NovelToon NovelToon
Cinta Dijalur Misi

Cinta Dijalur Misi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.

Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.

Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perjodohan Tampa pamit

kedua sersan itu berdiri tegak.

"Lapor, Kapten Revan! Sersan Damar, Sersan Bayu hadir sesuai perintah!"

Revan berhenti di depan mereka, wajahnya serius, nada bicaranya tegas namun rendah .

"Perintah dari siapa?"

Sersan Damar:

"Dari Komandan Besar, Pak. Beliau memerintahkan kami untuk menjemput Bapak kembali ke markas segera."

Revan menatap mereka

"Ada perintah khusus?"

Sersan Bayu menimpali

"Siap, Pak. Komandan Besar memanggil seluruh Komandan Pasukan Elang Satu, Dua, dan Tiga untuk rapat darurat. Terkait insiden pemberontak semalam. Beliau meminta kehadiran Bapak paling lambat dua jam dari sekarang."

Revan menghela napas pelan, menoleh sekilas ke arah Nara yang berdiri di ambang pintu

"Saya mengerti. Kalian tunggu di sini sebentar."

Sersan Damar & Bayu bersamaan.

"Siap, Kapten!" keduanya memberi hormat sekali lagi, lalu berdiri tegak di sisi pintu, tidak bergerak sedikit pun.

*****

"Nara, kamu jaga anak ini bisa, kan?"

tanya Revan memastikan, menatap tajam Nara yang masih mengusap sisa-sisa kasa medis di meja.

Nara mengangguk santai .

"Bisa, Bang...."

Revan membalikkan badan dan bersiap melangkah keluar menuju pintu untuk menemui para bawahannya ,sebelum langkah Revan makin jauh, Nara mendekat cepat. Dengan gerakan halus namun cekatan, ia menyenggol lengan Revan dan berbisik pelan tepat di dekat telinganya.

"Jangan laporkan keberadaan anak ini ke siapa pun..."

bisik Nara serius, menatap tajam mata Revan dengan raut memohon berselimut ketegasan.

Revan terdiam sejenak, menatap paras tegas Bidan desa di hadapannya itu. Tanpa mengumbar kata-kata yang bisa memancing kecurigaan dua bawahan nya di luar, Revan mengangguk pelan namun pasti.

Tanpa membuang waktu lagi, Revan melangkah lebar meninggalkan Polindes Desa Bejowangi.

Di luar, Revan langsung naik ke atas kendaraan taktis militer. Mobil tersebut melaju cepat menembus rimbunnya jalanan hutan Bejowangi menuju Kodim Kecamatan.

Suara raungan baling-baling helikopter jenis super puma milik TNI Angkatan Darat sudah membahana di lapangan utama Kodim Kecamatan begitu Revan tiba.

Angin kencang kibasan baling-baling menghempaskan debu-debu di sekitarnya. Sebuah helikopter taktis khusus sudah bersiap dalam posisi engine run-up, menunggu kedatangan sang Komandan.

Seorang perwira piket menyambut Revan dengan hormat tegap.

"Ijin, Komandan! Helikopter penjemputan khusus sudah bersiap. Pimpinan Pusat sudah menunggu kehadiran Komandan di Markas Besar Pasukan Elit!"

Tegas perwira tersebut menyaingi gemuruh suara mesin helikopter.

Revan membalas hormat singkat, matanya memancarkan aura dingin penuh ketegasan. "Terima kasih, Lanjutkan tugas!"

Dengan langkah tegap dan gagah, Revan memanjat masuk ke dalam kabin helikopter beserta dua bawahan lainya .

Begitu pintu ditutup rapat, helikopter perlahan terangkat naik membumbung ke udara, membawa sang Komandan menuju Markas Besar Komando Pasukan Elit .

***

Nara mendatangi anak itu dan menyuntikkan sesuatu.

"Apa ini...?"

Anak itu meringis kesakitan, merasakan jarum menusuk kulit lengannya.

"Biar kamu patuh,"

kata Nara dengan nada penuh tekanan.

"Aku sudah memberikan obat dalam suntikan ini. Jika kau .....tidak minum obat tepat waktu,, tubuhmu .. ....pelan-pelan... akan lemah dan ....akhirnya kamu mati. . .."

Nara tersenyum sinis. Ia sengaja mengerjai anak itu agar tidak melawan dan kabur sebenarnya ia hanya menyuntikkan vitamin biasa.

"Jadi,... . jangan coba-coba kamu kabur,"

lanjut Nara dengan suara dingin yang membuat merinding.

Anak itu sedikit kesal, menggertakkan gigi, lalu menunduk dalam-dalam tanpa berani membantah lagi.

Tak lama kemudian, Pak Kades datang setelah Pak Kadis pulang .

"Bidan Nara... apa benar ada..."

tanya Pak kades penasaran.

"Sssst!" kata Nara cepat sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.

"Hanya kita yang tahu tentang keberadaan anak ini. Biar Nara yang urus, Pak. Percayalah, Pak, dia tidak berbahaya."

Pak kades terdiam sejenak, menatap mata Nara yang memancarkan keyakinan kuat.

"Baiklah, saya percaya pada Bidan Nara,"

jawab Pak kades akhirnya. Ia kemudian berbalik menghadap para warga dan pemuda desa yang berkumpul di halaman.

"Dengar kalian semua!"

seru Pak kades dengan suara tegas kepada orang-orang yang ada di sekitar Polindes.

" kita harus merahasiakan keberadaan anak ini rapat-rapat dari siapapun!"..Tegas pak kades

"Baik,Pak!" jawab warga dan para pemuda desa dengan kompak dan serentak.

"Kalau begitu, saya ambil beberapa baju layak pakai dulu untuknya," kata Pak Kades sambil berpamitan dan melangkah pergi meninggalkan area Polindes.

****

Rapat akbar Markas Besar Pasukan Elit baru saja ditutup dengan suasana penuh kebanggaan. Agenda rapat hari ini merayakan keberhasilan gemilang Tim 1, Tim 2, dan Tim 3 yang sukses memusnahkan sarang pemberontak hingga ke akar-akarnya. Bahkan, piagam apresiasi khusus dari Presiden Republik Indonesia disampaikan langsung kepada para prajurit elit yang telah mempertaruhkan nyawa.

Namun, di tengah kemegahan apresiasi itu, fakta mencekam terungkap. Parang yang digunakan komplotan pemberontak dalam serangan sebelumnya ternyata telah dilumuri racun mematikan. Salah satu musuh bahkan dipastikan tewas di tempat bukan hanya karena luka, melainkan akibat paparan racun dari senjatanya sendiri saat terkena serangan balik dari Nara kemarin. Beruntung, anak dari pimpinan pemberontak yang berhasil ditangkap akhirnya angkat bicara dan memberikan obat penetral racun tersebut.

Begitu rapat usai, suara menggelegar Pimpinan Komandan Besar memecah barisan.

"Kapten Revan, setelah luka di bahumu dinetralkan dari racun, segera ke kantor saya!"

Revan segera menuju tim medis markas. Selesai menyuntikkan obat penetral dan memastikan bahunya benar-benar aman dari bahaya racun, Revan melangkah tegap menuju ruang kerja Pimpinan Komandan Besar.

Tok! Tok! Tok!

"Izin, Komandan! Izin masuk!" panggil Revan tegap dari balik pintu kayu jati yang kokoh.

"Masuk!" sahut suara berat dari dalam ruangan.

Revan membuka pintu, melangkah mantap, lalu memberikan hormat militer sempurna di hadapan meja kerja pimpinannya.

"Lapor, Pak Komandan! Kapten Revan, Komandan Elang Satu, hadir sesuai perintah!" tegas Revan penuh kedisiplinan dan rasa hormat.

Komandan Besar menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, lalu mengibaskan tangan pelan sambil tersenyum tipis.

"Duduklah, Kapten... Jangan terlalu formal."

"Siap, Komandan," sahut Revan seraya mengambil tempat duduk di kursi depan meja kerja.

"Minum dulu, Kapten," tawar Komandan Besar sambil menyodorkan cangkir teh hangat yang masih berasap tipis.

"Siap, terima kasih, Komandan," jawab Revan sopan, lalu menyesap minuman tersebut perlahan sebagai bentuk penghormatan.

Di ruangan ber-AC yang cukup luas itu, Revan menyadari kehadiran seorang wanita muda yang duduk di sofa empuk tak jauh dari meja kerja sang Komandan. Wanita itu menyilangkan kakinya dengan gaya yang terkesan sangat manja dan arogan, mengoleskan lipstik tipis, lalu menatap Revan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai.

Komandan Besar berdeham pelan, memecah keheningan ruangan.

"Jadi begini, Revan... Prestasi kamu dan timmu dalam memusnahkan pemberontak sungguh mengagumkan. Bahkan Presiden sendiri memberikan apresiasi tinggi untuk kalian,"

puji Komandan Besar seraya menatap Revan penuh rasa bangga. Ia memajukan badannya ke atas meja.

"Dan saya lihat, umurmu juga sudah sangat matang untuk membina rumah tangga."

Revan menyimak diam, berusaha menebak arah pembicaraan atasannya tersebut.

"Maka dari itu... saya berniat menjodohkan kamu dengan putri tunggal saya," lanjut Komandan Besar seraya menunjuk ke arah wanita arogan di sofa tadi.

Revan terkejut!

Jantungnya berdegup kencang seketika. Raut wajahnya yang biasanya tenang dan dingin mendadak membeku. Bayangan perjodohan itu membuat ingatan di kepalanya melayang jauh kembali ke Desa Bejowangi ,

pada sosok Bidan Nara yang galak, berani, pujaan hati nya .....

 

1
sakura
....
es moon: terima sudah mampir, semoga suka ,happy reading
total 1 replies
Rian Moontero
Mampiiirr
es moon: terima kasih, semoga suka..happy reading
total 1 replies
Apis
huuu revan belum jadian asal main kokop aj
es moon: Wkwkwk 😂 Revan emang gercep ya, Kak. Belum jadian udah berani macam-macam.
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Revan dan Nara ❤️ , DiTunggu ya kak kelanjutannya,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!