Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Petugas polisi segera memasungkan tangan Clarissa dan menyeretnya keluar dari aula, diiringi oleh kilatan lampu kamera para wartawan yang sudah diizinkan Maya masuk khusus untuk momen ini. Bobby diseret dengan wajah tertunduk malu, laptopnya disita sebagai barang bukti.
Dalam waktu kurang dari lima menit, panggung sandiwara Clarissa telah runtuh sepenuhnya.
Reyna menurunkan mikrofonnya. Ia menatap para tamu yang masih terpaku.
"Mohon maaf atas gangguan tersebut," ucap Reyna, kembali ke nada sopan dan anggunnya, seolah ia baru saja membersihkan tumpahan anggur, bukan menghancurkan adiknya sendiri. "Malam ini, Arland Group berkomitmen untuk membersihkan setiap kebusukan, sekecil apa pun itu. Sekarang, mari kita lanjutkan acara lelang amal."
Tepuk tangan yang awalnya ragu, perlahan terdengar. Satu orang bertepuk, lalu dua, lalu seluruh aula. Tepuk tangan itu semakin lama semakin keras, berubah menjadi standing ovation. Mereka tidak lagi melihat Reyna sebagai gadis manja atau putri gila. Mereka melihatnya sebagai predator puncak yang baru saja menunjukkan taringnya kepada seluruh dunia.
Di barisan depan, Adrian Blackwood ikut berdiri, bertepuk tangan dengan senyum yang lebar.
Reyna menatap lautan manusia yang mengelu-elukannya. Namun, di balik senyum tipisnya, pikirannya sudah melangkah jauh ke depan.
Clarissa sudah selesai. Julian sedang melarikan nyawanya. Richard sudah tidak punya apa-apa lagi.
Namun, Reyna tahu, ini baru membersihkan halaman depan rumahnya. Di luar sana, masih ada orang-orang yang membantu mereka. Dan yang paling penting, ada warisan terbesar dari mendiang ibunya yang masih tersembunyi di Singapura.
Permainan catur baru saja dimulai, dan Reyna siap untuk membalikkan seluruh papan.
Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca ruang CEO, menyinari tumpukan koran bisnis yang terjejer rapi di atas meja mahoni. Judul utama di halaman depan Jakarta Business Daily terpampang dengan huruf tebal: REYNA ARLAND: SANG RATU BESI YANG MENYELAMATKAN ARLAND GROUP DARI PENGKHIANATAN INTERNAL.
Reyna menatap koran itu tanpa ekspresi. Pujian dari media adalah pedang bermata dua. Hari ini mereka memujinya karena ia berhasil membongkar skandal Clarissa, namun besok mereka akan siap menusuknya jika ia menunjukkan sedikit saja kelemahan.
Pintu ruangan terbuka. Vincent masuk dengan senyum yang jarang ia tunjukkan. "Saham kita dibuka dengan kenaikan dua belas persen, Reyna. Para investor institusi sangat terkesan dengan cara Anda menangani krisis semalam. Reputasi Arland Group di mata publik belum pernah sebersih ini dalam lima tahun terakhir."
"Angka-angka itu hanya ilusi sementara, Vincent," jawab Reyna, mengalihkan pandangannya dari koran ke layar laptopnya. "Pasar akan bereaksi terhadap ketakutan hari ini, dan keserakahan besok. Fokus kita bukan pada harga saham. Fokus kita adalah fondasi."
Reyna menarik flashdisk hitam peninggalan ibunya dari laci meja. Semalam, setelah Gala Amal selesai, tim siber Nadia berhasil memecahkan enkripsi lapis ketiga yang selama ini menghalangi akses mereka.
"Ada apa di dalam folder terakhir itu?" tanya Vincent, rasa penasarannya terusik.
Reyna mengklik file bernama Untuk Putriku. Bukan dokumen keuangan yang muncul di layar. Melainkan sebuah surat digital yang diketik rapi, beserta sebuah nama dan alamat di Singapura.
Reyna memindai kata-kata di layar itu, dan napasnya tiba-tiba tersentak. Matanya yang tadinya dingin dan penuh perhitungan kini melebar, menampilkan keretakan yang jarang ia tunjukkan.
Reyna sayang, jika kau membaca ini, berarti instingku benar. Ada yang mengincar aset ini, dan mereka tidak akan ragu untuk menyingkirkanku. Jangan percaya pada laporan polisi. Jangan percaya pada 'kecelakaan' itu. Temukan Gavin Sterling di Singapura. Dia memegang kunci brankas nomor 77 di UOB Plaza. Dan ingat... mereka yang tersenyum di meja makan adalah yang memegang pisau di bawahnya.
Hening.
Hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah memperlambat waktu.