NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12.Tragedi Pintu Lift dan Wawancara Kilat

Waktu adalah musuh terbesar Lentera siang itu. Jarak dari kontrakan sempitnya menuju kawasan pusat kota terbilang cukup jauh, dan kemacetan siang hari bergulir layaknya siput yang sedang merayap di atas aspal panas.

Setelah berganti angkutan umum sebanyak dua kali dan berlari sekuat tenaga sejauh lima ratus meter di bawah terik matahari yang menyengat, Tera akhirnya tiba di pelataran Gedung B Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa.

Jarum jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 14.45 siang. Dia hanya memiliki waktu lima belas menit sebelum gerbang pendaftaran wawancara ditutup secara resmi oleh panitia.

"Aduh, mati aku! Bisa-bisanya macetnya parah sekali hari ini! Tolong jangan terlambat, Tera!" Ucap Tera pada dirinya sendiri sambil berlari terengah-engah memasuki lobi gedung yang megah berlantaikan marmer hitam.

Keringat bercucuran di pelipisnya, membuat beberapa anak rambutnya menempel di dahi. Kemeja putih dan rok hitamnya yang merupakan pakaian andalan wawancara kerjanya tampak sedikit kusut akibat berdesakan di dalam angkot yang panas tadi.

Dia berlari menuju deretan lift eksekutif yang terletak di ujung lobi utama.

Matanya menangkap salah satu pintu lift berlapis kuningan emas yang hendak tertutup rapat. Tanpa berpikir panjang tentang keselamatan dirinya, jiwa nekatnya keluar.

Tera melemparkan tubuhnya ke depan, menjulurkan tas jinjing kainnya ke sela-sela pintu lift yang hampir mengunci.

Brakk!

Sensor lift mendeteksi adanya halangan, dan pintu lift berlapis emas itu kembali terbuka secara otomatis dengan suara mendesis pelan.

"Tunggu! Tolong jangan ditutup dulu! Saya mau naik!" teriak Tera sambil melompat masuk ke dalam lift dengan napas yang berhamburan tidak beraturan.

Namun, karena momentum larinya yang terlalu cepat dan lantai lift yang dilapisi marmer mengilat itu sangat licin, kaki Tera slip.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan sepenuhnya di dalam ruang sempit itu.

Tera terjerembap ke depan, melepaskan tas jinjingnya yang langsung menghantam lantai dan memuntahkan beberapa lembar kertas fotokopi ijazah serta transkrip nilai ke segala arah.

Bugh!

Tubuh Tera tidak menghantam lantai marmer yang keras, melainkan menabrak sesuatu yang sangat kokoh, tegap, dan wangi.

Aroma maskulin perpaduan antara kayu cendana berpadu dengan mint yang sangat premium langsung memenuhi indra penciuman Tera.

Sesaat, Tera mengira dia baru saja menabrak sebuah tiang beton penahan gedung yang dilapisi jas kain wol berkualitas tinggi.

Dua buah tangan yang besar, kokoh, dan kuat dengan sigap mencengkeram kedua lengan atasnya, menahan tubuh Tera agar tidak terjatuh secara memalukan ke lantai lift.

"Apakah berlari di dalam lobi rumah sakit dan menabrak orang dengan kasar adalah bagian dari kurikulum kedokteran umum yang baru, Dokter Tera?" sebuah suara rendah, berat, dan dingin menggema tepat di atas kepala Tera.

Tera tersentak. Suara itu terasa sangat akrab di telinganya. Dia mendangak dengan cepat, dan sepasang matanya yang bulat langsung berhadapan dengan wajah tampan tanpa cela milik Sean Eagle Nugraha.

Pria itu berdiri tegak dalam balutan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit khusus, menatapnya dengan tatapan mata yang sulit diartikan, perpaduan antara kejengkelan karena ruang pribadinya diganggu dan kilatan geli yang disembunyikan dengan sangat rapi di balik wajah datarnya.

"K-Kau?!" Tera membelalakkan matanya, buru-buru menarik dirinya mundur hingga punggungnya membentur dinding lift yang berlapis cermin kaca.

Wajahnya seketika merona merah padam, antara malu karena bertingkah konyol dan kaget melihat pria yang diselamatkannya kemarin kini berdiri tegak tanpa kursi roda atau perban besar di kepalanya.

"Tuan Sean? Kenapa-kenapa kamu bisa ada di dalam lift eksekutif ini?!"

Sean melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Tera, lalu merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat hantaman tubuh Tera tadi dengan gerakan yang sangat elegan.

"Ini gedung saya, Dokter Tera. Pertanyaan yang lebih tepat adalah, mengapa seorang dokter baru seperti Anda berkeliaran dan berlari seperti dikejar hantu di area lift eksekutif?"

Tera tidak sempat meladeni keangkuhan pria di depannya. Matanya beralih ke lantai lift, melihat lembar ijazah dan transkrip nilainya yang berserakan di dekat sepatu pantofel mengilat milik Sean.

Dengan panik, dia langsung berlutut untuk memunguti kertas-kertas berharga tersebut.

"Aduh, ijazahku! Jangan melihatku seperti itu, Tuan Keras Kepala! Aku sedang sangat terburu-buru sekarang. Aku ada jadwal interview penting sepuluh menit lagi di lantai tiga. Kalau aku telat, seluruh masa depanku dan pengorbanan orang tuaku bisa hancur berantakan!" ucap Tera setengah merutuk sambil menyapu kertas-kertas itu ke dalam pelukannya.

Sean menatap gerakan panik Tera dari ketinggian berdirinya. Jari-jari mungil gadis itu bergerak cepat memunguti kertas dengan wajah yang tampak sangat cemas.

Tanpa diduga oleh Tera, Sean ikut berjongkok secara perlahan, mengambil selembar kertas transkrip nilai yang berada tepat di dekat sepatunya, lalu menyerahkannya kepada Tera.

"Lantai tiga sudah lewat sejak dua detik yang lalu," ucap Sean datar sambil berdiri kembali setelah pintu lift berdenting pelan.

"Apa?! Lantai tiga sudah lewat?!" Tera melompat berdiri dengan panik, matanya langsung melihat ke arah lampu indikator digital di atas pintu lift. "Ah! Benar! Lantai empat sekarang! Kenapa lift di rumah sakit ini cepat sekali berjalan, sih?! Duh, tamatlah riwayatku!"

Tanpa memedulikan keberadaan Sean lagi, Tera langsung menekan tombol angka tiga berulang-ulang dengan brutal menggunakan jari telunjuknya seperti orang kesurupan.

"Turun, turun, ayo cepat turun" gumamnya panik dengan bibir bergetar.

Sean yang berdiri di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku tanpa filter dari gadis di hadapannya ini.

Di dunia tempat Sean tinggal, semua orang—baik pria maupun wanita—selalu menjaga imej mereka dengan sangat ketat, bergerak dengan keanggunan yang dipaksakan, dan berbicara dengan skrip yang tertata rapi.

Namun Lentera, gadis ini bertingkah layaknya badai kecil yang berisik namun entah mengapa membawa kesegaran tersendiri bagi jiwanya yang datar.

"Wawancara ditutup tepat pukul tiga sore," kata Sean sengaja memanas-manasi suasana sambil menatap jam tangan kronograf mewah berlapis emas putih di pergelangan tangan kirinya.

"Kamu punya waktu tepat lima menit lagi."

"Diamlah, Tuan Nugraha! Kamu sama sekali tidak membantu situasiku sekarang!" ketus Tera saat pintu lift akhirnya terbuka kembali di lantai tiga setelah bergerak turun.

Gadis itu tidak membuang waktu lagi, dia langsung melesat keluar dari lift seperti anak panah yang lepas dari busurnya, meninggalkan Sean yang berdiri sendirian di dalam lift yang perlahan tertutup kembali.

Begitu pintu lift berlapis emas itu tertutup sepenuhnya, Sean mengeluarkan ponsel khusus dari saku jasnya.

Dia menekan sebuah nomor panggilan cepat ke arah ruang administrasi utama.

"Baskoro. Peserta bernama Lentera baru saja turun di lantai tiga. Pastikan komite wawancara memeriksa kemampuannya dengan serius dan tidak mempersulitnya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang tidak relevan, tapi jangan buat itu terlihat terlalu mudah. Biarkan dia menggunakan otaknya yang katanya cerdas itu untuk membuktikan dirinya," perintah Sean sebelum menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari sang Direktur Utama.

Di ruang wawancara eksekutif lantai tiga, Tera tiba dengan napas yang tersisa satu-satu tepat pada pukul 14.56. Tiga orang dokter spesialis senior yang bertindak sebagai penguji sudah duduk berjejer di balik meja panjang kayu mahoni dengan wajah-wajah yang tampak lelah setelah menguji puluhan peserta sejak pagi.

"Dokter Lentera? Silakan duduk," ucap salah satu penguji wanita paruh baya yang memiliki tatapan mata tajam namun memancarkan wibawa profesional yang sangat kuat.

Tera menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang menggila dan merapikan kemejanya yang sedikit basah oleh keringat sebelum duduk di kursi kayu di hadapan para penguji.

"Selamat siang, Dokter. Mohon maaf atas keterlambatan saya yang hampir mepet waktu penutupan pendaftaran."

"Tidak apa-apa, waktu Anda masih sah secara sistem. Mari kita mulai," jawab penguji pria di tengah sambil membuka berkas digital milik Tera di tabletnya.

Wawancara dimulai, dan dalam waktu singkat, suasana ruangan yang tadinya tegang dan kaku berubah menjadi sebuah panggung unjuk gigi bagi kecerdasan Lentera yang luar biasa.

Pertanyaan-pertanyaan sulit seputar diagnosis banding kasus trauma akut, penanganan kedaruratan kardiovaskular pada pasien lanjut usia, hingga etika medis modern dilontarkan oleh para penguji secara bertubi-tubi.

Namun, Tera menjawab semuanya dengan sangat tenang, taktis, dan didasari oleh dasar teori literatur medis internasional terbaru yang sangat kuat.

Otaknya bekerja dengan presisi yang mengagumkan, membuat ketiga penguji senior itu berulang kali mengangguk-angguk puas dan saling berpandangan dengan binar mata kagum yang tidak bisa disembunyikan.

"Luar biasa," puji ketua penguji wanita setelah wawancara berlangsung selama tiga puluh menit penuh.

"Jawaban Anda tentang manajemen syok anafilaktik dan penanganan trauma tumpul dada adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya dengar dari seorang lulusan baru tahun ini. Rumah sakit ini memang membutuhkan dokter muda yang tidak hanya memiliki ijazah cum laude, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan ketajaman berpikir di bawah tekanan seperti Anda, Dokter Lentera."

Tera tersenyum tulus, merasakan sebuah kehangatan besar membuncah di dalam dadanya. Rasa lelahnya setelah berlari siang ini menguap begitu saja. "Terima kasih banyak, Dokter. Saya hanya berusaha memberikan jawaban terbaik berdasarkan apa yang sudah saya pelajari selama masa koas dan perkuliahan."

"Baiklah, Dokter Lentera. Hasil resmi akan dikirimkan lewat surat elektronik resmi rumah sakit besok pagi, tetapi secara informal, saya bisa katakan kepada Anda, selamat bergabung dengan keluarga besar Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa. Anda bisa mulai bekerja pada hari Senin depan untuk orientasi divisi pelayanan medik," ucap penguji wanita itu sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Tera.

Saat menjabat tangan penguji tersebut, Tera merasa air matanya hampir saja menetes keluar. Kali ini bukan karena sedih atau dihina seperti di Rumah Sakit Medika Utama kemarin, melainkan karena rasa syukur yang teramat sangat kepada Sang Pencipta.

Dia berhasil membuktikan bahwa kecerdasannya mampu membuka jalan di tempat paling elit di kota ini, tanpa dia ketahui sama sekali bahwa ada sepasang mata gelap yang sedang memantau transkrip nilainya dari balik layar komputer ruang direksi dengan senyuman puas yang tersembunyi.

Yuk komen dulu gaes. Jangan lupa kasih VOTE dan Hadiahnya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!