NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : BAYANGAN YANG BANGKIT DAN JANJI DARAH MASA LALU

Ruang tengah kediaman Pratama yang beberapa menit lalu dipenuhi gelak tawa riang anak-anak, mendadak membeku. Angin sore yang berembus pelan membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang, seolah menyapu bersih sisa-sisa kehangatan yang baru saja mereka raih.

Kirana berdiri terpaku, jemarinya meremas kuat kertas tebal beraroma parfum sandalwood mahal itu. Kata-kata yang tertera di sana bukan sekadar huruf, melainkan belati dingin yang menusuk tepat di ulu hatinya. Perutnya yang masih rata kini digenggamnya erat-erat dengan kedua tangan yang gemetar hebat.

Anak yang sedang dikandungnya...

Bagaimana mungkin? Ia baru saja melihat dua garis merah di alat tes kehamilan itu tadi pagi saat Aris masih terlelap. Belum ada satu orang pun di dunia ini yang tahu—bahkan suami yang kini berdiri di sampingnya pun belum sempat ia beri tahu. Rasa mual yang semula ia anggap sebagai sisa demam semalam, kini berubah menjadi gelombang kecemasan yang membakar dada.

"Mas..." suara Kirana tercekat di tenggorokan, terputus oleh napasnya yang memburu. "Siapa... siapa S? Kenapa dia tahu soal... soal anak ini?"

Aris tidak menjawab seketika. Pria tinggi tegar itu berdiri mematung dengan wajah yang telah kehilangan seluruh warnanya. Rahangnya mengatup rapat, matanya menatap tajam ke arah inisial huruf S yang tertera di bagian bawah kertas, memancarkan kombinasi rasa tidak percaya, ketakutan yang teramat sangat, dan kemarahan yang membuncah. Kertas di tangan Kirana perlahan direbutnya dengan gerakan kasar yang tidak disengaja.

"Shinta..." bisik Aris. Suaranya begitu rendah dan parau, menyerupai erangan dari dasar neraka. "Tidak... ini tidak mungkin. Aku sendiri yang mengurus makamnya sepuluh tahun lalu... Aku sendiri yang..."

"Makam siapa, Mas?!" pekik Kirana, suaranya melengking menembus hening. Air mata yang baru saja mengering dari badai semalam, kini kembali menumpuk di pelupuk matanya. "Kamu bilang Shinta sudah meninggal dalam kemiskinan! Kamu bilang anak itu ikut gugur bersamanya! Lalu siapa wanita ini? Janji darah apa yang kamu buat sepuluh tahun lalu?!"

Jeritan Kirana mengejutkan Leo dan Maya yang sedang berlarian di halaman belakang. Kedua anak kecil itu menghentikan langkah mereka, menatap ke arah teras dengan wajah penuh kebingungan dan ketakutan yang kembali terpancar. Mbak Asih yang masih berdiri di dekat pintu dapur langsung berlari kecil menghampiri anak-anak, merangkul mereka dan membawa mereka masuk melalui pintu samping tanpa suara.

Takdir benar-benar sedang menertawakan Kirana. Baru beberapa jam lalu ia bertekad untuk menjadi tiang penyangga rumah ini, memaafkan masa lalu Aris yang penuh kelam, dan menyerahkan seluruh hatinya untuk memeluk pria yang terluka itu. Namun kini, rumah tangga yang dibangun di atas fondasi air mata dan pengorbanan itu kembali dihantam gempa dahsyat.

Sindiran takdir begitu tajam menyayat jiwanya: Seorang wanita muda berusia dua puluh empat tahun, berpura-pura menjadi pelindung bagi keluarga yang penuh intrik, padahal dirinya sendiri hanyalah catur di atas papan permainan yang belum selesai.

"Kirana, dengarkan aku dulu... aku mohon, tenanglah," Aris mencoba meraih bahu Kirana, namun wanita itu memundur cepat, menolak disentuh.

"Jangan sentuh aku, Mas!" cegat Kirana dengan dada naik turun. "Kamu bilang tidak ada lagi kebohongan! Kamu bilang kemarin malam adalah seluruh kebenaran yang kamu sembunyikan! Tapi apa ini?! Belum ada satu hari pun berlalu sejak kamu berlutut di tanah berlumpur itu, Aris!"

"Aku tidak berbohong soal Shinta!" bentak Aris, bukan karena marah pada Kirana, melainkan karena frustrasi yang teramat sangat. Pria itu mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan, tampak sangat kacau. "Sepuluh tahun lalu, Roy—adik Rina—mengabarkan padaku bahwa Shinta meninggal karena pendarahan saat melahirkan di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Roy yang membawa surat kematian itu padaku! Dia yang mengurus semuanya saat aku terikat perjanjian bisnis dengan keluarga Rina!"

Kirana tertegun. Nama Roy kembali mencuat. Roy Pratama—ipar Aris yang selama ini selalu memprovokasi Ibu Ratna dan berambisi menguasai seluruh aset perusahaan Pratama Group.

"Roy..." gumam Kirana, matanya membelalak. "Jadi selama sepuluh tahun ini... kamu tidak pernah melihat jasad Shinta dengan matamu sendiri?"

Aris bungkam. Tatapan matanya yang kosong adalah jawaban paling menyakitkan bagi Kirana. Pria cerdas, tegas, dan dingin yang ditakuti di dunia bisnis itu ternyata hanyalah seorang pria bodoh yang dipermainkan oleh manipulasi keluarganya sendiri selama satu dekade.

"Kamu ditipu, Mas..." lirih Kirana, suaranya bergetar menahan tawa sumbang yang getir. "Kamu hidup dalam rasa bersalah yang membunuh jiwamu, menghancurkan Rina, menyiksa Leo dan Maya, hanya karena kamu menelan mentah-mentah kebohongan yang dibuat oleh Roy!"

Belum sempat Aris membalas ucapan istrinya, suara klakson mobil mewah terdengar nyaring dari arah gerbang depan. Sebuah sedan hitam meluncur mulus memasuki pekarangan rumah, berhenti tepat di depan anak tangga teras.

Pintu mobil terbuka. Seorang wanita keluar dari dalam kendaraan tersebut.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Kirana dan Aris. Wanita yang melangkah keluar dari mobil itu mengenakan setelan busana kerja berwarna hitam elegan. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles riasan tegas namun cantik menawan, dan matanya memancarkan keangkuhan yang sangat pekat. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen tebal berlogo firma hukum ternama.

Namun yang paling mengerikan bukanlah penampilannya yang anggun, melainkan wajahnya. Wajah yang sangat mirip dengan foto wanita muda yang pernah Kirana lihat di dalam album lama milik Aris—wanita yang seharusnya sudah membusuk di dalam tanah sepuluh tahun lalu.

Shinta.

"Selamat sore, Aris... Kirana," ucap wanita itu dengan suara tenang namun dingin, melangkah naik ke atas teras dengan sepatu hak tingginya yang berdetak nyaring di atas ubin marmer.

Aris mundur satu langkah, wajahnya pucat bagaikan mayat. "S-Shinta...? Kamu... kamu benar-benar masih hidup?"

Shinta tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya sama sekali. Pandangannya berganti menatap Kirana dari ujung kepala hingga ujung kaki, memberikan tatapan menilai yang sarat akan penghinaan.

"Kenapa? Kamu terkejut melihatku masih bernapas, Mas?" tanya Shinta dengan nada meremehkan. "Atau kamu kecewa karena dosa yang selama ini kamu ratapi ternyata tidak pernah membuatku mati?"

"Shinta! Apa-apaan semua ini?!" jerit Aris, melangkah maju dan mencoba memegang lengan wanita itu, namun Shinta menepisnya dengan anggun.

"Jangan menyentuhku dengan tangan yang sudah menelantarkanku sepuluh tahun lalu, Aris Pratama," tegas Shinta, matanya berkilat penuh kebencian. "Aku datang ke sini bukan untuk bernostalgia tentang cinta masa muda kita yang picik dan tidak bernilai itu."

Kirana menata hatinya yang bergolak. Sebagai wanita dewasa yang telah melewati pertempuran batin begitu hebat di rumah ini, ia menolak untuk terlihat lemah di hadapan wanita dari masa lalu suaminya. Ia maju satu langkah, berdiri sejajar di samping Aris, menatap Shinta dengan pandangan lurus dan bermartabat.

"Kalau begitu, katakan apa tujuanmu datang ke rumahku," ujar Kirana tenang, meski tangannya di balik lipatan baju gemetar hebat. "Dan apa maksud dari surat ancaman yang kamu kirimkan ini?"

Shinta tertawa pelan—suara tawa yang menyakitkan telinga. "Rumahmu? Wah, berani sekali wanita muda berusia dua puluh empat tahun menyebut kediaman megah ini sebagai rumahnya. Kamu pikir hanya karena kamu berhasil menaklukkan dua anak kecil trauma itu dan tidur di ranjang Aris, kamu sudah sah menjadi nyonya di sini?"

"Jaga mulutmu, Shinta!" potong Aris dengan suara menggelegar. "Kirana adalah istriku yang sah! Dialah Nyonya Pratama di rumah ini!"

"Sah menurut hukum agama dan negara, Aris... tapi tidak sah menurut janji darah yang kamu tanda tangani sepuluh tahun lalu di atas kertas segel Perusahaan Pratama," jawab Shinta dingin. Ia membuka dokumen yang dipegangnya dan mencabut selembar kertas tua yang mulai kekuningan.

Shinta mengacungkan kertas itu ke depan wajah Aris dan Kirana.

"Sepuluh tahun lalu, saat ayahmu dan Ibu Ratna memaksamu menikahi Rina, kamu membuat satu perjanjian rahasia dengan Roy untuk menjahut modal perusahaan," tutur Shinta dengan nada penuh penekanan pada setiap kata. "Kamu menjaminkan seluruh hak waris anak kandung pertamamu—anak yang saat itu sedang kukandung—atas 30% saham utama Pratama Group jika suatu hari nanti aku muncul kembali atau jika terjadi perceraian antara kamu dan Rina!"

Aris membelalak. "Aku tidak pernah menandatangani Perjanjian Hak Waris seperti itu! Aku hanya menandatangani dokumen pengalihan saham untuk modal bisnis!"

"Roy memanipulasimu, Aris!" sela Shinta tajam. "Dia memanfaatka ketakutanmu dan kesetiaanmu pada keluarga. Selama sepuluh tahun ini, Roy menyembunyikan aku dan anakku di luar negeri, membiayai hidup kami dengan uang perasannya darimu, sambil menunggu momen yang tepat saat kamu berada di titik terlemahmu!"

Kirana merasa dunianya berputar. Jadi ini alasan mengapa Roy selalu berada di balik setiap drama yang terjadi di kediaman Pratama. Roy bukan hanya ingin menguasai harta, tetapi telah menyiapkan bom waktu sejak sepuluh tahun lalu untuk menghancurkan Aris sepenuhnya!

"Lalu... di mana anak itu sekarang?" tanya Kirana dengan suara bergetar, memberanikan diri menatap mata Shinta.

Mata Shinta sedikit bergemetar mendengar pertanyaan Kirana, namun ia dengan cepat menguasai emosinya kembali. "Anakku—anak kandung pertama Aris—hidup bahagia tanpa perlu tahu betapa bejatnya ayahnya. Dan sekarang, aku datang untuk mengambil apa yang menjadi haknya!"

Shinta melangkah lebih dekat ke arah Kirana, menundukkan kepalanya hingga berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajah Kirana. Udara di antara mereka berdua begitu sarat dengan ketegangan emosional dua wanita yang berdiri di dua sisi takdir yang berseberangan.

"Aku tahu kamu sedang hamil, Kirana," bisik Shinta dengan nada beracun yang sangat halus. "Pengacara yang mengurus kasus ini memiliki akses ke klinik langganan keluarga Pratama. Dokter pribadi keluargamu baru saja mengonfirmasi hasil laboratoriummu pagi ini setelah kamu melakukan pemeriksaan rutin minggu lalu."

Kirana tersentak. Ia terpaku. Pagi ini ia memang menggunakan alat tes mandiri, namun ia lupa bahwa minggu lalu ia sempat diambil sampel darahnya saat demam tinggi menyerangnya di klinik.

Aris yang mendengar bisikan itu langsung menoleh ke arah Kirana dengan mata melebar penuh kejutan yang amat sangat. "K-Kirana... kamu... kamu hamil?"

Kirana tidak mampu menjawab. Air matanya menetes pelan, membasahi pipinya yang pucat. Rasa bahagia yang seharusnya dirayakan bersama suami dalam kehangatan kamar, kini hancur berkeping-keping di atas teras, ternoda oleh kehadiran bayangan masa lalu yang menuntut balas.

"Selamat, Aris," ucap Shinta dengan sindiran yang teramat pedas, bertepuk tangan pelan secara sarkastik. "Kamu akan memiliki anak lagi. Tapi ingat kata-kataku hari ini: anak yang ada di dalam kandungan wanita muda ini tidak akan pernah mendapatkan satu sen pun dari harta Pratama Group! Perjanjian sepuluh tahun lalu itu mengikat! Anakku adalah ahli waris tunggal atas saham utama, dan minggu depan di pengadilan, aku akan menuntut hak asuh atas Leo dan Maya karena kamu terbukti tidak stabil secara mental!"

"Cukup, Shinta!" Aris meraung, hendak menerjang wanita itu, namun Kirana dengan cepat menahan lengan Aris.

Kirana maju berdiri tepat di hadapan Shinta. Meskipun tubuhnya lebih kecil dan usianya jauh lebih muda, tidak ada lagi rasa takut atau keraguan di mata Kirana. Pengalaman pahit ditinggalkan, ditolak oleh anak-anak tiri, dan dihina oleh Ibu Ratna telah menempa jiwanya menjadi sekeras baja.

Ia adalah seorang wanita, seorang istri, dan kini... seorang ibu yang sedang melindungi calon buah hatinya.

"Dengarkan aku baik-baik, Shinta," kata Kirana dengan suara tegas, dingin, dan penuh wibawa yang luar biasa—sebuah wibawa yang membuat Shinta sendiri terkejut dan menghentikan senyum sinisnya.

"Kamu boleh membawa seluruh dokumen tua, manipulasi Roy, dan janji darah sepuluh tahun lalu itu ke pengadilan," lanjut Kirana, matanya berkilat menembus manik mata Shinta. "Tapi kamu tidak akan pernah bisa mengambil Leo, Maya, dan suami yang sudah bertobat ini dariku!"

Shinta tertawa meremehkan. "Kamu terlalu percaya diri, Budak Kecil. Kamu hanya wanita muda yang dimanfaatkan Aris untuk menggantikan posisi Rina!"

"Aku tidak dimanfaatkan!" pangkas Kirana dengan nada bicara yang amat mantap. "Aku memilih berada di sini! Aku memilih mencintai pria yang rusak ini dan menyembuhkan luka anak-anaknya saat kamu menikmati uang perasan Roy di luar negeri! Jika sepuluh tahun lalu kamu adalah korban dari penakutnya seorang Aris, maka hari ini kamu tidak lebih dari seorang wanita jahat yang datang untuk merusak kebahagiaan anak-anak kandungmu sendiri!"

Kata-kata Kirana menghantam Shinta tepat di dadanya. Wajah Shinta memerah padam oleh kemarahan dan harga diri yang terluka.

"Kita lihat saja di pengadilan minggu depan, Kirana!" ancam Shinta dengan napas memburu, memutar tubuhnya dan berjalan cepat menuju mobilnya. "Aku akan memastikan kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa apa-apa, sama seperti saat kamu pertama kali melangkahkan kaki ke sini!"

Pintu mobil tertutup keras. Sedan hitam itu melaju kencang meninggalkan pekarangan kediaman Pratama, menyisakan debu dan keheningan yang mencekam di antara Kirana dan Aris.

Senyap kembali menguasai teras.

Aris memutar tubuhnya menghadapi Kirana. Pria itu tampak sangat rapuh, matanya berkaca-kaca menatap perut Kirana yang masih rata, lalu berpindah menatap wajah istrinya yang penuh keteguhan namun memancarkan kelelahan yang luar biasa.

"Kirana... anak kita..." bisik Aris, suaranya gemetar oleh perpaduan rasa haru yang amat dalam dan kebingungan yang menyiksa.

Kirana menatap suaminya. Rasa marah, kecewa, dan cinta yang mendalam bergejolak menjadi satu dalam dadanya. Ia memegang tangan Aris, mengarahkannya dan meletakkannya tepat di atas perutnya yang hangat.

"Ya, Mas... di dalam sini ada anak kita," ucap Kirana pelan namun pasti. "Buah dari pernikahan yang berawal dari air mata ini. Dan aku tidak akan biarkan siapa pun—baik itu Shinta, Roy, atau masa lalumu yang kelam—menghancurkan masa depan anak ini serta Leo dan Maya."

Aris jatuh berlutut di hadapan Kirana untuk kedua kalinya. Namun kali ini, ia tidak berlutut di tanah berlumpur, melainkan di atas ubin rumahnya sendiri, membenamkan wajahnya di perut Kirana seraya menangis terisak-isak bagaikan seorang anak kecil yang akhirnya menemukan tempat perlindungan yang sejati.

"Maafkan aku... maafkan aku, Kirana..." bisik Aris di balik tangisnya. "Aku berjanji padamu... demi nyawaku, demi anak yang kamu kandung, aku akan menyelesaikan perang ini. Aku tidak akan biarkan mereka menyentuhmu dan anak-anak."

Kirana mengelus rambut suaminya dengan lembut. Tangannya yang dingin kini terasa hangat oleh tekad yang membara.

Pernikahan ini memang tidak dimulai dengan kisah dongeng yang indah. Ini adalah kisah tentang wanita muda yang dipaksa bertarung di tengah dinginnya penolakan sebagai ibu tiri, bergelut melawan kejamnya prasangka, dan dihantam oleh sindiran takdir yang tidak ada habisnya. Namun di balik setiap tetes air mata yang jatuh, Kirana menyadari satu hal yang amat agung:

Cinta dalam pernikahan bukanlah tentang ketiadaan masalah, melainkan tentang keberanian dua jiwa untuk saling menggenggam erat saat badai paling dahsyat menerjang, melawan kebohongan masa lalu, dan berdiri tegap melindungi rumah yang telah mereka bangun bersama.

Di dalam rumah, Leo dan Maya mengintip dari balik tirai jendela. Kedua anak itu saling menggenggam tangan, menatap ayah dan ibu tiri mereka yang saling memeluk di teras. Bagi Leo dan Maya, Kirana bukan lagi 'Tante Kirana' yang asing dan menakutkan, melainkan benteng terakhir yang menjaga dunia mereka dari kehancuran.

Malam mulai merambat turun di atas ibu kota. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Pengadilan minggu depan akan menjadi panggung di mana seluruh rahasia, janji darah, dan kebohongan sepuluh tahun lalu akan dikuliti habis. Dan Kirana tahu, ia tidak boleh lengah sedikit pun. Demi dirinya, demi Aris, demi Leo dan Maya, serta demi nyawa kecil yang kini mulai bertumbuh di dalam rahimnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!