Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Aroma roti panggang dan mentega masuk ke kamar lebih dulu sebelum ketukan di pintu.
Elang membuka mata di ranjang yang terlalu besar untuk satu orang. Matahari sudah naik di balik tirai tebal, dan garis cahayanya jatuh di lantai kayu seperti penggaris emas.
Seorang pelayan perempuan masuk membawa nampan perak, menunduk dua kali, dan menaruhnya di meja kecil dekat jendela. Telur setengah matang, roti gandum, buah potong, dan kopi hitam yang uapnya masih naik. Gelas jusnya berembun.
"Silakan, Tuan."
Elang bangun tanpa menjawab. Ia duduk di kursi, memotong telur dengan sisi garpu, dan makan dengan tenang, satu suap demi satu suap. Pelayan itu mundur ke dekat pintu dan berdiri diam seperti perabot.
Selama itu ponselnya menyala di samping piring.
Video Pahlawan Mall Wijaya Ditonton Dua Belas Juta Kali.
Ia mematikan layar.
Tiba-tiba, di antara dentingan sendok dan bunyi AC, pikirannya menarik mundur ke ruangan lain. Bau antiseptik. Kulit pucat yang berubah warna di bawah cahaya biru. Gadis yang bangun dan berkata tubuhnya ringan seperti baru lahir.
'Masih kuingat jelas.' Ia mengaduk kopinya. 'Termasuk cara dia menatap, tepat sebelum bilang iya.'
Kosong. Beberapa detik saja, tetapi cukup lama untuk terbaca.
Ia mengangkat cangkir, meniup uapnya, dan menyingkirkan gambar itu seperti orang menyingkirkan lalat.
Sebuah panel biru terbuka di atas piringnya, tanpa ia sentuh sarung tangannya sama sekali.
[Kuota permintaan: 5/5.]
[Misi baru: Menjadi topik pembicaraan utama di seluruh acara televisi.]
[Hadiah: Satu Hak Permintaan Benda.]
Elang meletakkan cangkirnya.
Pelayan di dekat pintu mengangkat kepala sedikit karena bunyi tiba-tiba itu, tetapi ia tidak melihat apa pun selain pria muda yang menatap udara kosong dan tersenyum.
"Topik utama di semua acara televisi." Ia menyebutnya perlahan. "Kalau video semalam saja sudah dua belas juta, mungkin tidak butuh banyak tenaga."
Tidak ada tanda sistem menanggapi. Ia tidak mengharapkan jawaban.
Ia mengganti kemeja dengan yang baru, yang sudah tergantung rapi di lemari bersama puluhan kemeja lain yang tidak pernah ia pesan. Jam tangan perak di laci meja ia ambil dan pasang. Di cermin, ia merapikan kerah dan menarik sarung tangan hitam sampai pas di pergelangan.
"Pak Elang, mobil sudah siap," kata pelayan itu dari ambang pintu. "Sopir menunggu di depan."
"Antar aku ke pusat kota." Elang melangkah melewatinya. "Turunkan aku di tepi jalan."
...-----...
Mobil itu berhenti di pinggir jalan utama, di bawah deretan pohon trembesi yang ranting-rantingnya menggapai trotoar. Sopir hendak turun membukakan pintu, tetapi Elang sudah membukanya sendiri.
"Pulanglah. Aku jalan kaki."
Sopir itu mengangguk, ragu, lalu menutup kaca jendela.
Elang melangkah ke trotoar dan membiarkan kota menyerbunya. Klakson motor, suara pedagang kaki lima, bau gorengan yang terbawa angin, dan ratusan orang yang berjalan dengan wajah tertunduk ke ponsel masing-masing.
Ia berjalan tanpa tujuan, dua tangan di saku. Seorang remaja menabraknya, menunduk, dan berlalu tanpa meminta maaf. Seorang ibu mendorong kereta bayi yang rodanya berdecit. Dari etalase toko elektronik, deretan televisi menayangkan wajah-wajah pembawa berita, tetapi tidak ada satu pun yang menyebut namanya.
'Belum cukup.'
Ia berhenti di perempatan, menunggu lampu menyala hijau. Di seberang jalan, sebuah gedung bertingkat dengan papan nama biru bertulisan Bank Mandala Sentosa berdiri di sudut.
Lampu menyala hijau. Elang baru melangkah dua kali ketika ia mendengar pecahan yang kering dan tajam dari arah gedung itu.
Satu letusan. Lalu satu lagi.
Orang-orang di trotoar menoleh serempak. Seorang perempuan menjerit dan menarik anaknya mundur. Dari pintu kaca bank, tiga pria bertopeng hitam menyeret dua karyawan keluar sebagai tameng, laras panjang terangkat ke langit, dan satu pria lain berteriak di belakang mereka sambil menenteng tas hitam besar.
Tidak ada yang berani bergerak. Semua orang membeku di tempat mereka berdiri.
Elang berhenti di tengah zebra cross. Perlahan, ia tersenyum, sebuah senyum tipis yang naik dari satu sudut bibir saja.
"Kesempatan," bisiknya, "datang lebih cepat dari yang kukira."
Ia berlari.
Sepatunya menghantam aspal tiga kali, empat kali, dan jarak lima puluh meter hilang sebelum teriakan pertama selesai. Satu pria bertopeng menoleh, matanya melebar, dan laras panjangnya baru separuh terangkat ketika kaki Elang menghantam daun pintu kaca.
Bunyi pecahnya bukan seperti kaca biasa. Seperti guntur yang jatuh dari dalam.
Pintu itu terlepas dari engselnya, terlempar masuk bersama serpihan, dan menghantam seorang perampok sampai ia terseret ke lantai marmer. Sebelum ia sempat berdiri, sepatu Elang sudah menginjak dadanya, satu kaki, tanpa tekanan penuh.
Ia menunduk, menatap mata di balik topeng itu.