Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAMPU PADAM
Jam dinding berukir kayu jati di atas pintu masuk Grand Ballroom menunjukkan pukul 21.59. Di atas panggung utama, Don Antonio Valenti mengangkat gelas kristal berisi wiski keemasan tinggi-tinggi ke udara. Di sampingnya, Leo berdiri tegap dengan senyum tipis, memegang gelas yang sama. Ratusan tamu di bawah panggung ikut mengangkat gelas mereka, bersiap menyambut detik-detik penutupan pidato suksesi yang bersejarah itu.
"Untuk masa depan klan Valenti!" seru Antonio dengan suara lantang yang menggelegar di seluruh ruangan.
"Untuk Valenti!" sahut ratusan tamu serentak, membuat gema suara riuh memenuhi ruangan bernuansa emas tersebut.
Leo mendekatkan gelasnya ke bibir, berniat menyesap minumnannya. Namun, tepat pada detik ketika jarum jam melompat persis ke angka 22.00, sebuah letupan kecil terdengar dari arah dinding belakang.
*CTAK!*
Suara itu terdengar seperti sakelar besar yang diturunkan secara paksa. Dalam hitungan seperseribu detik, seluruh lampu gantung kristal berukuran raksasa yang menggantung di langit-langit mendadak padam. Lampu sorot putih yang mengarah ke panggung utama mati seketika, diikuti oleh seluruh lampu dinding, lampu indikator jalur evakuasi, hingga lampu hias di meja-meja tamu.
Kegelapan yang teramat pekat langsung menyelimuti seluruh Grand Ballroom.
Ruangan megah berkapasitas ribuan orang itu mendadak kehilangan seluruh sumber cahayanya. Tidak ada transisi pelan, tidak ada keteduhan. Hanya ada kegelapan total yang pekat, seolah-olah ruangan itu baru saja dilempar ke dasar jurang yang dalam.
Selama dua detik pertama, hening menyelimuti ballroom. Ratusan orang di dalam ruangan tertegun, mengira bahwa padamnya aliran listrik ini adalah bagian dari kejutan atau efek panggung yang sengaja dirancang oleh panitia acara.
"Apakah ini bagian dari pertunjukan, Don?" tanya salah satu bos klan bawahan dari barisan depan meja VIP dengan nada bercanda.
Namun, Leo Valenti tidak tertawa. Naluri bertahannya yang telah ditempa sejak kecil langsung menyalakan sinyal bahaya di dalam kepalanya. Sesuai prosedur keamanan klan, Hotel Grand Royale dilengkapi dengan tiga unit generator darurat yang akan menyala otomatis dalam waktu kurang dari satu detik jika listrik utama terputus. Tetapi detik ketiga berlalu, dan tidak ada satu pun lampu darurat yang menyala.
"Bukan," bisik Leo dengan nada amat dingin. "Ini bukan bagian dari acara."
Napas Leo mendadak memberat. Tangan kanannya bergerak secepat kilat meluncur ke balik jas mewahnya, jemarinya langsung mencengkeram gagang dingin senjata api Glock 19 yang terselip di sarung pinggangnya.
"Ayah, merunduk sekarang!" teriak Leo seraya mencengkeram bahu Antonio dan menarik tubuh tua itu turun ke lantai panggung.
"Leo, ada apa ini?" tanya Antonio dengan vokal rendah seraya menahan tubuhnya menggunakan satu tangan di marmer lantai yang dingin. Refleks tua sang Don masih bekerja, meski matanya yang sudah berumur kesulitan menyesuaikan diri dengan kegelapan yang mendadak.
Di bawah panggung, kepanikan mulai meledak seperti wabah yang menyebar cepat.
*PRANG!*
Suara gelas kristal jatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer memicu gelombang ketakutan massal. Seorang wanita dari kalangan tamu VIP menjerit histeris, dan jeritan itu dengan cepat disusul oleh teriakan-teriakan panik dari tamu lainnya.
"Lampu mati! Ada apa dengan sistemnya?" teriak seorang pria berjas abu-abu seraya mendorong orang di sampingnya.
"Buka pintunya! Bawa kami keluar dari sini!" jerit tamu wanita lainnya di tengah kegelapan.
Ratusan orang mulai saling dorong dalam gelap gulita. Mereka menabrak meja-meja bundar, menjatuhkan botol-botol minuman mahal, dan merobohkan kursi-kursi berpelapis beludru. Suara pecahan kaca, dentangan nampan besi pelayan yang jatuh, serta gemuruh langkah kaki yang berdesakan menciptakan kekacauan yang teramat pekat.
"Tetap di tempat kalian! Jangan panik!" teriak Kapten Pengawal dari arah pintu barat, mencoba mengendalikan situasi. "Tim pengawal, amankan panggung! Buat barikade di sekeliling Don!"
Namun, seruan tegas sang pengawal langsung tenggelam di dalam gemuruh jeritan massa yang ketakutan. Dalam kegelapan pekat tanpa cahaya sedikit pun, para pengawal Valenti yang terlatih pun kehilangan arah. Mereka saling menabrak dengan para tamu yang berlarian liar mencoba mencari jalan keluar.
Leo berlutut di panggung, pasang matanya menyapu kegelapan seraya telinganya menajamkan setiap bunyi sekecil apa pun.
"Marco!" teriak Leo dengan suara keras di antara keriuhan. "Marco, di mana kamu? Amankan sisi kiri panggung!"
Hening sejenak sebelum suara Marco terdengar dari arah tangga sisi kanan panggung, terdengar agak jauh namun cukup jelas.
"Saya di sini, Leo!" sahut Marco dengan nada suara yang dibuat seolah-olah sangat panik dan terengah-engah. "Saya sedang mencoba menghubungi tim pengawal di luar melalui radio, tapi sinyal kita terputus! Semuanya mati total!"
"Cari lampu darurat atau senter!" perintah Leo seraya memasang posisi siaga di depan tubuh ayahnya. "Bawa tim utama untuk membuat jalur evakuasi lewat lorong belakang panggung!"
"Diterima! Saya akan periksa koridor belakang!" jawab Marco seraya melangkah mundur perlahan menjauhi panggung, membiarkan posisi Antonio dan Leo makin terbuka tanpa perlindungan di tengah kegelapan.
Di lantai panggung yang gelap, Antonio memegang erat lengan anaknya.
"Leo," bisik Antonio dengan napas yang mulai tidak teratur. "Ini bukan sekadar masalah teknis. Seseorang telah memotong jalur utama kita."
"Saya tahu, Ayah," balas Leo singkat, tangannya menggenggam senjatanya kian erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Tetap merunduk di belakang mimbar ini. Jangan berdiri sampai saya katakan aman."
Tiba-tiba, di tengah benturan dan teriakan histeris para tamu yang masih bersahutan di lantai bawah, sebuah suara asing dan tajam terdengar dari arah langit-langit sisi barat gedung.
*PRANGGG!*
Suara kaca tebal berukuran raksasa pecah bertubi-tubi bergema memekakkan telinga. Kaca tirai jendela setinggi sepuluh meter yang menghadap ke jalan raya luar mendadak hancur berkeping-keping. Hujan pecahan kaca tajam turun menyerbu lantai ballroom, mengenai belasan tamu yang berada di bawahnya dan memicu jeritan kesakitan yang makin mengerikan.
Angin malam yang dingin dan kencang mendadak berembus masuk melintasi jendela yang hancur, membuat tirai-tirai beludru raksasa berkibar liar dan membawa aroma udara luar yang lembap ke dalam ruangan yang panas.
Bersamaan dengan masuknya angin malam tersebut, titik-titik cahaya tipis berwarna merah menyala muncul di dalam kegelapan.
Cahaya itu berasal dari sinar laser penunjuk sasaran yang terpasang pada senapan-senapan tembak jitu dari luar gedung. Titik-titik merah itu menari-nari dengan cepat di dalam kegelapan pekat ballroom—menyapu dinding marmer, memantul di antara pecahan kaca di lantai, dan bergerak cepat menelusuri barisan tamu yang panik.
"Sinar laser!" teriak salah satu pengawal klan yang berhasil menyadari keberadaan cahaya itu. "Ada penembak jitu di luar gedung! Merunduk semua! Merunduk!"
Peringatan itu datang terlambat. Kepanikan makin menjadi-jadi saat para tamu menyadari ada bahaya mematikan yang sedang mengintai mereka dari balik kegelapan. Orang-orang makin brutal saling dorong untuk mencapai pintu keluar yang sayangnya telah terkunci otomatis akibat sistem keamanan gedung yang meretas dan mati.
Leo membelalakkan matanya saat melihat dua titik laser merah merayap cepat naik dari lantai panggung, melewati mimbar kayu tempatnya bersembunyi, dan berhenti tepat di dada sebelah kiri Antonio Valenti.
Titik merah itu diam, terkunci dengan sangat presisi di atas jas mahal sang Don tua.
Jantung Leo seakan berhenti berdetak saat menyadari apa yang sedang terjadi. Di balik jendela kaca yang pecah, di gedung penyeberangan jalan yang gelap, penembak jitu musuh telah menemukan sasaran utamanya.
"Ayah, AWAASSS!" jerit Leo dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
Leo melempar tubuhnya secara instingtif ke atas tubuh Antonio, mencoba melindungi dada ayahnya dengan tubuhnya sendiri tepat saat sebuah gelombang tembakan mematikan siap meluncur menembus kegelapan malam.