mengingat kejadian kemarin pagi. Tiga pria berbadan besar utusan debt collector berhasil melacak keberadaan mereka di desa terpencil di kaki gunung ini. Tempat yang Raina pikir sudah cukup jauh untuk bersembunyi dari bayang-bayang kebangkrutan almarhum papanya lima tahun lalu.
Tragedi kecelakaan maut yang menewaskan kedua orang tuanya tak hanya merenggut kasih sayang, tapi juga menyisakan beban hutang miliaran rupiah yang seolah tak ada habisnya.
Raina mengelus rambut adiknya. "Mereka cuma nanya alamat, Lio. Udah, jangan dipikirin. Kakak bisa handle semuanya."
Tepat saat Raina selesai menenangkan Lio, ketukan pintu terdengar dari luar. Ketukannya tidak kasar, melainkan teratur dan pelan, menandakan bukan para penagih hutang yang datang.
Raina berdiri, menepuk-nepuk kain celananya, lalu berjalan menuju pintu depan. Saat pintu bermaterial kayu lapuk itu dibuka, tampak sosok wanita setengah baya bersanggul rapi dengan pakaian kain batik yang bersahaja. Dialah Mbok Darmi, tetangga sebelah rumah yang selama dua tahun terakhir paling sering membantu Raina dan Lio.
"Eh, Mbok Darmi. Mari masuk, Mbok," sapa Raina ramah, menyunggingkan senyum hangat.
"Nggak usah, Na. Mbok sebentar saja di sini," jawab Mbok Darmi dengan wajah yang memancarkan rasa simpati sekaligus kecemasan.
"Gimana keadaannya Lio hari ini?" tanya Mbok Darmi begitu pengertian.
Raina menghela napas pelan, menatap ke dalam rumah sebentar sebelum kembali memandang Mbok Darmi.
"Batuknya makin parah, Mbok. Napasnya juga sesak lagi. Tadi pagi Mbak periksa tabung oksigen sewaannya, tinggal sedikit lagi sisanya. Kalau mau isi ulang ke puskesmas kecamatan, uang sisa cuci setrika kemarin cuma cukup buat beli beras dua kilo." lirih gadis itu, lelah sungguh lelah tapi dia tidak boleh menyerah.
Mbok Darmi memegang kedua lengan Raina. Dia mengusap jemari gadis muda itu yang kasar karena terlalu sering bersentuhan dengan sabun cuci dan air dingin.
"Na, kamu itu masih muda. Cantik, pinter, tapi bebanmu berat sekali," bisik Mbok Darmi pilu. "Mbok ke sini sebenarnya mau menyampaikan sesuatu. Tapi Mbok takut kamu nggak berkenan."
Raina mengerutkan dahi tipisnya. "Sesuatu apa, Mbok? Soal kerjaan?" tanya Raina dengan sedikit harapan tentang pekerjaan.
Mbok Darmi mengangguk cepat. "Iya. Begini, Na... semalam saudara Mbok yang kerja di ibu kota telepon. Dia bilang, juragannya di ibu kota lagi butuh orang buat urus rumah besar mereka. Asisten rumah tangga yang lama baru saja berhenti karena pulang kampung mau nikah." ucap Mbok Darmi.
Mendengar kata 'ibu kota', dada Raina mendadak berdesir hebat. Ibu kota. Tempat di mana kenangan masa lalunya terkubur dalam-dalam.
Tempat di mana dia pernah hidup sebagai putri seorang pengusaha, bersekolah di sekolah swasta ternama, dan memimpikan masa depan yang cerah. Tempat yang harus dia tinggalkan dengan derai air mata lima tahun lalu setelah seluruh aset ayahnya disita dan didera kejaran hutang.
"Ibu kota, Mbok?" suara Raina agak tertahan.
"Iya, Na. Mbok tahu kamu pasti trauma sama kota itu. Mbok tahu kamu sengaja pindah ke desa terpencil ini buat nenangin diri dan ngehindari orang-orang jahat itu," terang Mbok Darmi penuh rasa pengertian.
"Tapi dengerin Mbok dulu. Gaji di sana besar, Na. Juragan tempat saudara Mbok kerja itu orang kaya raya, keluarga berpengaruh. Katanya, kalau kerjanya bagus, gajinya bisa lima kali lipat dari hasil kamu nyuci keliling di desa ini. Bahkan ada uang makan dan kamar sendiri." ucapnya mencoba menyemangati Raina agar bisa dipertimbangkan tentang pekerjaan ini.
Raina meletakkan tangannya di dada. Pikiran dan perasaannya berkecamuk. "Tapi Lio gimana, Mbok? Nggak mungkin saya ninggalin Lio sendiri di sini dalam kondisi sakit begitu."
"Nah, itu dia!" potong Mbok Darmi dengan mata berbinar. "Saudara Mbok bilang, di rumah mewah itu ada paviliun kecil di belakang. Katanya juragannya lumayan dermawan kalau sama pekerja yang rajin. Nanti Mbok bantu ngomong lewat saudara Mbok, supaya Lio bisa ikut kamu ke ibu kota dan tinggal di paviliun itu. Di ibu kota, fasilitas kesehatan jauh lebih lengkap, Na. Lio bisa dibawa ke RSUD yang bagus pakai uang gajimu nanti." ujarnya dengan solusi terbaiknya.
Raina terpaku. Penawaran itu terasa seperti oase di tengah padang pasir yang amat tandus. Namun, bayangan para rentenir yang kemarin mengetuk pintunya kembali membayang.
"Tapi Mbok... kalau para penagih hutang itu tahu saya balik ke ibu kota..." ucapnya terpotong.
"Na," sapa Mbok Darmi tegas namun penuh kasih sayang.
"Ibu kota itu kota raksasa. Ada puluhan juta orang di sana. Kamu mau sembunyi di desa ini terus? Lihat adiknya, Na. Makin hari fisiknya makin lemah. Kalau kamu cuma bertahan di sini dengan upah belasan ribu sehari, gimana kamu mau beli obat Lio? Gimana kalau penagih hutang itu makin beringas dan nekat ngapa-ngapain kalian berdua di rumah sepi gini?" tutur Mbok Darmi yang ada benarnya juga.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
HAIII READERS
Akhirnya author kembali lagi dengan cerita baru nihhhh,,,, jangan lupa baca ya dan jangan lupa juga buat favoritkan cerita ini, kasih ulasan dan bintang lima nya juga, VOTE, LIKE, HADIAH dan komentar semangatnya ya biar cerita ini bisa lebih baik lagi dan bisa update hingga akhir.....
Selamat membaca yaaaaaa
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah