Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Kamis, 27 Oktober 2016 — Pukul 06.30
Arthur Sterling menatap layar laptopnya dengan ekspresi serius.
Sejak bangun tidur, ia sudah memeriksa perkembangan Aurelia Therapeutics sebanyak dua kali. Hasil uji klinis yang diumumkan kemarin telah menarik perhatian pasar. Berita mengenai pencapaian perusahaan tersebut mulai menyebar di kalangan investor, dan volume perdagangan sahamnya meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Namun, kenaikan harga tidak berlangsung dalam garis lurus.
Setelah melonjak menyusul pengumuman, saham Aurelia sempat mengalami tekanan jual. Sebagian investor mengambil keuntungan, sementara investor lain masih mencoba menilai seberapa besar dampak hasil klinis tersebut terhadap nilai perusahaan.
Bagi Arthur, pergerakan itu bukan sesuatu yang mengejutkan.
Ia pernah menyaksikan pola serupa dalam kehidupan pertamanya. Berita positif dapat memicu optimisme, tetapi ketika investor mulai menghitung nilai sebenarnya dari sebuah perusahaan, euforia awal sering kali bertemu dengan kenyataan yang lebih rumit.
Arthur membuka catatan investasinya.
Ia menuliskan tiga pertanyaan yang harus dijawab sebelum mengambil keputusan.
Pertama, apakah alasan awal untuk membeli opsi masih berlaku?
Kedua, apakah keuntungan potensial yang tersisa masih sebanding dengan risiko kehilangan modal?
Ketiga, berapa banyak uang yang benar-benar ia butuhkan untuk menjaga kehidupannya tetap berjalan?
Pertanyaan terakhir membuatnya terdiam.
Saldo rekeningnya masih kecil. Uang tunai yang tersisa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam waktu terbatas. Sementara itu, sebagian besar modal investasinya masih terikat pada opsi beli Aurelia.
Ia bisa saja mempertahankan posisi itu dan berharap harga saham terus naik. Namun, jika ia melakukan kesalahan, kerugiannya bukan sekadar angka merah di layar. Ia bisa kehilangan modal yang dibutuhkan untuk membangun bisnis bersama Daniel.
Arthur mengusap dagunya.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah melihat investor kehilangan kekayaan karena menolak menjual aset yang sudah memberikan keuntungan besar. Mereka terus menunggu kenaikan berikutnya, meyakinkan diri bahwa harga masih bisa naik lebih tinggi.
Sebagian berhasil.
Sebagian lainnya akhirnya menyaksikan keuntungan yang semula nyata di atas kertas menghilang hampir seluruhnya.
Arthur tidak berniat menjadi salah satu dari mereka.
Ia membuka kembali rincian kontrak opsi yang dimilikinya, memeriksa harga pelaksanaan, waktu kedaluwarsa, serta nilai pasar terkini. Ia juga meninjau perubahan volatilitas setelah pengumuman klinis.
Hasil positif Aurelia telah mengurangi ketidakpastian mengenai satu bagian penting dari pengembangan obatnya. Namun, setelah pengumuman keluar, volatilitas tersirat dapat menurun. Artinya, opsi tidak selalu terus meningkat nilainya hanya karena harga saham bertahan di atas level sebelumnya.
Waktu juga terus berjalan.
Semakin dekat tanggal kedaluwarsa, semakin sedikit kesempatan bagi opsi untuk memperoleh nilai dari pergerakan harga berikutnya.
Arthur mengambil napas panjang.
Ia tidak perlu menjual hanya karena takut. Namun, ia juga tidak perlu mempertahankan posisi hanya karena masih mengingat bahwa perusahaan itu akan memperoleh perhatian besar di masa depan.
Tujuannya bukan membuktikan bahwa ia bisa menebak harga tertinggi.
Tujuannya adalah membangun modal.
Arthur membuka buku catatan hitam dan menulis:
Jangan mengejar keuntungan maksimum jika keuntungan yang sudah diperoleh dapat digunakan untuk membangun sesuatu yang lebih besar dan lebih stabil.
Ia belum melakukan transaksi.
Namun, untuk pertama kalinya sejak membeli opsi tersebut, ia benar-benar mempertimbangkan untuk mengurangi posisinya.
Pukul 08.15, Arthur tiba di kampus.
Ia berjalan melewati halaman utama sambil membaca beberapa pesan yang masuk sejak pagi. Salah satunya berasal dari Daniel Brooks.
Daniel: Aku sudah memperbarui halaman promosi Lawson Market. Foto-fotonya akan kuambil ulang setelah kelas. Peter juga mengirimkan sebagian catatan transaksi kemarin.
Arthur segera membalas.
Arthur: Bagus. Apakah datanya cukup jelas?
Daniel: Cukup untuk langkah awal. Penjualan sore memang lebih rendah, tetapi kita belum tahu apakah itu disebabkan jumlah transaksi atau nilai pembelian rata-rata.
Arthur: Jangan langsung menyimpulkan. Kita perlu membandingkan beberapa hari dan memperhatikan perbedaan antara hari kerja dan akhir pekan.
Daniel: Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu.
Arthur: Kalau begitu, kau semakin mengenalku.
Daniel: Sayangnya, iya.
Arthur tersenyum kecil dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Ketika memasuki ruang kuliah, ia melihat Clara Vance sedang duduk di dekat jendela. Gadis itu melambaikan tangan singkat ketika mata mereka bertemu.
Arthur berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong di sebelahnya.
"Pagi," sapa Clara.
"Pagi. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Aku baru saja menyelesaikan tugas yang hampir membuatku kehilangan kesabaran."
"Kalau begitu, selamat. Kau berhasil mengalahkan musuh yang paling berbahaya bagi mahasiswa."
Clara menoleh.
"Ujian?"
"Tugas kelompok yang anggotanya tidak membalas pesan."
Clara tertawa.
"Itu memang lebih buruk."
Percakapan mereka terhenti ketika Profesor Harris memasuki ruangan. Arthur mengeluarkan buku catatan, tetapi sebelum kelas dimulai, Clara mendekatkan suaranya.
"Aku membaca berita Aurelia kemarin. Hasilnya benar-benar positif?"
Arthur mengangguk.
"Perusahaan mengumumkan bahwa uji klinisnya mencapai sasaran utama. Itu perkembangan yang baik."
"Berarti investasimu berhasil?"
Arthur mempertimbangkan jawabannya.
"Sejauh ini, hasilnya sesuai dengan perkiraanku. Nilai posisiku meningkat, tetapi aku belum menjualnya."
Clara mengamati wajahnya.
"Kau terlihat tidak terlalu senang untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kabar baik."
Arthur tersenyum tipis.
"Aku senang. Aku hanya sedang memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya."
"Bukankah itu bagian yang paling sulit?"
"Mungkin."
Clara tidak bertanya lebih jauh. Ia membuka bukunya ketika Profesor Harris mulai menjelaskan materi hari itu.
Arthur merasa bersyukur atas sikap tersebut.
Ia ingin Clara mengenalnya sebagai dirinya yang sekarang, bukan sebagai seseorang yang selalu harus menjelaskan setiap keputusan. Ia tidak ingin menjadikan hubungan mereka sebagai tempat untuk menyembunyikan kecemasan, tetapi ia juga belum siap menceritakan rahasia yang bahkan sulit dipercaya oleh dirinya sendiri.
Untuk saat ini, mereka hanya perlu melanjutkan hubungan dengan kecepatan yang nyaman bagi keduanya.
Menjelang siang, Arthur dan Daniel bertemu di kafetaria kampus.
Daniel membawa dua sandwich murah dan meletakkan salah satunya di depan Arthur.
"Aku memutuskan untuk menyelamatkanmu dari kebiasaan lupa makan," katanya.
Arthur memandang sandwich tersebut.
"Kau mulai bertingkah seperti Clara."
Daniel mengangkat alis.
"Siapa Clara?"
Arthur menyadari kesalahannya.
"Teman sekelas kita. Dia juga pernah mengingatkanku agar tidak lupa makan."
Daniel tersenyum lebar.
"Oh."
Arthur langsung mengenali ekspresi itu.
"Jangan mulai."
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Kau sedang memikirkan sesuatu."
"Aku hanya sedang mengagumi kemampuanmu membuat penjelasan panjang tentang hal yang tidak kutanyakan."
Arthur menggeleng.
"Fokus pada bisnis kita."
"Baiklah, Tuan Direktur."
Daniel membuka laptopnya dan menunjukkan halaman promosi Lawson Market yang telah diperbarui.
Desainnya sederhana, tetapi cukup profesional untuk bisnis kecil. Foto-foto produk ditempatkan dalam susunan yang rapi. Informasi jam operasional dan alamat toko diperjelas. Daniel juga membuat bagian khusus untuk promosi mingguan yang dapat diubah tanpa harus membangun ulang halaman.
Arthur memeriksanya dengan saksama.
"Ini bagus. Tapi pastikan Peter menyetujui semua informasi sebelum kita memublikasikannya."
"Sudah. Dia mengonfirmasi alamat dan jam buka tadi pagi."
"Bagaimana dengan promosi?"
"Belum kita putuskan. Aku menunggu data transaksi tambahan."
Arthur mengangguk puas.
Mereka kemudian memeriksa catatan awal yang dikirimkan Lawson. Data itu menunjukkan bahwa transaksi pada sore hari memang lebih sedikit dibandingkan pagi dan siang. Namun, jumlah hari yang tersedia masih terlalu kecil untuk menarik kesimpulan kuat.
Arthur menunjuk salah satu kolom.
"Kita juga perlu memperhatikan apakah ada barang yang sering dicari pelanggan tetapi tidak tersedia."
Daniel menatap catatan tersebut.
"Karena kalau barang yang mereka butuhkan tidak ada, mereka mungkin langsung pergi ke supermarket."
"Tepat. Kita tidak boleh berasumsi bahwa semua pelanggan pergi karena harga lebih mahal."
Daniel mengetik beberapa catatan baru.
"Aku akan meminta Peter mencatat pertanyaan pelanggan tentang barang yang tidak tersedia. Kita bisa mengumpulkan informasi itu selama beberapa hari."
Arthur mengangguk.
"Bagus. Dan jangan meminta pegawainya melakukan terlalu banyak pekerjaan tambahan. Kalau pencatatan mengganggu operasional toko, kita perlu menyederhanakannya."
Daniel menutup laptop.
"Kadang-kadang aku merasa kau lebih khawatir terhadap pegawai pelanggan daripada pelanggan itu sendiri."
Arthur menatapnya.
"Pegawai yang kewalahan akan membuat sistem pencatatan gagal. Selain itu, mereka juga manusia yang punya pekerjaan utama."
Daniel terdiam sesaat, lalu mengangkat bahu.
"Baiklah. Aku mengerti."
Mereka menyelesaikan makan siang sambil membahas jadwal pekerjaan. Untuk sementara, mereka sepakat tidak mencari pelanggan baru sampai pekerjaan Lawson berjalan lebih teratur.
Mereka tidak ingin menerima terlalu banyak proyek, kemudian gagal memberikan hasil yang layak.
Arthur tahu bahwa pertumbuhan bisnis tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat seseorang memperoleh pelanggan. Kemampuan mempertahankan kualitas ketika jumlah pekerjaan meningkat jauh lebih penting.
Dan mereka belum berada pada tahap ketika bisa menangani semuanya sekaligus.
Pukul 13.20, Arthur kembali ke perpustakaan.
Ia membuka halaman perdagangan Aurelia Therapeutics sekali lagi.
Harga sahamnya masih bergerak naik turun setelah pengumuman positif kemarin. Beberapa berita keuangan menyoroti potensi perusahaan tersebut, tetapi sebagian analis mengingatkan bahwa hasil klinis hanyalah salah satu tahap dalam proses pengembangan obat.
Arthur membaca beberapa laporan, lalu memperbarui penilaiannya.
Tidak ada alasan baru yang membuatnya yakin bahwa harga saham pasti akan naik lebih tinggi dalam waktu dekat. Sebaliknya, risiko yang tersisa masih cukup besar untuk membuatnya mempertimbangkan pengurangan posisi.
Ia membuka akun investasinya.
Jari-jarinya berhenti di atas tombol transaksi.
Selama beberapa detik, Arthur membiarkan dirinya memikirkan apa yang akan ia lakukan jika masih berusia delapan puluh tahun.
Dalam kehidupan pertamanya, ia mungkin akan menunggu. Ia memiliki modal besar, jaringan analis, dan kemampuan untuk menyerap kerugian tanpa mengubah kehidupannya secara drastis.
Namun, sekarang ia tidak memiliki kemewahan itu.
Ia hanya punya modal kecil yang diperoleh dengan susah payah. Ia juga mempunyai peluang untuk mengembangkan bisnis bersama Daniel, yang mungkin memberinya pendapatan lebih stabil dalam jangka panjang.
Arthur mengingat satu pelajaran yang pernah ia berikan kepada para manajer investasinya dahulu.
Modal bukan hanya uang yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan. Modal juga merupakan pilihan yang masih tersedia setelah sebuah keputusan dibuat.
Jika ia mempertahankan seluruh posisi, ia mungkin memperoleh keuntungan lebih besar. Tetapi ia juga mempertahankan risiko kehilangan sebagian besar modalnya.
Jika ia menjual sebagian, ia akan mengurangi potensi keuntungan maksimal. Sebaliknya, ia memperoleh uang yang dapat digunakan untuk kebutuhan hidup dan peluang bisnis berikutnya.
Arthur akhirnya membuat keputusan.
Ia menjual sebagian besar kontrak opsi yang dimilikinya, sambil mempertahankan sebagian kecil untuk menghadapi kemungkinan kenaikan lanjutan.
Transaksi itu tidak menghasilkan harga sempurna. Harga bergerak selama proses penjualan, dan biaya transaksi mengurangi hasil akhirnya. Arthur juga tahu bahwa jika saham terus naik, ia akan memperoleh keuntungan lebih kecil daripada jika mempertahankan seluruh posisi.
Namun, ia tidak menyesali keputusan tersebut.
Setelah transaksi selesai, Arthur memeriksa konfirmasi penjualan dan saldo rekeningnya.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, keuntungan dari pengetahuannya tentang masa depan benar-benar berubah menjadi uang yang bisa digunakan.
Ia menatap angka di layar cukup lama.
Jumlahnya bukan kekayaan besar. Bahkan jika dibandingkan dengan penghasilannya pada usia delapan puluh tahun, uang itu hampir tidak berarti.
Namun, bagi Arthur yang kini berusia dua puluh tahun, uang tersebut memberikan sesuatu yang jauh lebih penting daripada kemewahan.
Pilihan.
Ia dapat membayar kebutuhan hidup tanpa terus-menerus khawatir tentang setiap dolar. Ia dapat menyisihkan modal untuk mengembangkan usaha bersama Daniel. Ia juga bisa menghadapi beberapa minggu ke depan dengan sedikit lebih banyak ruang untuk bernapas.
Arthur membuka buku catatan hitam dan mencatat harga jual, jumlah kontrak yang dilepas, biaya transaksi, serta keuntungan bersih setelah memperhitungkan modal awal.
Ia tidak membiarkan dirinya menganggap seluruh saldo rekening sebagai uang bebas pakai.
Sebagian akan disimpan sebagai cadangan hidup. Sebagian kecil dapat dialokasikan untuk kebutuhan bisnis. Sisanya akan tetap berada dalam bentuk kas sampai ia menemukan peluang berikutnya yang layak.
Ia juga mempertahankan sebagian kecil posisi Aurelia, tetapi jumlahnya kini cukup kecil sehingga jika nilainya jatuh tajam, kehidupannya tidak akan langsung terganggu.
Arthur menutup halaman perdagangan.
Ia telah membuat keputusan.
Sekarang, ia harus hidup dengan konsekuensinya.
Pukul 15.05, ponsel Arthur bergetar.
Pesan dari Daniel muncul.
Daniel: Aku baru melihat pergerakan Aurelia. Kau menjualnya?
Arthur mengerutkan kening.
Ia tidak menyangka Daniel akan memperhatikan saham tersebut sedetail itu.
Arthur: Sebagian besar posisiku sudah kujual.
Daniel: Kenapa? Bukankah hasilnya positif?
Arthur mengetik jawaban sambil mempertimbangkan bagaimana menjelaskannya tanpa memberikan kesan bahwa ia menganggap keputusannya pasti benar.
Arthur: Hasil klinisnya positif, tetapi masih ada risiko lain. Harga sudah naik, dan aku ingin mengamankan sebagian modal. Aku masih menyimpan sedikit posisi, tetapi tidak sebanyak sebelumnya.
Daniel membalas setelah beberapa detik.
Daniel: Jadi, kau mengambil keuntungan sebelum tahu apakah harga akan naik lebih jauh.
Arthur: Ya.
Daniel: Bagaimana kalau besok harganya naik dua kali lipat?
Arthur tersenyum kecil.
Arthur: Aku akan menerima bahwa aku tidak mendapatkan keuntungan maksimal.
Daniel: Kau benar-benar aneh.
Arthur: Terima kasih.
Daniel: Itu bukan pujian.
Arthur tertawa pelan.
Percakapan itu membuatnya menyadari bahwa keputusan yang baik tidak selalu terasa menyenangkan. Ada bagian dari dirinya yang masih ingin menunggu kenaikan berikutnya. Ada bagian yang bertanya apakah ia terlalu cepat menjual.
Namun, ia tidak membutuhkan keputusan yang sempurna.
Ia membutuhkan keputusan yang masuk akal bagi situasinya saat ini.
Dan untuk sekarang, mengamankan sebagian besar keuntungan adalah pilihan yang bisa ia pertanggungjawabkan.
Sore harinya, Arthur menerima surel dari Richard Coleman.
Subjek: Tanggapan atas Pembaruan Aurelia
Arthur membuka pesan tersebut.
Richard menulis bahwa ia telah membaca analisis terbaru Arthur. Ia menghargai cara Arthur membedakan keberhasilan klinis dari prospek komersial, serta kesediaannya mengakui risiko yang masih tersisa.
Namun, Richard juga mengajukan beberapa pertanyaan.
Bagaimana Arthur memperkirakan nilai perusahaan setelah pengumuman?
Apakah ia menilai kenaikan harga saham sudah terlalu jauh dibandingkan perubahan prospek bisnis?
Dan yang paling penting, apakah keputusan Arthur untuk mempertahankan atau menjual posisi didasarkan pada penilaian terhadap nilai investasi atau sekadar keinginan mengamankan keuntungan?
Arthur membaca pertanyaan terakhir dengan saksama.
Ia tahu Richard tidak sedang mencari jawaban yang menyenangkan. Pria itu ingin mengetahui apakah Arthur mampu menjelaskan keputusan investasinya secara rasional.
Arthur mulai menyusun balasan.
Ia menjelaskan bahwa hasil klinis positif memperbaiki prospek perusahaan, tetapi tidak menghapus risiko pendanaan, regulasi, dan komersialisasi. Ia juga menulis bahwa harga saham yang naik tidak otomatis berarti valuasinya masih menarik.
Mengenai keputusan menjual sebagian besar posisi, Arthur menjelaskan bahwa ia mempertimbangkan konsentrasi risiko, kebutuhan likuiditas pribadi, dan ketidakpastian mengenai reaksi pasar setelah pengumuman.
Ia tidak mengklaim telah menemukan harga tertinggi.
Ia juga tidak mengatakan bahwa menjual sebagian merupakan satu-satunya keputusan yang benar.
Ia hanya menjelaskan alasan yang mendasari tindakannya.
Setelah membaca ulang jawabannya, Arthur mengirimkan surel tersebut.
Balasan Richard tidak datang segera.
Arthur tidak menunggu.
Ia menyimpan dokumen analisisnya dan beralih mengerjakan tugas kuliah.
Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bagaimana rasanya memisahkan keberhasilan investasi dari kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan orang lain.
Jika Richard menyukai analisisnya, itu akan menjadi pengalaman berharga.
Jika Richard mengkritiknya, Arthur masih bisa belajar dari kritik tersebut.
Ia tidak perlu membuat setiap keputusan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya lebih pintar daripada orang lain.
Pukul 18.10, Arthur keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju halte bus.
Ia baru saja hendak memasukkan ponselnya ke dalam saku ketika melihat Clara berdiri di dekat pintu gedung kampus.
Gadis itu sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian rapi. Pria tersebut tampak sedikit lebih tua daripada mereka, mungkin berusia pertengahan dua puluhan. Ia mengenakan mantel gelap dan memegang sebuah map kulit tipis.
Arthur tidak bisa mendengar percakapan mereka dari kejauhan.
Namun, ia memperhatikan bahwa Clara tidak terlihat santai.
Senyumnya tipis, bahunya sedikit tegang, dan tangannya menggenggam tali tas dengan erat.
Pria itu mengatakan sesuatu sambil menunjuk ke arah tempat parkir. Clara menggeleng pelan.
Arthur berhenti beberapa langkah dari mereka.
Ia tidak mengenal pria tersebut dan tidak memiliki alasan untuk ikut campur dalam percakapan pribadi orang lain. Namun, ketika pria itu kembali berbicara, Clara menundukkan kepala dan menjawab dengan suara yang terdengar tegas meskipun pelan.
"Aku sudah bilang, aku akan memikirkannya."
Pria itu menghela napas.
"Ini bukan sesuatu yang bisa kau tunda terus-menerus, Clara."
Arthur menangkap namanya.
Clara mengangkat wajah.
"Aku tahu. Tapi aku ingin menentukan jawabanku sendiri."
Ada jeda panjang di antara mereka.
Pria itu akhirnya memasukkan mapnya ke dalam tas.
"Baiklah. Aku akan menyampaikan bahwa kau belum memberikan keputusan."
Ia berbalik dan berjalan menuju tempat parkir tanpa menyadari keberadaan Arthur.
Clara tetap berdiri di tempatnya selama beberapa detik. Ia baru menyadari Arthur ketika pemuda itu mendekat.
"Clara?"
Gadis itu tersentak kecil, lalu segera menenangkan ekspresinya.
"Arthur. Kau masih di kampus?"
"Baru saja selesai belajar."
Arthur berhenti pada jarak yang cukup sopan.
"Kalau kau tidak keberatan aku bertanya, apa semuanya baik-baik saja?"
Clara memandang ke arah tempat pria tadi menghilang.
"Ya. Hanya urusan keluarga."
Arthur mengangguk.
Ia tidak bertanya siapa pria itu atau apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
"Baiklah. Kalau kau ingin membicarakannya, aku bersedia mendengarkan."
Clara menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Terima kasih."
Ia kemudian tersenyum kecil, meskipun Arthur bisa melihat bahwa senyum itu tidak sepenuhnya menghilangkan ketegangan di wajahnya.
"Kau akan pulang sekarang?"
"Ya."
"Aku juga. Kalau arah kita sama, kita bisa berjalan bersama sampai halte."
Arthur mengangguk.
"Tentu."
Mereka mulai berjalan menyusuri trotoar kampus.
Selama beberapa menit, percakapan mereka hanya berkisar pada tugas kuliah dan rencana pekerjaan Samuel. Clara tampaknya tidak ingin membicarakan kejadian tadi, dan Arthur tidak berniat memaksanya.
Namun, sebelum mereka mencapai halte, Clara akhirnya berbicara.
"Arthur, pernahkah kau merasa bahwa orang lain menganggap mereka lebih tahu apa yang terbaik untuk hidupmu daripada dirimu sendiri?"
Langkah Arthur melambat sedikit.
Ia teringat percakapan mereka sebelumnya, ketika Clara mengatakan bahwa banyak hal dalam hidupnya terasa ditentukan oleh orang lain.
"Ya," jawabnya. "Aku rasa banyak orang pernah merasakannya."
"Bagaimana kau menghadapinya?"
Arthur memikirkan jawabannya.
"Aku mencoba membedakan antara nasihat yang memang berguna dan keputusan yang seharusnya tetap menjadi milikku. Orang lain boleh memiliki pendapat, tetapi mereka tidak harus menjalani konsekuensi dari setiap pilihan yang mereka paksa kepadaku."
Clara terdiam.
Arthur melanjutkan, "Tapi aku juga tahu bahwa tidak semua situasi mudah. Kadang-kadang, menolak sesuatu punya konsekuensi yang harus dipertimbangkan."
Clara menatap jalan di hadapannya.
"Benar. Itu yang membuatnya rumit."
Arthur tidak mengatakan bahwa ia memahami sepenuhnya keadaan Clara. Ia tidak tahu apa yang dihadapi gadis itu, dan ia tidak ingin berpura-pura mengetahui jawaban untuk masalah yang belum diceritakan kepadanya.
"Apa pun keputusanmu," katanya akhirnya, "aku harap itu benar-benar keputusan yang kau pilih sendiri."
Clara menoleh kepadanya.
Untuk beberapa saat, ia tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian, ia tersenyum. Kali ini, senyumnya tampak lebih tulus.
"Terima kasih, Arthur."
Mereka tiba di halte beberapa menit kemudian. Bus yang ditunggu Arthur datang lebih dahulu, tetapi ia tidak langsung naik.
"Kalau kau butuh seseorang untuk mendengarkan, kau bisa menghubungiku," katanya.
Clara mengangguk.
"Aku akan mengingatnya."
Arthur naik ke bus setelah memastikan Clara tidak membutuhkan bantuan lain. Ketika kendaraan itu mulai bergerak, ia melihat Clara masih berdiri di halte, memandangi jalanan dengan ekspresi yang jauh lebih serius daripada biasanya.
Arthur duduk dekat jendela.
Ia ingin melindungi Clara dari kesulitan yang mungkin menunggunya di masa depan. Ia bahkan membawa pengetahuan tentang nasib tragis yang pernah menimpanya dalam kehidupan pertama.
Namun, ia tidak bisa menggunakan ingatan itu sebagai alasan untuk mengambil alih setiap keputusan Clara.
Jika ia ingin benar-benar membantu gadis itu, ia harus memberinya ruang untuk berbicara dan memilih.
Bukan membuatnya merasa bahwa seseorang yang baru dikenalnya kembali sedang mengatur kehidupannya.
Malam itu, Arthur duduk di meja apartemennya dan memeriksa saldo rekening sekali lagi.
Keuntungan dari penjualan sebagian besar opsi Aurelia telah masuk ke dalam perhitungan investasinya. Setelah memperhitungkan modal awal dan biaya transaksi, ia kini memiliki cadangan uang yang jauh lebih baik daripada beberapa hari sebelumnya.
Ia membagi dana tersebut ke dalam tiga kategori.
Pertama, uang untuk kebutuhan hidup dan tagihan yang tidak bisa ditunda.
Kedua, cadangan darurat yang tidak boleh digunakan untuk investasi spekulatif.
Ketiga, modal yang mungkin dialokasikan untuk kebutuhan usaha bersama Daniel setelah mereka memahami biaya dan kebutuhan proyek dengan lebih baik.
Arthur tidak langsung memindahkan semua uang itu ke berbagai investasi baru. Ia juga tidak membeli barang mahal untuk merayakan keberhasilannya.
Ia tahu bahwa keuntungan pertama sering kali membuat seseorang merasa telah menemukan pola yang bisa diulang tanpa batas.
Padahal, satu keberhasilan tidak membuktikan bahwa setiap keputusan berikutnya akan sama baiknya.
Arthur membuka buku catatan hitamnya dan menuliskan ringkasan hari itu.
Ia berhasil mengamankan sebagian besar keuntungan dari Aurelia. Ia mempertahankan sebagian kecil posisi, tetapi tidak lagi menggantungkan kehidupannya pada pergerakan saham tersebut. Ia juga mengirimkan pembaruan analisis kepada Richard dan mulai menata keuangan pribadi dengan lebih disiplin.
Kemudian, ia menulis satu kalimat di bagian bawah halaman.
Keuntungan memberiku pilihan. Disiplin menentukan apakah pilihan itu akan bertahan.
Arthur menutup buku tersebut.
Ia memandang ke luar jendela, ke arah lampu-lampu Queens yang menyala di antara bangunan apartemen.
Dahulu, ia percaya bahwa uang dapat menyelesaikan hampir semua masalah. Ia menghabiskan enam puluh tahun membangun kerajaan bisnis, tetapi gagal menyadari bahwa beberapa hal justru semakin sulit ketika ia terlalu sibuk mengejar kekayaan.
Kini, ia mulai membangun kembali kehidupannya dengan cara yang berbeda.
Ia akan tetap mengejar peluang besar.
Ia akan tetap menggunakan pengetahuannya tentang masa depan.
Namun, ia tidak akan membiarkan keserakahan menentukan setiap langkahnya.
Sebab pada akhirnya, kekayaan bukan hanya tentang berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan seseorang.
Kekayaan juga tentang seberapa banyak pilihan yang masih dimilikinya ketika dunia tidak berjalan sesuai rencana.
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arthur merasa bahwa ia mulai memiliki pilihan itu.
Meski begitu, ada satu hal yang masih mengganggu pikirannya.
Wajah Clara ketika berbicara dengan pria berpakaian rapi tadi sore.
Arthur belum mengetahui siapa pria itu, apa hubungan mereka, atau keputusan apa yang sedang dituntut darinya.
Ia tidak akan memaksakan diri masuk ke dalam urusan yang belum ingin Clara ceritakan.
Namun, ia juga tidak akan melupakan percakapan mereka.
Karena jika ada satu hal yang ingin ia lakukan dengan benar dalam kehidupan keduanya, itu adalah memastikan bahwa orang-orang yang berarti baginya tidak harus menghadapi seluruh kesulitan mereka sendirian.
Arthur mematikan lampu meja.
Besok, ia akan kembali ke kampus, mengerjakan proyek bersama Daniel, dan melanjutkan analisis investasinya.
Hidupnya masih jauh dari sempurna.
Tetapi kali ini, ia tidak akan membiarkan kesibukan membangun kekayaan membuatnya lupa memperhatikan orang-orang yang mungkin membutuhkan kehadirannya.