Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.
Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Bayang Cahaya di Pulau Secret Land
Langit di atas Secret Land berwarna biru jernih, memantul ke permukaan laut yang tenang seolah seluruh dunia terbuat dari kaca. Di kejauhan, pulau itu tidak tampak seperti tempat biasa tidak ada pantai berpasir, tidak ada hutan yang lebat seperti pulau lain. Yang terlihat hanyalah bangunan putih berkilauan, menjulang tinggi di atas pilar-pilar raksasa yang menancap ke dasar laut, seolah melayang di atas air. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan bau logam yang halus tanda bahwa di balik keindahan tenang itu, ada sesuatu yang berdenyut, hidup, dan bergerak tanpa henti.
Grace berdiri di dek pengamat tertinggi, gaun sutra birunya berkibar tertiup angin. Matanya menatap hamparan lautan luas, namun pikirannya melayang jauh, kembali ke rumah, ke keluarga Margaretha yang kini mungkin sedang duduk bersama di ruang makan besar, tertawa, bercerita tanpa benar-benar tahu siapa dirinya, apa yang ia bangun, dan beban yang ia pikul sendirian sejak bertahun-tahun lalu.
Ia menghela napas panjang. Tangan kanannya menyentuh pagar pembatas yang dingin di bawah telapak tangannya.
"Nyonya Grace," suara lembut terdengar dari belakang.
Grace berbalik perlahan. Di sana berdiri satu unit robot perawatan, tubuhnya berwarna perak bersih, matanya yang berupa lampu kecil berwarna biru menyala lembut.
"Ada laporan?" tanyanya, suaranya tenang namun ada getaran halus yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
"Semua sistem berjalan sempurna," jawab robot itu dengan nada datar namun sopan. "Pabrik pengolahan beroperasi pada kapasitas 98%. Jaringan keamanan tak tersentuh. Tidak ada tanda-tanda pendekatan dari kapal atau pesawat asing."
Grace mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke arah cakrawala. "Baik. Terima kasih, Kael."
Robot bernama Kael itu membungkuk sedikit sebelum pergi, meluncur pelan di sepanjang lantai kaca yang bening menuju ke dalam bangunan.
Grace tersenyum tipis, namun senyum itu tak sampai ke matanya. Kael adalah ciptaannya salah satu dari ribuan robot yang ia rancang, bangun, dan kembangkan sendiri di pulau yang tak dikenal siapa pun ini. Secret Land bukan sekadar pulau. Ini adalah dunianya sendiri. Di sini, ia bukan sekadar salah satu anak keluarga Margaretha putri yang pendiam, yang selalu tampak tenang, yang tak pernah menonjolkan diri di antara saudara-saudaranya yang cemerlang. Di sini, ia adalah pemimpin, pencipta, penguasa dari sebuah kerajaan teknologi yang beroperasi di atas gelombang, jauh dari pengawasan siapa pun.
Namun kemegahan itu terasa sepi. Sangat sepi.
Ia berjalan masuk ke dalam gedung utama. Lorong-lorongnya luas, bercahaya lembut dari lampu yang terpasang di langit-langit melengkung. Di setiap sudut, robot-robot bergerak dengan teratur mengangkut bahan, memeriksa data, merawat peralatan canggih yang tak ada di tempat lain di dunia. Suara langkah kakinya bergema pelan di lantai mengkilap, menyatu dengan bunyi dengungan halus dari mesin yang berputar di kedalaman bangunan.
Ia menuju ke ruang kerjanya sebuah ruangan besar dengan dinding kaca yang menghadap ke laut, di tengahnya berdiri meja bundar dari kaca tebal, di sekelilingnya layar-layar menyala menampilkan peta, grafik, dan angka-angka yang terus berubah. Di sana, di sudut ruangan, berdiri sebuah benda yang tertutup kain putih sesuatu yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, bahkan kepada robot-robot kepercayaannya sekalipun.
Grace berhenti di depannya. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, hari ini mungkin saatnya.
Tapi belum. Belum saatnya.
Ia duduk di kursinya, menarik napas, lalu mulai membaca laporan yang muncul di layar. Di satu sisi, ada kebanggaan yang tak terlukiskan ia membangun semuanya ini dari nol, dengan tangan, pikiran, dan ketekunannya sendiri. Tak ada bantuan dari nama besar keluarga, tak ada dukungan dari kekayaan yang mereka miliki. Ia memulai dari pulau kecil yang tak bernama, dengan satu prototipe sederhana, dan kini pulau itu telah tumbuh menjadi pusat inovasi yang mampu menyaingi perusahaan raksasa mana pun di dunia.
Namun di sisi lain, rasa bersalah itu selalu ada. Seperti bayang-bayang yang tak hilang. Setiap kali ia pulang ke rumah besar keluarga Margaretha, melihat wajah-wajah yang dicintainya Daddy yang tegas namun penuh kasih, Mommy yang lembut dan selalu memeluknya, Edward yang melindungi, Will yang selalu bercanda, Henry yang tenang, George yang penuh semangat, Charlotte yang ceria, Sophie yang manis ia merasa seperti berdusta. Mereka membagi rahasia keluarga, mereka saling percaya, mereka menyebut diri mereka satu kesatuan… sementara ia menyembunyikan dunia ini di bawah permukaan laut.
Apakah mereka akan bangga? batinnya bertanya, seperti yang selalu terjadi setiap hari. Atau mereka akan takut?
Ia tahu betul sifat keluarga mereka. Mereka dikenal, dihormati dan ditakuti. Di balik kemewahan dan kehangatan rumah itu, ada kekuatan yang tidak boleh diusik. Mereka menjaga rahasia, mereka melindungi identitas mereka, mereka bergerak dalam bayang-bayang. Dan Grace… ia justru membangun sesuatu yang bersinar terang, yang berkembang pesat, yang suatu hari tak bisa disembunyikan lagi.
Tiba-tiba bunyi pesan masuk terdengar pelan dari perangkat di mejanya. Bukan pesan biasa sandi yang hanya dikenalnya.
Grace membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Kami mendeteksi aktivitas tidak biasa di perairan sekitar. Kapal berlayar tanpa bendera. Kecepatan tinggi. Mengarah ke pulau Anda."
Darahnya menegang. Ia segera menekan tombol di meja, dan peta laut tampil memenuhi dinding kaca. Di sana, satu titik merah bergerak cepat, membelah perairan yang seharusnya tak dilewati siapa pun.
"Kael!" panggilnya.
Detik itu juga robot itu muncul di ambang pintu.
"Siapkan sistem pertahanan pasif," perintah Grace, suaranya tegas, tenang meski hatinya berpacu. "Jangan menyerang dulu. Amati saja. Tapi siapkan semua unit untuk siap bergerak dalam hitungan detik."
"Siap, Nyonya Grace," jawab Kael, lalu menghilang.
Grace berdiri, menatap titik merah itu. Ada dua kemungkinan itu hanyalah kapal yang tersesat, atau… ada yang tahu. Ada yang menemukan jejaknya.
Ia melangkah mendekat ke arah dinding kaca, menatap ke arah laut biru yang kini terasa tak lagi damai. Pikirannya terbagi dua ia harus melindungi pulau ini, ciptaannya, impiannya… dan ia juga harus melindungi keluarganya. Jika ada yang sampai tahu bahwa Secret Land miliknya, maka keluarga Margaretha pun akan terseret ke dalam bahaya.
Tiba-tiba sebuah nama terlintas di benaknya Daddy. Ia ingat tatapan tajam ayahnya, cara ia berbicara tentang kepercayaan, tentang melindungi keluarga di atas segalanya.
"Kekuatan bukan untuk disembunyikan, Grace," kata-kata ayahnya dulu terngiang kembali. "Tapi harus digunakan dengan bijak. Dan bersama mereka yang kamu percaya."
Grace mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku jarinya memutih.
Mungkin sudah waktunya.
Mungkin rahasia ini tak bisa ia simpan sendirian selamanya.
Namun sebelum itu, ia harus memastikan pulau ini aman. Ia harus tahu siapa yang datang.
Ia menarik napas dalam, lalu menatap ke arah cakrawala tempat kapal itu akan segera muncul. Matanya yang lembut kini berubah tajam, penuh tekad sama seperti tatapan ayahnya, sama seperti saudara-saudaranya. Di dalam dirinya mengalir darah Margaretha. Dan ia tidak akan mundur.
"Siapa pun kalian…" bisiknya pelan, angin laut membelai rambutnya yang terurai, "kalian tak akan menyentuh tempat ini. Dan kalian tak akan menyakiti orang-orang yang kucintai."
Di kejauhan, di garis pertemuan langit dan laut, siluet kapal mulai tampak. Dan di dalam pulau itu, ribuan mata cahaya menyala siap, waspada, menunggu perintah.
...~ Bersambung ~...