Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikrar Sederhana di Halaman Rumah
Pagi itu, udara terasa berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk persiapan pesta mewah dengan dekorasi bunga impor atau lampu sorot yang menyilaukan mata. Yang ada hanyalah kesibukan hangat dan penuh makna di halaman rumah Nenek Surti. Tenda biru sederhana telah berdiri kokoh, dihiasi dengan kain-kain warna-warni buatan tangan Ratna dan Lily. Aroma nasi kuning, ayam goreng lengkuas, dan sambal terasi menyebar ke seluruh penjuru gang, mengundang tetangga untuk datang berbagi kebahagiaan.
Ratna duduk di kamar belakang, mengenakan kebaya putih polos dengan rok batik motif parang yang elegan namun sederhana. Hijab putihnya disematkan rapi, menonjolkan wajah cantiknya yang bersinar tanpa perlu riasan tebal. Di tangannya, ia memegang sebuah tasbih kecil, jari-jarinya bergerak menghitung dzikir untuk menenangkan degup jantungnya yang kian cepat.
Pintu kamar terbuka pelan. Lily masuk dengan mengenakan gaun bridesmaid berwarna hijau mint, rambutnya dikepang rapi. Wajahnya tampak bangga dan bahagia.
"Ma, kamu cantik banget," puji Lily, duduk di samping ibunya dan merapikan kerudungnya. "Aku nggak nyangka Mama bisa sesempurna ini."
Ratna tersenyum, menggenggam tangan putrinya. "Ini karena cinta, Lil. Cinta membuat siapa pun terlihat bersinar. Kamu juga cantik sekali. Terima kasih sudah jadi pendamping Mama hari ini."
"Siapa lagi kalau bukan aku?" canda Lily, lalu ekspresinya menjadi serius. "Ma, aku senang banget. Akhirnya Mama punya orang yang bener-bener jaga Mama. Aku janji bakal jadi anak baik buat Papa Budi."
Mendengar kata "Papa", hati Ratna melompat senang. Itu adalah gelar kehormatan yang selama ini ia impikan untuk Budi, dan kini Lily memberikannya dengan tulus. "Terima kasih, Sayang. Papa Budi pasti sangat menghargai itu."
Tak lama kemudian, Nenek Surti masuk dengan membawa selendang sutra. "Sudah siap, Rat? Imam dan calon pengantin pria sudah sampai di masjid kampung. Tetangga-tetangga sudah mulai berkumpul."
Ratna bangkit, mencium tangan Nenek. "Siap, Ma. Doakan kami ya, Ma. Semoga pernikahan ini berkah dan langgeng."
"Insya Allah, Nak. Kalian berdua cocok. Sama-sama tahu rasanya pahit, jadi kalian akan lebih menghargai manisnya hidup bersama," kata Nenek bijak.
Prosesi akad nikah dilaksanakan di masjid kampung yang tidak jauh dari rumah. Suasananya khidmat dan sederhana. Tidak ada MC yang berbicara terlalu panjang, tidak ada hiburan dangdut yang memecah konsentrasi. Hanya ada lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dan suara gemericik air wudhu dari bak besar di halaman masjid.
Budi duduk di hadapan penghulu, mengenakan baju koko putih dan sarung tenun. Wajahnya tampak tegang namun penuh harap. Matanya sesekali melirik ke arah pintu, menunggu Ratna datang. Saat Ratna memasuki ruangan didampingi oleh Lily dan beberapa kerabat wanita, Budi tersenyum lebar, senyuman yang melepaskan semua ketegangannya.
Setelah prosesi ijab kabul selesai dengan lancar, Budi mengucapkan salam pembuka dan langsung menatap Ratna yang duduk di sebelahnya. Ia tidak menunggu sesi foto-foto formal. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang pribadi di momen sakral ini.
"Ratna," panggil Budi pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua di antara kerumunan tamu yang sedang bersiap makan.
"Iya, Bud?" jawab Ratna, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih," ucap Budi tulus. "Terima kasih sudah menerima aku apa adanya. Terima kasih sudah mempercayakan hatimu, dan yang paling penting, mempercayakan Lily padaku. Aku sadar, aku bukan pengganti ayah kandungnya. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha menjadi sahabat, pelindung, dan panutan terbaik bagi Lily. Dan bagi kamu, aku berjanji akan selalu ada. Bukan cuma saat senang, tapi terutama saat susah. Aku nggak akan pergi seperti dulu. Aku akan tetap di sini, mendengarkan, dan berjuang bersama."
Air mata Ratna mengalir deras. Ia meraih tangan Budi, menggenggamnya erat. "Aku juga berjanji, Bud. Aku akan mendukungmu dalam segala hal. Kita akan bangun rumah tangga ini dengan komunikasi, bukan dengan diam-diaman seperti masa laluku. Kita akan jujur, saling menghargai, dan saling mengingatkan jika ada yang salah."
Lily, yang duduk di sisi lain Ratna, ikut menyela. "Dan aku janji bakal bikin Papa dan Mama bangga. Aku bakal belajar rajin, nggak bikin ribut, dan sayang sama Papa Budi sepenuh hati."
Budi tertawa haru, mengusap kepala Lily. "Papa juga sayang sama Lily. Mulai hari ini, kita resmi jadi satu tim. Tim Keluarga Bahagia."
Tamu-tamu yang menyaksikan momen intim itu ikut tersenyum dan mendoakan kebaikan bagi pasangan baru tersebut. Tidak ada iri hati, tidak ada gosip miring. Hanya ada kebahagiaan murni yang menular.
Setelah akad, resepsi sederhana digelar di halaman rumah. Meja-meja panjang diisi dengan piring-piring nasi kuning yang mengepul panas. Tetangga-tetangga datang bergantian, memberikan ucapan selamat dan doa restu. Suasana terasa seperti keluarga besar yang sesungguhnya, hangat dan akrab.
Di tengah keramaian, Pak RT mendekati Budi dan Ratna. "Selamat ya, Pak Budi, Bu Ratna. Pernikahan yang sederhana tapi penuh makna. Ini contoh bagus buat warga kita. Nggak perlu mahal-mahal, yang penting berkah."
"Terima kasih, Pak RT," jawab Budi sopan. "Kami memang ingin mengutamakan esensi pernikahan, bukan gengsi."
Sore harinya, setelah tamu pulang dan rumah kembali tenang, Ratna, Budi, Lily, dan Nenek Surti duduk bersama di teras depan. Mereka menikmati sisa kue kering dan teh hangat. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan gradasi ungu dan oranye yang indah.
"Gimana perasaannya, Pa?" tanya Lily iseng pada Budi.
Budi tertawa, memeluk bahu Ratna. "Rasanya... lengkap. Seperti puzzle yang akhirnya menemukan potongan terakhirnya. Aku merasa punya tujuan hidup yang jelas sekarang."
Ratna menyandarkan kepalanya di bahu Budi. "Aku juga merasa begitu, Bud. Selama ini aku merasa berjalan sendirian di jalan yang gelap. Sekarang, ada lampu yang menerangi jalanku. Ada tangan yang menggenggam tanganku."
Nenek Surti tersenyum puas. "Syukurlah. Nenek udah tua, mungkin nggak akan lama lagi di dunia ini. Tapi melihat kalian bahagia, Nenek bisa pergi dengan tenang nanti."
"Jangan bilang gitu, Ma," potong Ratna cepat. "Mama harus sehat terus. Kita masih punya banyak rencana. Mau liburan ke pantai bareng-bareng, mau lihat Lily wisuda, mau lihat cucu-cucu Mama nanti."
Wajah Nenek berseri-seri mendengar harapan itu. "Iya, iya. Nenek usahakan sehat. Demi kalian semua."
Malam semakin larut. Bintang-bintang mulai bermunculan, seolah ikut merayakan kebahagiaan keluarga kecil ini. Ratna menatap sekelilingnya. Rumah yang dulu reyot dan penuh kenangan pahit, kini menjadi istana kebahagiaan. Dinding-dindingnya menyimpan cerita perjuangan, atapnya melindungi dari badai, dan halaman depannya menjadi saksi bisu penyatuan dua jiwa yang pernah terluka namun kini sembuh.
Ia menyadari bahwa *broken home* bukanlah akhir dari segalanya. Itu hanyalah bab awal yang kelam, yang diperlukan agar bab-bab berikutnya menjadi lebih berwarna dan bermakna. Dengan Budi di sisinya, dengan Lily yang tumbuh cerdas dan penyayang, serta dengan Nenek yang selalu mendoakan, Ratna tahu ia telah memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya: pertempuran untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.
"Selamat malam, keluarga baruku," bisik Ratna dalam hati, sebelum menutup matanya dan membiarkan mimpi indah membawanya tidur nyenyak, tanpa beban, tanpa rasa takut, hanya dengan damai yang abadi.