"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Elena berdiri berkacak pinggang di tengah ruangan, menatap tajam ke arah putra tunggalnya dan pria nyasar itu secara bergantian.
"Pokoknya harus mau, Noah!" seru Elena dengan nada tinggi, ujung jarinya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
Noah, yang masih duduk bersila di atas karpet, langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dagu kecilnya terangkat angkuh.
"Tidak mau!" tolaknya tegas dan dingin. "Kamarku adalah zona eksklusif. Aku tidak mau berbagi oksigen dengan paman asing penyakitan ini selama delapan jam ke depan!"
Mendengar dirinya disebut 'paman penyakitan', Leonard yang sedang duduk bersandar di sofa murahan seketika mendengus kasar.
"Aku juga ogah!" sahut Leonard tak kalah ketus, menatap Noah dengan pandangan meremehkan. "Tidur berdesakan dengan bocah arogan? Reputasiku bisa hancur. Lagipula, anak kecil biasanya mendengkur, mengompol, dan menendang saat tidur. Secara medis, itu akan mengganggu siklus tidurku!"
"Aku tidak pernah mengompol sejak umur dua tahun!" desis Noah garang.
"Cih! Siapa yang tahu!"
"Sudah! Diam kalian berdua! Kalian ini kenapa sih keras kepala sekali?! Mirip banget susahnya kalau dibilangin!" teriak Elena frustrasi.
Elena menarik napas panjang, mencoba menekan emosinya agar tidak meledak dan membangunkan tetangga.
"Noah, dengarkan Mama. Tadi Mama dan tante Bella memang sudah mencoba membersihkan gudang belakang," ucap Elena.
"Lalu? Kenapa dia tidak tidur di sana saja bersama tumpukan kardus?" sela Noah kritis.
"Setelah Mama pikir-pikir, gudangnya benar-benar tidak layak ditiduri oleh manusia hidup, Sayang. Banyak kecoa mutan terbang, atapnya bocor, dan hawanya pengap. Dia ini sedang masa pemulihan alergi. Kalau dia mati digigit tikus got di dalam sana, kita yang repot harus buang mayatnya ke sungai! Hanya kamarmu yang ada kasur ekstra dan kipas anginnya," bujuk Elena.
Leonard mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu halus lalu menatap Elena dengan tatapan misterius.
"Kalau ruangannya memang sangat terbatas, solusinya sebenarnya sangat sederhana," ucap Leonard dengan nada suara baritonnya yang tenang.
"Solusi apa?" tanya Elena curiga.
Leonard menyeringai tipis, sebuah seringai menyebalkan yang entah kenapa membuat ketampanannya melonjak drastis.
"Aku tidur denganmu saja di kamarmu. Lagipula kamu istriku, kan?"*potong Leonard tanpa dosa. "Sesuai hukum alam dan norma sosial yang kamu teriakkan di depan warga tadi, suami istri sudah sewajarnya tidur seranjang."
Mendengar kalimat dadakan yang kelewat frontal itu, mata Elena dan Noah seketika melotot sempurna.
"Tidak boleh!" sahut Noah dan Elena bersamaan.
"Sembarangan kamu kalau bicara, ya!" omel Elena dengan wajah merah padam, antara marah dan mendadak salah tingkah.
Noah langsung berdiri, merentangkan kedua tangan kecilnya di depan Elena seolah sedang melindungi ibunya dari serangan monster.
Tatapan mata biru bocah itu menajam, memancarkan aura membunuh yang luar biasa dingin.
"Berani melangkah satu sentimeter saja ke kamar mamaku, aku pastikan besok pagi kamu akan bangun dengan seluruh koleksi lego ninja-ku tertanam di tenggorokanmu, Paman," ancam Noah.
Alih-alih takut, Leonard justru tampak sangat santai. Pria itu hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, menyandarkan punggungnya semakin nyaman di sofa dengan senyum mengejek yang membuat Elena semakin pusing tujuh keliling.
Melihat keras kepalanya dua balok es ini, Elena akhirnya menyerah pada taktik terakhir. Ia berlutut di depan Noah, menyamakan tinggi mereka, lalu menarik putranya itu mendekat.
"Noah, Sayang... jagoan Mama yang paling jenius sejagat raya. Mama mohon ya? Demi kewarasan Mama. Kalau dia tidur di sofa luar, dia pasti masuk angin atau digigit nyamuk demam berdarah. Kalau dia masuk rumah sakit, kita harus membayar biaya perawatannya. Uang kita kan tinggal sedikit bulan ini," bisik Elena dengan memelas, mengerahkan jurus wajah puppy eyes andalannya.
Noah menatap ibunya lekat-lekat.
"Tolong ya, Nak? Anggap saja kamu sedang mengarantina hewan peliharaan liar semalaman. Besok pagi-pagi sekali Mama janji akan mengusirnya dari rumah kita," bujuk Elena lagi, nyaris menyatukan kedua tangannya.
Melihat raut wajah ibunya yang memelas dan kelelahan, pertahanan es di hati Noah akhirnya mencair.
Bocah itu menghela napas panjang, sangat panjang, terdengar persis seperti pria dewasa berumur empat puluh tahun yang sedang banyak beban cicilan.
"Hah, baiklah," putus Noah akhirnya mengalah.
Elena langsung bersorak tertahan dan mengecup pipi putranya.
"Terima kasih, Sayang!"
Namun, sebelum Leonard sempat merasa menang, Noah menoleh ke arah pria itu dengan tatapan mengintimidasi. Telunjuk mungilnya terarah lurus ke wajah Leonard.
"Paman boleh masuk ke kamarku. Tapi ada syaratnya," ucap Noah.
Leonard mengangkat sebelah alisnya menantang. "Apa syaratmu, Bocah?"
"Satu, jangan menyentuh teleskopku. Dua, Paman tidur di kasur lipat bawah, aku di ranjang atas. Dan tiga..." Noah menyeringai tipis, seringai yang merupakan copy-past dari seringai Leonard beberapa detik lalu.
"Apa yang ketiga?"
"Kalau Paman sampai mendengkur, aku akan menyumbat lubang hidungmu dengan kaus kaki bekasku!" peringatnya dingin.
Mendengar ancaman kaus kaki bekas dari bocah enam tahun itu, Leonard tidak gentar. Alih-alih tersinggung, ia justru tersenyum semakin lebar.
Jiwa sang mafia yang tak pernah sudi mengalah pada siapapun, bahkan pada anak kecil yang memberinya tumpangan langsung meronta-ronta.
"Baiklah, kesepakatan diterima Tapi ingat satu hal, Bocah. Kesepakatan ini berlaku dua arah, "sahut Leonard dengan gaya angkuh
Noah menyipitkan mata birunya dengan waspada. "Apa maksudmu?"
"Jika terjadi sebaliknya, kamu yang mendengkur, mengigau tentang rumus matematika, atau menendangku dari atas ranjang, maka aku sendiri yang akan mengikat tubuh kecilmu itu dengan selimut seperti mumi. Lalu menyumpal mulut cerewetmu dengan lakban hitam! Paham?!" Leonard mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Noah dengan kilatan jahil.
"Hei?! Beraninya kamu mengancam penguasa kamar?Kamu itu cuma penumpang gelap di sini! Tahu diri sedikit!" protes Noah tak terima, wajahnya memerah karena kesal.
"Aku tidak peduli. Hukum rimba berlaku di mana saja, termasuk di wilayah kekuasaanmu!" balas Leonard, kepalanya terangkat sombong.
Elena, yang berdiri mematung di antara dua manusia dengan ego setinggi gunung Everest itu, hanya bisa menganga tak percaya.
"Ya Tuhan, berikan aku kesabaran," gumam Elena super frustrasi, memukul pelan jidatnya sendiri. "Terserah kalian berdua! Mau saling sumpal, saling ikat, atau saling makan, terserah! Aku lelah! Aku mau tidur!"
Tanpa babibu lagi, Elena berbalik dan membanting pintu kamarnya, meninggalkan dua pria keras kepala yang masih saling melempar tatapan sengit di tengah ruang tamu.
kamu belum bertemu semua anggota keluargamu yang di luar negri
semuanya sombong🤣🤣
🤣🤣🤔🤔
bukan hanya mengerjai
TPI akan menjadi musuh bebuyutanmu
sebab sedari awal bertemu
kalian sudah saling bertengkar🤣🤣🤣
asik nih gak sabar menunggu kelanjutannya
Oma Naomi saya mengagumi anda🤣
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip