Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - LATIHAN TANPA ANGKA
Pada siang hari, Lin Feng mencoba bangkit dari bangku tanpa menggunakan tangan.
Ia hampir berhasil.
Rusuknya tertarik saat tubuhnya condong ke depan. Rasa sakit yang tadi tinggal denyut kecil kembali menusuk, memaksanya duduk lagi sambil menahan napas.
Ayahnya, yang sedang merapikan tali cangkul di halaman, memandangnya dari sudut mata. “Kalau kau mau jatuh, setidaknya tunggu sampai aku selesai bekerja.”
“Aku hanya ingin tahu seberapa baik tubuh ini bergerak.”
“Tubuhmu bergerak cukup baik untuk duduk.”
“Aku perlu tahu lebih dari itu.”
Ayahnya mengikat simpul terakhir, lalu berjalan menghampiri. Ia tidak memarahi Lin Feng, tetapi raut wajahnya memperjelas bahwa jawaban itu tak mengubah apa pun. “Kepalamu baru terbentur kemarin. Rusukmu masih sakit. Apa yang ingin kau buktikan?”
Lin Feng tak punya jawaban yang terdengar bijak. Ia ingin mengetahui apakah tubuh itu bisa berkultivasi, apakah ia dapat menjalankan teknik yang ia kenal dari game, dan apakah latihan nyata akan menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan. Semua pertanyaan tersebut terasa mendesak hanya karena ia terbiasa mendapat jawaban cepat dari layar.
“Aku ingin memahami dasar latihan tubuh,” katanya. “Bukan memaksakan diri.”
Ayahnya menghela napas. “Aku bukan guru kultivasi.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tak akan mengajarimu teknik yang tidak kupahami.”
“Aku juga tidak meminta itu.”
Lelaki itu terdiam sejenak, lalu menaruh cangkulnya. “Baik. Kau bisa mencoba berdiri dan berjalan beberapa langkah. Itu sudah cukup untuk hari ini.”
Lin Feng nyaris mengeluh, tetapi menahannya. Ia bangkit dengan perlahan, menunggu tubuhnya menemukan keseimbangan. Ayahnya berdiri dekat, siap menangkapnya jika ia limbung. Ia tidak menyentuh Lin, hanya mengawasi posisi kakinya.
“Jangan kunci lututmu,” katanya. “Berdiri saja. Berat badan seimbang.”
Lin Feng melonggarkan lutut. Punggungnya terasa kaku. Ia menarik napas, tetapi terlalu cepat. Dada mengembang dan rusuknya protes.
“Pelan,” kata ayahnya. “Kau tidak sedang menarik gerobak menanjak.”
Lin Feng mengembuskan napas dan mencoba lagi. Ia menurunkan bahu. Kakinya gemetar sedikit, bukan karena tenaga spiritual yang berputar, melainkan karena ototnya belum pulih dan ia tegang.
“Apa ini latihan tubuh?”
“Ini cara berdiri tanpa menyakiti punggung. Latihan tubuh yang biasa dilakukan orang dusun.” Ayahnya menunjuk keranjang kosong di tanah. “Angkat itu.”
Lin Feng membungkuk. Gerakannya terlalu cepat dan tubuhnya memutar ke samping. Rasa sakit menyentak rusuk. Ia berhenti sebelum tangannya menyentuh pegangan.
“Jangan memutar dari pinggang,” ujar ayahnya. “Dekati dulu. Tekuk lutut. Gunakan kaki.”
Ia mencoba lagi, lebih hati-hati. Keranjang itu ringan, tetapi ia merasakan ketegangan menjalar melalui paha dan punggung. Ketika berdiri, napasnya tak beraturan. Ia meletakkan keranjang di samping, lalu mengusap keringat di pelipis.
Dalam game, latihan semacam ini akan diwakili sebuah animasi singkat. Sebuah bar akan terisi sedikit demi sedikit. Tidak ada rasa sakit yang bertahan, tidak ada lutut yang bergetar, dan tidak ada ayah yang memperingatkan pemain untuk berhenti.
“Kalau aku melakukan ini setiap hari, apakah aku akan mencapai Body Tempering?” tanyanya.
Ayahnya menggeleng. “Aku tidak tahu. Orang-orang memakai istilah itu untuk macam-macam. Ada yang menyebut setiap pemuda kuat sebagai sudah menempa tubuh. Yang dimaksud utusan sekte dulu tentu sesuatu yang lain.”
“Jadi, saat pemeriksaan dulu, dia tidak menjelaskan?”
“Dia menjelaskan sedikit. Bakatmu biasa, katanya. Kalau kau berlatih dan punya cukup sumber daya, kau mungkin bisa melangkah. Tapi tidak ada alasan bagimu mengejar jalan itu jika hanya ingin hidup sebagai petani.”
“Apakah banyak yang memakai pil?”
“Tidak di dusun ini.” Ayahnya meraih keranjang dan mengembalikannya ke tempat semula. “Kami makan apa yang bisa ditanam. Anak keluarga Zhao pernah pergi ke kota untuk membeli obat penguat, tapi ia bekerja untuk klan itu. Kau tidak bisa membandingkan hidupmu dengan hidup mereka.”
Lin Feng mengingat harga pil di game, angka yang tidak pernah berubah kecuali mengikuti pembaruan. Ia tidak tahu berapa banyak hasil panen yang dibutuhkan untuk membeli satu pil sungguhan. Ia bahkan belum tahu apakah tanaman di kebun Wu Shun akan menjadi bahan yang sama.
“Aku tidak ingin cepat-cepat mencapai apa pun,” ujarnya. “Aku hanya ingin tahu batas tubuhku.”
“Batasnya hari ini adalah jangan membuat luka itu terbuka lagi.” Ayahnya menepuk bahunya yang sehat. “Kalau kau ingin belajar latihan sungguhan, tunggu sampai pulih. Nanti kita cari orang yang tahu.”
Kali ini Lin Feng mengangguk. Ia merasakan kecewa kecil, tetapi tidak ada alasan menyalahkan ayahnya. Lelaki itu bukan penjaga yang menolak membuka gerbang quest. Ia adalah orang yang harus bekerja esok pagi dan tidak ingin anaknya memperparah cedera.
Mereka berjalan perlahan mengitari halaman. Ayahnya menunjukkan posisi kaki saat mengangkat karung, cara menjaga punggung, dan bagaimana mengatur napas supaya tidak cepat habis. Tidak satu pun gerakan itu terlihat seperti teknik kultivasi. Namun ia bisa merasakan perbedaan antara penjelasan yang dihafalkan dan kebiasaan yang terbentuk setelah puluhan tahun bekerja.
Lin Feng mencoba meniru cara ayahnya mengangkat seikat kayu kecil. Ia salah menempatkan telapak, lalu satu potong kayu meluncur dan jatuh. Ia menangkapnya sebelum menyentuh kaki.
“Jangan buru-buru,” kata ayahnya.
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa kau buru-buru?”
Lin Feng tertawa kecil. “Kebiasaan lama.”
Ayahnya tidak bertanya kebiasaan apa. Ia hanya menunjukkan cara memegang kayu itu lagi. Lin Feng mengikuti, kali ini lebih perlahan. Gerakan kedua terasa lebih stabil, meski belum mudah.
“Siapa yang mengajarimu mengangkat beban seperti itu?” tanya Lin Feng.
“Tidak ada. Aku belajar dari orang-orang yang pernah mengangkat barang dengan cara salah, lalu harus beristirahat berminggu-minggu.” Ayahnya mengusap telapak tangannya yang kapalan. “Banyak hal dipelajari dengan melihat. Tapi kalau kau tidak tahu batasmu, melihat saja tidak cukup.”
Ketika akhirnya duduk kembali, lengan dan punggungnya terasa lelah. Tidak ada perubahan ajaib pada penglihatannya. Ia tidak merasakan Qi mengalir atau kekuatan baru mengisi tubuh. Yang ia rasakan hanya napas berat, kulit hangat, dan luka yang meminta waktu.
Malam itu, ia terbangun sekali karena rusuknya nyeri setelah bergerak tanpa sadar. Ibunya membantunya duduk dan memeriksa salep. Ia menyesal telah mencoba lebih keras daripada yang seharusnya.
Namun ia juga mulai memahami perbedaan yang selama ini tak pernah ia pikirkan. Di game, tubuh adalah angka yang bisa dilatih selama pemain menunggu. Di sini, latihan berlangsung dalam daging yang bisa cedera, di tengah keluarga yang harus menanggung akibatnya.
Saat pagi berikutnya datang, Lin Feng berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menguji tubuh hanya karena penasaran.
Kalau ia ingin berkultivasi, ia harus terlebih dahulu belajar mendengarkan tubuh yang sekarang ia miliki.