Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sorotan Mata dan Bisik-Bisik Pertama
Rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang melelahkan namun penuh kesan akhirnya resmi ditutup setelah berlangsung selama empat hari. Setelah masa orientasi itu usai, hari yang paling dinanti sekaligus mendebarkan bagi Kirana pun tiba.
Hari ini adalah hari pertama Kirana menginjakkan kaki di kampus untuk mengikuti perkuliahan luring di jurusan Kedokteran—jurusan bergengsi yang selama ini hanya berani ia impikan dalam angan-angannya.
Pagi-pagi sekali, Kirana sudah berdiri di depan cermin kamar utama mansion Wijaya. Ia mengenakan kemeja putih rapi berkerah, celana bahan hitam lurus yang elegan, serta jas almamater kampus yang disampirkan di lengannya. Rambut panjangnya diikat setengah dengan jepitan mutiara sederhana, memancarkan kesan cerdas, anggun, dan penuh wibawa.
Rian, yang sudah duduk di sisi ranjang mengenakan pakaian kasual rumahannya, menatap sang istri dengan senyuman bangga yang tak bisa disembunyikan.
"Bagaimana perasaanmu, Dokter Muda?" tanya Rian lembut, memecah keheningan pagi.
Kirana menoleh dan tersenyum simpul, meski sedikit rona kegugupan tampak di wajahnya. "Masih agak deg-degan, Mas. Rasanya seperti mimpi bisa benar-benar kuliah di kedokteran... dan semua ini berkat bantuanmu."
Rian bangkit dari kursi rodanya—karena saat ini mereka masih berada di ruang privat kamar utama tanpa ada orang lain—lalu berjalan mendekati Kirana. Ia merapikan kerah baju istrinya dengan penuh kelembutan.
"Jangan pernah meragukan kemampuanmu sendiri, Kirana," bisik Rian meyakinkan. "Kamu cerdas, ulet, dan berhak berada di sana. Jalani harimu dengan percaya diri. Jika ada yang mengganggumu, ingatlah bahwa suamimu ini ada di belakangmu."
Ucapan itu memberikan suntikan kekuatan yang luar biasa bagi Kirana. Ia mengangguk mantap, menepis segala rasa cemas yang sempat singgah di dadanya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan kampus yang disiapkan khusus oleh pengawal pribadi telah menunggu di pelataran depan mansion. Kirana berpamitan kepada Rian dengan takzim, lalu melangkah keluar menuju kendaraan yang akan membawanya menyongsong masa depan baru.
Namun, Kirana tidak tahu, di balik gerbang kampus bergengsi itu, Arsyila dan segala intrik liciknya telah bersiap menunggu kedatangannya.
Sesampainya di pelataran Fakultas Kedokteran, Kirana turun dari kendaraan dengan langkah tenang dan dagu terangkat tegap. Bangunan megah bercat putih dengan pilar-pilar tinggi khas kedokteran itu menyambutnya. Di sekelilingnya, riuh mahasiswa baru berlalu-lalang menenteng tas dan berkas kuliah masing-masing.
Dengan senyuman ramah yang natural, Kirana melangkah membelah koridor menuju ruang kuliah utama untuk mata kuliah Kedokteran Dasar. Penampilannya yang rapi, anggun, dan wajah polos tanpa riasan berlebih seketika mencuri perhatian beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya.
"Wah, anak baru itu cantik banget ya..."
"Iya, pembawaannya tenang dan kelihatan pinter banget."
Namun, kehangatan pagi itu tak berlangsung lama. Dari ujung koridor berlawanan, Arsyila berjalan bersama tiga orang mahasiswi yang menjadi pengikut populernya di kampus. Mengenakan pakaian branded mencolok dan tas mewah, Arsyila menghentikan langkahnya saat melihat sosok Kirana yang sedang memegang peta denah gedung.
Seringai dingin terukir jelas di wajah Arsyila. Ia menyenggol lengan teman di sampingnya seraya menunjuk ke arah Kirana.
"Kalian lihat cewek yang sok polos di sana?" bisik Arsyila dengan nada sarat provokasi. "Jangan mau terkecoh sama mukanya. Dia itu cewek udik panti asuhan yang tiba-tiba mendadak sok kaya karena pinter jualan simpati."
Teman-teman Arsyila membelalakkan mata, langsung menatap Kirana dengan pandangan menilai yang sinis dan merendahkan. Bisikan-bisikan miring pun mulai menyebar cepat di antara kelompok kecil itu.
Kirana, yang menyadari tatapan tajam dan bisak-bisik di sekitarnya, sempat terhenti sejenak. Mata jernihnya berbenturan langsung dengan pandangan penuh dendam milik Arsyila dari kejauhan.
Bukannya gentar atau menunduk ketakutan seperti yang diharapkan Arsyila, Kirana justru menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum tipis yang amat tenang, lalu melangkah melepad melewati mereka tanpa memberikan reaksi berlebih. Kirana tahu betul, tujuannya di sini adalah menuntut ilmu dan membuktikan kapasitas dirinya, bukan melayani intrik kekanak-kanakan dari orang-orang seperti Arsyila.
"Cih, lihat gaya angkuhnya!" desis Arsyila mengepalkan tangan, kesal karena provokasi pertamanya sama sekali tidak mengoyak ketenangan Kirana. "Kita lihat seberapa lama kamu bisa sok kuat di kelas nanti, Kirana."