Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALIANSI
Gedung Singa Perkasa — Sel 401
Pangeran Kael berdiri tegak di ambang pintu selnya yang kokoh namun tampak usang, bayangannya memanjang panjang di lantai semen yang dingin, lembap, dan berbau apek.
Matanya menatap lurus ke arah lorong yang remang-remang, seakan menembus kabut kegelapan di ujung koridor itu.
Dari awal hingga saat ini ia tak mengucapkan sepatah kata pun, namun justru kesunyian inilah yang membuat udara di sekeliling terasa makin menekan, menimbulkan rasa takut yang merayap perlahan masuk ke tulang sumsum siapa pun yang berada di dekatnya.
Keheningan yang berat itu akhirnya pecah oleh suara rendah sang pangeran sendiri, tenang namun menggema di setiap sudut ruangan sempit itu.
“Zevan, jika kau bertarung satu lawan satu melawan Ivan Dragos… berapa lama kau sanggup bertahan?”
Zevan berdiri tak jauh. Ia adalah tangan kanan sekaligus perisai setia Pangeran Kael, orang yang sejak bertahun-tahun lalu tak pernah berpaling sedikit pun — bahkan ketika sang pangeran dikurung di tempat ini, dijatuhi hukuman mati tanpa banyak harapan, Zevan ikut masuk atas kemauan sendiri, meninggalkan kebebasan demi tetap berdiri di sampingnya. Di balik jeruji besi tebal dan dinding batu yang kokoh ini, ia membangun kembali pengaruh Kael, memastikan nama tuannya tetap didengar, dihormati, dan ditakuti oleh seluruh penghuni gedung.
Kekuatannya diketahui setara dengan Kaneo dan semua orang mengakui hal itu. Namun kini, di hadapan nama Ivan Dragos yang begitu berat, kepercayaan diri yang selama ini kokoh berdiri tampak mulai retak perlahan.
Zevan tersenyum pahit, garis bibirnya menegang seakan menahan rasa sakit yang tak terlihat. “Yang Mulia… ini bukan soal berani atau takut. Sekalipun ada dua orang yang memiliki kekuatan sepertiku berdiri berdampingan menghadapinya, hasilnya akan tetap sama — Ivan yang berdiri di atas pemenang. Ia bukan sekadar petarung gila yang mengandalkan amarah dan kekuatan fisik semata. Ia memiliki teknik yang tajam, terukur, insting bertarung yang tak tertandingi, dan pengalaman yang sulit ditandingi siapa pun… jujur saja, Yang Mulia, aku mungkin hanya sanggup bertahan dua puluh gerakan sebelum ia menjatuhkanku ke tanah.”
Ia terdiam sejenak, menunduk sejenak sebelum melanjutkan suaranya yang terdengar berat, “Menurut pendapat pribadiku… kemenangan mustahil di dapatkan kita. Apalagi ketujuh belas tahanan paling berpengaruh dan kuat di Gedung Naga Neraka telah tunduk pada Renzo. Kekuatan mereka menumpuk di pihak lawan, dan keseimbangan yang selama ini kita jaga telah runtuh seketika.”
Bahu Pangeran Kael bergetar halus, nyaris tak terlihat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selama ini merasa tak tersentuh, yang pernah tertawa lepas di hadapan kepungan polisi dengan senjata lengkap, kini merasakan sesuatu yang sangat asing merayap dingin di dadanya: keputusasaan yang nyata.
Nama-nama itu berputar berulang-ulang di benaknya bagaikan bayangan gelap yang tak mau pergi — Beruang Baja, Naga Hitam, Zombie, Tangan Hantu… belum lagi ketujuh belas bawahan Renzo yang kekuatannya luar biasa dan belum pernah diketahui sepenuhnya batas kemampuan mereka. Mereka bukan sekadar lawan biasa. Mereka adalah monster, mimpi buruk yang selama ini hanya didengar bisikannya, kini berjalan nyata di dunia yang sama dengannya.
“Jangan bilang… kita sama sekali tak punya peluang?” Suara Kael terdengar rendah, serak, penuh keraguan yang jarang sekali ia tunjukkan kepada siapa pun.
Zevan dan para pengawal yang berdiri di sisi lorong saling berpandangan dalam diam, tak ada yang berani membuka mulut, tak ada yang sanggup memberikan penghiburan bohong. Keheningan kembali menguasai ruangan, dan keheningan itulah yang menjawab pertanyaannya dengan jujur dan pahit.
Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki — berat, teratur, mantap, dan mendekat perlahan. Bukan langkah orang yang terburu-buru, bukan pula langkah orang yang takut. Langkah itu milik mereka yang tahu ke mana mereka pergi, dan yakin sepenuhnya akan tujuan yang mereka tuju.
4 sosok muncul di ujung lorong yang remang, berjalan berdampingan menuju sel nomor 401.
“Kau?” Pangeran Kael mengerutkan kening dalam, matanya menajam melihat siapa yang memimpin di depan sana. Suaranya dingin dan tajam. “Kenapa kalian berani datang ke sini? Terutama kau! Bukankah kita musuh bebuyutan sejak dulu? Apa kau tak takut aku akan merenggut nyawamu saat pintu ini terbuka lebar?”
Pria bertubuh besar berwajah bulat itu tersenyum tipis, tenang tanpa sedikit pun terguncang oleh ancaman itu. “Aku datang sebagai tamu, bukan sebagai musuh. Bukankah seharusnya kau lebih ramah menyambut tamu yang datang sendiri? Mengapa justru menyambut dengan ancaman pembunuhan?”
Sipir yang mengawal mereka mengeluarkan kunci, membuka pintu sel dengan bunyi berderit yang tajam, membiarkan ketiganya masuk, lalu menguncinya kembali dengan bunyi logam yang nyaring dan tegas. “Kalian hanya punya waktu tiga puluh menit! Bicarakan apa yang perlu dibicarakan, lakukan dengan cepat dan selesai tepat waktu!”
Belly tertawa kecil, mengangkat kedua tangannya seolah menenangkan petugas itu. “Tenang saja, petugas Dom.. Kami tak akan berlama-lama mengganggu tugas Anda. Dan terima kasih atas izin ini, tentu kebaikan Anda tak akan kulupakan begitu saja.”
Sipir itu mengangguk singkat lalu melangkah pergi, langkah kakinya perlahan menjauh di sepanjang lorong yang panjang.
Pangeran Kael menatap ketiga tamunya satu per satu — Axel, penguasa wilayah Darah Buaya. Damian, penguasa Gedung Kuda Hitam dan Belly, penguasa Gedung Taring Serigala yang paling banyak berselisih dengannya selama bertahun-tahun. Tiga nama yang selama ini saling bersaing, saling menjatuhkan, dan kini berdiri bersama di hadapannya.
“Aku masih bisa memaklumi jika Axel dan Damian yang datang,” ucap Kael dengan nada dingin yang tak berubah. “Tapi kau? Apa kau datang untuk menertawakanku di saat terendah seperti ini? Jika itu maksudmu, kau telah datang ke tempat yang salah.”
Belly melambaikan tangan dengan santai, lalu duduk di tepi ranjang kayu yang usang dan keras. “Tenang dulu, jangan terburu-buru menilai niat orang. Kami tak datang untuk mencari masalah maupun menertawakan siapa pun. Waktuku sedikit, jadi langsung saja ke intinya. Sudah bertahun-tahun kita bersaing, tak pernah benar-benar sejalan, semua orang tahu itu. Tapi situasi kini telah berubah sepenuhnya. Aku datang bersama mereka untuk membantumu.”
“Membantu?” Mata Kael menyipit perlahan, menatap tajam wajah Belly seakan ingin membaca apa yang tersembunyi di baliknya.
Belly menyeringai tipis. “Anggap saja… aku membantumu sekaligus menyelamatkan diriku sendiri dan segala yang telah kubangun selama ini.”
Wajah Damian yang biasanya tersenyum ramah kini tampak kaku, serius, tanpa sedikit pun jejak canda, “Dengar, Ivan telah menantangmu secara terbuka. Aku tak meremehkan kekuatanmu, Kael — Singa Perkasa memang ditakuti di tempat ini. Tapi semua orang tahu di dalam hati, kekuatanmu tak sebanding dengan kekuatan Naga Neraka. Jika pertarungan itu benar-benar terjadi, nasibmu tak akan berbeda jauh dari Kaneo… atau mungkin jauh lebih buruk dari itu.”
Pandangan Kael beralih ke Axel yang berdiri tegak dengan wajah yang sama seriusnya. “Saat Ivan menyerangku dengam tujuan mengukur kekuatanku.. kami bertiga menyadari satu hal.. Renzo, Ivan, dan seluruh pasukan mereka berencana memburu kita satu per satu. Setelah kau jatuh, siapa berikutnya? Aku, Belly, Damian, lalu Darren… mereka ingin menyingkirkan kita semua, para penguasa generasi lama, dan mengambil alih sepenuhnya kekuasan di 6 gedung utama."
Kael menatap Belly tajam, “Jadi… ide aliansi ini datang dari pikiranmu?”
Belly mengangkat bahu dengan santai. “Tentu saja."
Pangeran Kael tersenyum tipis, “Harus kuakui… aku tak selicik dirimu.”
Belly tertawa lepas, suaranya menggema di ruang sempit itu. “Bagus kalau kau menyadarinya! Usahaku tak sia-sia! Kita boleh berselisih, boleh tak saling suka, boleh punya masa lalu yang penuh persaingan… tapi kita tak bisa membiarkan semua yang kita bangun selama bertahun-tahun dihancurkan begitu saja oleh sekelompok anak ingusan yang baru datang!”