Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
#19
“Selamat pagi, Pak.” sapa beberapa orang yang berpapasan dengan Ammar.
Ammar menjawab sapaan mereka dengan sopan, sambil lalu menuju ruangannya.
“Pagi, Pak.”
“Pagi, Papa sudah datang?” tanya Ammar pada sekretarisnya.
“Sudah, Pak. Beliau sudah di ruangannya sejak satu jam yang lalu.”
Ammar pun masuk ke ruangan Papa Aldy, “Pa—”
Papa Aldy mendongak, menatap putranya yang baru saja tiba. “Gimana? Jadi ketemu Bunda kamu?”
“Sudah, Pa. Salam dari Bunda.”
Papa Aldy tersenyum, lalu menggumam. “Waalakumsalaam. Bunda dan ayahmu sehat?”
“Alhamdulilalah, Pa.” Ammar menarik kursi lalu duduk di hadapan Papanya. “Pa, ada yang ingin aku bicarakan.”
“Hmm, katakan saja.” Papa Aldy melepas kacamatanya, lalu bersandar santai di kursi kebesarannya.
“Ini soal Permana Group.”
“Hmm, kenapa dengan mereka.”
Ammar menggosok kedua telapak tangannya. “Aku mendengar kabar, bahwa mereka memanipulasi kepemilikan saham.”
Papa Aldy sedikit menaikkan alisnya, “Mereka tak mengakui bahwa saham tersebut milik orang lain, justru mengklaim sebagai milik keluarga mereka sendiri.”
Pria berusia 55 tahun itu terlihat kesulitan mencerna ucapan Ammar.
“Tunggu, tunggu, Papa sedikit bingung. Tolong jelaskan dengan cermat, siapa yang memberimu informasi ini, dan siapa yang dimaksudkan sebagai orang lain dalam cerita ini?”
“Begini, Pa—” Ammar pun mulai menjabarkan awal mula kisah kebangkitan Permana Group bermula, lalu kenapa Azam bisa sampai ikut campur dalam hal ini.
Setelah mencerna dan bertanya mengenai hal-hal yang tak ia pahami, Papa Aldy pun mengerti duduk persoalannya.
“Begini, Nak. Menurut pengalaman Papa, harta yang diperoleh dari jalur yang tidak baik itu, pada akhirnya sama seperti kita menabung bala, atau nasib sial. Kenapa? Gak ada keberkahan. Tapi, sebagai pebisnis, kita hanya tahu untung dan rugi, jika terbukti Permana Group bisa membuktikan kredibilitasnya, bagi kita tak ada masalah.”
“Lalu, Pa?” Ammar menunggu ucapan Papa Aldy selanjutnya.
“Dalam hal ini seharusnya kita tidak ada sangkut pautnya. Namun, jika wanita itu dan keluarganya menginginkan jalur yang legal, katakan padanya untuk menggugat kepemilikan saham ke pengadilan. Dan jangan lupa Wanita itu juga sangat berhak mendapatkan harta gono-gini.”
“Jadi Papa menyarankan mereka menempuh jalur hukum?”
“Bukan menyarankan,” jawab Papa Aldy tenang. “Itu memang jalur yang seharusnya mereka tempuh jika merasa hak mereka dirampas.”
Ammar terdiam, namun, membenarkan ucapan tersebut.
“ArreV tidak boleh menjadi alat untuk menyelesaikan masalah pribadi orang lain. Kita punya kepentingan bisnis dengan Permana Group. Selama mereka memenuhi kewajiban dan tidak terbukti melakukan pelanggaran yang merugikan perusahaan kita, kerja sama tetap berjalan.”
“Lain halnya jika mereka berbuat curang, yang berpotensi merugikan kita. Nah, pada saat itulah kita menggugat.”
“Lalu bagaimana dengan pemeriksaan yang ingin aku lakukan?”
“Lakukan saja.”
Ammar sedikit terkejut. “Papa mengizinkan?”
“Kenapa tidak? Due diligence adalah hal biasa dalam dunia bisnis. Kita bukan sedang mencari-cari kesalahan mereka. Kita hanya memastikan mitra bisnis kita memiliki struktur perusahaan yang jelas. Jika memang terbukti bahwa ada manipulasi kepemilikan saham dengan pihak lain, maka kita harus waspada, bisa jadi suatu saat kita juga akan menjadi sasaran mereka.”
Papa Aldy kembali mengenakan kacamatanya.
“Tapi jika tidak ada masalah, hasil akan menunjukkan bahwa mereka bersih.”
“Dan kalau ditemukan kejanggalan?”
“Mintalah penjelasan.”
Ammar mengangguk, “Baik, Pa.”
“Tapi satu hal lagi.”
Ammar menatap Papa Aldy, “Jangan membawa nama ArreV untuk membela siapa pun. Termasuk keluarga Pak Hermanto.”
Ammar mengangguk tegas, “Aku mengerti, Pa.”
“Kalau memang keluarga itu memiliki bukti bahwa saham tersebut milik mereka, biarkan bukti yang berbicara. Bukan hubungan keluarga, bukan perasaan iba, apalagi kedekatan personal Azam dengan wanita itu.”
“Iya, Pa.”
Saat Ammar pergi meninggalkan ruangan itu, Papa Aldy kembali menatap layar komputernya.
•••
Di rumah Pak Hermanto. Pria itu sedang duduk santai menikmati kudapan sore, ubi dan singkong rebus dari kebun sendiri. Sementara Dina baru saja bergabung setelah menyimpan ASIP di lemari es.
“Pa, belakangan ini Papa kelihatan lebih tenang?” ujar Dina.
“Masa? Tapi sebenarnya, Papa sedang banyak pikiran.”
Dina mendadak murung, sedikit banyak pasti dirinya juga yang menjadi beban pikiran papanya. “Karena aku, ya?”
“Karena kamu, dan karena banyak hal juga. Biasa lah, namanya juga orang tua, banyak hal yang dipikirkan itu hal lumrah, sangat wajar malahan.”
Bu Rara menepuk pundak Dina. “Jangan berpikir kamu menjadi beban bagi kami.”
Dina menunduk, kedua tangannya saling meremas, “Tetap saja, Ma.”
“Yang terpenting, kamu jangan ikut memikirkan masalah kita dengan Permana Group. Apa yang menjadi hak kita, pasti akan sampai kepada kita, meski orang-orang di seluruh dunia menghalanginya.” Pak Hermanto menepuk kedua tangan putrinya yang kini saling terpaut.
“Papa sedang memikirkan untuk menempuh jalur hukum, kita bisa mengajukan gugatan perdata ke pengadilan.”
“Pengadilan, Pa?!” pekik Dina kaget.
“Iya, setelah melalui beberapa pertimbangan, serta diskusi dengan Azam dan Pak Irfan, satu-satunya cara legal yang bisa kita tempuh adalah menuntut hak kita dengan perantara pengadilan, itu jalan yang paling tepat. Sekalian kita menggugat harta gono-gini yang seharusnya kamu dapatkan.”
“Nggak usah, Pa. Sungguh. Aku hidup sederhana seperti ini bersama Papa dan Mama, sudah lebih dari cukup,” tolak Dina cepat, “Lagi pula aku tak ingin mereka menudingku wanita serakah.”
“Ini bukan soal serakah ataukah tidak, tapi, ini hak kamu sebagai mantan istri Farhan, mantan menantu keluarga Permana.”
“Tapi, Pa—”
Suara mobil memasuki pekarangan rumah, menghentikan ucapan Dina.
“Bukankah itu Nak Azam?” cetus Bu Rara, hingga Dina menoleh ke arah belakang.
“Tapi— dia tak sendirian.”
•••
Due diligence adalah proses pemeriksaan atau penyelidikan secara menyeluruh terhadap seseorang, perusahaan, atau suatu kegiatan bisnis sebelum mengambil keputusan penting.
tpi km bisa mnikmati perempuan lain...
dasar serakah... tk ada otak🙄🙄
Jahat banget kamu Sarah
ditunggu 🥰🥰🥰