Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Perlindungan Palsu
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari sela-sela tirai raksasa apartemen penthouses mewah milik Adrian tidak mampu menghangatkan tubuh Aria. Sejak semalam, setelah diantar kembali dari dermaga barat, dua pengawal pribadi Adrian langsung mencegatnya di lobby apartemennya sendiri dan membawanya ke tempat ini atas perintah mutlak sang CEO.
Adrian berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta. Pria itu sudah mengenakan kemeja putih rapi yang digulung hingga siku, menggenggam cangkir kopi hitam yang masih mengepul.
"Aku memindahkanmu ke sini demi keselamatanmu, Aria," ujar Adrian tanpa berbalik. Suaranya terdengar datar, namun ada nada kelelahan dan kecemasan yang pekat di dalamnya. "Pengawalku melaporkan kau sempat menghilang dari apartemenmu semalam selama beberapa jam."
Dada Aria berdesir hebat. Ia duduk di sofa kulit hitam, berusaha menetralkan raut wajahnya agar tidak tampak panik. "Saya hanya keluar sebentar untuk mencari udara segar, Adrian. Saya merasa terkungkung terus-menerus diawasi."
Adrian berbalik perlahan. Tatapan matanya yang cokelat gelap menancap lurus ke dalam manik mata Aria. Langkah kakinya yang tenang mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan Aria, meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca.
"Di luar sana ada Dante Vance yang berkeliaran, Aria," bisik Adrian seraya berlutut di hadapan Aria, meletakkan kedua tangannya yang hangat di atas lutut wanita itu. "Dia seperti serigala kelaparan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Sentuhan Adrian yang begitu lembut dan tatapan matanya yang dipenuhi rasa kepemilikan membuat hati Aria goyah. Di satu sisi, Adrian menawarkan rasa aman, kemewahan, dan kestabilan yang diimpikan setiap wanita. Namun di sisi lain, bayangan peringatan Dante tentang kekejaman masa lalu keluarga Mahardika terus berbisik di kepala Aria.
Siapakah yang sebenarnya berkata jujur?
"Tinggallah di sini sampai proyek menara selesai," lanjut Adrian, mengelus jemari tangan kiri Aria dengan penuh kelembutan. Namun tiba-tiba, gerakan tangan Adrian terhenti. Pria itu menyadari adanya bekas memar merah tipis di pergelangan tangan Aria—bekas cengkeraman Dante semalam.
Mata Adrian seketika berkilat dingin. "Apa ini?"
"I-itu hanya terbentur pintu mobil semalam," kilih Aria cepat, menarik tangannya ke balik tubuh.
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap Aria dengan tatapan penuh selidik yang amat dalam, sebelum akhirnya berdiri dan merapikan jasnya. "Aku harus ke kantor untuk rapat pemegang saham. Jangan keluar dari penthouse ini tanpa pengawalan Rian."
Setelah Adrian pergi dan penthouse kembali sunyi, Aria tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Perkataan Dante di dermaga tua itu terus mengusik pikirannya. 'Keluarga Mahardika dibangun di atas darah dan penderitaan keluargaku.'
Aria melangkah pelan menjelajahi penthouse raksasa itu hingga matanya tertuju pada sebuah pintu kayu jati tebal di ujung koridor—ruang kerja pribadi Adrian. Pintu itu sedikit renggang, menandakan Adrian lupa menguncinya karena terburu-buru tadi pagi.
Dengan jantung yang berdetak kencang, Aria menyusup masuk. Ruangan itu beraroma sandalwood dan kertas tua. Di belakang meja kerja mahogany yang megah, terdapat sebuah lemari besi tersembunyi di balik lukisan abstrak. Secara tidak sengaja, Aria melihat lembaran dokumen yang berserakan di atas meja kerja Adrian yang belum sempat dirapikan.
Aria mendekat dan membuka map berlabel merah bertuliskan: AKUISISI VANCE ENTERPRISE - 1998.
Jemari Aria gemetar saat membaca lembar demi lembar dokumen rahasia tersebut. Di dalamnya tertulis bukti-bukti manipulasi saham, kebangkrutan yang disengaja, hingga laporan investigasi kepolisian mengenai kecelakaan maut yang menimpa ayah Dante Vance puluhan tahun lalu—yang semuanya didanai dan didalangi oleh ayah Adrian Mahardika.
"Bahkan ada nama Adrian di dokumen pengalihan aset ini..." bisik Aria tak percaya.
Ternyata, kemewahan dan reputasi bersih Mahardika Group dibangun di atas fondasi kehancuran keluarga Vance. Adrian bukan sekadar penerus yang tidak tahu apa-apa; ia memegang kendali atas aset-aset hasil rampasan masa lalu itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berdentang nyaring di lantai marmer luar ruangan.
Cklek.
Pintu ruang kerja terbuka lebar. Adrian berdiri di ambang pintu, menatap Aria yang sedang memegang dokumen rahasia itu dengan tatapan mata yang tak lagi hangat, melainkan dingin dan mematikan bagaikan es.
"Apa yang sedang kau lakukan di ruang kerjaku, Aria?" tanya Adrian dengan suara rendah yang amat mengintimidasi.