Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Siapa 'F', Ayden?...
"Ayden?" bisik Aisyah pelan, suaranya parau dan sedikit bergetar. "Siapa yang menelepon jam dua pagi seperti ini?"
Ayden menghentikan jemarinya yang hendak menekan tombol layar. Ia menoleh sedikit ke arah Aisyah, menutupi layar ponselnya dengan telapak tangannya yang lebar. Dalam kegelapan kamar yang hanya disinari remang pendar jalanan dari luar, rahang Ayden tampak terkatup rapat dan kaku.
"Bukan siapa-siapa, Aisyah," sahut Ayden, intonasi suaranya teratur, namun nada dingin yang tersembunyi tak dapat disembunyikan. "Hanya masalah pekerjaan di kantor cabang luar negeri. Perbedaan zona waktu membuat mereka menelepon tanpa melihat jam."
"Tapi aku sempat melihat layarmu..." desak Aisyah, memberanikan diri menatap mata hitam suaminya. "Ada pesan dari kontak bernama 'F'. Dia menyebut nama Pak Hendra dan—"
"Aku bilang ini urusan pekerjaan kantor, Aisyah," potong Ayden cepat dengan nada suara datar namun begitu menekan. Ia menyibak selimut, lalu berdiri dari tepi tempat tidur. "Tidurlah kembali. Aku akan menerima telepon ini di luar agar tidak mengganggu istirahatmu."
"Ayden, tunggu dulu!" panggil Aisyah, berniat ikut duduk. "Kenapa kamu harus menerimanya di luar kalau itu hanya urusan pekerjaan biasa?"
"Jangan membantah, Aisyah," ujar Ayden pelan seraya melangkah cepat menuju pintu kaca besar yang menghubungkan kamar tidur dengan balkon pribadi penthouse. "Tutup matamu dan tidurlah."
Ayden menggeser pintu kaca tersebut, melangkah keluar ke udara malam yang dingin, lalu menutupnya kembali hingga menyisakan celah amat tipis.
Aisyah tidak bisa membiarkan rasa ragu dan ketakutan itu memakannya hidup-hidup. Dengan gerakan sepelan mungkin, Aisyah merayap turun dari tempat tidur. Tanpa alas kaki, ia melangkah kaku mendekati pintu kaca balkon, bersembunyi di balik tirai sutra tebal yang menjuntai. Melalui celah tipis pintu kaca yang tak tertutup rapat, Aisyah bisa mendengar bisikan tegang suaminya yang disamarkan oleh deru angin malam pesisir kota.
"Sudah kubilang jangan pernah menelepon ke nomor pribadiku jam segini, F!" bisik Ayden dengan intonasi rendah yang sarat akan amarah tertahan.
Suara di balik telepon terdengar samar namun cepat dan bergetar panik. "Aku tidak punya pilihan, Ayden! Hendra mulai mengoreksi laporan lama Dinantara Utama! Dia bertanya pada kolega lain tentang keberadaanmu dan hubunganmu dengan putri Rahardja!"
"Biarkan pria tua itu menggonggong!" desis Ayden tajam, tangannya yang memegang pagar besi balkon mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia tidak punya bukti apa pun. Hendra hanyalah bangkai tua yang tinggal menunggu waktu untuk disingkirkan dari papan permainan!"
"Tapi Aisyah sudah mulai bertanya-tanya, kan?" cecar suara F dari seberang telepon. "Kalau wanita itu tahu bahwa kamu adalah anak dari—"
"Tutup mulutmu, F!" potong Ayden dengan nada mengancam yang amat mematikan, hingga Aisyah yang mendengarnya dari balik tirai menahan napas karena terkejut. "Aisyah adalah urusanku! Dia ada di dalam kendaliku sepenuhnya. Jangan pernah berani melangkah melampaui wewenangmu atau mencoba menyentuh Aisyah tanpa perintah langsung dariku!"
"Tahap dua harus segera dimulai, Ayden. Jangan biarkan perasaanmu pada putri musuhmu itu merusak seluruh rencana balas dendam yang sudah kita bangun bertahun-tahun!"
"Aku tidak pernah melibatkan perasaan dalam hal ini," sahut Ayden dingin, sebuah kebohongan yang ia ucapkan dengan intonasi penuh kepastian kaku. "Semua berjalan sesuai rencana. Besok pagi, pastikan seluruh dokumen pengalihan aset Rahardja sudah ada di mejaku. Sekarang, jangan pernah hubungi aku lagi malam ini!"
Bip.
Ayden mematikan sambungan telepon secara sepihak. Pria itu berdiri kaku di balkon selama beberapa detik, menghembuskan napas panjang yang mengepul halus ditimpa dinginnya udara malam.
Di balik tirai, jantung Aisyah terasa bagaikan dihantam martil berat. Lututnya lemas seketika. Kalimat-kalimat yang baru saja ia dengar bergema hebat di dalam kepalanya: 'Putri musuhmu... Rencana balas dendam... Pengalihan aset Rahardja...'
"Tuhan..." bisik Aisyah hampir tanpa suara, air mata dingin merembes pelan di sudut matanya. "Siapa kamu sebenarnya, Ayden...?"
Mendengar gesekan langkah kaki Ayden yang hendak berbalik masuk, Aisyah bergegas memutarkan tubuhnya. Dengan langkah cepat namun tanpa suara, ia kembali merangkak naik ke atas tempat tidur, memiringkan tubuhnya membelakangi posisi Ayden, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengatur nafasnya seperlunya, berpura-pura telah tertidur lelap.
Suara pintu kaca balkon bergeser pelan terdengar melintasi ruangan, disusul keheningan langkah kaki yang mendekati tempat tidur.
Aisyah meresapi ketegangan yang merambat di udara. Ia merasakan kasur di belakang punggungnya sedikit melesak saat Ayden kembali merebahkan tubuh tegapnya.
Selama beberapa saat, Ayden tidak bergerak. Pria itu hanya berbaring miring, menatap punggung Aisyah yang tertutup gaun malam sutra putih gading.
Perlahan, Ayden memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka hingga dada bidangnya menempel pada punggung Aisyah. Pria itu menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Aisyah, menyalurkan hembusan napas hangat yang berembus tidak teratur.
Saat hembusan napas itu menyapu kulit lehernya, Aisyah menghirup selarik aroma asing yang beradu dengan wangi parfum maskulin suaminya. Ada pendar aroma pahit samar yang sangat tipis—aroma alkohol pekat jenis whiskey tua atau anggur merah keras yang baru saja diteguk. Ayden rupanya telah meminum alkohol secara diam-diam sebelum atau saat berada di balkon tadi.
"Aisyah?" bisik Ayden pelan di dekat daun telinga istrinya. Intonasinya begitu halus, namun nada selidik terselubung membayang tajam di sana. "Kamu sudah tidur?"
Aisyah memilih membisu. Ia menahan napasnya pelan, mempertahankan posisi tubuhnya agar tetap kaku dan tak bergeming, pura-pura tenggelam dalam tidur nyenyak.
Ayden terkekeh pendek—sebuah derai tawa rendah dan sumbang yang membuat seluruh bulu kuduk Aisyah berdiri seketika. Pria itu tahu persis bahwa istrinya belum tertidur.
"Jangan berpura-pura padaku, Istriku," bisik Ayden lagi, jemarinya yang dingin bergerak merayap naik, mengelus helai rambut Aisyah yang terurai di atas bantal. "Napasmu terlalu kencang untuk seseorang yang sedang bermimpi indah."
Aisyah membelalakkan matanya dalam kegelapan. Sadar bahwa penyamarannya telah terbongkar, ia perlahan membuka mata dan memutarkan sedikit kepalanya, menatap wajah Ayden dari jarak amat dekat.
"Siapa 'F', Ayden?" tanya Aisyah langsung, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi yang berkecamuk di dadanya. "Dan apa yang kalian maksud dengan 'putri musuh' dan 'rencana balas dendam'?"
Wajah Ayden yang berada beberapa sentimeter di hadapan Aisyah sama sekali tidak menunjukkan pendar terkejut. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Aisyah dengan pandangan pekat, kosong, dan dipenuhi oleh dominasi gelap yang mengerikan. Aroma alkohol samar kembali tercium saat Ayden tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terasa amat janggal dan asing.
"Kamu menguping pembicaraanku di balkon, Aisyah?" tanya Ayden balik dengan nada suara yang teramat tenang, seolah tindakan menguping itu adalah satu-satunya kesalahan di ruangan tersebut.
"Aku mendengar semuanya, Ayden!" tegas Aisyah, air matanya perlahan menetas membasahi bantal. "Kamu bicara tentang Pak Hendra! Kamu bicara tentang aset Papaku! Dan kamu menyebutku... kamu menyebutku sebagai putri dari musuhmu! Tolong katakan padaku, Ayden... apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan padaku?!"