Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Titik Balik di Koridor Rumah Sakit
Aroma karbol dan obat-obatan yang tajam menusuk hidung Aura saat ia berjalan tergesa-gesa menelusuri koridor lantai empat Rumah Sakit Medika. Lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala terang, menandakan proses pembedahan sumsum tulang belakang adiknya, Laras, sedang berlangsung di dalam.
Aura meremas kedua tangannya yang dingin. Kakinya gemetar hebat hingga ia terpaksa menyandarkan punggungnya pada dinding lorong yang serba putih. Hari Selasa yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakutinya akhirnya tiba.
"Ibu sudah meminum obatnya?" suara berat yang sangat familar tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Aura menoleh kaget. Evan melangkah mendekat dengan gaya berpakaian yang lebih santai dari biasanya, kemeja putih yang lengan bagian sikunya digulung rapi dan tanpa jas. Di belakangnya, Bimo membawakan dua cangkir kopi panas dan sebotol air mineral.
"E-Evan?" Aura terbelalak. "Kenapa kamu ada di sini? Bukannya jam segini kamu ada rapat direksi di kantor pusat?"
Evan tidak langsung menjawab. Ia memberi isyarat pada Bimo untuk meletakkan minuman di atas kursi tunggu, lalu membiarkan asistennya itu melangkah menjauh untuk memberi mereka privasi.
"Rapatnya dimajukan tadi pagi," sahut Evan datar seraya mendudukkan dirinya di salah satu kursi besi dingin di koridor tersebut. "Dan Bimo bilang operasi adikmu dimulai pukul sembilan. Aku hanya datang untuk memastikan uang lima ratus juta rupiah yang kukeluarkan tidak sia-sia karena dokter yang tidak kompeten."
Alasan yang sangat khas seorang Evan Adijaya: selalu berlindung di balik alasan uang dan transaksi.
Namun, Aura tahu betul. Sebagai Presdir Adijaya Group, jadwal Evan sangat padat. Membatalkan atau memajukan rapat direksi demi meluangkan waktu datang ke rumah sakit bukanlah hal yang bisa dinilai sekadar dengan angka uang.
Aura melangkah mendekat, lalu duduk di kursi kosong tepat di sebelah Evan, memberikan jarak aman di antara mereka.
"Ibu sedang di kamar mandi. Beliau sangat cemas dari tadi subuh," cicit Aura pelan. Matanya tak lepas menatap papan petunjuk ruang operasi. "Dokter bilang operasinya memakan waktu sekitar empat hingga lima jam. Tingkat keberhasilannya hanya tujuh puluh persen."
Evan melirik wanita di sampingnya. Wajah Aura tampak pucat tanpa makeup, dan lingkaran hitam tipis terlihat di bawah matanya tanda bahwa wanita itu tidak bisa tidur nyenyak sejak semalam. Namun, tidak ada ratapan atau tangisan berlebihan. Aura menghadapi ketakutan terbesarnya dengan ketabahan yang luar biasa.
"Tujuh puluh persen adalah angka yang tinggi di dunia medis," ujar Evan dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Tim dokter yang berada di dalam sana adalah para spesialis terbaik yang didatangkan langsung dari Singapura. Jika mereka tidak bisa menyelamatkannya, tidak ada orang lain yang bisa."
Aura menoleh, menatap iris mata cokelat gelap milik Evan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tidak melihat tatapan mengintimidasi atau pandangan meremehkan dari pria itu. Yang ada hanyalah ketenangan yang kokoh seolah-olah Evan adalah sebuah benteng tebal tempatnya bisa bersandar di tengah badai.
"Terima kasih," kata Aura tulus.
"Sudah kukatakan, tidak perlu—"
"Bukan hanya untuk biaya operasinya," potong Aura lembut, memberanikan diri menatap mata Evan tanpa rasa takut. "Tapi untuk kedatanganmu di sini. Walaupun ini semua bagian dari kontrak, kehadiranmu membuatku merasa... tidak sendirian."
Evan tertegun. Kalimat sederhana itu memukul bagian terdalam di dadanya yang selama bertahun-tahun telah membeku oleh ambisi dan dikelilingi oleh orang-orang palsu. Di dunia bisnisnya, kehadiran Evan selalu ditakuti atau dimanfaatkan. Tidak ada satu orang pun yang pernah merasa 'tenang' hanya karena keberadaannya.
Sebelum Evan sempat membalas, pintu ruang operasi mendadak terbuka. Lampu merah di atasnya padam, berganti menjadi warna hijau. Seorang dokter senior berseragam hijau lengkap dengan masker melangkah keluar.
Aura langsung meloncat dari kursinya dan berlari mendekat. "Dokter! Bagaimana kondisi adik saya?!"
Ibu Aura, seorang wanita paruh baya dengan wajah lelah yang baru keluar dari kamar mandi, ikut berlari menghampiri dengan mata berkaca-kaca.
Dokter senior itu melepaskan maskernya, lalu mengulas senyum lega. "Puji Tuhan, Ibu, Nyonya Aura. Operasi cangkok sumsum tulang belakang berjalan sangat lancar. Pendarahan berhasil dihentikan dan tubuh Pasien Laras merespon organ donor dengan sangat baik."
Deg.
Tangis Aura pecah seketika. Pertahanan dirinya yang tangguh selama berhari-hari runtuh begitu saja. Ibu Aura langsung memeluk putrinya erat-erat, menangis terisak-isak sambil mengucap syukur berkali-kali ke hadirat Tuhan.
"Adik Anda akan dipindahkan ke ruang ICU khusus selama 24 jam untuk observasi ketat. Jika kondisinya stabil, besok sore sudah bisa dipindah ke ruang perawatan VIP," tambah dokter tersebut sebelum pamit mundur.
Aura masih terisak di pundak ibunya. Beban seberat gunung yang meremukkan dadanya selama berbulan-bulan akhirnya terangkat sepenuhnya. Adiknya selamat. Laras akan hidup.
Dari jarak dua meter, Evan berdiri diam memperhatikan adegan emosional di hadapannya. Ia melihat bagaimana Aura memeluk ibunya dengan begitu erat, bagaimana air mata kebahagiaan itu menetes membasahi pipi sang wanita. Tanpa sadar, sebuah senyuman sangat tipis yang bahkan tak pernah disaksikan oleh para stafnya di kantor terukir di bibir sang CEO berdarah dingin.
Ibu Aura membalikkan badan, lalu pandangannya tertuju pada Evan yang berdiri tegap. Wanita setengah baya itu melangkah mendekati Evan, lalu tiba-tiba menggenggam kedua tangan pria itu dengan sangat erat.
"Nak Evan..." tangis Ibu Aura pecah lagi. "Terima kasih banyak... Ibu tidak tahu harus membalas kebaikan Nak Evan seperti apa lagi. Tanpa bantuan Nak Evan, Laras tidak akan selamat... Ibu sangat bersyukur Aura mendapatkan suami yang begitu baik dan bertanggung jawab seperti Nak Evan..."
Evan membeku seketika. Tangannya yang biasa memegang penandatanganan dokumen bernilai triliunan rupiah kini digenggam erat oleh tangan keriput seorang ibu yang penuh rasa terima kasih yang tulus. Rasa bersalah seketika menusuk dada Evan dengan sangat tajam.
Wanita tua ini tidak tahu bahwa kebaikan yang ia agungkan hanyalah sebuah transaksi bisnis yang dingin, di mana anak perempuannya harus mengorbankan status dan masa depannya selama dua tahun.
Evan menelan ludah, berusaha menetralkan raut wajahnya agar tetap tenang. "Ini... sudah menjadi kewajiban saya sebagai suami Aura, Bu. Ibu tidak perlu berlebihan."
Aura berjalan mendekat, menyapu sisa air mata di pipinya. Ia menatap Evan dengan tatapan yang penuh arti campuran antara rasa terima kasih yang mendalam dan kesedihan atas kebohongan yang harus mereka simpan rapi dari sang Ibu.
"Ibu, mari saya antar ke ruang tunggu ICU dulu. Dokter bilang Laras butuh istirahat," potong Aura cepat untuk membebaskan Evan dari situasi canggung tersebut.
Setelah menenangkan ibunya dan membimbingnya duduk di ruang tunggu, Aura kembali melangkah menghampiri Evan yang masih berdiri di lorong luar.
"Maafkan Ibuku," ujar Aura pelan. "Beliau tidak tahu apa-apa tentang perjanjian kita."
Evan merapikan gulungan kemejanya, menyembunyikan kecanggungan yang masih menyelimuti hatinya. "Tidak masalah."
"Kamu... mau langsung kembali ke kantor?" tanya Aura.
Evan melirik jam tangan mewahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Ada tumpukan berkas yang menunggunya di atas meja kerja, namun entah mengapa, melangkah pergi dari tempat ini terasa sedikit lebih berat dari biasanya.
"Bimo akan tetap di sini untuk memastikan semua fasilitas kamar VIP adikmu siap," kata Evan dingin, kembali memasang topeng profesionalnya. "Dan kau... tidak usah pulang ke penthouse malam ini. Gantilah pakaianmu dan temani ibumu di sini."
Aura tertegun. Pria yang membuat aturan ketat bahwa mereka harus selalu tinggal di satu rumah agar tidak memicu kecurigaan, kini justru memberinya izin untuk tinggal di rumah sakit demi keluarganya.
"Tapi... bagaimana kalau kakekmu atau media menanyakan keberadaanku?" tanya Aura ragu.
"Aku yang akan mengurus Kakek," sahut Evan singkat. Pria itu berbalik, mulai melangkah pergi menjauhi Aura. Namun setelah baru berjalan beberapa langkah, Evan menghentikan fisiknya sejenak tanpa menoleh ke belakang.
"Aura," panggil Evan pelan.
"Ya?"
"Selamat. Adikmu sudah sembuh."
Tanpa menunggu balasan dari Aura, Evan kembali melanjutkan langkah kakinya yang tegap, menghilang di balik belokan koridor rumah sakit.
Aura berdiri terpaku di tempatnya. Kalimat sederhana itu bergema berulang kali di dalam kepalanya. Untuk pertama kalinya, Aura menyadari bahwa di balik dinding es tebal yang membentengi hati seorang Evan Adijaya, ada sesosok pria yang jauh lebih manusiawi dari yang pernah ia bayangkan.
_____
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa berikan Like & Komen...