Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi Pahit, Telepon Jam Dua Pagi, dan Papan Peringkat Berdarah
Satu minggu menjelang Ujian Tengah Semester di SMA Mingde rasanya seperti simulasi bertahan hidup di medan perang.
Suasana sekolah mendadak suram. Lapangan basket kosong melompong. Perpustakaan penuh sesak sampai ke selasar, dan kantin lebih banyak dipenuhi murid-murid bermata panda yang menenggak kopi hitam kalengan daripada makan siang. Tekanan ujian untuk masuk ke kelas intensif GaoKao benar-benar menyiksa mental.
Tapi dari semua murid yang terlihat menderita, transformasi Lu Feng adalah yang paling ekstrem dan bikin seisi Kelas 11-3 merinding.
Murid pindahan yang biasanya selalu tidur di jam pelajaran pertama itu kini duduk tegak dengan mata merah. Rambutnya berantakan karena sering diacak-acak frustrasi, dan di atas mejanya menumpuk buku setinggi gunung. Lu Feng sedang berperang melawan logaritma, mekanika kuantum, dan sejarah dinasti yang terasa seperti bahasa alien di otaknya.
Semua itu demi satu hal: menendang ego Wang Yibo dan membuktikan dirinya pantas berdiri di sebelah Lin Xiao.
"Gila, Feng. Lo kalau begadang terus-terusan gini bisa mati muda sebelum jadian, anjir," gumam Chen Hao ngeri melihat sahabatnya itu baru saja menenggak kaleng kopi ketiganya hari ini.
Lu Feng mendecak pelan, matanya masih fokus pada buku catatan bersampul biru muda di depannya. "Diam lo, Hao. Jangan ganggu, gue lagi nyari letak kesalahan rumus turunan ini."
Chen Hao melirik buku catatan itu dan langsung terdiam. Itu bukan buku Lu Feng. Itu adalah buku catatan khusus yang dibuat oleh Lin Xiao, ditulis tangan dengan sangat rapi, menggunakan tinta warna-warni untuk membedakan rumus penting, dan... ada *doodle* (coretan) gambar kelinci kecil yang sedang menyemangati di setiap sudut halaman. Sang Ratu Es ternyata punya sisi seimut itu kalau menyangkut cowok yang dia suka.
Di barisan depan, Lin Xiao sesekali mencuri pandang ke belakang. Melihat Lu Feng yang biasanya urakan kini belajar mati-matian, entah kenapa membuat dada cewek itu terasa sesak namun hangat.
Saat bel istirahat berbunyi, Wang Yibo tiba-tiba muncul lagi di ambang pintu. Cowok berkacamata itu membawa sebuah buku tebal terbitan universitas ternama. Dia langsung menghampiri Lin Xiao dengan senyum lembutnya.
"Xiao, aku membawakan buku referensi kumpulan soal tersulit tahun lalu. Kita bisa membahasnya bersama di perpustakaan siang ini," ajak Yibo, sengaja mengeraskan suaranya agar Lu Feng yang ada di belakang mendengarnya.
Lin Xiao menatap buku itu sejenak, lalu menggeleng pelan. Wajahnya datar dan profesional. "Terima kasih, Yibo. Tapi aku tidak bisa. Aku harus menyusun ringkasan materi Fisika bab optik."
"Untuk ujianmu sendiri?" tanya Yibo, meski dia sudah tahu jawabannya.
"Untuk Lu Feng," jawab Lin Xiao lugas, tanpa keraguan sedikit pun. "Pemahaman dasarnya di bab itu masih kurang. Aku sudah berjanji akan memastikannya masuk 50 besar."
Senyum di wajah Yibo seketika menegang. Matanya berkilat menahan amarah yang mulai merusak citra sempurnanya. "Xiao, kamu membuang-buang waktumu yang berharga demi seseorang yang tidak punya masa depan akademis. Jangan sampai nilaimu sendiri yang turun karena sibuk mengurusi murid berandalan."
"Materi dasar justru memperkuat fondasiku, Yibo," potong Lin Xiao dingin, suaranya naik setengah oktaf. "Dan tolong, berhenti memanggilnya berandalan. Permisi."
Lin Xiao bangkit dari kursinya, membawa buku catatannya, dan berjalan ke belakang menuju meja Lu Feng, meninggalkan Yibo yang berdiri kaku dengan tangan mengepal hebat.
Lu Feng yang sedari tadi mendengarkan percakapan itu menyeringai penuh kemenangan. Saat Lin Xiao menarik kursi Chen Hao untuk duduk di sebelahnya, cowok itu menopang dagu, menatap wajah judes Lin Xiao yang masih kesal.
"Marah-marah terus, nanti cepet tua lho, Ketua Kelas," goda Lu Feng, menggeser kaleng kopinya agar tidak menyenggol siku cewek itu.
Lin Xiao menatapnya tajam, menjitak pelan dahi Lu Feng dengan pulpennya. "Ini semua gara-gara kamu! Kalau nilai ujianmu sampai di bawah 50 besar, aku akan benar-benar membunuhmu, Lu Feng!"
"Gue rela mati di tangan lo," kekeh Lu Feng, suaranya rendah dan serak, membuat Lin Xiao lagi-lagi salah tingkah dan buru-buru membuka buku Fisika untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
***
H-1 sebelum Ujian Tengah Semester.
Pukul 02.15 dini hari. Udara Jiangcheng di luar jendela terasa sangat membekukan.
Di kamarnya yang sedikit berantakan, Lu Feng duduk bersila di atas karpet, bersandar di tepi tempat tidur. Lampu belajarnya menyala terang, menerangi tumpukan kertas buram yang penuh dengan coretan rumus probabilitas Matematika.
Cowok itu mengacak rambutnya frustrasi. Otaknya sudah mencapai batas. Sejak jam sebelas malam tadi, dia berputar-putar di satu soal yang sama namun jawabannya selalu meleset dari kunci jawaban. Mata sayunya kini benar-benar merah karena kurang tidur selama seminggu penuh.
Lu Feng meraih ponselnya di atas kasur. Dia membuka aplikasi WeChat, menatap profil Lin Xiao yang memasang foto pemandangan langit senja. Status cewek itu *online*.
Tanpa berpikir panjang, jari Lu Feng menekan tombol panggilan suara.
Hanya butuh tiga detik sebelum panggilan itu diangkat.
*"Halo?"*
Suara Lin Xiao terdengar sangat lembut, sedikit serak karena mengantuk, dan diiringi suara gemerisik selimut. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari nada tegasnya di sekolah. Suara itu menghantam telinga Lu Feng bagaikan mantra penenang.
"Lo belum tidur?" suara Lu Feng tak kalah serak dan berat, bergema rendah di keheningan malam.
*"Sedang meninjau ulang catatan Sejarah. Kamu sendiri kenapa belum tidur? Besok ujian pertama dimulai jam delapan pagi,"* omel Lin Xiao, namun nada bicaranya memancarkan kekhawatiran yang sangat jelas.
"Gue mentok di soal Matematika nomor 14 dari kertas *try out* yang lo kasih kemarin," Lu Feng menyandarkan kepalanya ke tepi kasur, memejamkan mata menikmati suara cewek itu. "Otak gue udah mau meledak, Xiao. Gue butuh pencerahan dari guru les gue."
Terdengar suara helaan napas pelan dari seberang telepon, disusul suara kertas yang dibalik.
*"Nomor 14? Itu tentang probabilitas kombinasi. Kamu pasti lupa mengurangkan syarat mutlaknya di langkah ketiga. Coba bacakan persamaanmu."*
Selama lima belas menit ke depan, mereka berdiskusi tentang rumus Matematika. Namun anehnya, obrolan yang seharusnya membosankan itu terasa sangat intim. Kesunyian dini hari, suara napas yang teratur melalui *speaker* ponsel, dan sesekali suara tawa pelan Lu Feng saat Lin Xiao mengomelinya karena salah menghitung perkalian dasar.
"Gue dapet. Jawabannya 45, kan?" ucap Lu Feng akhirnya, menuliskan angka terakhir dengan perasaan lega.
*"Benar,"* jawab Lin Xiao pelan. *"Sekarang pergilah tidur. Otakmu butuh istirahat untuk memproses ingatan jangka panjang."*
"Xiao..." panggil Lu Feng, suaranya melembut, tidak ada lagi nada bercanda.
*"Hm?"*
"Makasih," bisik Lu Feng tulus. "Makasih udah percaya kalau gue bisa. Gue bakal lakuin yang terbaik besok. Buat gue... dan buat lo."
Di seberang sana, Lin Xiao yang sedang meringkuk di balik selimut tebalnya merasakan wajahnya memanas hebat. Jantungnya berdebar kencang. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang mengembang begitu saja di kegelapan kamarnya.
"Tidurlah, Lu Feng. Jangan sampai telat besok," balas Lin Xiao pelan, sangat pelan hingga nyaris seperti bisikan.
Lu Feng tersenyum. Dia membaringkan tubuhnya di atas karpet, menaruh ponselnya di dekat telinga tanpa mematikan panggilan. "Jangan dimatiin dulu. Biarin gue denger suara napas lo sampai gue ketiduran."
Lin Xiao tidak menjawab, namun dia juga tidak menekan tombol merah. Cewek itu hanya diam, mendengarkan.
Tak lama, suara napas Lu Feng di seberang sana berubah menjadi teratur dan berat. Cowok keras kepala itu akhirnya tumbang oleh kelelahan. Lin Xiao tersenyum tipis, merapatkan ponsel ke telinganya.
"Mimpi indah, berandal," bisik Lin Xiao sangat pelan, sebelum akhirnya ia sendiri ikut terlelap menyusul Lu Feng ke alam mimpi.
***
Tiga hari ujian berlalu bagaikan neraka yang diselingi siksaan batin.
Lu Feng mengerjakan setiap lembar soal dengan keringat dingin. Setiap kali dia ingin menyerah melihat deretan angka rumit, bayangan wajah Lin Xiao yang mengomelinya atau senyum kecil cewek itu saat dia berhasil memecahkan soal, kembali muncul di otaknya, memaksanya untuk terus memegang pulpennya sampai detik terakhir.
Dan hari ini, adalah Hari Penghakiman.
Jumat pagi, kerumunan murid SMA Mingde sudah berdesakan di depan mading utama sekolah di lobi lantai satu. Sebuah kertas merah raksasa ditempel di sana, memuat peringkat paralel seluruh murid kelas 11 dari peringkat 1 hingga 500. Hanya 50 nama teratas yang dicetak dengan tinta emas sebagai tanda kehormatan kandidat kelas intensif.
Lu Feng berjalan dengan tangan di saku, wajahnya pucat karena kurang tidur, tapi matanya memancarkan ketenangan. Di sebelahnya, Chen Hao meremas-remas ujung bajunya sendiri, terlihat seribu kali lebih panik daripada yang ikut ujian.
"Minggir! Minggir! Orang ganteng mau lewat!" Chen Hao membuka jalan dengan brutal, menerobos kerumunan murid yang berjejal.
Di depan mading, Wang Yibo berdiri dengan kedua tangan dilipat di dada. Senyum arogannya terpampang jelas. Tentu saja, di urutan nomor satu, tertulis namanya dengan nilai nyaris sempurna. Tepat di bawahnya, di peringkat dua, tertera nama Lin Xiao.
Yibo menoleh saat melihat Lu Feng mendekat. Tatapan merendahkan itu kembali muncul.
"Aku sudah melihat daftarnya, Lu Feng," ucap Yibo tenang, suaranya cukup keras untuk didengar murid-murid di sekitarnya. "Sepertinya kamu harus bersiap mengepak barang-barangmu dari loker tim basket, dan menepati janjimu untuk menjauhi Lin Xiao."
Lu Feng tidak merespons. Dia berdiri di depan papan merah itu, matanya bergerak menyusuri deretan nama dengan tinta emas.
Lin Xiao yang baru saja tiba dari ruang guru berlari kecil menghampiri kerumunan itu. Napasnya terengah-engah, matanya panik mencari sosok cowok pindahan tersebut. Saat dia melihat Lu Feng berdiri diam di depan mading, jantung Lin Xiao serasa jatuh ke perut.
Chen Hao menelan ludah kasar, matanya bergerak dari angka 1 ke bawah.
Peringkat 40...
Peringkat 45...
Peringkat 48...
Peringkat 49...
Chen Hao menahan napas. Dia melihat nama di peringkat 50.
Mata Chen Hao membelalak lebar. Dia mengucek matanya dua kali, memastikan dia tidak sedang berhalusinasi.
"B-bos... Feng... Muka lo... eh, nama lo!" Chen Hao berteriak histeris, menunjuk papan mading itu dengan jari bergetar. "NAMA LO ADA DI SITU ANJIR!!!"
Seisi lobi mendadak hening. Wang Yibo mengernyitkan dahi, langsung berbalik menghadap papan. Matanya menyapu deretan angka terbawah di zona tinta emas.
**Peringkat 50: Lu Feng (Kelas 11-3) - Total Nilai: 845.**
**Peringkat 51: Zhao Wei (Kelas 11-1) - Total Nilai: 844.**
Lu Feng menang dengan selisih HANYA SATU POIN dari batas eliminasi. Satu poin yang menyelamatkan hidupnya, masa depannya, dan cintanya.
Yibo membeku. Wajahnya pucat pasi, kacamata yang bertengger di hidungnya seolah kehilangan fungsinya. "T-tidak mungkin... murid pindahan dengan nilai merah... masuk 50 besar dalam dua minggu? Ini pasti curang! Pasti ada kesalahan koreksi!"
Lu Feng menoleh pelan, menatap Yibo dengan seringai iblis yang sangat menakutkan. Cowok itu melangkah maju, memangkas jarak dengan sang peringkat satu.
"Kesalahan koreksi?" desis Lu Feng tajam, suaranya menggema di lobi yang hening. "Gue tidur tiga jam sehari, minum kopi sampai asam lambung gue nyaris jebol, dan ngerjain ribuan soal sampai tangan gue kram. Kalau lo berani bilang gue curang di depan cewek yang udah ngajarin gue mati-matian... gue bakal patahin kacamata lo sekarang juga."
Yibo terdiam. Aura intimidasi Lu Feng yang kental dengan bau jalanan benar-benar meremukkan mental anak baik-baik seperti Yibo. Cowok berkacamata itu menunduk menahan malu yang luar biasa, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lobi diikuti tatapan syok dari semua orang.
Sorakan meledak dari anak-anak Kelas 11-3! Mereka tidak menyangka teman sekelas mereka berhasil memecahkan rekor kemustahilan Mingde.
Di tengah keributan itu, Lu Feng berbalik. Matanya mengunci sosok Lin Xiao yang berdiri tak jauh darinya. Cewek itu menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru menggenang di pelupuk matanya.
Lu Feng tersenyum. Senyum yang sangat tulus, lepas dari segala beban. Cowok itu memasukkan kedua tangannya ke saku, lalu berjalan santai membelah kerumunan, menghampiri sang ketua kelas.
Berhenti tepat di depan Lin Xiao, Lu Feng menundukkan wajahnya, menatap cewek itu lekat-lekat.
"Gue masuk 50 besar," bisik Lu Feng pelan, hanya untuk didengar oleh mereka berdua. "Waktunya bayar hutang lo, Ketua Kelas. Dan gue nggak nerima cicilan."