Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Pertemuan dengan si Ambisius
Kehidupan santai Gavin di Warkop Cak Min terusik lebih cepat dari perkiraannya. Dosen pembimbing akademik mendadak memasukkan nama Gavin ke dalam proyek riset semester awal. Nilai tes masuk fisika murni dan kalkulus milik Gavin dinilai terlalu mencurigakan tinggi untuk ukuran mahasiswa yang penampilannya menyerupai kondektur bus antarkota.
Di sinilah ia sekarang, berdiri di ambang pintu Laboratorium Kimia Dasar yang beraroma menyengat campuran sulfur dan alkohol. Kamar lab itu berlantai tegel putih bersih, sangat kontras dengan sandal jepit karet dan puntung rokok yang belum mati yang terselip di balik telinga kanan Gavin. Dengan santai, Gavin mencopot puntung rokok itu dan memasukkannya ke dalam saku jins sebelum melangkah masuk.
Di ujung meja lab panjang bertingkat, berdiri seorang mahasiswi yang merupakan definisi hidup dari keteraturan. Baju lab putihnya disetrika licin tanpa cela. Rambut hitamnya diikat kuda dengan rapi. Di depannya tergelar buku catatan tebal bergaris dengan tab-tab warna-warni yang memisahkan bab riset.
Dia adalah Kirana Putri, mahasiswi jalur beasiswa penuh sekaligus Ketua Himpunan Mahasiswa Baru. Bagi Kirana, waktu adalah uang, dan nilai adalah masa depan ibunya di kampung.
Saat mendengar suara decitan sandal jepit Gavin di lantai porselen, Kirana mendongak. Matanya langsung menyipit tajam melihat Gavin yang berjalan mendekat dengan gaya ugal-ugalan, satu tangannya bersarang di saku celana.
"Kamu Gavin?" tanya Kirana dingin, langsung melipat kedua tangan di depan dada.
"Iya, Bos. Gavin Dewantara, mahasiswa Teknik Kimia paling santai se-fakultas," sahut Gavin sambil melempar senyum miring andalannya. Ia menarik sebuah kursi lab besi dan mendudukinya secara terbalik, menopang dagunya di sandaran kursi.
Kirana menghela napas panjang, tatapannya memancarkan rasa frustrasi yang kentara. "Aku sudah dengar reputasi kamu dari anak-anak komdis. Pembuat masalah di lapangan, tukang balap liar, dan suka nongkrong gak jelas. Aku gak peduli apa motivasi kamu masuk kampus ini, Gavin. Mungkin kamu cuma mau buang-buang duit orang tua kamu yang kebanyakan. Tapi tolong, jangan hancurkan nilai kelompok riset ini. Aku butuh IPK sempurna buat pertahanin beasiswaku."
Gavin menaikkan satu alisnya. Kalimat Kirana tentang "membuang-buang duit orang tua" agak menggelitik hatinya. Ia mengeluarkan sebuah buku tulis saku yang sudah robek sudutnya dari saku belakang jins, lalu meletakkannya di atas meja lab yang bersih.
"Santai, Bos Kirana," ucap Gavin, nadanya berubah menjadi sedikit lebih berat namun tetap tenang. "Duit orang tua saya emang banyak di bank, tapi yang saya bawa ke dalam lab ini cuma otak saya sendiri. Lagian, menghakimi orang dari jaket lusuh dan sandal jepit itu agak kurang ilmiah buat ukuran anak beasiswa berprestasi, kan?"
Kirana agak terkejut mendengar balasan Gavin yang tenang namun menohok. Wajahnya sedikit merona karena kesal. "Oke. Kalau kamu emang punya otak, kita buktikan. Ini draf formula stoikiometri dan kesetimbangan fase untuk jurnal besok. Aku stuck di bagian reduksi variabel bebasnya sejak tadi malam. Mau mulai dari bab berapa kamu?" Kirana menyodorkan laptopnya dengan kasar ke hadapan Gavin.
Gavin melirik layar laptop tersebut selama tiga detik. Jemarinya yang panjang mulai bergerak mengetik di atas keyboard dengan kecepatan yang luar biasa. Sikap slengeannya lenyap seketika, digantikan oleh fokus yang tajam.
Tanpa membuka buku panduan, Gavin menyederhanakan algoritma rumit tersebut menggunakan metode kalkulus tingkat lanjut yang sebenarnya hanya diajarkan di universitas Ivy League—materi yang pernah ia kuasai di luar kepala berkat tutor pribadi berbiaya ribuan dolar yang disewa ayahnya dulu.
TAK!
Gavin menekan tombol enter dengan sekali sentakan, lalu memutar kembali laptop itu ke arah Kirana. Di layar, barisan rumus yang tadinya rumit kini telah berubah menjadi sebuah formula linear yang sangat bersih dan mudah dipahami.
Kirana tertegun. Matanya mengerjap beberapa kali menatap layar komputer, lalu beralih menatap Gavin yang kini sudah kembali menyandarkan dagunya di kursi sambil mengunyah permen karet.
"Kamu... kamu belajar metode reduksi variabel ini dari mana?" tanya Kirana dengan suara yang sedikit bergetar karena tidak percaya. "Ini materi semester lima, bahkan pakai pendekatan jurnal internasional."
Gavin terkekeh renyah, kembali memasang topeng ugal-ugalannya. "Biasa, Bos. Tutorial YouTube India pas lagi gabut berak di toilet kosan. Otak gue kan kayak spons, gampang nyerap hal-hal gak berguna."
Kirana terdiam, menatap Gavin dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa curiga yang mendalam. Gadis ambisius itu mulai menyadari bahwa pria berandalan di depannya ini bukanlah mahasiswa sembarangan yang bisa ia remehkan begitu saja.