NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 - PERINTAH TERAKHIR SANG RATU

"Empat!"

Suara Paman Surya kembali menggema dari pengeras suara, terdengar sangat santai dan menikmati setiap detik penderitaan mereka.

Otot-otot di kaki Kael menegang. Pria raksasa itu mencondongkan tubuhnya ke depan, bersiap melontarkan dirinya ke ruang terbuka demi menarik hujan peluru. Tapi tepat di detik kelima, sebuah tarikan kasar dan putus asa dari arah belakang membuat tubuh Kael terpelanting mundur.

Valeria mencengkeram kerah belakang rompi taktis Kael dengan seluruh sisa tenaga yang dia punya, menarik bayangannya itu kembali ke tanah hingga punggung Kael menabrak dinding kontainer dengan keras.

"Kamu gila?!" bentak Valeria dengan napas memburu, matanya melotot tajam menembus kegelapan dan asap.

"Val, lepaskan! Waktu kita tidak banyak!" geram Kael berusaha melepaskan cengkeraman Valeria dari rompinya. Tapi tangan wanita itu mencengkeramnya terlalu kuat, sampai kuku-kukunya memutih.

"Nggak! Aku nggak bakal biarin kamu mati konyol jadi samsak peluru!" tolak Valeria kalap. Ratu mafia itu merangkak maju, memosisikan dirinya tepat di depan Kael untuk memblokir jalan pria itu keluar.

"Lima! Enam!" Hitungan maut itu terus berlanjut. Derap langkah sepatu bot puluhan tentara bayaran terdengar makin nyaring, mengepung kontainer merah itu dari tiga sisi sekaligus.

"Val, dengarkan saya. Ini satu-satunya cara rasional!" desak Kael, nada suaranya mulai naik. Tangan besarnya menangkup kedua bahu Valeria, berusaha menyingkirkan wanita itu dengan lembut. "Begitu saya keluar, mereka semua akan menembak saya. Anda punya celah buat lari ke laut. Arusnya kuat, kegelapan akan menyembunyikan Anda!"

"Dan biarin kamu mati berlubang di sini? Nggak akan, Kael!" potong Valeria keras kepala. Air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk mata cantiknya, bercampur dengan kotoran dan darah.

Valeria menarik napas panjang, menelan semua keegoisan dan harga dirinya. Otaknya yang brilian tapi terdesak itu akhirnya mengambil satu-satunya keputusan yang masuk akal buat nyelamatin nyawa pria di depannya ini.

"Dengerin aku, Kael," bisik Valeria dengan suara bergetar namun penuh penekanan. "Surya cuma pengen kepalaku. Kalau aku keluar dan nyerah, atau setidaknya pura-pura nyerah, mereka nggak akan langsung nembak. Perhatian mereka bakal fokus penuh ke aku."

Kael mengerutkan keningnya tajam, instingnya langsung menolak arah pembicaraan ini. "Apa yang mau Anda lakukan, Val?"

"Aku yang bakal jadi umpan," putus Valeria mantap, menatap lurus ke mata elang Kael. "Begitu Surya sibuk ngomong sama aku, kamu yang lari. Kemampuan fisikmu jauh di atas rata-rata, kamu bisa nyelam dan nahan napas lebih lama dari aku. Kamu pasti selamat sampai ke seberang pelabuhan."

"Tidak." Kael menjawab seketika, suaranya sedingin es abadi.

"Tujuh!"

"Ini bukan tawaran, Kael, ini perintah!" desis Valeria mulai panik mendengar langkah kaki musuh yang nyaris berbelok ke arah persembunyian mereka. Wanita itu mencengkeram kerah kemeja Kael, mengguncangnya pelan. "Kamu harus hidup! Kalau kita berdua mati di sini, siapa yang bakal balas dendam?! Siapa yang bakal ngebunuh si tua bangka itu?!"

"Kalau Anda mati, dunia ini nggak ada harganya lagi buat saya!" bentak Kael untuk pertama kalinya lepas kendali.

Suara bariton Kael menggelegar tertahan, menekan semua batas antara atasan dan bawahan yang selama sepuluh tahun ini mereka jaga. Mata pria itu berkilat liar, memancarkan amarah dan obsesi yang begitu gelap.

Valeria tertegun. Guncangan di tangannya terhenti.

"Delapan!"

Kael mencengkeram kedua pergelangan tangan Valeria yang ada di dadanya, lalu menurunkannya dengan paksa. Genggaman tangan pria itu terasa panas dan gemetar.

"Sebagai Ratumu, sebagai Nyonya besar klan ini, aku perintahkan kamu pergi, Kael! Lari sekarang dan tinggalkan aku!" jerit Valeria frustrasi, air matanya akhirnya pecah melewati pertahanannya. "Ini perintah terakhirku!"

"Persetan dengan perintah!" umpat Kael kasar. Pria raksasa itu mencondongkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Hawa panas dari napasnya menerpa wajah Valeria yang basah oleh air mata. "Saya menolak! Anda bisa memecat saya, Anda bisa membenci saya, tapi saya tidak akan pernah meninggalkan Anda di neraka ini sendirian!"

"Kael, kamu bodoh! Kamu mau kita berdua mati?!" isak Valeria, memukul pelan dada Kael yang keras. Pertahanan emosional sang Ratu benar-benar hancur lebur malam ini.

Kael tidak menjawab. Pria itu justru mengangkat satu tangannya, mengusap kasar air mata di pipi Valeria dengan ibu jarinya yang berdebu. Sorot mata liar Kael perlahan berubah menjadi kelembutan yang sangat mematikan.

"Sembilan!" Tawa Surya terdengar dari kejauhan. "Waktu habis, anak-anak manis! Habisi mereka!"

Suara kokangan puluhan senjata api terdengar nyaring dari ujung kontainer. Bayangan laras-laras panjang mulai terlihat memanjang di atas aspal, disorot oleh lampu pelabuhan. Mereka tinggal berjarak lima langkah lagi.

Di detik-detik terakhir menuju kematian yang absolut itu, Kael melepaskan pergelangan tangan Valeria. Pria itu meraih pinggang ramping sang ratu, lalu menarik tubuh Valeria hingga menabrak dada bidangnya yang terbalut rompi taktis.

"Kalau kita harus mati malam ini, Val..." bisik Kael dengan suara serak yang menggetarkan jiwa, bibirnya bergesekan pelan dengan telinga Valeria. "...kita akan mati berdua. Tapi sebelum itu terjadi, saya pastikan saya akan menyeret sebanyak mungkin nyawa mereka untuk menemani kita."

Valeria memejamkan mata, membalas pelukan Kael dengan sangat erat. Rasa takutnya mendadak menguap, digantikan oleh kepasrahan dan rasa aman yang gila. Di pelukan monster ini, bahkan kematian pun terasa seperti sebuah kemenangan.

"Sepuluh!"

"Maju! Sudutkan mereka!" teriak komandan Viper dari jarak yang sangat dekat.

Tiga orang tentara bayaran melompat keluar dari sudut kontainer secara bersamaan, senapan mereka sudah diangkat tinggi-tinggi siap memuntahkan peluru.

Tapi Kael tidak berniat mati berlutut.

Dengan kecepatan refleks yang melampaui batas nalar manusia, Kael melepaskan pelukannya pada Valeria. Di saat yang bersamaan, tangan kanan Kael mencabut salah satu pisau lempar dari sabuknya, sementara tangan kirinya mengangkat pistol Glock-nya.

*WUSSSH!*

Pisau hitam legam itu melesat membelah udara, menancap tepat di tenggorokan tentara pertama sebelum jarinya sempat menarik pelatuk. Darah muncrat mewarnai dinding kontainer merah.

*DOR! DOR!*

Dua tembakan akurat dari tangan kiri Kael menyusul dalam hitungan milidetik, bersarang telak di dahi tentara kedua dan ketiga. Ketiga pria itu ambruk ke aspal dengan suara berdebum keras, mati seketika.

"Di sini! Mereka ngelawan!" teriak tentara keempat yang baru saja muncul dari sisi lain.

Valeria tidak tinggal diam. Insting bertahannya kembali menyala. Ratu mafia itu berguling ke samping Kael, mengangkat pistolnya dengan kedua tangan, lalu menembakkan tiga peluru ke arah tentara keempat itu hingga tumbang.

"Bagus, Val. Tetap di belakang saya," puji Kael dengan seringai buas yang mengerikan. Matanya kini sepenuhnya gelap. Sang bayangan telah berubah menjadi iblis pencabut nyawa.

Rentetan tembakan membabi buta mulai menghujani sudut kontainer mereka. Peluru-peluru berdesingan, merobek pelat baja kontainer hingga bolong-bolong. Serpihan logam tajam beterbangan liar.

"Kita nggak bisa terus diam di sini, Kael!" teriak Valeria menutupi telinganya dari suara bising peluru yang memekakkan telinga.

"Saya tahu!" balas Kael merogoh saku taktisnya. Dia mengeluarkan dua buah granat asap pekat peninggalan dari gudang senjata mereka tadi. "Tutup mata dan tahan napas Anda, Nyonya!"

Kael menarik pin kedua granat itu dengan giginya, lalu melemparkannya jauh ke tengah-tengah formasi musuh yang terus merangsek maju.

*PSSSSSHHH!*

Asap putih dan hitam yang sangat tebal langsung menyembur keluar, menelan area di sekitar kontainer merah itu dalam hitungan detik. Visibilitas turun menjadi nol. Para tentara bayaran Viper dan penembak jitu di atas kontainer mendadak kehilangan target mereka. Tembakan mereka menjadi membabi buta tanpa arah.

"Uhuk! Uhuk! Jangan tembak sembarangan, bodoh! Kena teman sendiri!" umpat komandan Viper dari balik kabut asap. "Tunggu asapnya hilang! Kepung area itu rapat-rapat, jangan biarkan ada lalat yang lolos!"

Di tengah kebutaan asap pekat itu, Kael meraih tangan Valeria, menggenggamnya dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulang. Tangan Kael terasa sangat dingin, tapi cengkeramannya memberikan jangkar bagi Valeria di tengah lautan kepanikan ini.

"Kael, apa rencanamu?!" bisik Valeria terbatuk-batuk menahan asap yang mencekik paru-paru.

"Kita tidak akan lari ke laut, Val," jawab Kael serak. Pria itu menarik Valeria mendekat, menempelkan punggung mereka ke dinding kontainer. "Di seberang dermaga ini, ada tumpukan kontainer tua yang digunakan sebagai jalur bongkar muat ilegal. Ada *speedboat* kecil yang disembunyikan di bawah jembatan dermaga. Kalau kita bisa menerobos barisan depan mereka dalam lima belas detik, kita bisa mencapainya."

"Menerobos puluhan orang pakai sisa dua magasin? Itu bunuh diri!" bantah Valeria membelalakkan matanya yang pedih.

"Bukan bunuh diri kalau kita yang jadi algojonya," seringai Kael, menatap Valeria dengan tatapan yang bisa meluluhkan baja. "Saya sudah melanggar perintah terakhir Anda, Nyonya. Sekarang, izinkan saya membuktikan kenapa saya pantas mati di sisi Anda."

Kael memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah kepulan asap tempat puluhan musuh sedang menunggu mereka. Dia merogoh satu-satunya granat *flashbang* (granat kejut) terakhir dari sabuknya.

"Begitu meledak, tutup telinga dan pejamkan mata Anda. Lalu lari sekencang mungkin mengikuti tarikan tangan saya. Jangan pernah menoleh ke belakang," instruksi Kael mutlak.

Valeria menatap punggung lebar pria di depannya ini. Pria yang baru saja menolak perintahnya, melawan kekuasaannya, tapi di saat yang sama, memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk melindunginya. Dinding atasan dan bawahan itu sudah hancur lebur tanpa sisa.

Valeria mengangguk mantap, menggenggam balik tangan Kael tak kalah erat. "Kita keluar dari sini hidup-hidup, Kael. Sama-sama."

Kael menarik pin *flashbang* itu.

"Bersiaplah, Ratu-ku."

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!