Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 KESALAHPAHAMAN YANG MEMBARA
Beberapa hari berlalu, namun perasaan tidak nyaman yang dirasakan Zain belum benar-benar hilang. Keira terlihat seperti biasa tersenyum ramah, menyapanya dengan lembut, seolah percakapan mereka di koridor tempo hari tidak pernah terjadi. Namun Zain sadar, tatapan Keira berubah setiap kali ia sedang bersama Vanya. Ada kilatan yang sulit dijelaskan, seakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya yang manis itu.
Suatu siang saat jam istirahat, kantin sedang cukup ramai. Zain baru saja mengambil minum dan hendak kembali ke meja tempat Rian, Bima, dan Dimas duduk, ketika Vanya berlari kecil menghampirinya dengan wajah cemas.
"Zain, syukurlah ketemu kamu. Aku pinjamkan buku catatan matematikamu sebentar ya ? Aku ketinggalan menulis penjelasan guru tadi, besok ada ulangan dan aku panik sekali" Ucap Vanya terengah-engah.
Zain tersenyum, langsung merogoh tasnya.
"Tenang saja, ini ambil. Pelan-pelan saja belajarnya, tidak akan lari kok materinya" Jawab Zain terkekeh
Vanya tersenyum lebar, matanya berbinar lega.
"Terima kasih banyak Zain, kamu penyelamatku hari ini. Aku kembalikan nanti sore ya" Ujar Vanya dengan ceria ia melambaikan tangan lalu berjalan pergi.
Zain baru saja akan melangkah kembali ke mejanya, ketika suara yang ia kenal terdengar dingin dari belakang punggungnya.
"Kamu selalu sebaik itu padanya, atau hanya kepadanya saja ?"
Zain berbalik, mendapati Keira berdiri di sana dengan wajah pucat namun matanya menatap tajam ke arah Vanya yang baru saja menjauh.
"Keira, ada apa ? Dia hanya meminjam buku catatan" Jawab Zain pelan, berusaha tetap tenang.
"Hanya buku catatan ?" Keira tertawa sinis, suaranya mulai terdengar sedikit meninggi.
"Zain, kamu tidak melihat bagaimana dia menatapmu ? Dan bagaimana kamu menatapnya ? Sejak aku datang ke sini, kamu selalu punya waktu untuknya tapi selalu sibuk saat aku butuh kamu. Apa sebenarnya dia bagimu ?" Tambah Keira
Suara Keira cukup didengar oleh beberapa siswa yang berada di dekat mereka. Zain merasa cemas sekaligus malu.
"Keira, jangan begini orang-orang mulai melihat kita. Bicara baik-baik saja nanti, di tempat yang sepi" Bisik Zain
"Aku tidak takut dilihat orang" Keira justru semakin meninggikan suaranya.
"Lebih baik semua orang tahu daripada aku sendirian yang merasa di asingkan oleh kekasihku sendiri, Kamu berubah, Zain. Semua ini karena dia kan ? Dia yang merusak hubungan kita" Lanjut Keira
Zain terkejut.
"Keira, jangan menuduh tanpa alasan. Vanya tidak melakukan apa-apa, kamu yang mulai berpikir berlebihan" Ucap Zain
"Berpikir berlebihan ?" Tanya Keira dengan mata berkaca-kaca, namun air matanya tidak jatuh.
"Kalau dia tidak ada di antara kita, kamu pasti akan lebih menyukai tempat ini. Kamu pasti akan lebih menyempatkan waktu untukku, aku tahu aku bukan orang yang paling sempurna tapi aku datang ke sini karena aku mencintaimu, Zain. Dan aku tidak mau ada orang lain yang mengambil tempatku di hatimu” Lanjut Keira
Zain menghela napas panjang, dadanya terasa sesak.
"Keira, tidak ada yang mengambil tempatmu. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata terhadap orang lain, seolah dunia hanya milik kita berdua. Dia teman sekelasku, dia tidak bersalah" Jawab Zain
Saat itu juga, Vanya berjalan kembali. Ia sepertinya baru menyadari bahwa suasana di kantin sedang tidak baik-baik saja, ia berjalan pelan mendekat sambil menyodorkan buku catatan itu ke arah Zain namun matanya menatap ragu antara Zain dan Keira.
"Zain ini bukunya kalau sedang ada urusan penting, aku bisa simpan dulu di kamarmu nanti sore" Ujar Vanya pelan, suaranya terdengar hati-hati.
Keira menatap Vanya tajam, lalu dengan tiba-tiba tangannya bergerak menyenggol buku itu dari tangan Vanya. Buku catatan itu jatuh terbuka, halamannya terlipat di lantai yang agak kotor.
Vanya tertegun, menatap bukunya yang tergeletak di bawah.
"Maaf aku tidak hati-hati tadi" Ucap Vanya pelan, lalu berlutut untuk mengambilnya.
Zain menatap Keira tak percaya.
"Kenapa kamu melakukan itu, Keira ?" Tanya Zain
"Aku tidak sengaja" Jawab Keira cepat, namun sorot matanya tidak terlihat menyesal sama sekali.
"Dia yang tiba-tiba datang, aku kaget saja" Lanjut Keira
Zain tidak menjawab, ia berlutut bersama Vanya dan merapikan halaman-halaman bukunya dengan lembut. Saat menatap wajah Vanya yang menunduk, ia melihat ada kilatan kesedihan di matanya, meski gadis itu berusaha tersenyum tipis agar ia tidak merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, buku saja kok. Bisa diperbaiki" Bisik Vanya pelan, lalu berdiri dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Zain berdiri perlahan, menatap Keira dengan perasaan yang campur aduk antara sedih, kecewa, dan bingung.
"Zain, aku benar-benar tidak sengaja" Ulang Keira, suaranya kini terdengar lebih lembut, seakan menyadari bahwa ia telah berlebihan.
Zain menggeleng pelan.
"Aku butuh waktu sendiri dulu, Keira. Aku tidak bisa bicara sekarang" Ucap Zain
Tanpa menunggu jawaban Keira, Zain berjalan meninggalkan Keira yang berdiri sendirian di tengah keramaian kantin. Ia tidak tahu ke mana kakinya akan membawanya, namun satu hal yang ia yakini hari itu, sesuatu yang kecil namun berharga baru saja retak, dan entah bagaimana cara menyatukannya kembali.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...