NovelToon NovelToon
Hacker Cantik Incaran Mafia

Hacker Cantik Incaran Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Ibu Pengganti
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍

Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.

​Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.

Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.

​Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Lorong rak sereal di swalayan swasta pusat kota itu seharusnya menjadi tempat yang damai untuk menghabiskan Sabtu pagi. Alunan musik instrumental mengalun pelan dari pengeras suara, berpadu dengan dengung mesin pendingin ruangan dan bunyi roda troli yang berdecit halus di atas lantai marmer.

​Namun, bagi Alana, tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang benar-benar damai.

​Gadis itu berdiri santai menimbang dua kotak sereal madu di tangannya. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, menyamarkan pendar tajam matanya yang tak henti memindai pantulan dari cermin cembung di sudut lorong.

​"Bunda," Kael menarik pelan ujung kemeja kebesaran yang Alana kenakan. Bocah enam tahun itu tidak merengek meminta permen. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata bulat justru menatap lurus ke rak selai kacang.

​"Pria berjaket kulit di lorong sebelah kiri. Dia membolak-balik sebungkus roti tawar yang sama selama lima menit penuh. Sepatunya bot taktis militer. Jelas bukan bapak-bapak yang sedang belanja bulanan."

​Di dalam troli belanja, Kai yang sedang memeluk sekotak besar piza beku ikut menimpali dengan suara berbisik.

"Ada satu lagi di dekat kasir nomor empat. Dia terus menyentuh telinga kirinya. Earpiece. Dan keranjangnya kosong melompong. Amatir sekali."

​Alana tersenyum tipis. Sebuah kebanggaan yang agak menyimpang mengembang di dadanya melihat insting bertahan hidup si kembar yang begitu tajam.

​"Penilaian yang bagus, Jagoan," puji Alana pelan. Ia meletakkan salah satu kotak sereal ke dalam troli.

"Tapi mereka bukan ancaman. Postur mereka terlalu rileks, dan mereka menjaga jarak aman sepuluh meter tanpa niat memojokkan kita."

​"Anak buahnya Paman El?" tebak Kai, menyipitkan mata dengan jenaka.

​"Tepat," jawab Alana mendengus pelan.

"Paman mafia kalian itu rupanya berpikir kita butuh pengasuh bayaran. Dia mengirim anjing pelacak elitnya untuk mengawasi kita."

​Kael mengeluarkan sebuah alat seukuran kotak korek api dari saku celananya—sebuah pemindai sinyal modifikasi rakitan Alana.

"Frekuensi radio jarak pendek standar tanpa enkripsi ganda, Bunda. Jaringannya sangat mudah disusupi."

​Senyum Alana seketika melebar, memancarkan kelicikan yang mematikan. Pria arogan bermata Elang itu pikir ia bisa bermain-main mengintai wilayah privasinya? Elvano Adhitama mungkin raja di dunia bawah tanah yang bisa membunuh dengan jentikan jari, tapi di dunia maya, Alana adalah ratu hacker-nya.

​"Kerja bagus, Kael," bisik Alana. Ia merogoh ponselnya, mengetikkan deretan perintah mematikan pada layar terminal hitam dengan ibu jari yang menari secepat kilat.

​"Hubungkan audio ponsel Bunda ke earpiece mereka. Mari kita beri pengawal Tuan Muda Adhitama sedikit hiburan pagi."

​Tiga detik kemudian, di sudut lorong sebelah kiri, pria berjaket kulit yang sedang mengawasi Alana tiba-tiba tersentak hebat.

Ia menjatuhkan bungkus roti tawarnya ke lantai saat earpiece taktis di telinganya mendadak memekakkan gendang telinga dengan lagu Balonku Ada Lima, diputar dalam volume maksimal yang tidak bisa dikecilkan.

​Pria di dekat kasir nomor empat mengalami hal serupa. Ia memegangi telinganya sambil meringis kesakitan, menatap panik ke sekeliling seolah mencari sumber suara yang tengah menyiksa saraf pendengarannya.

​Melalui saluran komunikasi yang diretas itu, Alana menyalakan mikrofon ponselnya dan berbisik dengan nada manis yang sanggup membekukan darah.

​"Selamat pagi, agen-agen elit Adhitama. Sampaikan pada bos kalian, jika dia ingin memata-mataiku, kirim orang yang tahu cara menyembunyikan laras pistol di balik jaket agar tidak mencetak postur. Oh, satu lagi, tolong bereskan belanjaanku di kasir empat."

​Alana menekan tombol NFC di ponselnya ke mesin kasir pintar swalayan secara nirkabel.

"Aku baru saja membayar tagihan ini menggunakan kartu kredit platinum luar negeri atas nama Elvano Adhitama yang nomor serinya kucuri tiga hari lalu. Selamat bekerja."

​Tanpa menoleh sedikit pun ke arah para pengawal elit yang sedang pucat pasi dan panik melepas alat komunikasi mereka, Alana mendorong trolinya keluar dari swalayan dengan gaya anggun tak tersentuh, diiringi kekehan geli dari si kembar.

____________

​Di ruang kerja utama Mansion Adhitama, udara terasa sangat jauh dari kata santai.

​Elvano duduk di balik meja kerja mahoninya, memijat pelipisnya perlahan.

Ia baru saja menyelesaikan rapat berdarah dengan para petinggi klan dari wilayah barat, tetapi yang membuat kepalanya berdenyut saat ini bukan urusan sindikat, melainkan laporan langsung yang baru saja ia terima.

​Jace berdiri sangat kaku di seberang meja. Wajah sang asisten yang biasanya tanpa ekspresi kini memerah padam karena menahan malu yang tak tertahankan.

Di tangannya terdapat sebuah tablet yang menampilkan struk belanja digital yang sangat panjang.

​"Jadi, kau mau lapor padaku," suara berat Elvano memecah keheningan. Nadanya mengayun berbahaya antara kemarahan murni dan rasa geli yang luar biasa. "...bahwa tiga agen terbaik dari unit Alpha kita, yang terlatih membunuh dalam kegelapan... dipecundangi oleh seorang wanita dan dua balita di lorong swalayan?"

​Jace berdeham pelan, suaranya tercekat. "Benar, Tuan Muda. Dan... wanita itu meretas earpiece mereka. Memutar lagu anak-anak dengan volume maksimal. Lalu memaksa sistem kasir menagih pembayaran belanja senilai sepuluh juta rupiah yang isinya kebanyakan... susu formula organik, sereal impor, dan piza beku."

​"Dan dari mana dia mendapatkan akses untuk membayar semua itu?"

​"Dia... dia menyusup ke proxy rekening luar negeri pribadi Anda, Tuan. Hanya sepuluh juta, nominal yang sangat kecil, dia meretasnya murni untuk mengirim pesan. Dan... dia meninggalkan catatan digital di sistem kasir swalayan."

Jace membalikkan tabletnya dengan tangan sedikit gemetar, memperlihatkan sebuah pesan pendek di layar.

​Terima kasih traktiran belanja bulanannya, Tuan Muda. Lain kali, ajari detektifmu cara memilih roti tawar yang benar.

​Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tidak ada satu pun suara yang keluar dari bibir Elvano. Ia menatap layar tablet itu lekat-lekat.

​Lalu, hal yang paling tidak terduga terjadi.

​Tanpa bisa ditahan lagi, tawa serak yang dalam meluncur dari tenggorokannya. Bos mafia yang ditakuti seluruh kota itu tertawa lepas hingga bahu tegapnya berguncang pelan.

​Wanita itu benar-benar gila. Alana tidak hanya berani menantangnya secara langsung, tapi ia juga mempermalukan agen terbaiknya, sekaligus merampok uang receh dari rekening rahasianya semata-mata untuk mengejek harga dirinya.

Elvano belum pernah merasa frustrasi yang semenyenangkan ini seumur hidupnya.

​"Tarik unit Alpha dari lapangan," perintah Elvano setelah sisa tawanya mereda. Sudut bibirnya masih melengkung membentuk seringai predator yang mematikan.

"Mereka bukan tandingan otak cerdas wanita itu. Aku sendiri yang akan—"

​Ucapan Elvano terpotong paksa oleh bunyi klakson nyaring. Alarm tingkat merah tiba-tiba melolong dari sistem komputer utama di konsol dinding ruangan tersebut.

Lampu utama berkedip mati, digantikan oleh pendar lampu darurat berwarna merah darah yang berputar menyapu ruangan.

​Sisa tawa di wajah Elvano seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh aura membunuh yang langsung menurunkan suhu ruangan hingga ke titik beku.

​Seorang peretas internal Adhitama yang berjaga di sudut ruangan berseru panik, jemarinya menghantam keyboard secara brutal.

"Tuan Muda! Ada malware pihak ketiga yang baru saja meretas sistem kamera lalu lintas kota. Mereka menumpang pada sinyal transaksi kartu kredit yang Nona Alana retas di swalayan tadi!"

​Rahang Elvano mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Alana memang sangat jenius dalam menghapus jejak digitalnya, namun kelicikannya meretas bank secara real-time di ruang publik pagi ini justru menciptakan satu celah sepersekian detik.

Celah yang langsung disambar oleh iblis lain yang sedang memantau arus keuangan Adhitama.

​Jace langsung mencabut senjatanya. "Sindikat Bayangan. Mereka melacak keberadaan fisik Nona Alana dari titik kasir swalayan."

​"Berapa orang yang bergerak ke arahnya, Jace?!" tanya Elvano dingin. Ia langsung memutar tubuh, melangkah cepat menuju lemari kaca antipeluru tempat ia menyimpan senapan taktis dan rompi tempurnya.

​"Dua van hitam tanpa pelat nomor baru saja terpantau kamera lalu lintas menuju area apartemen Nona Alana, Tuan. Estimasi dua belas orang bersenjata laras panjang. Mereka akan tiba di sana dalam lima belas menit. Sementara Nona Alana dan si kembar sedang dalam perjalanan pulang ke gedung yang sama sekarang!"

​Otak Elvano berpacu menghitung setiap probabilitas mematikan. Jarak dari mansion ke apartemen Alana memakan waktu setidaknya dua puluh lima menit jika jalanan lancar.

Jika Alana tiba di apartemennya bersamaan dengan para pembantai itu, wanita itu dan si kembar akan terjebak dalam baku tembak tanpa ampun di ruang tertutup.

​"Siapkan helikopter di atap. Sekarang juga!" perintah Elvano. Suaranya menggelegar, meruntuhkan dinding-dinding kaca di sekitarnya. Ia mengokang pistol Glock kesayangannya dengan bunyi klik yang mematikan, lalu menyelipkannya kasar ke balik jas.

​"Kau boleh mempermainkan agenku dan merampok uangku sesukamu, Alana," desis Elvano. Matanya berkilat liar oleh amarah yang buta membayangkan wanita keras kepala itu dan keponakannya kini sedang berjalan masuk ke dalam terowongan maut.

​"Tapi tak ada satu pun bajingan di dunia ini yang boleh menyentuh milikku."

​Elvano melangkah keluar dengan derap langkah yang menjanjikan kematian. Permainan petak umpet telah usai. Hari ini, seorang raja mafia dunia bawah akan menghancurkan siapa pun yang berani mengancam wanitanya.

Bersambung...

1
riniasyifa
terima kasih semua yang udah meluangkan waktunya untuk tinggalkan jejak kalian di setiap bab😍 author doain semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan di mudahkan rejekinya amin.
Munas Tuti
duuuhalahhh genius banget Al 💪💪💪
Munas Tuti
ternyata musuh masih mengintai.....kapan damainya ni mbak ?
riniasyifa: haha dunia mafia gak pernah damai kak🤭🤣
total 1 replies
Munas Tuti
beuuuuh...ada2 ajha jawaban papa El
Munas Tuti
pasangan serasi 👍👍👍
Munas Tuti
horeeee....akhirnya Al tunduk jg 😄😄
Munas Tuti
keren....keren...
Munas Tuti
peranf lagiii niii...
Munas Tuti
huuuuh ikutab capek mbak...sampe megap2 tegang banget, hebat banget siiiih bikin ceritanya 👍👍👍
riniasyifa: 🤭 terima kasih kak, senang rasanya karya ini ada yang suka, jadi tambah semangat buat lanjut nulisnya💪💪😍😍
total 1 replies
Erna Wati
keren abis raja dan ratu Aditama..👍
Munas Tuti
lanjuuut..
Munas Tuti
duuuuh pagi2 ambyar dehhh, kek judul acara tv 😄😄😄
riniasyifa: haha kok tiba-tiba ke ingat acara tv ambyar kak 🤣🤣
total 1 replies
Munas Tuti
hi..hi..hi...Al dan El digoreng klgnya, apa fak panas tuuuh..
Lucyana H
aku doakan semoga author selalu sehat biar bisa update tiap hari,bsk episode yg paling menegangkan.....💪😘😍👍🏼
riniasyifa: amin ya rabbal alami, doa yang sama buat kakaknya ya. insyaallah kita coba buat lebih greget lagi ya kak🤣👍
total 1 replies
Lucyana H
wih..bakal .seru nih......🥰😍👍😘😁
riniasyifa: lanjut baca kak 😍😍
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Baru di awal sudah merinding disco bulu romaku thooorrr
PengGeng EN SifHa: kebawa arus cerita e thooorrr
total 2 replies
Munas Tuti
aduduuu El dah manggil sayang uuuy 😄😄
Munas Tuti
brangkaaat El...
Munas Tuti
weidiiih El segitu pd nya diaa 😄
Munas Tuti
akhirnya El akan sll mekindungi c kembar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!