Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Sebuah Ide Gila
"Kau gagal memberikan keturunan." Kalimat itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Raina bahkan sampai tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Gagal memberikan keturunan?
Perlahan Raina tertawa kecil. Bukan karena lucu, tetapi karena alasan itu terdengar begitu ironis. Seluruh keluarga di ruangan ini tahu kenyataannya. Semua orang tahu, sejak hari pertama pernikahan mereka. Ia dan Cassion tidak pernah hidup sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya.
Cassion tidur di kamar utama lantai tiga. Sedangkan dirinya menempati kamar tamu di ujung koridor lantai dua. Mereka makan sendiri-sendiri. Beraktivitas sendiri-sendiri. Bahkan terkadang berhari-hari berlalu tanpa mereka saling berbicara.
Jangankan memiliki anak. Saling menyentuh saja mereka tidak pernah. Namun tidak ada satu orang pun yang mau mengakui kenyataan itu. Dan seperti biasa, semua itu akan menjadi kesalahannya sendiri.
"Kalau begitu..." suara Raina terdengar pelan. "Bukankah alasan itu tidak masuk akal?"
Wajah Calista langsung mengeras. "Apa maksudmu?"
Raina menatap wanita itu untuk pertama kalinya tanpa menundukkan kepala. "Semua orang tahu bagaimana hubungan saya dan Tuan Cassion."
Lea langsung berdiri. "Berani sekali kau membantah!"
"Bukankah itu kenyataannya?" Raina balas berteriak yang berhasil membuat Lea terdiam sesaat. Sebab memang itu kenyataannya. Tidak ada yang bisa menyangkal.
Raina menelan ludah. "Jika selama tiga tahun kami tidak pernah menjalani kehidupan suami istri, bagaimana mungkin seluruh kesalahan dibebankan kepada saya?"
Ruangan menjadi sunyi. Edwin, Arlan dan bahkan Leon lebih memilih diam tanpa berniat sedikitpun mengeluarkan suaranya. Bagi mereka perdebatan itu hanya buang-buang waktu, karena pada akhirnya apa yang Sion inginkan… akan ia dapatkan dengan mudah.
Dan jelas terlihat dari ekspresi tidak peduli Sion saat itu. Dengan santainya Sion tetap diam memperhatikan bagaimana Raina akan bersikap dalam menghadapi perceraian yang sudah di depan matanya.
Namun kesunyian itu tidak berlangsung lama. Calista mendengus dingin. "Kau tidak perlu mencari alasan."
"Saya tidak mencari alasan." Raina masih membantah dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.
"Kalau begitu tanda tangani surat itu." Calista semakin mendesak.
Raina memandangi dokumen di tangannya. Halaman demi halaman. Tidak ada pembagian harta. Tidak ada kompensasi. Tidak ada apa-apa untuk dirinya setelah tiga tahun mengabdi kepada keluarga ini.
Setelah tiga tahun menerima penghinaan. Setelah tiga tahun mempertahankan status sebagai istri yang tidak pernah diakui. Ia akan pergi dengan tangan kosong. Persis seperti saat pertama kali datang. Betapa mudahnya… betapa kejamnya. Dan yang paling menyakitkan... tidak ada sedikit pun penjelasan dari pria yang seharusnya menjadi suaminya.
"Cassion… ka–kau sudah menyetujuinya?" tanya Raina lirih.
Calista tersenyum tipis. "Tentu saja. Jika tidak kenapa dia diam saja sejak tadi."
Meski sudah mengetahui jawabannya, Raina tetap menatap ke arah Sion untuk mendengar langsung jawaban dari pria yang masih berstatus suaminya itu. Namun, Sion hanya diam seolah membenarkan ucapan Calista.
Seketika sesuatu di dalam hati Raina runtuh. Walaupun selama ini hubungan mereka dingin. Walaupun Cassion tidak pernah menunjukkan kasih sayang. Jauh di dalam lubuk hatinya, Raina masih berharap setidaknya pria itu akan menghargai pengorbanannya selama ini. Ternyata tidak, bahkan sekalipun sepertinya tidak akan pernah.
Lea tiba-tiba tertawa kecil. "Kau masih belum tahu?"
Raina menatapnya. "Tahu apa?"
Lea menyeringai penuh kemenangan. "Laura sudah kembali."
Nama itu membuat beberapa anggota keluarga lain tersenyum puas. Sedangkan tubuh Raina membeku. Laura Fernandez, nama yang tidak asing baginya. Wanita yang selama ini menjadi bayangan dalam pernikahannya. Teman masa kecil Cassion, cinta pertama Cassion dan satu-satunya wanita yang konon pernah berhasil membuat Mafia Es itu jatuh cinta.
Lea melangkah mendekat. "Kakakku menunggu Laura selama bertahun-tahun."
"...."
"Kau hanya pengganti."
Setiap kata yang keluar terasa seperti pisau yang perlahan menusuk dadanya. Lea melanjutkan dengan senyum mengejek. "Dan sekarang pemilik tempatmu sudah kembali."
“Leana sudah cukup!” seru Cassion yang akhirnya buka suara, “Perceraian ini bukan karena soal keturunan maupun kembalinya Laura.”
“Pernikahan ini sejak awal hanya sebuah transaksi,” ujar Cassion menegaskan. “Dan aku rasa tiga tahun sudah cukup untuk mengakhirinya sekarang.”
Raina menunduk menatap surat perceraian di tangannya. Tiba-tiba semuanya menjadi jelas. Bukan karena keturunan, bukan karena keluarga Maximillian sudah kehilangan kesabaran. Bukan karena dirinya melakukan kesalahan, tapi karena Laura telah kembali dan keberadaannya tidak lagi dibutuhkan. Sesederhana itu alasan perceraiannya.
“Hanya itu?” tanya Raina sembari menatap tepat ke mata Cassion, mata yang selama ini tidak berani ia tatap secara langsung.
“Ya!” Cassion menjawabnya tanpa ragu.
Tiga tahun hidupnya, tiga tahun kesabarannya dan tiga tahun air mata yang tidak pernah diperlihatkannya kepada siapa pun. Pada akhirnya hanya bernilai sebuah tanda tangan di atas selembar kertas. Raina memejamkan mata perlahan. Saat membukanya kembali, tatapannya sudah jauh lebih tenang. Lebih tenang dari yang seharusnya.
“Baiklah! Kita bercerai.”
Ia mengambil pena yang tergeletak di atas meja. Tidak ada yang mencoba menghentikannya. Karena semua orang yakin ia akan menangis. Memohon atau mungkin membuat keributan Raina tidak melakukan semua itu.
Tangannya bergerak perlahan. Menuliskan namanya di bagian paling bawah surat perceraian. Leana dan yang lainnya tampak terkejut. Calista bahkan tidak menyangka prosesnya akan semudah ini.
Raina meletakkan pena kembali. Lalu mengangkat wajah. Matanya menyapu seluruh anggota keluarga Maximillian satu per satu. Hingga pandangannya kembali terkunci pada sosok Cassion yang masih saja menatapnya dengan tatapan dingin.
Tiga tahun lalu ia masuk ke mansion ini tanpa siapa-siapa. Hari ini ia akan keluar dengan cara yang sama. Namun entah mengapa... Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya justru terasa lebih ringan.
Karena mungkin... Yang berakhir hari ini bukan hanya sebuah pernikahan. Melainkan juga penderitaan yang selama ini ia paksa dirinya untuk bertahan. Dan tidak satu pun orang di ruangan itu menyadari... Bahwa mereka baru saja melepaskan seseorang yang kelak akan membuat mereka menyesali keputusan hari ini.
“Tunggu? Aku tidak mungkin pergi begitu saja dari tempat yang bagaikan neraka selama tiga tahun ini, bukan? Setidaknya aku harus mendapatkan kompensasi yang sepadan dengan semua penderitaan yang aku alami.” Dalam hatinya Raina merasa tidak terima tak mendapat apapun.
“Karena kau sudah menanda tanganinya, maka kau bisa meninggalkan rumah ini sekarang.” Calista tidak ragu lagi mengusir Raina dari Mansion itu.
“Ini sudah malam,” potong Cassion. “Kau boleh tinggal untuk malam ini dan pergi besok paginya,” sambungnya.
“Aah, benar! Jika selama tiga tahun ini aku tidak bisa mendapatkan hatinya, maka untuk terakhir kalinya bukankah aku harus mendapatkan tubuhnya itu. Sekalian saja uji coba apakah dia bisa memberi keturunan untuk keluarganya atau tidak.” Tiba-tiba sebuah ide gila muncul begitu saja di kepala Raina saat itu.
Bersambung ….