NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Dendam Mbah Jambrong

​Deru mesin sepeda motor tua milik Jumadi meraung-raung menembus kegelapan malam, membelah jalanan desa yang sepi menuju Kampung Randusari. Di dalam kepalanya, bayangan tumpukan uang kertas merah ratusan ribu di meja pendaftaran Mamat terus menari-nari, memicu rasa dengki yang membakar dada.

​Begitu sampai di padepokan remang-remang Mbah Jambrong, Jumadi melompat turun dari motornya dan menerobos masuk tanpa menggetok pintu.

​"Mbah! Mbah Jambrong!" teriak Jumadi histeris, napasnya memburu seperti orang habis dikejar anjing gila.

​Mbah Jambrong yang sedang mengoleskan minyak jafaron ke keris Kyai Blegedaba terperanjat kaget. Matanya yang kini sedikit juling sebelah akibat serpihan asap mesiu dan uap kapur barus dua minggu lalu mendelik garang.

​"Opo-opoan kamu ini, Jumadi?!" bentak Mbah Jambrong, menyemburkan ludah merah bekas sirihnya ke lantai. "Kaya lihat siluman genderuwo saja! Minyak wangi pesenanku mana?!"

​"Lupakan minyak wangi, Mbah!" Jumadi berlutut di dekat tumpukan bantal kusam gurunya. "Saya ketemu si Mamat! Mamat si dukun gadungan penipu Kalisari itu, Mbah!"

​Tangan Mbah Jambrong yang memegang keris seketika berhenti di udara. Wajah tua berkumis tebal itu memerah padam, urat-urat di lehernya menegang menahan dendam kesumat yang belum tuntas.

​"Di mana bocah ingusan itu?!" desis Mbah Jambrong dengan suara garau bergetar. "Di mana dia sembunyi?!"

​"Dia kabur ke kota, Mbah! Di kawasan Gang Pinggir dekat Pasar Johar!" papar Jumadi berapi-api. "Tapi dia ndak pakai nama 'Ki Sastrogati' lagi. Dia ubah kedoknya jadi 'Kang Mamat Konsultan Aura'! Pakaiannya rapi pakai kemeja sama kacamata, dan uangnya... Masya Allah, Mbah! Pasien orang-orang kaya kota pada ngumpulin uang jutaan rupiah di mejanya!"

​Mbah Jambrong menepuk lantai kayu padepokannya hingga bergetar kencang. BLAR!

​"JANCUK!" maki Mbah Jambrong murka. "Bocah karatan itu sudah bikin mataku rabun sebelah kena asap mesiu petasannya, sekarang dia malah makin kaya raya di kota?! Tidak bisa dibiarkan! Kita harus hancurkan dia!"

​"Tapi Mbah..." sela Jumadi agak cemas. "Mamat sekarang dikawal sama kelompok preman bertato anak buah Bang Tato, penguasa pelabuhan. Kalau kita cuma datang berdua bawa keris, kita bisa dikeroyok sama parang mereka!"

​Mbah Jambrong menyunggingkan senyum licik yang teramat licik. Gigi-giginya yang kehitaman tampak mengerikan di bawah pendaran lilin.

​"Siapa bilang kita cuma datang berdua?" bisik Mbah Jambrong dingin. "Kita manfaatkan emosi warga Kampung Kalisari! Besok pagi, kamu temui Pak Bintoro sama Pak RT Sugino. Kasih tahu mereka lokasi sembunyinya si Mamat. Biarkan Pak Bintoro dan pemuda-pemuda Kalisari yang datang menggrebek tempat itu!"

​Jumadi membelalakkan matanya penuh kekaguman. "Oalah... Jenius bener sampeyan, Mbah! Jadi kita tinggal mendampingi dari belakang sambil nonton si Mamat dihajar warga sama polisi?!"

​"Bukan cuma nonton," tambah Mbah Jambrong sambil mengusap kerisnya. "Pas suasana chaos dan Mamat digebuki warga, kita ambil semua uang jutaan rupiahnya dan kita sita Keris Bengkok Brajamukti itu buat modal praktek kita di kota!"

​Kedua dukun tua dan murid penipu itu tertawa terbahak-bahak bersama di tengah malam yang gelap, menyusun rencana penyerbuan yang siap menghancurkan ketenangan Mamat di Gang Pinggir.

​Keesokan harinya, suasana di kontrakan Gang Pinggir lantai dua tampak begitu makmur dan sejahtera.

​Mamat sedang duduk santai di atas sofa empuk barunya, mengenakan kemeja sutra tipis berwarna krem yang dibelinya dari toko pakaian ternama di mall kota. Di hadapannya, tiga porsi sate sapi kualitas terbaik dan es jeruk murni terhidang di atas meja.

​Darto dan Bowo sedang sibuk menghitung tumpukan uang hasil pendaftaran minggu ini. Total kas yang terkumpul di dalam kotak besi kecil di bawah meja sudah menembus angka lima puluh juta rupiah!

​"Mat... asli, ini rasanya kayak mimpi," kata Darto sambil mengusap uang seratus ribuan ke pipinya. "Dua minggu lalu kita tidur di semak-semak kebun pisang sambil dikejar warga, sekarang kita punya uang lima puluh juta sama langganan bos-bos hotel!"

​"Makanya, To... Jangan pernah meremehkan kekuatan kekuatan analisis psikologis," sahut Mamat dengan gaya sok filosofis sambil mengisap rokok filternya. "Orang kota itu punya uang banyak tapi otaknya sering kosong gara-gara stres. Kita hadir cuma buat ngisi kosongnya otak mereka pakai harapan-harapan indah!"

​"Tapi Mat," celetuk Bowo dari sudut ruangan, membetulkan letak bingkai kaca Keris Bengkok Brajamukti di dinding. "Kalau misal pasien-pasien kaya kita kayak Pak Gunawan atau Mbak Siska sadar kalau 'Penyelarasan Aura' kita cuma minyak zaitun sama air garam biasa, gimana?"

​Mamat tertawa terkekeh-kekeh. "Bowo... Bowo... Orang kalau sudah merasa percaya dan dapat hasil positif, mereka ndak bakal mikir minyaknya terbuat dari apa. Mbak Siska kemarin cerita, mantan tunangannya sudah mulai menelepon nangis-nangis minta balikan! Kenapa? Bukan karena minyak zaitun kita, tapi karena Mbak Siska-nya jadi lebih percaya diri dan dandan cantik setelah tak kasih nasihat!"

​Darto dan Bowo manggut-manggut takjub. Di mata kedua sahabatnya, Mamat bukan lagi sekadar kawan senasib, melainkan sesosok "jenius manipulator jalanan" yang sanggup merubah tahi minyak menjadi emas.

​Saat mereka bertiga sedang asyik menikmati kesuksesan, dari arah jalan raya Gang Pinggir, tiga buah mobil van mikrobus dan beberapa sepeda motor berhenti beruntun di depan lorong.

​Dari dalam mobil pertama, turunlah Pak Bintoro dengan wajah tegas tanpa kompromi, mengenakan jaket kulit tebal. Di belakangnya, Pak RT Sugino, Bu Tejo, Pak Sastro, serta belasan pemuda Kampung Kalisari yang membawa pentungan kayu melangkah keluar dengan raut muka dipenuhi amarah yang membara!

​Di barisan paling belakang, Mbah Jambrong dan Jumadi berjalan mengendap-endap sambil tersenyum puas melihat pasukan massa yang berhasil mereka gerakkan.

​"Pak Bintoro! Yakin tempatnya di dalam lorong ini?" tanya Pak RT Sugino sambil menggepalkan tangannya.

​Pak Bintoro menunjuk papan petunjuk kecil di tiang listrik lorong yang dipasang Bowo kemarin. "Lihat itu tulisan 'Kang Mamat Konsultan Aura'. Pensiunan polisi militer ndak bisa dibodohi dua kali. Hari ini kita seret si Mamat balik ke kantor polisi!"

​"SERBUUUUU! MAJU WARGA KALISARI!" teriak seorang pemuda kampung memicu kemarahan massa.

​Rombongan warga desa yang tersakiti itu langsung menerobos masuk ke dalam lorong sempit Gang Pinggir!

​Suara derap langkah puluhan kaki dan teriakan gaduh di lorong bawah seketika memecahkan ketenangan sore di Gang Pinggir.

​Mamat yang sedang menyeruput es jeruknya mendadak tersedak kencang! UKHKK! UHUK!

​"Suara opo iku di luar?" tanya Mamat curiga.

​Darto berlari ke arah jendela balkon dan mengintip ke bawah. Seketika itu juga, wajah Darto berubah pucat pasi bagaikan kertas HVS polos! Seluruh persendian di kakinya mendadak gemetar hebat!

​"M-M-MATTTT!" jerit Darto histeris sambil menunjuk-nunjuk ke bawah dengan tangan bergetar. "PAK BINTORO! PAK RT! BU TEJO! WARGA KALISARI SEMUA ADA DI BAWAH Bawa PENTUNGAN!"

​Mamat melompat dari sofa, matanya melotot tajam. "JANCUK! Kok bisa mereka tahu tempat ini?!"

​Bowo yang ikut mengintip melihat sosok Mbah Jambrong dan Jumadi berdiri menyeringai di belakang kerumunan warga. "Itu si Jumadi muridnya Mbah Jambrong, Mat! Dia yang membocorkan tempat kita!"

​Pikiran Mamat langsung kacau balau. Lima puluh juta rupiah di kotak besi, fasilitas kontrakan mewah, dan nama besar "Kang Mamat" yang baru dibangun terancam punah dalam sekejap!

​Namun, sebelum rombongan warga Kalisari berhasil mencapai tangga kontrakan Mamat, langkah mereka mendadak terhenti di tengah lorong!

​Dari arah warung kopi samping, delapan orang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit hitam, tato naga di leher, dan membawa balok kayu serta parang melangkah maju menutupi jalan lorong! Paling depan, berdiri Bang Tato dengan kumis tebal dan wajah garang siap tempur!

​"BERHENTI KALIAN SEMUA!" bentak Bang Tato dengan suara bass menggelegar yang sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela lorong!

​Pak Bintoro menghentikan langkah pasukannya, menatap Bang Tato dengan mata menyipit tajam. "Siapa kalian?! Jangan menghalangi urusan warga dengan penipu yang ada di atas!"

​Bang Tato maju satu langkah, menunjuk hidung Pak Bintoro dengan balok kayunya. "Aku Bang Tato! Penguasa Gang Pinggir! Kang Mamat itu Penasihat Spiritual kami dan sahabat baik para pengusaha pelabuhan! Siapa pun yang mau bikin rusuh di tempat Kang Mamat, harus melangkahi mayat kami dulu!"

​"Jangan sok jagoan kamu, Preman!" bentak Pak RT Sugino dari belakang sambil mengacungkan pentungan kayu. "Mamat itu dukun gadungan! Dia menipu warga kami ratusan ribu pakai racun nyamuk sama petasan banting!"

​Bang Tato tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding tembok lorong. "Dukun gadungan matamu pitek! Kang Mamat itu sakti! Dia yang menyembuhkan bisnis hotel Pak Gunawan dan membocorkan pengkhianat di kelompokku! Kalian orang-orang desa udik jangan sembarangan tuduh!"

​"Kalian yang sudah dibodohi sama dia!" teriak Pak Bintoro tidak mau kalah, melangkah maju memasang kuda-kuda bertarung. "Serahkan Mamat secara baik-baik, atau kami ratakan tempat ini!"

​"MAJU KALAU BERANI! SERABUT KAN MEREKA, BOYS!" jerit Bang Tato memberi perintah pada anak buahnya!

​WARGHHHH!

​Ketegangan di lorong sempit Gang Pinggir meledak menjadi pertempuran terbuka yang sengit! Anak buah Bang Tato menerjang rombongan pemuda Kalisari! Suara hantaman balok kayu, sabetan pentungan, dan teriakan saling maki bergema liar di sepanjang lorong!

​Dari lantai dua, Mamat, Darto, dan Bowo menyaksikan adegan perang kolosal antara "Preman Pelabuhan Kota vs Pemuda Desa Kalisari" dengan mulut menganga lebar!

​"G-Gila... Ini beneran perang antar wilayah, Mat!" bisik Bowo yang ketakutan setengah mati.

​Mamat memegang kepalanya yang mendadak pening luar biasa. Situasi ini sudah di luar kendali rencananya. Jika polisi kota datang membubarkan bentrokan ini, seluruh penipuannya dari kampung hingga kota bakal terbongkar di depan hukum!

​"Darto! Bowo!" perintah Mamat cepat sambil menyambar kotak besi berisi uang lima puluh juta rupiah dan memasukkannya ke dalam tas ransel besar. "Ambil Keris Bengkok di dinding! Kita tidak bisa bertahan di sini lagi! Kita harus kabur lewat atap kontrakan sebelum polisi datang!"

​"Siap, Bos!" jerit Darto dan Bowo serentak.

​Di bawah lorong, pertempuran makin tidak terkendali. Pak Bintoro dengan keahlian beladiri militernya berhasil mengalihkan perhatian dua anak buah Bang Tato, sementara Mbah Jambrong dan Jumadi yang melihat celah kosong secara licik menyelinap masuk menerobos tangga menuju lantai dua!

​"Mbah! Pintu atas terbuka! Si Mamat mau kabur!" teriak Jumadi dari tangga.

​Mbah Jambrong mengacungkan keris Kyai Blegedaba-nya yang diolesi minyak jafaron kental, memanjat tangga dengan langkah tergesa-gesa. "Mamat! Kembalikan uang dan nama baikku, Penipu!"

​Sementara itu di lantai dua, Mamat yang baru saja hendak memanjat tangga menuju atap seng terperanjat kaget saat pintu kontrakan didobrak kencang dari dalam!

​BRAK!

​Mbah Jambrong dan Jumadi muncul di ambang pintu dengan wajah dipenuhi rasa dendam yang liar!

​"MAMAT!" jerit Mbah Jambrong, matanya yang rabun sebelah menatap lurus ke arah tas ransel berisi uang lima puluh juta rupiah yang digendong Mamat. "Akhirnya ketemu juga kamu, Bocah karatan!"

​Mamat membeku di dekat tangga atap. Darto dan Bowo refleks berdiri memegang kayu balok bekas gorden.

​"Mbah Jambrong?!" pekik Mamat panik. "Sampeyan ngapain ikut-ikutan sampai ke kota?! Mata sampeyan yang rabun kena asap petasan kemarin kurang kapok?!"

​"Jancuk kamu, Mat!" maki Mbah Jambrong murka. "Gara-gara kamu, pasienku habis dan mataku rusak sebelah! Serahkan tas ransel berisi uang itu kalau kamu mau selamat!"

​Jumadi menerjang maju mencoba menyambar tas ransel Mamat. Namun, Darto dengan sigap mengayunkan balok kayu gorden tepat mengenai paha Jumadi!

​KLETAK!

​"ADUH! PAHA SAYA!" jerit Jumadi jatuh terlentang di lantai.

​Mamat memanfaatkan momen itu untuk memanjat tangga kayu dan melompat keluar menuju atap seng kontrakan! Darto dan Bowo menyusul cepat dari belakang, lalu menutup pintu atap dari luar!

​Mbah Jambrong yang tak mau kehilangan buruan jutaan rupiahnya ikut memanjat tangga dengan nekat, menendang pintu atap hingga terbuka dan melompat berdiri di atas atap seng yang panas dan licin!

​Kini, di atas atap seng kontrakan Gang Pinggir yang menghadap ke pemandangan Kota Semarang, Mamat dan Mbah Jambrong berdiri berhadapan langsung di bawah terik sinar matahari sore!

​Angin kota bertiup cukup kencang, mengibarkan kemeja sutra Mamat dan sarung tenun hitam Mbah Jambrong.

​"Serahkan uang lima puluh juta itu, Mat!" bentak Mbah Jambrong sambil mengacungkan keris berluk tujuh miliknya. "Uang itu milikku sebagai ganti rugi reputasiku!"

​Mamat menyunggingkan senyum nekatnya, merogoh pinggangnya, dan menarik Keris Bengkok Brajamukti dari sarungnya!

​"Enak saja!" teriak Mamat tak mau kalah. "Uang ini hasil keringat otakku sendiri! Sampeyan itu dukun tua kadaluwarsa yang cuma bisa nipu pakai susuk palsu! Ilmu sampeyan sudah ketinggalan zaman di kota ini!"

​Mbah Jambrong meraung marah, menerjang maju di atas atap seng yang berderit-derit kencang!

​KREK... KREK... KREK...

​Adu duel sengit antar dua dukun gadungan beda generasi pun pecah di atas atap seng kontrakan! Keris Bengkok Brajamukti milik Mamat bertabrakan langsung dengan keris Kyai Blegedaba milik Mbah Jambrong!

​PRANGGG!

​Percikan api kecil meloncat dari benturan dua besi tua itu. Mbah Jambrong yang fisiknya sudah tua kehilangan keseimbangan akibat Licinnya atap seng, terpeleset ke belakang!

​Mamat yang mencoba menahan keseimbangannya sendiri tak sengaja menyenggol kabel antena televisi yang melintang. Tas ransel berisi uang lima puluh juta rupiah terlepas dari genggamannya dan menggelinding jatuh ke tepi atap!

​"UANGKU!" jerit Mamat dan Mbah Jambrong bersamaan!

​Kedua dukun itu sama-sama melompat menubruk tas ransel di tepi atap seng!

​BRUKKKKK!

​Struktur atap seng kusam yang tidak kuat menahan beban dua tubuh manusia dewasa itu seketika jebol dan ambruk total! Mamat, Mbah Jambrong, beserta tas ransel uang lima puluh juta rupiah meluncur jatuh dari ketinggian lantai dua menuju tumpukan keranjang buah plastik di lorong samping!

​BLAR-PRANGGGGG!

​Suara sirine mobil polisi meraung-raung nyaring dari ujung jalan raya, mendominasi seluruh lorong Gang Pinggir.

​Tiga mobil patroli kepolisian kota tiba di lokasi bentrokan, memadamkan perang antara anak buah Bang Tato dan warga Kalisari. Bang Tato beserta anak buahnya yang terluka lari menyelinap ke lorong-lorong pelabuhan, sementara Pak Bintoro dan Pak RT Sugino membantu mengamankan warga yang panik.

​Di lorong samping kontrakan, di antara puing-puing seng yang jebol dan keranjang buah plastik yang hancur, Mamat dan Mbah Jambrong terkapar kaku.

​Mbah Jambrong terbatuk-batuk, pingsan dengan posisi celana sarungnya melorot menutupi wajahnya sendiri. Sementara Mamat mengerang kesakitan, memegangi pinggangnya yang terkilir, namun tangan kanannya masih memeluk erat tas ransel besar berisi uang lima puluh juta rupiah!

​Darto dan Bowo yang melompat turun lewat pipa pembuangan air hujan berlari menghampiri Mamat dengan cemas.

​"Mat! Mat! Kamu masih hidup ndak, Mat?!" bisik Darto panik sambil menepuk-nepuk pipi Mamat.

​Mamat membuka mata julingnya perlahan-lahan, meringis menahan sakit di punggungnya, lalu menyunggingkan senyum tipis di antara bibirnya yang berdarah.

​"U-Uangnya... aman, To...?" panggil Mamat lirih.

​Bowo dengan cepat memeriksa ritsleting tas ransel. "Aman, Mat! Lima puluh juta masih utuh di dalam!"

​Dari arah depan lorong, suara langkah sepatu polisi dan teriakkan Pak Bintoro makin mendekat. "Cari Mamat di belakang! Jangan sampai si penipu itu lolos lagi!"

​Mamat membetulkan letak kacamata tanpa minusnya yang retak sebelah, bangkit berdiri dibantu Darto dan Bowo. Ia melirik Mbah Jambrong yang masih pingsan konyol di antara tumpukan buah busuk, lalu menyambar Keris Bengkok Brajamukti yang tergeletak di dekatnya.

​"Ayo kabur..." bisik Mamat mantap. "Kota Semarang sudah terlalu panas buat kita."

​Dengan mengendap-endap di balik bayangan lorong pasar sore, tiga pemuda itu berhasil menerobos keluar dari lingkaran penggeledahan polisi dan warga Kalisari, menyelinap masuk ke dalam bus antarkota yang sedang bersiap berangkat menuju Kota Jakarta.

​Dua hari kemudian, di sebuah warung kopi sederhana di area stasiun kereta api Jakarta Pusat.

​Mamat duduk santai mengenakan jaket jeans baru, celana hitam rapi, dan kacamata hitam gaya. Di sisinya, Darto dan Bowo sedang menikmati piring nasi goreng telur lengkap dengan kerupuk.

​Di atas meja, tergeletak tas ransel berisi uang lima puluh juta rupiah yang utuh, serta Keris Bengkok Brajamukti yang kini telah dibungkus rapi dengan kain sutra merah.

​"Mat..." tanya Bowo sambil mengunyah kerupuknya. "Kita kan sudah di Jakarta sekarang. Uang kita banyak, warga Kalisari sama Mbah Jambrong juga ndak bakal bisa mengejar kita ke sini. Rencanamu selanjutnya apa?"

​Mamat melepaskan kacamata hitamnya, menatap ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menjulang tinggi di luar jendela warung kopi. Senyum cerdik nan licik kembali terkembang sempurna di wajah kerempengnya.

​Mamat merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu nama baru yang baru saja dicetaknya di stasiun:

​"MAMAT BRAJAMUKTI - MASTER MINDSET & MOTIVATOR SPIRITUAL KOTA METROPOLITAN"

​Darto dan Bowo tersedak bersamaan melihat tulisan di kartu nama itu.

​"M-Motivator Spiritual?!" jerit Darto kaget setengah mati.

​Mamat tertawa terbahak-bahak, tawa khasnya yang menggelegar dan penuh percaya diri.

​"Di Jakarta ini, To..." kata Mamat sambil melambaikan kartu namanya ke udara. "Orang-orang kaya dan pejabatnya jauh lebih banyak, stresnya jauh lebih gila, dan mereka rela bayar ratusan juta cuma buat dengar orang ngomong motivasi di hotel bintang lima! Dukun sudah kuno, Konsultan sudah biasa... Sekarang saatnya Master Mamat menguasai Ibu Kota!"

​Darto dan Bowo saling berpandangan, lalu ikut tertawa berderai bersama Mamat. Petualangan penipuan komedi gila sang dukun gadungan dari Kampung Kalisari resmi berakhir, namun panggung penipuan kelas atas Mamat sang Master Motivator di ibu kota metropolitan baru saja dimulai dengan kejayaan yang jauh lebih dahsyat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!