NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan Bahagia

Sesampainya kembali di Darunnajah.

Vespa hijau mint Gus Azam baru saja berhenti di halaman depan ndalem. Embun pagi Jombang masih menempel di peci Gus Azam, dan tanganku masih memegangi perutku yang masih rata, masih terasa hangat bekas gel USG tadi.

Belum sempat aku turun dari vespa, Ning Latifah tiba-tiba berlari ke arah kami dari dalam ndalem. Kerudungnya berantakan, wajahnya panik, matanya sembab. Tidak seperti Ning Latifah yang biasanya jahil dan ceria.

"Gus! Ya Allah Gus dari mana saja! Ning Sopiah dibawa kemana! Ning Ummah muntah-muntah dari tadi! Wajahnya makin pucat! Badannya dingin! Gimana kalau kita segera ke rumah sakit saja Gus! Ummah gak mau makan, gak mau minum, manggil-manggil nama Piah terus!"

Darahku langsung berdesir. Dingin.

Aku kaget dan setengah berlari menuju ndalem utama, tidak peduli sarungku terseret tanah, tidak peduli helmku belum sempat kulepas sempurna. "Astaghfirullah Ning... kenapa gak bilang ke Piah tadi? Ayo kita ke rumah sakit sekarang, Ning!"

Aku masuk ke ndalem utama dengan nafas terengah-engah. Di dalam, kamarnya remang-remang, wangi minyak kayu putih menyengat. Ning Ummah duduk bersandar di tumpukan bantal, wajahnya pucat sekali, lebih pucat dari kemarin sore di rumah sakit. Di sampingnya ada baskom kecil berisi muntahannya. Tangan kurusnya memegangi perutnya yang sakit karena kanker itu.

Melihatku masuk dengan wajah panik, Ning Ummah malah tersenyum. Senyum yang sangat lemah, tapi matanya sendu dan haru, berkaca-kaca.

Aku langsung berlutut di depannya, menggenggam tangannya yang dingin.

"Ning... Ummah... maafkan Piah, Piah tinggal sebentar... ayo kita ke rumah sakit ya, Piah temenin, Gus sudah siapin mobil..."

Namun Ning Ummah menghentikan langkahku. Tangan kurusnya yang dingin itu pelan-pelan turun dari perutnya sendiri, lalu bergerak memegangi perut rataku. Perutku yang masih rata, yang tadi pagi baru saja diolesi gel USG.

Aku membeku.

Gus Azam yang baru masuk di belakangku juga membeku di ambang pintu.

Ning Ummah mengelus perutku pelan, sangat pelan, dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya yang tirus.

"Piah..." suaranya serak karena habis muntah, "Tega sekali kamu ya, Ndok... hal sebesar ini kamu rahasiakan pada mbakmu ini..."

Dunia seakan runtuh di atas kepalaku.

Aku dan Gus Azam saling menatap dengan panik. Darahku berhenti mengalir. Bagaimana Ning Ummah bisa tahu? Kami baru saja dari klinik, kami belum bilang siapa-siapa. Apakah Bu Bidan menelpon? Apakah Ning Latifah menguping?

"Apa... apa maksudnya Ning?" bisikku terbata, pura-pura tidak mengerti, padahal air mataku sudah menggenang duluan.

Ning Ummah terisak, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan seorang kakak, pelukan seorang madu yang tidak pernah sekalipun membenciku selama dua tahun ini.

"Sudahlah, jangan pura-pura lagi... Ummah sudah tau, Piah... Piah lagi hamil kan?"

Aku terisak keras di dalam pelukan Ning Ummah. Tidak bisa lagi menahan.

Gus Azam langsung berlutut di samping kami berdua, wajahnya tegang, "Ummah... dari siapa Ummah tau? Siapa yang kasih tau Ummah?"

Ning Ummah mengusap rambutku sambil menangis, "Tadi pagi saat kalian pergi, Ummah cari minyak telon di lemari Piah karena perut Ummah mual, Ummah mual sekali... Ummah buka lemari Piah, dan Ummah lihat... ada foto USG kecil di dalam tasbih Piah... ada tulisan '6 minggu' di sana... dan ada vitamin ibu hamil..."

Ya Allah. Aku lupa. Tadi subuh aku terburu-buru, aku selipkan hasil USG di dalam tasbihku agar tidak dilihat santri.

Ning Ummah melanjutkan dengan suara yang pecah, "Awalnya Ummah kaget... Ummah sakit hati, kenapa Piah sembunyikan... tapi setelah itu... setelah Ummah lihat foto titik kecil yang ada detak jantungnya itu... Ya Allah, Piah... Ummah bahagia... Ummah lega mendengarnya..."

Ning Ummah melepaskan pelukanku, menatap wajahku yang banjir air mata, lalu menatap Gus Azam.

"Akhirnya... akhirnya kelak Ummah bisa pergi dengan tenang karena sudah ada penerus Darunnajah di rahimmu, Piah..."

Kalimat itu...

Kalimat itu yang membuat aku hancur berkeping-keping.

"PERGI DENGAN TENANG"

Aku memeluk Ning Ummah erat sekali, seerat-eratnya, sambil menangis sejadi-jadinya, suaraku pecah, bahuku bergetar hebat.

"Maafkan Piah, Ning... maafkan Piah... Piah gak maksud membuat Ning sedih... Piah hanya ingin memberitahukan ini setelah Ning operasi... Piah takut kalau Piah bilang sekarang, Ning jadi kepikiran, Ning merasa bersalah, Ning merasa tidak berguna... Piah takut Ning sedih, Ning... Piah cuma ingin Ning fokus sembuh dulu..."

Aku menangis di dada Ning Ummah, seperti anak kecil yang ketahuan berbohong oleh ibunya.

Ning Ummah menangis juga, mengelus punggungku terus-menerus.

"Ndok... Piah... kamu salah, Ndok... justru ini obat buat Ummah... tadi pagi Ummah muntah-muntah karena Ummah merasa Ummah gagal jadi istri, gagal kasih keturunan buat Darunnajah, Ummah merasa sebentar lagi Ummah akan mati karena kanker ini... tapi Allah tunjukkan foto USG itu... Allah bilang ke Ummah, 'Lihat, Ummah, kamu tidak gagal, adikmu yang meneruskan perjuanganmu...'"

Gus Azam yang dari tadi diam, akhirnya tidak tahan. Gus Azam ikut memeluk kami berdua dari samping. Satu pelukan untuk dua istrinya.

"Ummah... Piah... cukup... jangan ada yang bilang pergi dengan tenang lagi... Ummah tidak akan pergi kemana-mana. Ummah akan operasi, Ummah akan sembuh, dan Ummah akan lihat anak ini lahir. Anak ini butuh dua ibunya, tidak hanya satu."

Ning Latifah yang berdiri di pintu sejak tadi, yang dari tadi mengintip sambil menahan nafas, akhirnya masuk dan ikut berlutut sambil menangis kencang.

"Ya Allah... jadi beneran Ning Piah hamil? Aku kira tadi cuma bau minyak telon! Ya Allah Alhamdulillah! Aku mau jadi budhe!"

Suasana ndalem utama pagi itu menjadi lautan air mata. Tapi bukan air mata duka seperti kemarin saat vonis dokter. Ini air mata haru, air mata bahagia yang bercampur dengan rasa sakit.

Ning Ummah menarik tanganku dan tangan Gus Azam, lalu meletakkannya bersama di atas perut rataku.

"Zam... Piah... boleh Ummah jadi orang pertama yang doain cucu Darunnajah ini?"

Kami mengangguk bersamaan, menangis.

Ning Ummah lalu menempelkan dahinya di perutku, berbisik dengan suara yang sangat lirih tapi kami semua dengar,

"Assalamualaikum ya habibati... ini Ummah... ini ibu pertamamu... kamu kuat ya di dalam rahim Piah... kamu jangan nakal... nanti kalau kamu lahir, Ummah yang akan adzanin kamu pertama kali ya... Ummah janji Ummah akan sembuh demi kamu... Ummah akan lawan kanker ini demi bisa gendong kamu..."

Mendengar doa itu, aku tidak bisa lagi menahan. Aku meraung. Gus Azam meraung. Bahkan Ning Latifah yang biasanya paling kuat, meraung memeluk kami bertiga.

Pagi itu, di ndalem utama Darunnajah Jombang yang dingin, ada empat orang yang berpelukan di atas sajadah yang masih terbentang bekas sholat subuh. Satu orang sedang berjuang untuk hidupnya, satu orang sedang berjuang menjaga kehidupan baru di rahimnya, satu orang suami yang berjuang menjaga keduanya, dan satu orang istri kecil yang berjuang mendoakan.

Dan di tengah pelukan itu, di dalam perutku yang masih rata, calon santri kecil kami yang baru berusia 6 minggu, dengan detak jantungnya yang tadi pagi baru saja kami dengar, seakan ikut berdetak lebih kencang, menjawab doa Ummahnya.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!