Karena suami dari putrinya miskin, seorang ayah rela menjual putrinya kepada pria lain untuk membayar hutang judinya. Tapi ayah brengsek itu tidak tau jika pria yang membeli putrinya adalah putra menantunya sendiri. Semua rasa bersalah dari perbuatan ayahnya itu ia tanggung sendiri kepada sang suami. Tapi herannya, suaminya tidak marah saat mengetahui jika istrinya dijual dan dihamili oleh pria lain. Apakah Gina Penelope akan memaafkan sang suami karena telah mempermainkannya? Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Gina dan suaminya setelah kejadian satu malam dengan pria lain? Baca novel ini dan dukung untuk jadi favorit ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SARAN SEORANG IBU
George menyarankan Gina untuk beristirahat di rumah sakit sampai infusnya habis.
Jam 5 sore sepulang kerja, seharusnya Gina menjemput ibunya dirumah bersama Abraham, namun kejadiannya seperti ini.
"Biar aku saja yang menjemput ibu" ucap Abraham.
"Hmm" deheman Gina lirih bertanda iya.
"Oh ya, aku sudah menelepon Bu Haile untuk memberitaukan kondisimu. Jangan khawatir soal pekerjaan sisa hari ini dan beristirahat lah" ujar sang suami.
Gina mengangguk paham.
Abraham keluar bilik pemeriksaan untuk menjemput ibu mertuanya.
Didalam bilik pemeriksaan, Gina terlihat sangat sedih. Air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Aku tidak menginginkan anak ini..." lirihnya.
"Tapi...tapi aku juga tidak ingin menjadi pembunuh..." lanjutnya.
Gina benar benar tidak kuat melihat Abraham, suaminya sendiri karena rahasia yang ia simpan.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya setelah ibu operasi besok lusa. Aku akan menyelesaikan perasaan bersalah ini sebelum bercerai" batinnya.
Ia segera menyeka air matanya. Memilih beristirahat dan menyiapkan hati untuk berpisah dari suaminya.
Jam 6 sore, Abraham kembali ke rumah sakit bersama ibu mertuanya. Sedangkan Gina masih berada di bilik pemeriksaan karena cairan infusnya masih belum habis.
Abraham sudah menceritakan kondisi Gina kepada ibunya. Veronica sangat bahagia saat mendengar putrinya hamil.
Keduanya pun menghampiri Gina yang sudah terbangun.
Tidak lupa Abraham membawakan baju ganti untuk istrinya.
"Ibu" panggilnya saat melihat Veronica datang.
"Sayang..selamat" sahut Veronica sambil duduk disamping putrinya.
"Ibu ingin kamu menjaga kandungan ini ya. Ibu akhirnya akan punya cucu" lanjutnya.
Keinginan Veronica berbanding terbalik dengan keinginannya.
Gina tidak memberikan respon.
Abraham yang berdiri disamping ibu mertuanya hanya bisa tersenyum pedih.
"Gina harus segera mengatakan kejujuran tentang dirinya sebelum membahayakan anak kami. Atau aku yang harus membongkar semuanya sekarang?" batin Abraham.
"Tidak..aku tidak boleh melunak..aku ingin Gina bisa jujur kepadaku tentang apa yang terjadi padanya. Selama ini ia sembunyikan kenyataan yang seharusnya ia katakan pada suaminya. Apa dia tidak percaya padaku?" batinnya lagi.
"Ini baju gantimu. Aku akan mengantar ibu untuk mengurus pendaftaran operasi dan rawat inap. Setelah itu, aku akan menjemputmu" ujar Abraham kepada sang istri sambil memberikan tas berisi baju bersih.
"Ya" jawaban singkat Gina.
Veronica bisa merasakan perang dingin antara putri dan menantunya yang belum berakhir meskipun ada kabar bahagia ini.
Abraham mengantar sang ibu mertua untuk jadwal operasi besok lusa.
Gina sendiri termenung di brankarnya.
Jam 7 malam, Gina sudah boleh pulang, tapi wanita ini malah memilih tinggal dirumah sakit menemani ibunya. Setelah tadi infusnya dilepas dan boleh meninggalkan bilik pemeriksaan, Gina berganti baju bersih yang dibawakan sang suami.
"Pulanglah, Gina. Ibu tidak apa apa. Ada banyak perawat dan dokter disini" suruh Veronica.
"Tidak, bu. Aku akan menemani ibu disini" tolak Gina.
"Memang keras kepala" celetuk Abraham lelah karena tidak bisa memaksa istrinya untuk pulang beristirahat dirumah.
"Ya memang aku keras kepala, kamu mau apa?" balas Gina.
Abraham memutar mata jengah.
Veronica merasa sedih dengan kondisi pernikahan putrinya.
"Ya sudah kalau kamu mau menjaga ibu disini. Biar Abraham juga tidur disini menjagamu" ucapnya.
"Tidak usah bu, aku bisa menjaga ibu sendiri disini. Kata ibh kan banyak perawat dan dokter. Biar Abraham pulang karena besok dia harus bekerja. Banyak jadwal Haile dan bos untuk meeting besok dengan klien" sahut Gina.
"Tidak masalah. Aku bisa tidur disini dan besok pagi berangkat bekerja denga normal" ucap Abraham.
"Hanya ini syarat dari ibu, Abraham ikut tidur disini atau kamu harus pulang" ancam Veronica.
Gina menghembuskan nafas panjang.
"Baiklah" sahutnya kemudian.
Dalam hati Abraham merasakan kemenangan karena tempat tidur keluarga hanya 1.
Langit malam sudah semakin gelap. Setelah pemeriksaan dokter kepadanya, Veronica tertidur.
Kini giliran Abraham dan Gina yang mencoba tidur di satu ranjang yang sama setelah 1 bulan berpisah.
Mereka sama sama tidak bisa tidur. Menatap langit langit kamar inap yang polos.
"Apakah kamu benar benar ingin berpisah dariku, Gina?" lirih Abraham tiba tiba.
"Hmmm..iya" balas Gina dengan pelan juga.
Keduanya hanya bisik bisik agar tidak membangunkan Veronica.
Abraham terdengar menghembuskan nafas berat.
"Boleh aku tau alasan yang bisa aku terima?" tanyanya.
Gina terdiam beberapa saat. Dirinya harus bisa bercerai dari Abraham sekarang karena adanya janin yang ia kandung sekarang membuatnya merasa semakin hina didepan suaminya sendiri.
"Kamu yang meminta" jawab Gina.
Belum saatnya dia mengatakan kejujuran yang pasti membuat Abraham langsung menceraikannya karena kondisinya saat ini masih satu ruangan dengan sang ibu.
Ia akan menahan diri setelah operas Veronica.
"Ck...alasan apa ini.." cibik Abraham.
"Tunggu setelah operasi ibu, aku akan mengatakan alasan yang sesungguhnya" ujar Gina.
"Oke. Aku akan menunggumu mengatakan alasan itu. Jika kamu setuju bercerai sebulan lalu, mungkin aku tidak tau jika kamu hamil sekarang" balas Abraham.
"Ya seharusnya aku setuju bercerai denganmu sebulan lalu agar kamu tidak tau adanya janin ini" sahut Gina membuat tangan Abraham mengepal karena menahan marah.
"Sebenci itu kah kamu dengan anak kita, hah?" tanya Abraham tidak terima.
Gina memilih tidak menjawab dan memaksa dirinya segera tidur.
Abraham ikut terdiam.
"Jujurlah please, Gina. Aku akan membuka semuanya" batinnya.
Lalu sama sama dalam diam beberapa saat, keduanya pun tertidur.
Tanpa sadar atau memang masih kebiasaan, mereka pun berakhir tidur berpelukan saat pagi datang.
Pagi pagi Veronica terbangun lebih dulu tersenyum bahagia melihat putri dan menantunya kembali terlihat mesra meskipun dalam posisi tidur.
Jam 6 pagi, keduanya terbangun dan melihat Veronica keluar dari kamar mandi.
"Kalian sudah bangun" sapa wanita yang akan operasi besok.
"Ibu.." panggil Gina yang sudah mendudukan dirinya, disusul oleh Abraham juga duduk.
Veronica tersenyum kepada putri serta menantunya.
"Pagi, bu. Aku akan segera pulang untuk membersihkan diri lalu berangkat bekerja" ucap Abraham.
"Iya, Abraham. Hati hati" sahut Veronica.
Abraham turun dari ranjang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Gina, ia pergi dari ruang rawat inap ibu mertuanya.
Veronica berjalan menghampiri Gina yang terlihat sedih.
Lalu ia duduk disamping sang putri.
"Sayang.." panggil Veronica lembut.
Gina menoleh padanya.
"Mengalah lah kepada Abraham. Ibu tau mungkin harga diri pria yang penghasilan serta gajinya tidak diatas istri menjadi terluka. Abraham merasa lemah dibanding kamu dalam segi finansial sehingga ia mengeluarkan otoriternya sebagai suami" jelas Veronica.
Gina diam sebentar lalu memberikan sahutannya.
"Aku sudah sering mengalah bu. Kehidupan bahagia di pernikahan kita hanya 3 bulan diawal dan setelah itu berlahan rusak. Dia sendiri yang merusaknya. Aku sudah mempertahankan mati matian tapi dia tetap ingin berpisah. Barulah saat tau aku hamil kemarin, dia tidak ingin berpisah tapi aku semakin yakin untuk berpisah. Aku lelah dan aku tidak ingin anak ini" balas Gina membuat ibunya terkejut diakhir.
Uhuuk..uhuuuk..
Veronica terbatuk karena penyakitnya ditambah rasa keterkejutannya.
"Apa..apa yang kamu bilang sayang? Kamu gak ingin anak ini?" tanyanya tak percaya.
Gina mengangguk lalu memalingkan wajahnya kedepan.
"Anak ini bukan anak Abraham, Bu" jujur Gina kemudian.
Duaaaar!!
Jantung Veronica serasa berhenti beberapa detik saat mendengar pengakuan putrinya.
Uhuuuk...uhuuuuk..
Veronica kembali terbatuk.
Gina menghadap ibunya lagi sambil menepuk punggung wanita rentan itu.
"Aku menceritakan ini kepada ibu karena saat ini aku hanya memiliki ibu. Kuharap ibu bisa sehat kembali lalu menemaniku" ujarnya kemudian.
"Terus....bagaimana dengan janin ini? Apa kamu..." tanya Veronica menebak tapi belum selesai sudah diangguki putrinya.
"Aku akan menggugurkannya" sela Gina makin membuat Veronica syok.
Uhuuuk..uhuuuk...
Batunya semakin menjadi jadi. Nafas Veronica semakin menjadi jadi.
Tapi ternyata....
Kejujuran Gina ini hanya ilusi semata. Gina membayangkan kondisi dimana ia akan jujur kepada ibunya tapi malah akan memperparah kesehatan Veronica.
Kembali saat Veronica memberikan saran untuk Gina agar tidak keras kepala.
"Hanya pria lemah yang merasa insecure dengan kemandirian wanita mencari uang. Berarti Abraham sungguh tidak bisa menekan ego" respon yang sesungguhnya.
Veronica menghela nafas panjang. Mungkin keputusan putrinya ini memang adalah keputusan yang baik untuk kebahagiaan Gina.
"Baiklah. Ibu hanya memberikanmu saran demi kebaikan kalian bersama, tapi jika kamu memiliki pemikiran sendiri untuk menentukan bahagia, ibu juga tidak bisa berkata apa apa lagi. Satu hal yang pasti, apapun pilihan jalan hidupmu, ibu akan selalu bersamamu" sahut Veronica.
Mendengar ini, mata Gina berkaca kaca. Lalu ia memeluk ibunya.
"Aku sangat menyayangi ibu. Sehatlah bu dan temani aku sampai kapanpun" ucapnya.
"Ibu juga menyayangimu, sayang. Kamu harus kuat demi anakmu" balas Veronica.
Ibu dan anak ini saling berpelukan untuk beberapa waktu, mencurahkan semua kekhawatiran dan kegelisahan keduanya.
lanjut thor