NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keira Pingsan

Beberapa jam kemudian, bus yang membawa rombongan mahasiswa akhirnya berhenti tepat di depan balai desa.

Begitu pintu bus dibuka, para mahasiswa langsung turun satu per satu. Perjalanan panjang membuat sebagian besar dari mereka meregangkan tubuh dan mengeluh karena pegal.

Pemandangan di sekitar desa cukup berbeda dari yang mereka bayangkan.

Hamparan sawah terbentang luas di kejauhan. Rumah-rumah warga terlihat sederhana, sementara sebagian jalan masih berupa batu dan tanah. Bahkan cat pada dinding balai desa tampak sudah mulai kusam dimakan waktu.

“Serius? Kita KKN di desa seperti ini?” bisik Rina, teman Keira, dengan wajah penuh keterkejutan.

Beberapa mahasiswa lainnya ikut saling pandang. Ada yang terlihat antusias, tetapi tidak sedikit pula yang tampak kurang yakin dengan kondisi tempat mereka akan tinggal selama dua bulan ke depan.

“Tidak ada yang perlu dikeluhkan.”

Suara Arsen tiba-tiba terdengar dari depan.

Pria itu berdiri tegap di hadapan para mahasiswa dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Wajahnya serius, membuat suasana yang semula ramai perlahan menjadi tenang.

“Kalian datang ke sini bukan untuk mencari kenyamanan seperti di kota,” lanjutnya. “Kalian datang sebagai mahasiswa yang punya tanggung jawab. Jadi, jangan sibuk mengeluh hanya karena kondisi desa tidak sesuai harapan kalian.”

Arsen mengedarkan pandangan kepada seluruh mahasiswa.

“Gunakan waktu dua bulan ini untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Tidak harus perubahan besar. Hal kecil sekalipun akan berarti kalau kalian melakukannya dengan sungguh-sungguh.”

Tidak ada yang berani menyela.

“Iya, Pak,” jawab beberapa mahasiswa hampir bersamaan.

Keira berdiri di samping Rina sambil berusaha menyimak perkataan Arsen.

Namun, tubuhnya mulai terasa tidak nyaman.

Sejak masih berada di dalam bus, kepalanya sudah terasa berdenyut dan sedikit berkunang-kunang. Bukannya membaik, rasa pusing itu justru semakin kuat setelah mereka turun.

Udara siang di desa juga terasa sangat panas.

Matahari berada tepat di atas kepala, sementara angin yang berembus terasa kering dan tidak banyak membantu mengurangi rasa gerah.

Keira diam-diam menarik napas panjang.

Ia tidak ingin ada yang menyadari kondisinya.

Terlebih lagi Arsen.

Arsen kemudian berjalan menyusuri barisan mahasiswa, memastikan semua orang sudah membawa barang masing-masing.

Ketika sampai di depan Keira, langkahnya sempat terhenti.

Matanya menangkap wajah perempuan itu yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Keringat membasahi pelipisnya, tetapi Keira masih berusaha berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa.

Arsen menatapnya selama beberapa detik.

Namun, bukannya bertanya, ia justru kembali berbicara kepada seluruh mahasiswa.

“Jangan ada yang cepat mengeluh atau menunjukkan sikap manja hanya karena cuaca panas,” katanya tegas. “Kalian harus menjaga semangat. KKN bukan waktunya untuk bersikap lemah.”

“Siap, Pak Arsen!” jawab para mahasiswa serempak.

Keira menggigit bibirnya.

Ia tahu ucapan Arsen ditujukan kepada semua mahasiswa.

Namun entah kenapa, setelah pria itu melihat keadaannya tadi, kalimat tersebut terasa seperti sindiran untuk dirinya.

Iya, Pak. Aku gak lemah.

Keira berusaha menegakkan tubuhnya.

Tak lama kemudian, beberapa warga mulai berdatangan untuk menyambut rombongan.

Seorang pria paruh baya yang merupakan kepala desa berjalan menghampiri Arsen dan menjabat tangannya dengan ramah.

“Selamat datang di desa kami, Pak. Selamat datang juga untuk anak-anak mahasiswa.”

Arsen membalas jabat tangan tersebut dengan sopan.

“Terima kasih, Pak. Kami berharap bisa bekerja sama dengan baik. Mohon bantuan dan bimbingannya selama kami menjalankan KKN di sini.”

“Tentu, Pak. Kami akan membantu sebisa kami.”

Keira ikut tersenyum ketika beberapa warga menyambutnya.

Namun, senyum itu perlahan menghilang.

Pandangan matanya mulai berputar.

Suara orang-orang di sekitarnya terdengar semakin samar, seolah datang dari kejauhan.

Keira berkedip beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangannya.

Rina yang berdiri di sampingnya langsung menyadari perubahan wajah sahabatnya.

“Kei, kamu gak apa-apa?”

Keira menggeleng pelan.

“Aku... gak apa-apa.”

Namun suaranya terdengar jauh lebih lemah dari biasanya.

Panas matahari semakin menyengat. Setelah acara penyambutan singkat selesai, para mahasiswa diminta berjalan menuju rumah-rumah warga yang telah disiapkan sebagai tempat tinggal mereka.

Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh.

Namun bagi Keira yang sejak tadi menahan pusing, perjalanan itu terasa seperti semakin berat.

Ia mengangkat tasnya dan mulai berjalan bersama rombongan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tubuhnya terasa semakin lemas.

Keira menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap berjalan seperti mahasiswa lainnya.

Namun pandangannya kembali berkunang-kunang.

Tanah di bawah kakinya seakan bergerak.

Ia berhenti sesaat, berusaha mencari keseimbangan.

Jangan sekarang...

Keira mengepalkan tangannya.

Ia tidak ingin jatuh di depan semua orang.

Terutama di depan Arsen.

Di depan rombongan, Arsen masih sibuk menjelaskan pembagian tempat tinggal untuk masing-masing kelompok. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan para mahasiswa tetap berada dalam barisan.

Namun, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.

Bruk!

Beberapa mahasiswa sontak menoleh.

“Keira!” teriak Rina panik.

Tubuh Keira yang sejak tadi terlihat lemas akhirnya kehilangan keseimbangan. Ia hampir saja jatuh ke tanah, tetapi seseorang bergerak lebih cepat.

Arsen yang kebetulan berada tidak jauh langsung menangkap tubuh Keira sebelum kepalanya membentur tanah.

Suasana seketika hening.

“Keira!”

Nada suara Arsen kali ini terdengar berbeda.

Tidak ada ketegasan khas seorang dosen.

Yang terdengar justru kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan.

Wajah Keira tampak pucat. Matanya terpejam rapat, sementara jemarinya terasa dingin.

“Air! Cepat, ambilkan air!” perintah Arsen.

Suaranya memang tetap tegas, tetapi ada kepanikan yang terselip di baliknya.

Salah seorang mahasiswa segera memberikan botol air minum.

Arsen sedikit berjongkok sambil menopang kepala Keira dengan satu tangannya.

“Keira, dengar saya,” katanya pelan.

Nada bicaranya jauh lebih lembut dibandingkan sebelumnya.

“Coba buka matamu.”

Beberapa warga yang melihat kejadian tersebut ikut mendekat. Salah seorang bahkan menawarkan agar Keira dibawa ke rumah terdekat supaya bisa beristirahat di tempat yang lebih teduh.

Tak lama kemudian, Keira perlahan menggerakkan kelopak matanya.

Semuanya masih terlihat kabur.

Namun, sosok pertama yang berhasil ia kenali adalah Arsen.

Pria itu menatapnya dengan wajah penuh kecemasan.

“Aku... gak apa-apa,” bisik Keira lemah.

Arsen mengembuskan napas panjang. Setidaknya Keira sudah sadar.

Namun, wajahnya masih terlihat tegang.

“Jangan memaksakan diri kalau memang tubuhmu gak sanggup,” ucapnya lirih, hanya ditujukan untuk Keira.

Sebelum Keira sempat menjawab, Arsen tiba-tiba mengangkat tubuhnya.

Beberapa mahasiswa langsung terkejut.

Selama ini Arsen selalu menjaga jarak dan bersikap profesional terhadap semua mahasiswa, termasuk Keira.

Tetapi kali ini, ia seolah tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.

“Permisi. Beri jalan.”

Arsen membawa Keira menuju balai desa.

Sesampainya di dalam, ia membaringkan Keira dengan hati-hati di salah satu bangku kayu panjang.

“Ambilkan air dan kipas,” perintahnya kepada mahasiswa yang berada di dekat pintu.

Mahasiswa tersebut langsung mengangguk dan bergegas mengambilnya.

Beberapa saat kemudian, Keira kembali membuka mata.

Pandangan matanya masih belum sepenuhnya jelas, tetapi ia bisa melihat wajah Arsen yang berdiri tidak jauh darinya.

Alis pria itu sedikit berkerut.

Untuk sesaat, ekspresinya menunjukkan kecemasan.

Namun, dalam hitungan detik, wajah itu kembali seperti biasanya—dingin dan sulit ditebak.

“Kamu cuma kelelahan dan terlalu lama berada di bawah panas matahari,” katanya singkat. “Istirahat dulu.”

Keira hanya menatapnya.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya.

Bukan lagi karena kepalanya yang pusing.

Bahkan ketika aku sakit pun, dia tetap terlihat seperti sedang mengurus masalah yang merepotkannya.

Keira menundukkan pandangan.

Arsen kemudian berdiri dan memastikan keadaan Keira sudah cukup stabil.

Ia menoleh kepada mahasiswa lain.

“Tolong temani dia. Pastikan dia minum cukup dan jangan biarkan dia berdiri dulu.”

“Baik, Pak.”

Setelah memastikan semuanya aman, Arsen keluar dari balai desa.

Begitu berada di luar, ekspresinya kembali berubah.

Ia kembali menjalankan tugasnya sebagai dosen pembimbing.

Arsen membantu mengatur pembagian posko, berkoordinasi dengan kepala desa, serta memastikan seluruh barang bawaan mahasiswa sudah diturunkan dari bus.

Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa beberapa menit sebelumnya ia sempat panik ketika Keira hampir jatuh di hadapannya.

Seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi.

Sementara itu, di dalam balai desa, Rina duduk di samping Keira sambil mengipasinya menggunakan buku.

“Sekarang gimana? Udah agak mendingan?” tanyanya khawatir.

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!