Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kedatangan Pagi dan Tamu yang Tak Diundang
Matahari baru saja merayap naik di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan di atas gedung-gedung kota yang masih sepi. Di gerbang utama kantor pusat perusahaan Vanesha, Dika berdiri tegak — seragam rapi, dada dibusungkan, dan senyum lebar di wajah walau pipinya masih ada plester putih yang kelihatan jelas banget kayak lencana keberanian.
"Semangat, Dika! Hari ini pasti hari yang bagus!" bisiknya sendiri sambil merapikan kerah baju. "Luka di pipi ini bukan tanda kalah — ini tanda menang! Bukti kalau sudah berjuang buat orang yang dijaga!"
Pintu kaca kantor mulai terbuka satu per satu saat jam masuk kerja tiba. Karyawan lewat sambil sesekali melirik ke arah Dika, ada yang senyum, ada yang berbisik-bisik melihat plester di pipinya. Dika cuma senyum lebar dan memberi hormat asal-asalan ke siapa pun yang lewat — seakan dia pahlawan yang baru pulang dari medan perang.
Pintu lift terbuka di lobi, dan Vanesha melangkah keluar. Pakaiannya rapi banget, cantik dan berwibawa seperti biasa — tapi matanya langsung tertuju ke arah Dika sebelum melihat apa pun di lobi. Langkah kakinya melambat sedikit saat berdiri tepat di depannya.
"Pagi, Nona Bos!" jawab Dika semangat, sambil memberi hormat tegak. "Lapor — aman, sehat, dan siap jaga seharian! Plesternya juga nggak jatuh!"
Vanesha menatap pipi Dika lekat-lekat, alisnya sedikit berkerut. "Sudah dicuci mukanya?" tanyanya pelan tapi tegas.
"Sudah dicuci bersih pakai sabun! Cuma dihindari bagian yang kena plester, nggak berani kena air sedikit pun! Perintah Bos harus ditaati!" jawab Dika mantap.
"Kurang tidur?" tanya Vanesha lagi, matanya menyapu wajah Dika dari dekat.
"Tidur nyenyak kayak bayi! Mimpi indah pula — mimpi antar dokumen sampai tujuan tanpa ada yang ngejar! Nanti pasti jadi kenyataan!" jawab Dika sambil senyum kocak.
Vanesha mendengus pelan, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. Dia mengulurkan tangan — menyentuh ujung plester di pipi Dika dengan jari lembutnya. "Jangan terlalu banyak bergerak berat hari ini. Biar lukanya kering," ucapnya pelan.
"Siap! Duduk tenang, jaga pintu, senyum — itu aja! Nggak angkat beban berat, nggak lari-lari, kecuali kalau Nona Bos teriak minta tolong — langsung lari secepat kilat!" jawab Dika tegas.
Vanesha tersenyum lembut, lalu melangkah melewati Dika menuju lift. "Hati-hati hari ini," ucapnya sebelum pintu lift tertutup.
Dika berdiri mematung sebentar, senyumnya melebar sampai ke telinga. "Pagi ini udah indah banget — padahal baru jam delapan!" gumamnya sendiri sambil kembali berdiri tegak di tempat jaga.
Belum lama Vanesha naik ke atas, sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan pintu utama. Pintu terbuka, dan seorang pria melangkah keluar — pakaian rapi, jam tangan mahal di pergelangan, wajahnya tampan tapi tatapannya tajam dan sombong. Dia menatap gedung kantor itu dengan senyum bangga, seakan tempat itu miliknya sendiri.
Dika menyambutnya di depan pintu sebelum masuk. "Selamat pagi, boleh saya bantu?" tanyanya sopan.
Pria itu menatap Dika dari atas ke bawah — melirik seragam, lalu ke plester di pipi Dika — seakan Dika itu debu di sepatunya. "Saya cari Vanesha. Bilang Raka datang," jawabnya dingin, tanpa menoleh lagi dan langsung mau melangkah masuk.
Dika berdiri menghadang di depan pintu. "Maaf, boleh saya catat dulu nama dan keperluannya? Atau tunjukkan kartu tamu?" tanyanya tetap sopan tapi tegas.
Raka berhenti, menatap Dika dengan tatapan nggak percaya. "Kamu? Kamu menghadang saya? Kamu tahu siapa saya?" tanyanya, suaranya naik sedikit.
"Saya belum tahu siapa Bapak, dan di sini semua tamu harus lapor dulu — itu peraturan kantor," jawab Dika tenang, dada dibusungkan sedikit.
Raka tertawa sinis. "Peraturan? Saya ini keluarga dekat. Vanesha sepupu saya. Dan calon suaminya juga. Kamu penjaga rendahan, jangan sok berkuasa!" teriaknya, wajahnya merah menahan marah.
Dika tetap nggak bergeming. "Mau sepupu, mau saudara jauh, mau siapa pun — peraturan tetap peraturan. Kalau Bapak mau masuk, saya kabari dulu. Kalau Nona Bos izinkan, baru boleh masuk. Kalau nggak — mohon maaf, tunggu di sini," jawab Dika tegas.
"Beraninya kamu! Minggir!" teriak Raka, lalu mendorong bahu Dika keras sampai Dika mundur selangkah.
Dika nggak marah, cuma menatapnya tajam. "Bapak, tolong jangan kasar! Kalau masuk paksa, saya terpaksa panggil satpam lain dan laporkan ke Nona Bos!" sahutnya lantang.
Raka hendak mendorong Dika lagi, tapi tiba-tiba suara Vanesha terdengar dari arah lorong — dia sudah turun dan berdiri di belakang mereka, wajahnya dingin dan tegas.
"Cukup!" ucap Vanesha keras, suaranya bergema di lobi.
Raka langsung berbalik, wajahnya berubah jadi senyum manis seakan tadi nggak ada apa-apa. "Nes! Sayang sekali kantormu ini penjaganya galak banget, nggak kenal orang sendiri!" ucapnya sambil melangkah mendekat mau memeluk Vanesha.
Vanesha mundur selangkah, menatap Raka dingin. "Jangan sentuh saya di kantor," ucapnya dingin, lalu menoleh ke Dika. "Kamu baik, Dika. Sudah lakukan hal benar," ucapnya lembut.
Dika mengangguk mantap. "Cuma menjalankan tugas, Nona Bos," jawabnya.
Vanesha kembali menatap Raka. "Apa maksudmu datang ke sini tanpa kabari duluan?" tanyanya tegas.
Raka tersenyum canggung. "Kan mau kaget! Bawa kabar baik — pertunangan kita sudah dibicarakan orang tua, bulan depan kita umumkan!" jawabnya semangat.
Wajah Vanesha langsung pucat. "Siapa yang setuju pertunangan itu? Saya tidak setuju," ucapnya pelan tapi tegas.
Raka melongo. "Tapi... keluarga kita sudah sepakat!" sahutnya kaget.
"Keputusan di tangan saya. Bukan di tangan keluarga. Dan bukan di tanganmu juga," jawab Vanesha tegas, lalu menunjuk pintu keluar. "Sekarang pulang. Saya sedang kerja. Urusan pribadi bicara di luar jam kerja."
Raka menatap Vanesha nggak percaya, lalu melirik Dika yang berdiri di samping dengan wajah penuh amarah — seakan Dika penyebab semua ini. "Kamu akan menyesal, Vanesha. Dan kamu..." matanya menatap tajam ke Dika "...jangan kira kamu bisa apa-apa di sini!" teriaknya, lalu berbalik dan melangkah keluar dengan kasar sampai pintu kaca bergetar hebat.
Suasana di lobi kembali hening. Vanesha menghela napas panjang, lalu menatap Dika dengan senyum lelah. "Maaf kamu harus lihat itu," ucapnya pelan.
"Nggak apa-apa. Yang penting Nona Bos aman dan nggak dipaksa," jawab Dika tulus. "Dan kalau dia datang lagi — saya tetap hadang, janji!"
Vanesha tersenyum lembut, tangannya menyentuh lengan Dika pelan. "Saya tahu. Terima kasih, Dika. Kamu memang orang yang tepat," ucapnya lembut.
Jantung Dika berdebar kencang lagi — kali ini bukan karena bahaya, tapi karena percaya yang begitu besar. Dia berdiri tegak kembali di depan pintu, sementara Vanesha naik ke lantai atas — dan di antara mereka, satu hal makin jelas: perjuangan ini belum selesai, dan Dika harus siap menjaga Vanesha bukan cuma dari orang asing, tapi juga dari orang-orang terdekatnya sendiri.