NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Tatapan dari Jauh

Dua Minggu menjelang hari H, kediaman Hermawan di kawasan Menteng berubah seperti area militer yang sedang menyiapkan operasi rahasia.

Suasananya sibuk dan berisik yang bikin Aira makin mual tiap kali melangkahkan kaki masuk ke rumahnya sendiri.

Pagi itu saja, halaman depan rumahnya sudah dipenuhi tiga truk van tanpa logo yang membongkar muatan.

Puluhan koper besar berisi sampel bahan dekorasi, bunga-bunga impor yang dijaga suhu udara wadahnya, sampai gaun-gaun cadangan terus berlalu-lalang dibawa oleh staf wedding organizer.

Tak cuma itu, belasan pengawal pribadi berbadan kuat tampak sibuk berkoordinasi dengan Papi Surya di ruang tamu, memasang garis pengamanan dan memeriksa sistem enkripsi untuk daftar tamu undangan.

"Aira! Sini sebentar, Nak! Kamu harus fitting veil yang ini, perancangnya baru terbang langsung dari Italia!" panggil Mami Maya dari balik tumpukan kain yang memenuhi ruang keluarga.

Aira yang baru saja menuruni tangga dengan pakaian kerjanya hanya bisa menghela napas berat. Rambutnya diikat asal, dan matanya memancarkan rasa malas yang sangat jelas.

"Mami... Aira udah mau berangkat kerja," sahut Aira sengit sambil menunjuk jam tangan pintarnya. "Lagian buat apa sih pengamanan sampai segininya? Papi mau nikahin Aira atau mau bikin benteng pertahanan negara? Masak vendor bunga aja harus dikawal security?!"

"Ini permintaan dari pihak keluarga pria, Aira," potong Papi Surya yang baru keluar dari ruang kerjanya membawa setumpuk dokumen.

"Pernikahan ini privat. Nggak boleh ada satu pun wartawan, kamera HP karyawan, atau kebocoran informasi ke media bisnis."

"Privat atau penuh rahasia?" cebik Aira sinis. "Sampai sekarang aja Aira nggak dikasih tahu nama lengkap calon suaminya siapa. Cuma dibilang 'anak Om Bram'. Aneh banget tahu nggak!"

"Kamu nanti juga tahu di meja akad. Udah, sana berangkat kerja daripada kamu ngomel terus," usir Papi Surya tenang, kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkasnya.

Aira menghentakkan kakinya kesal, lalu melangkah keluar rumah menuju mobilnya.

Hatinya dongkol setengah mati. Rumahnya sendiri sudah tidak terasa seperti tempat tinggal, melainkan markas konspirasi yang mengurung kebebasannya.

Suasana di kantor Hermawan Group setidaknya sedikit mengalihkan pikiran Aira dari kegilaan di rumah.

Hari itu, Aira harus memeras otak menyelesaikan laporan riset pasar untuk divisi pemasaran.

Meski awalnya ia bekerja setengah hati, desakan tenggat waktu dan sindiran halus dari ayahnya membuat gengsi Aira terpacu untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar putri pengusaha yang cuma tahu cara menggesek kartu kredit.

Sekitar pukul lima sore, saat jam kantor berakhir, perut Aira mulai berbunyi nyaring.

Sejak pagi ia memang hanya sempat mengunyah sepotong roti karena terdistraksi oleh kehebohan di rumah.

"Ra, lemes banget muka lu. Belum makan ya?" tanya Dion, rekan sekantor Aira dari divisi kreatif yang duduk di kubikel sebelah.

Dion adalah cowok ramah, asyik diajak ngobrol, dan salah satu dari sedikit orang di kantor yang tidak memandang Aira sekadar 'anak pemilik perusahaan'.

Aira menyandarkan kepalanya ke meja dengan lemas. "Banget, Yon. Otak gue mau pecah rasanya ngeliat angka-angka riset tadi. Gue butuh asupan makanan enak sebelum pulangnya ditembak drama rumah lagi."

Dion tertawa pelan sambil merapikan tasnya. "Ya udah, jalan yuk! Gue juga laporannya baru kelar nih. Ada restoran Italia baru di Senopati yang pasta-nya enak banget. Gue yang traktir deh, hitung-hitung bonus proyek minggu lalu."

Mata Aira seketika berbinar. "Beneran ditraktir? Asyik! Ya udah ayo, sebelum gue pingsan di sini."

Mereka berdua pun meninggalkan kantor menggunakan mobil Dion. Di sepanjang perjalanan, Dion sukses menghibur Aira dengan cerita-cerita konyol tentang klien mereka, membuat ganjalan di dada Aira terasa sedikit terangkat.

Restoran Italia itu cukup ramai oleh kalangan eksekutif muda dan pebisnis yang menikmati makan malam pasca-jam kerja.

Dion dan Aira memilih meja kecil di area tengah, dekat dengan jendela besar yang menghadap ke taman dalam.

"Lu mau pesan apa, Ra? Bebas deh, asal jangan pesan menu yang harganya bisa buat bayar kontrakan gue sebulan ya," canda Dion sambil menyodorkan buku menu.

Aira tertawa lepas, rasa penatnya hilang. "Tenang aja, Yon. Gue cuma mau fettuccine carbonara sama iced lemon tea kok. Gue nggak bakal bikin lu bangkrut."

Sambil menunggu pesanan mereka diolah, Aira menyandarkan punggungnya ke kursi.

Matanya secara refleks menyapu ke sekeliling ruangan, sekadar mengamati pengunjung lain yang sedang asyik mengobrol.

Namun, saat pandangannya bergulir ke arah meja pojok privat yang berada tak jauh dari posisinya—hanya terhalang dua deretan meja dan sekat tanaman hias—gerakan mata Aira tiba-tiba terhenti.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. Udara di sekitarnya serasa menguap habis.

Di meja pojok itu, duduk seorang pria dengan balutan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi sampai ke siku. Pria itu tampak begitu dewasa, tampan, dan karismatik.

Garis rahangnya yang tegas tampak sempurna di bawah cahaya lampu gantung yang temaram. Wajah yang delapan tahun lalu sangat Aira hapal setiap inci lekuknya.

Devan.

Devan sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita berambut panjang dengan pakaian formal. Mereka tampaknya sedang mendiskusikan dokumen bisnis di atas meja.

Namun yang membuat dada Aira berdenyut nyeri adalah... senyuman Devan.

Pria itu tersenyum tipis—sebuah senyuman menawan, tenang, dan dewasa yang dulu selalu berhasil membuat Aira meleleh.

Melihat Devan tersenyum hangat pada wanita lain di depannya membuat ada rasa panas dan perih yang tidak diundang menjalar di relung hati Aira.

Kenapa... kenapa rasanya masih sesakit ini? batin Aira histeris.

Padahal delapan tahun sudah berlalu, padahal ia membenci pria itu setengah mati atas keputusannya meninggalkan Aira dulu.

Tapi melihat Devan hadir secara nyata di depannya, tampak begitu sempurna dan bahagia tanpa dirinya, membuat benteng pertahanan Aira yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik.

Tangan Aira yang memegang serbet di pangkuannya mencengkeram erat.

"Ra? Lu kenapa? Kok ngelamun gitu?" suara Dion memecah ketegangannya.

Aira tersentak kaget. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya dari meja Devan, melempar tatapan panik ke arah Dion yang menatapnya heran.

"E-eh? Enggak... enggak apa-apa, Yon," jawab Aira terbata-bata, mencoba fokus pada Dion. Napasnya agak memburu, dadanya bergemuruh hebat. "Gue cuma... cuma tiba-tiba agak pusing aja."

"Beneran? Wajah lu agak pucat lho, Ra," Dion memajukan tubuhnya dengan raut khawatir. "Mau minum air putih dulu? Atau kita langsung balik aja?"

"Nggak usah, Yon! Gue beneran nggak apa-apa kok," paksanya sambil tersenyum lebar, berusaha sekuat tenaga bersikap sealami mungkin.

Aira mulai mengajak Dion bicara heboh, menanggapi lelucon Dion dengan tawa yang agak berlebihan—sebuah tameng agar ia tidak kembali melirik ke meja pojok itu.

Namun, Aira tidak tahu satu hal.

Di meja pojok sana, sejak Aira dan Dion pertama kali melangkahkan kaki memasuki pintu depan restoran, sepasang mata elang beriris cokelat sudah menyadari keberadaannya.

Devan Argawinata telah memperhatikan Aira sejak detik pertama wanita itu melangkah masuk.

Pandangan Devan sama sekali tak berpindah saat Aira berjalan menyusuri lorong meja.

Saat mata mereka hampir beradu tadi, Devan sempat menahan napasnya. Dadanya bergejolak aneh—perpaduan antara kerinduan yang amat sangat mendalam dan desakan perasaan yang membakar.

Aira milik-nya tampak jauh lebih cantik, makin dewasa, namun tetap memiliki aura menggebu-gebu yang selalu berhasil mengacaukan isi kepalanya.

Namun, saat Devan melihat Aira duduk bersama seorang pria muda—pria yang dengan santainya tertawa bersamanya, menatap Aira dengan pandangan mengagumi, dan membuat Aira tertawa lepas—ada rasa dingin dan cemburu yang membakar dada Devan.

Jemari Devan yang memegang pena di atas berkasnya mengepal erat.

"Pak Devan? Ada yang salah dengan poin investasi di lembar ketiga ini?" tanya wanita di depannya—Dara, rekan bisnis sekaligus pengacaranya—yang heran melihat Devan tiba-tiba berhenti bicara dan menegang kaku.

Devan tidak langsung menjawab. Matanya tetap terkunci pada sosok Aira dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Aira tertawa merespons ucapan pria di depannya, menopang dagunya dengan tangan, dan terlihat sangat bahagia.

Rasa cemburu itu liar, merayap cepat memenuhi aliran darahnya. Rasanya Devan ingin langsung berdiri saat itu juga, berjalan ke meja Aira, menarik tangan wanita itu, dan menegaskan pada pria asing di sebelahnya bahwa Aira adalah calon istrinya.

Tertawalah sepuas kamu sekarang, Calista, batin Devan dengan tatapan mata yang mendalam dan protektif. Karena sebentar lagi, kamu nggak bakal punya alasan buat lari dari aku lagi.

"Pak Devan?" panggil Dara sekali lagi.

Devan akhirnya menarik pandangannya, kembali menatap Dara dengan wajah datar dan dingin yang sempurna, seolah tidak terjadi apa-apa. "Tidak ada masalah. Lanjutkan penjelasanmu, Dara."

Sementara itu di mejanya, Aira berusaha keras untuk tidak membalikkan badan. Meski matanya tertuju pada makanan yang baru disajikan oleh pelayan, seluruh indranya serasa sibuk mendeteksi keberadaan Devan di belakang sana.

"Wah, carbonara-nya kelihatan enak banget, Ra," ujar Dion semangat sambil mulai menyantap makanannya. "Cobain deh!"

"I-iya, Yon..." Aira menyendok pastanya dengan canggung. Rasanya makanan selezat apa pun langsung kehilangan rasa di lidahnya saat ini.

Pikirannya melayang jauh. Kenapa Devan ada di Jakarta? Sejak kapan dia balik? Dan wanita itu... siapa dia? Pacarnya? Istrinya?

Rasa penasaran dan sesak yang berbaur di dadanya membuat Aira ingin menjerit. Firasat buruk yang sempat muncul saat ia menerima gaun pengantin berinisial D beberapa hari lalu kembali membayangi pikirannya lagi.

Namun Aira berusaha sekuat tenaga menepis dugaan gila itu. Nggak mungkin. Devan di sini cuma buat urusan bisnisnya sendiri. Nggak ada hubungannya sama pernikahan paksa gue.

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!