Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Jebakan Bayangan & Sumpah di Bawah Langit
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Tidak ada panggilan dari istana, tidak ada kabar apa pun — dan keheningan itulah yang paling ditakuti. Setiap pagi Wei Chen bangun sebelum fajar, berjalan ke tepi jendela, menatap gerbang kediaman yang dijaga ketat. Mereka tidak bebas pergi. Mereka tidak bebas berbuat apa-apa. Sebuah sangkar emas yang tersembunyi di balik kemegahan.
Pagi itu, Meiying menemukan Wei Chen duduk di beranda sayap barat, memandang ke arah perbukitan yang tertutup kabut tipis. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan beban yang makin berat.
"Kau belum tidur?" tanyanya pelan, duduk di sampingnya, menyodorkan secangkir teh hangat.
Ia menerimanya, tersenyum tipis yang tak sampai ke matanya. "Aku memikirkan Tuan Li. Entah bagaimana keadaannya di penjara istana."
"Kita akan membuktikan ketidakbersalahannya," jawab Meiying mantap. "Kita belum kehabisan jalan."
Wei Chen menatapnya, lalu menghela napas panjang. "Kau selalu berkata begitu. Seakan kau yakin ada cahaya di ujung terowongan yang gelap."
"Karena memang ada," jawabnya lembut. "Selama kita tidak berhenti mencarinya."
Belum sempat Wei Chen menjawab, A-Mei berlari mendekat, wajahnya pucat, napasnya memburu.
"Jenderal... Nyonya... utusan istana datang! Tuan Zhang membawa perintah Kaisar — katanya bukti baru ditemukan!"
Jantung Meiying mencelos. Wei Chen bangkit berdiri, menegakkan punggungnya. "Bawa mereka masuk. Aku akan menemui mereka di ruang tamu."
Tuan Zhang masuk dengan langkah bangga, diiringi dua pengawal bersenjata. Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil yang tertutup kain sutra. Wajahnya tersenyum sinis, seakan kemenangan sudah di tangannya.
"Jenderal Wei Chen," ucapnya lantang, berdiri di tengah ruangan. "Bukti tak terbantahkan telah ditemukan. Surat rahasia yang ditulis tanganmu sendiri, berisi rencana pemberontakan bersama Tuan Li."
Ia membuka kotak itu, mengeluarkan selembar kertas yang disegel rapi. Tinta hitamnya tampak baru kering. Tulisan tangan itu mirip — sangat mirip — namun ada hal yang janggal: huruf-hurufnya terlalu rapi, terlalu hati, seakan ditiru dengan susah payah.
"Ini palsu!" seru Wei Chen tegas. "Aku tidak pernah menulis surat seperti ini!"
"Palsu?" Tuan Zhang tertawa pelan. "Siapa yang akan percaya? Tulisan tanganmu, tanda tanganmu, semua ada di sini. Kaisar sudah melihatnya. Ia memerintahkanmu datang ke istana sekarang untuk diadili."
"Saya ikut," kata Meiying seketika.
Tuan Zhang menoleh padanya, matanya menyipit. "Tidak perlu, Nyonya. Kecuali... kau ingin ikut jatuh bersamanya."
"Ke mana pun suamiku pergi, ke sanalah aku," jawab Meiying tenang namun tegas. "Itu kewajiban seorang istri."
Wei Chen menatapnya, cemas sekaligus terharu. "Meiying, ini berbahaya..."
"Kita sudah berjanji," potongnya lembut. "Bersama-sama."
Aula pengadilan istana terasa seperti gua yang gelap dan dingin. Kaisar duduk di kursi tinggi, wajahnya tak terbaca, namun tatapannya tajam dan penuh kemarahan yang tertahan. Para pejabat berdiri berderet, menatap Wei Chen dengan pandangan bercampur takut dan iba.
"Surat ini," suara Kaisar terdengar berat, "ditemukan di ruang kerja Tuan Li, tersembunyi di balik laci meja. Tulisan tanganmu, tanda tanganmu. Apa kau masih menyangkalnya?"
Wei Chen berlutut, namun kepalanya tetap tegak. "Tulisan itu mirip, Baginda, tapi bukan milikku. Saya tidak pernah menulisnya. Ada perbedaan kecil — huruf pertama nama saya selalu miring sedikit ke kanan, karena saya menulis sambil memegang pedang. Lihatlah tanda tangan saya yang lain, dibandingkan dengan ini."
Kaisar memeriksa surat-surat lama di hadapannya, mengerutkan kening. "Benar... ada perbedaan tipis."
Tuan Zhang menyela cepat. "Itu hanya alasan, Baginda! Mungkin ia sengaja mengubah gaya tulisannya agar tidak dikenali!"
"Saya tidak begitu bodoh untuk meninggalkan jejak yang bisa diperdebatkan," jawab Wei Chen tenang. "Dan pertimbangkan ini: jika saya berencana memberontak, mengapa saya membiarkan istri saya membela saya di sini? Mengapa saya tidak kabur saja saat masih bisa?"
Suasana hening. Kaisar terdiam, seakan sedang menimbang dua sisi mata uang. Tuan Zhang melihat kesempatannya terancam, wajahnya menegang.
"Karena ini bagian dari rencananya! Ia tahu Kaisar baik hati, jadi ia berpura-pura tidak bersalah!"
"Kalau begitu," suara Meiying terdengar jernih, "di mana saksi? Di mana orang yang mengantarkan surat itu? Di mana bukti lain? Hanya selembar kertas yang bisa ditiru siapa saja?"
Tuan Zhang menatapnya tajam. "Kau diam, wanita! Kau sekutunya!"
"Saya tidak sekutu siapa-siapa selain kebenaran," jawab Meiying, menatapnya lurus tanpa takut. "Dan saya punya sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan siapa yang sebenarnya menulis surat palsu ini."
Ia mengeluarkan selembar kertas dari lengan bajunya — catatan pengeluaran yang ditemukannya tadi pagi di ruang rahasia sayap barat, terselip di antara buku-buku lama.
"Beberapa hari lalu, ada seorang penulis surat rahasia yang dipanggil secara diam-diam ke kediaman Tuan Zhang," ucapnya lantang. "Ia dibayar mahal untuk meniru tulisan tangan Jenderal. Nama orang itu tertulis di sini, bersama tanggal kunjungannya."
Tuan Zhang mundur selangkah, wajahnya pucat. "Itu... itu palsu! Buatanmu sendiri!"
"Kalau buatan saya," tanya Meiying mantap, "mengapa nama penulis itu benar-benar ada? Dan mengapa ia bersaksi jika dipanggil sekarang?"
Kaisar menatap Tuan Zhang lekat-lekat, lalu memberi isyarat. "Panggil orang yang namanya tertulis di sini."
Keheningan panjang menyusul. Tuan Zhang berdiri kaku, keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia tahu — permainannya hampir tamat.
Saat penulis surat itu datang, gemetar ketakutan, ia tidak mampu berbohong lama. Di hadapan Kaisar, ia mengaku: Tuan Zhang yang menyuruhnya meniru tulisan tangan Wei Chen, dibayar emas sepuluh keping, dan diancam akan dibunuh jika bicara kepada siapa pun.
Kebenaran terungkap. Tuan Zhang ditangkap di tempat itu, wajahnya penuh kemarahan sekaligus keputusasaan saat diarak keluar aula.
Kaisar menghela napas panjang, menatap Wei Chen dan Meiying. "Maafkan ketidakadilan ini, Jenderal. Kau dan pamanmu bebas. Tuan Li akan dibebaskan sore ini."
"Terima kasih, Baginda," jawab Wei Chen, menunduk.
Saat mereka melangkah keluar dari istana, matahari mulai turun, menyinari halaman luas dengan cahaya keemasan yang hangat. Langit biru bersih, tanpa awan gelap yang selama ini menutupinya.
Wei Chen berhenti di tangga istana, menatap Meiying. Matanya lembut, penuh rasa syukur yang mendalam.
"Kau menyelamatkanku lagi," ucapnya pelan, meraih kedua tangannya. "Kau menemukan bukti itu... bagaimana?"
"Saya sedang merapikan buku-buku di perpustakaan," jawabnya tersenyum. "Dan saya melihatnya jatuh dari sela-sela buku tua. Seakan... sengaja ditinggalkan untuk ditemukan."
Wei Chen terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Mungkin ibu yang membantuku dari sana. Ia selalu tahu kapan aku butuh pertolongan."
Ia menarik Meiying ke pelukannya, di bawah langit yang cerah, di tempat di mana semua orang bisa melihatnya.
"Terima kasih, Meiying. Tanpamu... aku sudah hancur."
Meiying memeluknya erat, menyandarkan kepala di dadanya. "Kita sudah melewati ini bersama. Dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Sore itu, Tuan Li pulang. Pria itu sudah tua, wajahnya pucat dan kurus, namun matanya berbinar saat melihat keponakannya menunggunya di gerbang kediaman. Ia memeluk Wei Chen erat, lalu berbalik ke arah Meiying, menatapnya dengan pandangan penuh rasa hormat.
"Kau gadis yang luar biasa," ucapnya lembut. "Kau menyelamatkan nyawa keluargaku."
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Paman," jawab Meiying rendah hati.
Malam itu, mereka makan bersama — untuk pertama kalinya tanpa rasa takut, tanpa kecemasan yang menggerogoti hati. Tuan Li bercerita tentang masa kecil Wei Chen, tentang ibunya yang baik hati, tentang bagaimana keponakannya tumbuh menjadi pria yang teguh meski hidup mengasingkan diri dari kehangatan.
Meiying mendengarkan, menatap Wei Chen sesekali, dan ia melihatnya tersenyum — senyum yang lepas, tulus, tanpa bayang-bayang kesedihan yang dulu selalu menyertainya.
Setelah makan, Wei Chen mengajak Meiying ke kebun bunga krisan di halaman belakang. Bulan purnama bersinar terang, memancarkan cahaya perak di atas kelopak bunga yang mekar indah. Angin berhembus lembut, membawa aroma harum yang menenangkan.
Wei Chen berhenti di tengah kebun, berbalik menghadap Meiying. Ia memegang kedua tangannya, menatapnya dalam-dalam.
"Dulu aku berpikir pernikahan ini hanyalah urusan politik," ucapnya pelan, suaranya jernih dan mantap. "Aku berpura-pura, menjaga jarak, takut merasakan apa pun. Tapi kau datang... dengan kebaikanmu, keberanianmu, kesabaranmu... kau mengubah segalanya."
Ia berlutut perlahan, menatapnya dari bawah, seakan ia adalah harta paling berharga di dunia.
"Aku tidak lagi menginginkan perjanjian, atau kehormatan, atau perlindungan dari siapa pun. Yang aku inginkan hanyalah kau — Meiying, bukan pengantin pengganti, bukan istri yang ditugaskan, melainkan kau sendiri. Maukah kau tetap di sini? Tetap di sisiku, hari ini, besok, dan selama kita masih bernapas?"
Meiying menahan air mata bahagia, mengangguk cepat. "Ya... ya, Wei Chen. Aku mau."
Wei Chen bangkit, menariknya ke pelukannya, mencium keningnya dengan lembut. "Aku berjanji — tidak ada rahasia, tidak ada tembok, tidak ada lagi kesendirian. Kita berbagi segalanya. Suka, duka, bahaya, kebahagiaan... semuanya bersama."
"Berbagi selamanya," janji Meiying, menatap matanya.
Di bawah cahaya bulan, di antara bunga krisan yang mekar, mereka berjanji — bukan atas perintah kaisar, bukan demi nama baik keluarga, melainkan atas nama cinta yang tumbuh perlahan, tulus, dan tak tergoyahkan.
Namun jauh di sana, di sebuah tempat yang sunyi, seseorang menatap ke arah kediaman itu dengan mata menyala benci. Nona Su belum pergi. Ia belum menyerah. Dan di tangannya, ada selembar surat yang baru saja diterimanya — dari seseorang yang juga membenci kebahagiaan Wei Chen.
Permainan belum berakhir, bisiknya sendiri. Dan kali ini... akan lebih menyakitkan.